
Tanpa ingin berbasa-basi, Papa Delano menyerahkan ponselnya yang kebetulan memang selalu dibawa. Benda pipih yang selalu aktif hanya saja kini semua elektronik tak akan berfungsi kecuali milik Ans sendiri. Semua itu karena apa yang dilakukannya mengacaukan jaringan sinyal di area villa.
Satu kali lagi melakukan pemeriksaan yang membuat Ans kembali mendapatkan petunjuk kecil, lalu dengan alasan yang sama ia juga meminta izin untuk melakukan penyadapan terhadap nomor lain dari anggota keluarga Wellington. Hal itu diharapkan agar bisa mempermudah pencarian solusi.
Namun karena yang di dalam rumah bisa menyerahkan semua ponsel kecuali tiga ponsel milik orang tua Ans kecil dan ponsel milik Ale yang entah ada dimana. Deretan benda pipih mulai antri untuk diperiksa satu per satu sedangkan yang lain dipersilahkan untuk istirahat.
Meski mereka memutuskan untuk menyingkirkan sofa dan meja. Kemudian mengambil karpet bulu ruang keluarga untuk dibawa ke ruang tamu. Beberapa bantal di sofa bisa dijadikan sebagai bantalan kepala. Setidaknya semua tetap bersama dan bisa meminimalisir kehilangan seseorang, lagi.
Tiga puluh menit telah berlalu. Ans baru selesai melakukan tugas pertama, lalu lanjut ke tugas berikutnya. Dimana pria muda itu menggunakan laptop lain untuk menganalisis data melakukan sinkronisasi riwayat pesan yang ada. Keraguan yang melanda mulai berkurang dengan adanya bukti nyata.
Jadi pelakunya bukan cuma satu orang tapi siapa di antara kedua pelaku yang menjadi dalang utama? Jika melihat hasil analisis maka si kambing hitam akan bermain dengan isyarat sang dalang.~batin Ans merenung hingga sesaat ingatannya kembali pada tubuh di depan villa yang terbakar.
Tanpa mengatakan apapun. Pria muda itu beranjak dari tempat duduknya, lalu berlari menghampiri jendela depan. Sekali lari menyibak tirai tetapi tidak ada apapun. Awan gelap di langit membuat sekeliling terasa begitu mencekam. Tatapan mata menelusuri dari satu sudut ke sudut lain yang tetap tidak ada jejak.
"Ans, apa yang kamu cari?" Kevin datang menegur sahabatnya tetapi diabaikan. "Ansel!" Panggilnya seraya menyentuh pundak pria yang ada di depan mata.
"Aku denger, Vin. Coba lihat deh," tirai dilebarkan membuat Kevin ikut melihat ke depan. "Orang itu sudah membawa buktinya pergi dari sana. Apa kamu mengenali pria yang dibakar itu?"
"Ans, kamu tuh kebentur apa? Pria yang tadi itu tak lain Pak Joko. Si penjaga villa. Pakaiannya saja masih sama meski wajah sudah babak belur, tetap saja bisa dikenali dari cincin batu akik di tangan kirinya." jelas Kevin terus terang karena memang mengamati semua orang dalam diam.
__ADS_1
Penjelasan Kevin bisa diterima dengan baik hanya saja Pak Joko merupakan target pertama sebagai pelaku yang ada dalam pikirannya. Jika yang dibakar tadi memang Pak Joko, maka secara langsung gugur dalam kedudukan tersangka. Siapa lagi yang tinggal di villa?
Lagi-lagi Ans melamun membuat Kevin menepuk keningnya sendiri. Sejak masuk ke dalam villa sahabatnya itu benar-benar tidak bisa bersikap seperti biasa. "Ans, kita bisa cari tau melalui sejarah keluarga pendiri villa. Untuk itu kita harus pergi ke tempat yang tepat. Perpustakaan misalnya."
"Ide yang bagus tapi apa ada yang bisa menjaga peralatanku? You know bagaimana sistem kerjanya alat yang ku bawa." tukas Ans apa adanya yang memang Kevin bisa pahami tanpa harus menjelaskan lebih detail lagi.
Ide sudah ada tetapi tidak bisa ikut bertindak. Akhirnya serba salah hingga Monica datang menawarkan diri untuk ikut membantu. Gadis itu akan menemani Kevin ke ruang perpustakaan untuk mencari bukti. Tentu tidak masalah hanya saja Ans menyarankan untuk menambah personil agar bisa saling menjaga.
Pada akhirnya Kevin, Monica, Papa Bara menyusuri lorong villa menuju perpustakaan, sedangkan yang lain tetap berkumpul bersama di ruang tamu. Ketegangan masih terasa meski perasaan takut mulai menyusut. Semua itu karena mereka sadar tidak lagi diawasi oleh seseorang. Mau, tak mau harus berpencar demi mencapai tujuan bersama.
"Vin, perpustakaannya tidak banyak rak dan lapang. Kita bisa saling mengawasi satu sama lain. Aku ke sisi sana." ucap Monica seraya menunjuk arah utara. Dimana deretan rak sepanjang empat meter mepet ke tembok.
Beberapa guci, bufet bahkan meja dan kursi di dalam perpustakaan tak luput dari pemeriksaan hingga tatapan mata terpatri pada tulisan aneh di sudut meja yang ada di dalam ruangan itu. Kevin mengambil beberapa foto untuk disimpan tapi kini ia membutuhkan buku kuno yang bisa menerjemahkan arti tulisan tersebut.
Ketiga masih sibuk mencari petunjuk yang entah akan sampai kapan karena waktu terus berlalu tanpa bisa diputar kembali. Di sisi lain Al bernapas lega karena akhirnya Ale bisa terlelap setelah menangis cukup lama. Disaat berusaha tetap menjaga rasa kantuk yang mendera tiba-tiba terdengar suara senandung irama dari arah belakang.
Irama itu menggetarkan hati, membuai jiwa yang berduka. Rasanya ingin menjemput mimpi panjang tanpa keraguan tetapi samar samar lambaian tangan tampak dari kejauhan. Papa dan Mama Geraldo dengan pakaian bersimbah darah kembali menyentak kesadarannya.
"Al, sadar. Jaga Ale dan jangan sampai terjadi sesuatu." Dirapikannya pakaian sang adik yang sedikit tersingkap tiba-tiba ia menyentuh sesuatu. "Apa ini?"
__ADS_1
Binar mata tak bisa berbohong ia merasa senang ketika menemukan si benda pipih yang bersembunyi di saku celana milik adiknya. Akan tetapi meski begitu masih khawatir akan apa yang bisa terjadi nanti. Saat ini situasi sebagai orang yang tidak tahu apapun.
Dikurung tanpa ada penerang yang pasti. Apalagi tidak ada jendela ataupun barang yang bisa terlihat jelas. Sebenarnya ruangan itu digunakan untuk apa? Kenapa begitu gelap tetapi juga memiliki sisi terang dari satu arah. Bingung menjabarkan karena memang tidak tau harus berkata apa.
Suara deru napas pelan terdengar begitu melegakan tetapi pikiran Al tak tenang. Rasa di hati menyadari adanya bahaya jika tidak segera melarikan diri hanya saja dimana celah untuk melepaskan diri dari cengkraman tangan tak bertuan? Ia pun hanya bisa merenung memikirkan sesuatu hingga ingatan kembali pada malam sebelum berpindah tempat.
Seingatnya malam itu setelah semua kembali ke kamar. Sejenak ia berdiri menatap keluar jendela. Dimana arah balkon menjadi pusat perhatiannya. Dari kejauhan tampak cerobong asap mengepulkan kabut hitam. Jika polusi udara dibuat sebanyak itu maka hujan akan cepat turun karena awan yang menumpuk.
Namun kenapa asalnya dari dalam hutan? Bukankah itu aneh. Ketika sibuk mengamati tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari luar kamar yang mengalihkan perhatiannya. Yah, suara yang ternyata berasal dari sebuah patung miniatur di luar kamarnya menjadi awal perjalanan tanpa tujuan.
Suasana malam itu cukup gelap tetapi masih cukup untuk melihat sekelilingnya yang ternyata tidak ada siapapun. Niat hati ingin kembali ke kamar tetapi hantaman keras mengenai tengkuk lehernya. Seketika rasa pusing mendera bersambut kegelapan yang nyata. Kesadarannya menghilang entah kemana.
Sepertinya semua ini karena apa yang ku lihat tapi kenapa Ale juga ikut dikurung? Apakah adikku mengetahui sesuatu?~ucap batin Al yang bingung atas penangkapan sang adik.
Satu hal pasti adalah mengetahui sesuatu yang penting dan bisa menjadi petunjuk. Tak ingin terus menerus hanya berpikir ini dan itu. Al mengubah posisi duduk nya hingga membuat Ale tertidur bersandar di dinding. Lalu ia mengambil si benda pipih dengan penghalang jaketnya.
"Maafin, aku ya, Ale. Sebagai kakak tidak bisa menjagamu dengan baik. Apa yang bisa kulakukan untuk tetap membuatmu aman??" ucap Al bermonolog pada dirinya sendiri hanya untuk pengalihan sedangkan tangan dan tatapan mata fokus ke layar yang menyala redup di balik jaketnya.
Anak itu berusaha memanipulasi keadaan tapi sang dalang tidak bisa melakukan apapun karena memang tidak mendengar apalagi melihat apa yang sedang terjadi di seluruh penjuru villa. Setiap sisi dari pihak melakukan usaha yang terbaik untuk bisa memperjuangkan kehidupan masing-masing. Meski harus bersusah payah dengan menahan rasa lapar.
__ADS_1
"Putriku sayang, Papa akan selalu berusaha mengembalikanmu ke dunia ini agar kita bisa bersama. Bersabarlah karena sebentar lagi semua itu pasti terwujud." tangan tanpa sarung tangan mengusap wajah dingin tanpa senyuman.