The Gubuk

The Gubuk
TG 16: Pintu Karma Terbuka


__ADS_3

Disisa kesadarannya. Papa Delano menyambar kain yang ada di atas meja untuk menutupi seonggok daging yang diyakini seekor kucing. Hati merasa campur aduk, begitu juga dengan perut eneg tak mampu menahan diri lagi.


Semua menu makan siang dikeluarkan tanpa sisa. Setelah merasa lebih baik, barulah mengambil napas dalam-dalam seraya mengusap air mata yang enggan berhenti. Bara melakukan hal sama karena ia juga tidak sanggup melihat pemandangan yang sungguh tidak manusiawi.


Bagaimana tidak mual? Setelah melihat seonggok daging yang terlihat mati mengenaskan. Tubuh seperti terbakar tetapi dicincang seakan memotong daging ayam. Warna merah segar begitu jelas membasahi kain putih. Siapapun yang melihat pasti tidak tahan dan berpikir si pelaku orang yang keji.


Jika dilihat lebih seksama bangkai tadi memiliki kulit terbakar yang menurut perkiraan berasal dari siraman air keras. Meski tidak diteliti, ia sebagai dokter hapal akan ciri-ciri yang terjadi akibat terpapar air keras. Satu pertanyaannya, darimana bangkai itu berasal dan siapa pelaku yang nekat melakukan tindakan tak berhati itu.


Air keras adalah larutan asam kuat yang cukup pekat. Jika air keras menyentuh kulit, itu akan menyebabkan rasa sakit yang parah dan bahkan luka bakar. Contoh air keras adalah asam sulfat yang digunakan untuk baterai, asam klorida untuk membersihkan permukaan logam sebelum pengelasan, asam nitrat untuk menguji logam mulia, dan asam fosfat untuk membuat garam fosfat.


"Berikan kotak coklat pada anak-anak dan akan ku urus masalah ini, setidaknya jangan buat mereka khawatir." ucap Papa Delano tak ingin berlarut dalam guncangan batinnya.


Bara menggelengkan kepala pelan, lalu mengambil ponsel dari balik saku. Kemudian diserahkan kepada kakaknya. "Semua ini tidak wajar tapi sudah berubah menjadi teror. Lihatlah pesan yang ku dapatkan."


Ponsel diterima tanpa bertanya lagi. Diperiksanya pesan masuk yang sepertinya bersamaan dengan penemuan bangkai di dapur. "Pintu karma telah dibuka. Selamat atas hadiah pertama kalian. Foto ini, kenapa tidak asing?" Tatapan mata mencoba mengamati gambar berukuran 400x6500 pixel.

__ADS_1


Gambar yang dizoom sehingga memperlihatkan sebuah rumah yang ternyata hampir mirip dengan bangunan villa tempat mereka berlibur. Apa maksud dari pesan tersebut? Lalu karma mana yang harus mereka terima? Bukan hanya bingung karena ia memang tidak paham sama sekali.


"Apa anak-anak memegang ponsel? Sebaiknya kita perketat keamanan agar keluarga tetap aman." Ponsel dikembalikan, lalu berpikir sejenak apa yang akan dilakukannya. "Berikan coklat dulu, lalu balik kemari. Bilang saja ingin membuatkan mie spesial untuk menemani hari.''


Apapun keputusan sang kakak akan dilaksanakan tanpa penolakan. Tanpa membuang waktu ia kembali ke ruang tamu sekedar memberikan coklat serta menyampaikan pesan kepala keluarga. Tentu semua orang bergembira akan mendapatkan menu langka.


Sementara di dapur, Papa Delano baru selesai memasukkan bangkai ke dalam sebuah karung bekas beras. Pria itu berniat untuk menguburkan bangkai agar tidak menjadi pertanyaan keluarga. Ditemani Bara yang diminta mempersiapkan bahan makanan, sedangkan ia melompati jendela untuk melakukan tujuannya.


Tiga puluh menit telah berlalu. Aroma harum masakan menyebar meninggalkan ruangan dapur. Dimana Papa Delano dan Bara mengangkat nampan berisi mangkuk mie rebus dengan toping berlimpah ke ruang tamu.


Satu per satu anggota mendapatkan mangkuk masing-masing dengan selera topping yang sudah disesuaikan. Berhubung setiap anggota tidak semuanya menyukai sayur atau jamur, maka Papa Delano selalu memasak sesuai dengan cita rasa yang bisa diterima semua anggota keluarga.


"Mas, pakaianmu kok basah?" Mama Delano memperhatikan penampilan suaminya yang mirip sekali baru main hujan, tentu ia menaruh curiga.


Satu mangkuk terakhir diletakkan ke atas meja, "Ka Delano tadi benerin kran kamar mandi yang rusak, Ka. Jadi gitu deh, udah tak ingetin ganti dulu, tapi gak mau buat kita semua nunggu lama." Bara hanya ingin menyelamatkan kakaknya agar tidak ada pertanyaan lanjutan.

__ADS_1


"Ya udah, ganti dulu! Aku gak mau kamu sakit, Mas. Nanti kita bisa makan bareng." ucap Mama Delano yang khawatir, membuat suaminya mengangguk patuh. Lalu memberikan nampan kepada adiknya, kemudian berlari kecil meninggalkan ruang tamu. "Kelakuan kakakmu itu, apa jangan-jangan kalian mandi hujan?''


"Ka tidak baik berburuk sangka, lagian tadi beneran kran kamar mandi rusak. Kakak tahu bukan kalau Ka Delano sukanya bekerja sendiri. Mana mau dibantuin, selagi dia masih bisa." jelas Bara meyakinkan kakak iparnya.


Perdebatan berakhir karena tak ingin anak-anak ikut berburuk sangka. Mereka menikmati mie rebus hangat dengan aroma khas bumbu racikan Papa Delano. Setiap kali memasak mie, maka tidak akan ada yang bisa menandingi karena memiliki teknik pengolahan unik.


Kesibukan di bawah, justru berbanding terbalik di kamar yang menjadi milik Papa Delano. Pria itu dengan cepat berganti pakaian tetapi masih diam berdiri menatap cermin kamar mandi. Entah kenapa kejadian yang dialami keluarga terkesan sengaja diciptakan seseorang.


Pertanyaannya adalah siapa yang memiliki waktu melakukan semua itu? Tidak mungkin orang iseng dan menimbulkan kecemasan luas biasa hanya untuk kesenangan. Tidak ada clue selain ancaman dari masalah perusahaan, sedangkan kepergian keluarga mereka hanya diketahui oleh pihak agen perjalanan.


"Come on, ingatlah sesuatu sebagai petunjuk." Dipukulnya kepala secara perlahan berharap keajaiban datang, meski tak kunjung datang.


Setelah berpikir cukup keras tetapi tidak mendapatkan jawaban. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari luar kamar mandi. Ia pikir itu istrinya sehingga bergegas mencuci muka agar terlihat lebih segar, lalu membuka pintu. Tatapan mata menelusuri seluruh sudut ruangan yang ternyata kosong.


"Sayang! Jangan bercanda, ya." ucap Papa Delano seraya menutup pintu kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2