The Gubuk

The Gubuk
TG 41: Akhir dari Jasad I


__ADS_3

Red memahami maksud dari saudaranya tetapi ia juga tidak tahu apa yang terjadi sehingga hanya memberikan kode dengan jari telunjuk diletakkan di depan bibirnya. Ia ingin blue diam seraya berjalan mendekati ranjang. Keduanya tampak begitu waspada.


Akan tetapi tidak memperhatikan perubahan cahaya pada lilin yang ada di ujung atas meja rias sana. Cahaya lilin yang berubah warna menjadi merah menyala menandakan ritual masih berlangsung hanya saja jiwa pertukaran tak bisa sempurna karena tumbal persembahan tidak memenuhi syarat.


Langkah demi langkah kian mendekati ranjang bersambut aroma yang tidak sedap. Jelas saja tubuh tak bernyawa itu sudah seharusnya dimakamkan tetapi justru dibiarkan. Meski telah diawetkan, bukan berarti akan bertahan lama ketika tidak di ruangan yang tepat. Andai di ruang penyimpanan mayat seperti di rumah sakit barulah akan berbeda.


Aliran air mata yang semakin membasahi bantal bahkan kasur bisa menjadi perkiraan waktu seberapa lama jasad itu menangis. Tak mampu mengungkapkan rasa atas apa yang ada di depan mata. Yah terlalu sadis dan tidak berhati karena mempermainkan jiwa yang seharusnya sudah tenang.


Sepertinya Noland lupa akan fakta jiwa yang tiada, tidak mungkin kembali lagi. Justru bisa menjadi jiwa lain yang tersesat dimasukkan ke dalam raga gadis itu. Sungguh pemikiran dangkal akan keegoisan hati bisa membutakan jalan kehidupan.


"Coba hubungi Kakak. Apa yang harus kita lakukan pada jasad ini," Red meminta Blue agar melakukan panggilan langsung sedangkan ia mengambil tali yang ada di ruangan itu.


Tali yang digunakan untuk mengikat kaki dan kedua tangan si gadis seraya mengucapkan mantra pengikat. Red hanya ingin mengantisipasi agar sesuatu yang tidak diinginkan bisa dihindari. Sesaat kesibukan mengalihkan perhatian seraya mendengarkan percakapan blue dan kakaknya yang tampak begitu serius.


Langkahnya menghampiri blue, lalu menepuk pundak saudaranya dengan pelan. "Apa kata kakak?"


"Kita harus membawa jasad ini keluar dari villa dan kakak menunggu kita di gubuk tengah hutan hanya saja sebelum keluar harus membungkus tubuh anak itu dengan kain hitam." jelas Blue tanpa mengurangi apalagi menambah penjelasan yang memang seperti itu adanya.


Kain hitam? Red mengedarkan pandangannya ke sekeliling tetapi yang ada justru alat-alat benda tajam. Tirai yang tersedia pun berwarna putih lusuh. Jadi darimana akan mendapatkan kain hitam yang pasti membutuhkan cukup banyak untuk membungkus jasad anak itu.


Bingung dan tidak mungkin untuk masuk ke dalam villa karena itu terlalu beresiko. Belum sempat menemukan solusi. Ia dikejutkan dengan tindakan blue yang melepaskan pakaian luarnya hingga menyisakan kaos yang membalut tubuh ramping ideal seorang gadis.


Bukan hanya itu saja. Blue juga melepaskan celana panjangnya hingga paha mulus tampak begitu putih menggoda. Semua penutup serba hitam terlepas dan kini menjadi seorang gadis berwajah imut nan menggemaskan dengan rambut panjang digelung. Terkadang lupa akan wajah asli yang jarang menampakkan diri.


"Kita bisa pakaian ini pada anak itu," ujar Blue membuat Red tak bisa berkomentar.


Seperti yang dikatakan Ans. Jasad gadis itu harus terbungkus kain hitam. Jadi pakaian blue sudah berpindah dikenakan sang gadis tak bernyawa bahkan wajahnya juga tertutup seutuhnya. Persis menjadi buntelan permen yang jarang ditemui di toko manapun.


Setelah memastikan semua benar. Red menggendong jasad itu di depan dan meminta Blue memimpin jalan mereka ke hutan. Tujuan mereka adalah gubuk yang saat ini juga dituju Ans dan juga black. Meski tampak begitu jauh, mereka berempat tetap melangkahkan kaki maju tanpa menoleh ke belakang.

__ADS_1


Sementara di halaman villa. Kevin tengah berjaga menunggu Monica yang ternyata tertidur akibat obat yang diberikan oleh Papa Bara. Pria muda menatap sahabatnya dengan intens. Wajah cantik dengan alis tegas yang selalu memberikan perintah.


"Cepatlah sehat, aku tidak bisa mencari Ans sendirian karena kamu yang lebih mengenalnya." gumamnya merasa kesepian karena keadaan mengubah kehidupannya sekali lagi.


Semilir angin yang berembus menghantarkan hawa dingin yang menyusup. Dinginnya malam bersambut pagi tak sedingin emosi di dalam hatinya. Lagi-lagi ia memikirkan apa yang sudah terjadi dan seperti dejavu akan setiap rangkaian peristiwa. Kenapa seperti itu?


Apalagi melihat anak-anak sudah kembali berkumpul dengan keluarga. Mendadak ia merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Sadar akan kehilangan orang terkasih masih menjadi trauma tersendiri. Seulas senyum menyudahi kegalauan hati yang kian melanda.


"Vin!" panggil Monica dengan suara lirih mengalihkan perhatian Kevin yang langsung menggenggam tangannya. "Aku mau Ans."


"Istirahat dulu, ya. Kita akan mencari Ans." bujuk Kevin tetapi Monica tak mau mendengarkan dan justru berusaha bangun untuk bisa turun dari tempat berbaring.


"Apa yang mau kamu lakukan? Tubuhmu belum kuat dan tidak untuk dipaksakan melakukan hal berat lagi. Tenangkan pikiranmu agar bisa menjaga emosi di hati." Papa Delano datang membawa minuman hangat untuk kedua muda mudi itu. "Minumlah!"


"Apa kalian tidak mengkhawatirkan Ans? Jika tidak, aku bisa sendiri." geram Monica merasa tak dianggap. Padahal Kevin dan Papa Delano benar-benar berniat baik dan memikirkan kesehatannya.


Pikirannya masih sibuk bergelut memikirkan siapa yang membawa Ans pergi begitu saja. Selain bayangan dengan penampilan serba hitam, ingatannya hanya melihat busur panah yang selalu digenggam tangan kiri oleh ketiga insan yang melarikan diri bersama sahabatnya. Siapa mereka dan kenal Ans darimana?


Pertanyaan demi pertanyaan tak membuat perubahan. Apalagi mendapatkan pencerahan yang bisa mengakhiri kegalauan serta kegelisahan hati. Semua tetap semu meski mencoba mencari kenyataan yang pasti.


Dekapan hangat menyentak kesadarannya, "Vin, aku mau Ans." Rasa sesak di dada tak lagi mampu di tahannya menghantarkan isak tangis kerinduan.


"Kita harus kuat tapi sebelum menemukan Ans. Tubuhmu harus sehat, apa kamu mau Ans memarahiku hanya karena tidak menjaga gadis nakalnya? Tidak 'kan." ucap Kevin begitu perhatian tanpa ingin melakukan pemaksaan.


Perlahan Monica menurut meski kini kaosnya harus menjadi basah kuyup karena air mata. Papa Delano memilih pergi meninggalkan dua insan yang pasti bisa saling menjaga diri. Yah, hubungan persahabatan memanglah unik dan tidak bisa dijabarkan.


Seperti hubungan keempat bersaudara yang kini berdiri di depan jembatan goyang. Jembatan itu tampak rapuh membuat Ans tersenyum kecut. "Kalian disini saja, biar aku yang membawa jasad itu."


Lagi-lagi Ans berusaha untuk bertindak sendirian tetapi namanya keluarga tidak akan saling berpisah di saat tau bahaya bisa datang dari mana saja. Black, blue, dan Red sudah berdiri di depan kakaknya melakukan penolakan secara serempak.

__ADS_1


Tentu saja seperti guru yang terciduk karena ketahuan ingin pulang duluan. Mau, tak mau, akhirnya mereka berempat melakukan perjalanan bersama tetapi karena jembatan yang tampak begitu rapuh sehingga Ans tak memilih menjadi manusia biasa agar energinya tidak menambah beban.


Bambu yang menjadi pegangan tangan terasa begitu kotor dan jika terlalu erat di cengkram bisa saja langsung hancur terbelah karena saking tuanya. Jembatan semakin bergoyang karena Red yang menggendong jasad mulai tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya sendiri.


Melihat itu Ans yang berdiri di belakang Red langsung menahan tubuh sang adik agar tidak limbung ke belakang. "Perlahan saja, kita harus hati-hati dan jangan sampai jasad jatuh ke bawah sana."


Peringatan Ans membuat Red berpikir keras. Ada apa di bawah jembatan? Ia tak tahu tapi penasaran hanya saja tidak mungkin untuk bertanya di saat keadaan tidak memungkinkan. Langkahnya kembali maju ke depan bersambut suara senandung alam.


Setelah bersusah payah. Akhirnya sampai ditepi jembatan dan Ans langsung mengambil alih jasad itu dari Red. Entah apa yang akan dilakukan karena pria itu tampak begitu tenang dengan pandangan mata memandang ke sekitar seakan mencari sesuatu.


Tiba-tiba black maju mengulurkan seikat tali tambang yang pasti tengah dibutuhkan kakaknya. "Mau ku bantu atau kakak sendiri?" tawarnya membuat Ans menyandarkan jasad itu ke dadanya lalu membiarkannya mengikat leher si raga tak bernyawa.


"Apa yang akan kita lakukan dengan jasad itu?" tanya blue karena selama ini lebih sering ikut bertarung dibandingkan melihat proses akhir dari sebuah misi.


Gadis itu ingin melihat hingga bergerak maju tetapi tangannya ditahan Red yang menggelengkan kepala melarang untuk mendekat. Blue tak bisa menyudahi rasa penasarannya karena apa yang dilakukan Ans menghadap ke gubuk ditemani black, sedangkan ia dan Red berada dibelakang hanya mendengarkan gumaman mantra yang terdengar asing.


Mantra pembatalan pertukaran jiwa terus diramalkan Ans dan Black secara bersamaan. Kedua pria itu bekerjasama untuk menyudahi proses ritual yang sudah terlanjur dimulai oleh Noland Yoshida. Tiba-tiba dari arah dalam gubuk terdengar suara erangan melengking, sontak semua waspada karena merasakan energi lain yang siap melakukan penyerangan.


Ans terpaksa kembali mengaktifkan energi jiwanya hanya untuk melakukan penjagaan. Ia tak ingin kehilangan siapapun tetapi pria itu tidak menyadari akan energi yang saling tarik menarik seperti diserap dari luar. Justru hanya merasakan nyeri di ulu hati hingga Black mengambil alih jasad dari gendongan sang kakak.


"Ka, jangan gunakan kekuatan kakak. Anak ini sudah terisi jiwa lain meski tidak sempurna dan kakak bisa menjadi lemah." ucap Black panik tetapi ia juga merasakan tangannya mulai panas karena menyentuh jasad si anak.


Blue yang tak tega langsung memeluk Ans dari belakang membuat pria itu meredam semua emosi tanpa terkecuali. Semilir arah angin telah berubah haluan tetapi suasana dan energi semakin tak bisa dikendalikan hingga Black tak sanggup menahan rasa panasnya lagi. Jasad si anak jatuh menggelinding mendekati villa.


Niat hati ingin kembali mengambilnya. Seketika tersentak dengan sesosok makhluk yang melompat keluar dari dalam gubuk. Makhlukkah itu atau manusia? Pertanyaan macam apa karena tetap saja ambigu.


Ans melepaskan tangan Blue, lalu menarik tangan gadis itu serta melambaikan tangan ke Black, "Cepat, kita harus pergi!" serunya menyentak kesadaran sang adik yang bergegas berlari ke arahnya kembali.


Makhluk dengan mulut bak monster yang terus meneteskan air liur itu mencabik-cabik kain hitam pembungkus jasad anak dari Noland Yoshida. Sementara Ans, Black, Blue dan Red kembali menyeberangi jembatan rapuh. Perasaan tak karuan bercampur degup jantung yang ikut lari marathon.

__ADS_1


__ADS_2