The Gubuk

The Gubuk
TG 38: Kunang-kunang


__ADS_3

Persetujuan tanpa permintaan membuat Monica melangkah mundur tanpa melepaskan tangan kiri Ale, sedangkan Al dan Kevin berjalan maju mensejajarkan diri. Kini keempatnya berdiri sejajar, lalu memulai perjalanan ke arah yang ditunjuk si arwah gadis.


Kegelapan malam kembali ditemani kunang-kunang. Hewan itu seperti menjadi daya tarik tersendiri yang berkeliling di sekitar insan yang bernyawa. Apakah itu hanya perasaan mereka atau memang demikian? Hanya Sang Pencipta yang tahu.


Langkah kaki terus menyusuri area hutan semakin ke dalam. Mereka tak menyadari kemana arah yang dituju tetapi sang pemandu selalu memberikan arahan tanpa diminta. Ale juga mengatakan apa yang didengarnya tanpa rasa takut. Hal itu membuat Al sedikit cemas.


Pasalnya ia tak ingin adiknya mengalami trauma batin. Sebenarnya bisa saja menolak tapi apa itu akan membantu? Bukankah di dunia yang fana, konsep kehidupan adalah saling tolong menolong. Yah, itulah yang tengah mereka lakukan dengan mencari tahu keinginan si arwah sedangkan di villa masih terjadi pertempuran sengit.


Dimana Ans terpaksa mengeluarkan kekuatannya di depan keluarga Wellington. Pria itu tak mungkin hanya menggunakan setengah kekuatan ketika musuh bertebaran seperti daun kering yang berguguran. Kuku tangan putih yang panjang dengan tatapan sinar merah membuat para makhluk menyadari siapa dirinya.


Suara erangan rasa sakit terdengar mencekam membuat bulu kuduk meremang. "Ampuuun ...," rintihan seorang makhluk yang mendapatkan tebasan belati bertuah milik Ans.


Seringai tak berdosa menghiasi wajah Ans yang lagi-lagi berhasil mencabik dada salah satu makhluk yang tidak mau mendengarkannya. "Enyah, kalian!" Suaranya bergetar mengubah getaran frekuensi ditelinga manusia.


"Berikan kedua anak itu karena ...," Makhluk tinggi besar berbulu lebat dengan tarik keluar tak ingin melepaskan jiwa persembahan, membuat Ans mengayunkan belati terakhir hingga melesat mengenai matanya. "Aaarrghhhh ...,"

__ADS_1


Erangan itu begitu memilukan. Sayangnya Ans tak peduli dan melanjutkan menumpas para makhluk yang masih berusaha mengambil Ar dan Ans kecil dari perlindungan keluarga Wellington. Pria itu benar-benar mulai kewalahan hanya saja keteguhan hati masih berusaha tetap menguatkan diri agar bertahan sebentar lagi.


Ditengah kesibukannya tiba-tiba saja dari langit jatuh hujan panah yang melesat mengenai para makhluk. Panah dengan baluran ramuan khusus yang membuat Ans bernapas lega. Pria muda itu kembali bersemangat meliuk-liuk melawan para makhluk ditemani desingan anak panah.


Sementara itu, Monica, Al, Ale, dan Kevin tertegun melihat pemandangan di depan mata mereka. Bagaimana hati akan tenang? Setelah melihat tumbuhan jasad tanpa kepala yang tergantung di sebuah pohon seperti mainan saja. Siapapun yang melakukan itu pastilah kehilangan akal sehat.


"Ale, jangan lihat!" Al melepaskan tangannya dari Kevin, lalu menutup mata adiknya karena ia bisa merasakan perubahan suasana hati Ale.


Rasa takut yang terpancar dari netra adiknya sudah cukup menjelaskan akan situasi yang mengerikan hingga jiwa pun ikut bergetar menahan gejolak pilu yang membelenggu hati. Berbeda lagi dengan Kevin, pria itu justru mengedarkan pandangan mata seraya berputar ke seluruh penjuru mata angin.


Satu pertanyaan yang berujung tatapan mata nanar dengan bibir terkunci rapat tetapi tangan menunjuk ke arah bawah pohon. Dimana dua manusia dengan wajah asing terlelap seperti hanya menjemput mimpi. Nyatanya sudah tertidur untuk selamanya.


"Siapa mereka?" tanya Kevin masih tak menyadari apa yang dilihatnya, membuat Monica menarik tangan Kevin hingga tersentak terhuyung membentur tubuh Al. "Apa sih?"


"Apa kamu tidak mau menerima kenyataan? Perhatikan siapa di depanmu!" tukas Monica dengan kesal karena benar-benar tidak bisa menahan rasa takut yang mulai menyelimuti hati.

__ADS_1


Tubuh yang terbaring tak lain dan tak bukan adalah pasangan pasutri keluarga Wellington yang merupakan orang tua Ans. Kedua insan itu terlihat pucat pasi dengan wajah bersimbah darah tetapi tubuh masih utuh tanpa kekurangan apapun. Itu berarti sang pelaku tak ada ditempat.


"Apa mereka keluarga kalian?" tanya Kevin begitu polosnya membuat Ale mendekap Al dengan isak tangis kesedihan. "Sepertinya begitu, tapi kita harus segera ke villa. Aku takut Ans tidak bisa menangani sendirian di sana."


Benar juga yang dikatakan oleh Kevin. Sehingga perjalanan kembali dilanjutkan. Keempat insan itu berusaha untuk menyusuri hutan tetapi tanpa menggunakan jalur pemberangkatan karena khawatir akan ada yang menemukan jejak mereka.


Rasa lelah membuat tubuh lemah tak berdaya tiba-tiba Ale jatuh pingsan. Melihat itu Kevin dengan sigap menggendong tubuh mungil yang beratnya tidak seberapa. Jelas saja pikiran, emosi tak akan aman setelah seharian di penuhi ketegangan yang mencekam.


Tak ada lagi arwah yang berusaha untuk memberikan petunjuk tetapi kunang-kunang tetap mengikuti kemanapun arah langkah kaki mereka. Tampaknya hewan itu benar-benar pengertian. Tak pernah menyangka akan ada pertolongan dari alam. Padahal tanpa sinar, maka hutan begitu gelap dan bisa saja salah jalan.


Setelah berjalan cukup jauh, Monica merasa lelah dan meminta untuk berhenti sejenak agar bisa mengatur napasnya kembali. Tanpa sadar mereka sudah sampai di jalan dekat pagar villa bahkan sayup-sayup terdengar suara pertarungan.


"Vin, kepalaku terasa berdenyut." lapor Monica dengan suara yang serak.


Al mengambil sapu tangan dari saku celananya, lalu mengulurkan pada Monica. "Ikat dengan ini, Ka. Setidaknya rasa pusing bisa ditahan sementara waktu."

__ADS_1


"Terima kasih tapi ini bukan karena pusing biasa. Aku merasa ...," terhenti tak melanjutkan perkataannya tapi tiba-tiba kepala menunduk dengan kesadaran yang hilang seketika.


__ADS_2