The Gubuk

The Gubuk
TG 32:Dongeng Kevin, Cerita Bara


__ADS_3

Yah siapapun pasti lelah berbicara hanya dengan jeda sesaat. Itupun karena napas bukan untuk minum apalagi makan. Sebenarnya Kevin masih merasa mengantuk jadi sengaja menguras suara hanya untuk tetap berjaga. Ternyata guyuran air shower tak banyak berpengaruh karena rasa kantuk yang mendera terlalu berat.


Apalagi tercium aroma wewangian dari luar sana yang semakin mempengaruhi isi kepalanya. Seakan ada gendang dimainkan dengan irama lagu nina bobo. Alunan irama nan menggoda kian menyiksa raga yang membutuhkan tempat untuk berbaring nyaman.


Padahal wajah dan kulit pria itu sudah semakin pucat karena kedinginan. Perubahan yang terjadi membuat Papa Delano meninggalkan kamar mandi sejenak. Entah apa yang dilakukan setidaknya memberikan waktu untuk bernapas tanpa gangguan. Sementara di ruang bawah tanah Al mulai memeriksa ruangan yang menjadi tempat sekapan.


Remaja itu mengandalkan lampu senter dari HP milik Ale. Ruangan yang ternyata begitu sempit dan juga kotor tapi lebih mengerikan dari film horor yang pernah ditonton. Bagaimana tidak? Dinding dipenuhi bercak darah, sisa cairan yang entah apa dan juga beberapa tulang yang sudah lama terbengkalai.


Sebenarnya mereka akan dijadikan apa? Kenapa harus dibiarkan menginap di ruangan yang begitu buruk? Rasa penasaran berubah menjadi kengerian di hati. Apalagi Ale memilih berdiri di belakangnya bersembunyi. Pasti adiknya ketakutan melihat pemandangan yang memang baru pertama kali mereka lihat.


"Al, lihat di sudut itu!" cicit Ale membuat Al mengarahkan senter ke arah yang dimaksudnya seketika tangan mengeratkan pegangan. Bibir tertahan meski ingin menjerit tanpa ada kekuatan. Tak sanggup lagi untuk memeriksa isi ruangan tersebut.


Ditariknya kaos Ale hingga keduanya kembali duduk bersama sambil berpelukan. Tubuh yang gemetar membuat Al berusaha menenangkan adiknya. "Calm down, aku akan mencari jalan keluar. Ale harus bertahan!"


Beberapa menit setelah memberikan terapi ketenangan yang diajarkan sang Papa. Akhirnya Ale kembali tenang dan mau melepaskan pelukan. Sementara Al berpikir mengingat setiap detail yang baru saja dia lihat. Yah hal itu digunakan untuk mencari solusi dan menemukan strategi pelarian diri.


"Al, apa keluarga kita baik-baik saja?" tanya Ale lirih dengan wajah menunduk. Hatinya benar-benar merindukan semua orang dan tidak suka terjebak di dalam ruangan yang sangat sempit.


Al yang mulai melangkahkan kaki berjalan begitu hati-hati dan memperhitungkan setiap langkahnya. "Mereka pasti baik dan akan selalu saling menjaga. Sama seperti kita berdua. Bukankah ada Papa dan mama? Jadi jangan pikirkan lebih jauh lagi."


Di ruangan itu tidak tersedia apapun selain empat dinding yang terlihat rata tanpa ada jejak garis lurus keatas. Lalu bagaimana cara orang itu bisa menyekap mereka berdua? Satu pertanyaan yang menjadi jawaban tanpa harus memikirkan lebih jauh lagi.


Jika tidak ada pintu, jendela ataupun tangga. Maka hanya satu yang tersisa yaitu jalan rahasia. Apalagi setelah mengingat pernah ada suara senandung lagu dari arah belakang tempatnya duduk. Sudah pasti ada ruangan lain yang menjadi penghubung tapi bagaimana cara menemukan jalan tersembunyi itu?


Tangannya sibuk memeriksa dari satu sudut dinding terus maju mencari sandungan yang pasti menyembunyikan panel otomatis untuk membuka jalan rahasia, sedangkan di atas terjadi kehebohan karena tiba-tiba saja Kevin keluar dari kamar mandi dengan wajah menunduk dan tubuh basah kuyup.


Ans dewasa langsung beranjak dari tempat duduknya menyudahi obrolan dengan Monica. Pria itu berlari menghampiri Kevin dan tanpa permisi melayangkan tamparan keras hingga sang sahabat tersentak kembali mendapatkan kesadaran. Tangan bergetar menahan panas karena untuk pertama kalinya menampak sahabat sendiri.


"Auw, sakitnya. Tidak bisakah lebih pelan sedikit." keluh Kevin mengusap pipinya yang panas dengan rasa nyeri. Untung saja giginya aman terkendali. "Ngapain nampar? Kan bisa siram air saja ...,"


"Tubuhmu saja sudah basah kuyup. Air tidak akan berpengaruh tapi tamparan bisa langsung sampai pada refleksi otak.


"Vin, mending kamu ganti pakaian. Bisa sakit kamu nanti." Diberikannya handuk dan juga pakaian ganti yang memang langsung di siapkan. "Ans sebaiknya biarkan yang lain istirahat. Semua baik-baik saja dan di luar sepi."

__ADS_1


Bukan hanya sepi tetapi senyap. Hening tak bertuan yang justru mencekam. Rasa was-was kian mendekam tetapi ia juga tak mungkin membiarkan yang lain ikut begadang semalaman. Apalagi saat ini masih pukul sebelas malam. Tentu energi harus ada yang tetap di jaga terutama para wanita.


"Istirahatlah!" Ans beranjak meninggalkan keduanya. Langkah kaki berjalan mendekati meja dimana terdapat laptop dan peralatannya. Yah ia tak ingin mengusik siapapun maka lebih baik fokus pada hal lain.


Monica memberitahu para wanita dari keluarga Wellington untuk istirahat dengan membujuk. Awalnya menolak tapi setelah dijelaskan dan dibantu Tuan Bara. Akhirnya mau beristirahat meski hati seorang ibu tetaplah tidak tenang memikirkan anak mereka.


Selama beberapa saat satu per satu bersiap menjemput alam bawah sadar. Mata sayu dengan pikiran lelah dan raga tak ingin berdiam diri saling berusaha untuk mengerti satu sama lainnya. Kini yang tetap terjaga hanya dua orang yakni Ans dan Kevin.


Dua pria itu duduk bersebelahan dalam diam tetapi tangan Ans terus berselancar mencari informasi tentang villa yang menjadi tempat tinggalnya saat ini. Hal itu bertujuan untuk menemukan titik kemungkinan keberadaan dua anak yang telah hilang. Siapa yang ingin berpangku tangan?


"Vin, berapa meter jarak lantai dasar dengan ruang bawah tanah biasanya?" tanya Ans mengalihkan lamunan Kevin yang entah tengah memikirkan apa.


Digesernya posisi duduk untuk ikut melihat apa yang ditemukan Ans. Sebuah bangunan persis seperti villa yang mereka tempat tapi dari gambar yang tertera terlihat ada asap membumbung tinggi dari arah belakang villa. Area sekitar itu hutan jadi minim kemungkinan memiliki tetangga.


"Ans, jikapun benar ada ruang bawah tanah. Pasti pintu masuk dan pintu keluar ada di salah satu ruangan. Menurut dari rumus yang ku temukan di meja perpus, perhitungan orang yang menuliskan tidak cermat bahkan beberapa angka salah tempat.


"Hanya saja jika kamu yakin akan adanya ruang bawah tanah, maka perkiraanku juga ada loteng atau ruangan rahasia yang memiliki akses keluar masuk ke dalam villa tanpa kesusahan. Misal ruang yang jarang dikunjungi bahkan gudang bekas pun bisa dijadikan markas. Seberapa kecil kemungkinan pasti ada yang menjadi petunjuk." jelas Kevin membuat Ans manggut-manggut paham.


"See," Kevin menunjuk contoh desain ruang bawah tanah dan rutenya. "Sebenarnya kita bisa saja melakukan pengecekan tetapi kurang efektif mengingat waktu kita hanya sedikit. Seharusnya kita tangkap pelaku dan interogasi saja, pasti itu lebih cepet."


Ans fokus memperhatikan apa yang ditunjukkan oleh Kevin. Lalu mulai mencocokkan agar bisa menjadi prediksi karena semakin mencari informasi tentang villa justru hasilnya nihil. Tiba-tiba sebuah berita dari laman yang sama menarik perhatiannya. Berita tentang hilangnya keluarga pengusaha yang mengalami kebangkrutan.


"Kisah ini tentang satu keluarga yang mengalami perubahan kehidupan sosial hingga akhirnya berpindah dari kota ke desa terpencil yang justru berakibat fatal karena istrinya meninggal dalam perjalanan. Satu minggu kemudian tidak ada kabar apapun lagi seolah keluarga itu hilang ditelan bumi." ucap Ans tanpa dibatin tetapi Kevin fokus dengan sebab kebangkrutan dari keluarga itu yang tertera di bagian bawah.


Tanpa isyarat ia mengganti laman pencarian agar lebih paham lagi hingga akhirnya berita yang diharapkan tampil lebih lengkap dari yang sebelumnya. Dari judul sudah jelas terlihat saling berkaitan membuat Ans dan Kevin saling pandang, lalu menoleh ke arah depan. Dimana seorang pria dewasa yang sudah menjadi dokter ternama duduk menyandarkan tubuh tanpa memejamkan mata.


"Perusahaan Wellington telah mengambil alih kepemilikan perusahaan Yoshida. Pemicu utamanya karena pihak kedua telah menyalahi aturan wewenang kontrak kerjasama yang bernilai milyaran rupiah. Pencabutan saham yang digadang akan menghancurkan perusahaan Yoshida berubah menjadi pemindahan nama dengan catatan tunjangan kehidupan untuk keluarga tergugat yang telah mendirikan perusahaan selama sepuluh tahun terakhir."


Begitulah awal topik dari laman yang tertulis sangat rapi dengan huruf ditebalkan seakan memberikan penekanan bahwa pihak Yoshida menerima keputusan sidang akhir sebagai final yang tidak bisa diganggu gugat. Berita itu cukup menarik bahkan mulai memberikan pencerahan hanya saja, bagaimana cara kedua pria itu bertanya pada salah satu anggota keluarga Wellington?


Kamu bisa jaga peralatanku 'kan?" tanya Ans yang diangguki kepala oleh Kevin bersambut tepukan pundak. Lalu ia beranjak meninggalkan tempat duduknya.


Langkah kaki bukan menghampiri Papa Delano melainkan ke arah meja yang terdapat tremos dan juga kopi sachet nescafe. Yah untuk memulai obrolan membutuhkan pendukung, jadi kopi akan menjadi jalan pertemuan dari arah pembicaraan nanti. Tanpa berlama-lama, pria muda itu menawarkan kopi panas yang membuat sang lawan bicara mengubah posisi duduknya.

__ADS_1


Semribit aroma kopi memberikan efek tenang meski pikiran tetap berselimut kekacauan. "Terima kasih untuk kopinya." Papa Delano cukup merasa lebih baik dan bisa kembali berpikir dengan lebih baik.


Ternyata aroma kopi yang kuat juga membuat Bara terbangun. Pria itu tanpa sungkan ikut mencicipi kopi dari cangkir sang kakak. Kebiasaan yang selalu menjadi kebersamaan antar sesama saudara. Rasa pahit berpadu manis bercampur padu menjadi kenikmatan yang menghangatkan tubuh di tengah hawa dingin malam.


"Sebelumnya aku mau minta maaf tapi bolehkah aku tanya satu hal. Ini mungkin masalah pribadi tapi menyangkut hasil dari jerat karma yang berlaku." ujar Ans memulai pembahasan yang pastinya berat karena melibatkan perusahaan.


Papa Delano mengulurkan tangan mempersilahkan Ans melanjutkan apa yang ingin ditanyakan. Raut wajah pria muda yang masih memiliki tingkat belajar tentang pendewasaan diri tetapi terlihat sudah lebih dewasa dari kebanyakan muda mudi seumurnya.


"Apakah kalian tahu perusahaan Yoshida?" tanya Ans menekankan nama perusahaan sebagai titik poin pertanyaannya.


Papa Delano langsung menggelengkan kepala karena memang tidak tahu tentang perusahaan itu, tetapi tidak dengan Papa Bara. Pria satu itu menghela napas panjang seakan ada beban besar yang berdiam diri dipundaknya. Satu nama perusahaan mengingatkan akan pertemuan rapat dadakan yang diadakan kakaknya, Geraldo.


"Perusahaan Yoshida salah satu partner perusahaan keluarga kami tapi Ka Delano tidak tahu karena sibuk dengan pekerjaan sebagai pemimpin rumah sakit. Sementara aku yang memiliki waktu cukup senggang dari dokter spesialis ikut membantu mengurus perusahaan sesekali. Termasuk mempelajari kasus tindak kecurangan yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.


"Proyek pembangunan perumahan garden loyalty yang memakan biaya sekitar satu triliun mendadak terhenti di tengah jalan. Padahal pihak kami sudah mengirimkan dana sesuai dengan kesepakatan. Setelah melakukan pemeriksaan dan juga mendapat bukti serta saksi, barulah kami tahu ada kecurangan dari pihak Tuan Noland.


"Namanya Noland Yoshida, CEO yang bertanggung jawab atas pemberhentian pembangunan. Beberapa bulan lalu, surat peringatan pertama sudah diturunkan bahkan pengacara menjelaskan sangsi dan juga waktu untuk mengembalikan dana atau menghandle masalah tanpa ada bantuan dari pihak kami. Saat itu, dana sudah dihentikan karena khawatir akan ada kecurangan lagi.


"Satu bulan berselang tapi tidak ada niat baik dari perusahaan Yoshida bahkan CEO menghilang begitu saja. Biaya yang tidak sedikit menjadi permasalahan sebenarnya. Kita tahu perusahaan besar harus memiliki sokongan dana agar tetap bergerak maju. Jadi Ka Aldo memutuskan untuk menyudahi masa penantian.


"Setelah pemberitahuan yang kedua kali akhirnya pengacara bertindak ke meja pengadilan dan karena bukti serta saksi memadai maka pengadilan memutuskan perhitungan kerugian yang harus dibayar oleh perusahaan Yoshida. Ternyata setelah seminggu menganalisis data, pengadilan memberikan waktu pada Tuan Noland untuk memilih antara dua keputusan." Papa Bara menjeda sesaat agar merasa lebih tenang karena ia ingat bagaimana amukan Noland setelah sidang berakhir.


Ans dan Papa Delano masih menyimak tanpa menyela. Apalagi bertanya karena mereka berdua tau bahwa Papa Bara mencoba menyatukan kepingan kenangan masa lalu, meski baru terjadi beberapa waktu yang belum terlampau lama. Apapun itu, tetap tidak menyenangkan ketika kembali flasback pada suatu peristiwa yang menjadi tekanan emosi.


"Noland bersikeras menolak keputusan pengadilan dan berpikir kami membayar hakim hanya untuk memenangkan kasus. Dua keputusan itu adalah membayarkan semua ganti rugi seperti yang sudah tertera di surat perjanjian kontrak atau melepaskan perusahaan yang nilainya setara dengan ganti rugi. Sebagai penguasa, perusahaan itu rumah kedua jadi aku tahu dia terluka.


"Namun meski begitu tidak ada jalan lain. Yah kurang lebih begitu dan aku bersama Ka Aldo serta team pengacara kembali ke negara kami setelah pemindahan nama perusahaan yang berlangsung cukup sengit. Sebenarnya Ka Aldo memintaku untuk tetap diam karena tidak ingin membuat yang lain khawatir. Jadi selama di Indonesia beberapa waktu lalu, kami beralasan untuk melihat pembangunan proyek." jelas Papa Bara mengakhiri semua kisah tentang Noland yang dia ketahui.


Kini jelas sudah atas apa yang menjadi tanda tanya hanya saja. Jika kesalahan dilakukan oleh pihak Noland Yoshida, kenapa ada peristiwa yang menjadi misteri? Seharusnya sudah cukup jelas dan mau introspeksi diri. Manusia memang mengherankan, begitulah pemikiran Ans.


Berbeda lagi dengan pemikiran Papa Delano yang kini menyatukan cerita sang adik dengan cerita Kevin. Satu alasan yang dianggap biasa tetapi dampak akhirnya luar biasa. Apakah itu berarti keluarganya di teror oleh Noland? Jika iya, bukankah berarti masih sama-sama manusia. Kenapa tidak melaporkan polisi saja?


"Seperti apa wajahnya Noland?" tanya serempak Ans dan Papa Delano hingga saling bertukar pandang, membuat Papa Bara terkekeh akan rasa penasaran dua pria beda usia itu, sedangkan ia beranjak dari tempat duduknya. "Mau kemana? Kami ingin tahu seperti apa wajahnya Noland."

__ADS_1


__ADS_2