
Kepergian Tuan dan Nyonya Geraldo membuat keluarganya kembali masuk ke dalam villa. Rintik hujan yang menyapa tiba-tiba begitu deras tak terbendung sehingga Papa Delana meminta anak-anak untuk makan siang terlebih dahulu. Sesi makan yang digelar lebih awal berharap bisa menghangatkan hati mereka orang.
Tidak ada obrolan selama menyantap makan siang seadanya. Mama Bara, Mama Delano dan Mama Cardwell membuat beberapa menu sederhana yang bisa mereka olah karena penjaga villa masih belum kembali. Hal itu menjadikan mereka bekerja sama mengurus keluarga.
"Sayang, makan mu sedikit banget." Mama Bara menatap piring Ale hanya berisi nasi dan ikan bakar tanpa sayuran. Sontak ia mengambil mangkuk tumis brokoli jamur, "Makan ini juga, Nak. Sayur baik untuk kesehatan." Dituangkannya tiga sendok sayuran ke atas piring sang putri.
Perhatian seorang ibu yang nyata tak mampu ditolak. Mama Bara juga melakukan hal sama pada ketiga anaknya. Semua harus adil meski bukan memberikan jenis makanan yang sama karena ia tahu anak-anak memiliki kesukaan nan beda.
"Pa, apa di hutan ada yang tinggal?" tanya Ar begitu membereskan piringnya.
Papa Bara mengernyitkan kening akan pertanyaan sang putra. "Hutan mana? Apa maksud Ar di belakang villa?"
__ADS_1
"Benar, Pa. Itu maksudku, kalau hutan yang tadi pagi sudah jelas tidak ada penghuninya." sahut Ans membenarkan.
Papa Delano hanya menyimak karena ia sendiri tidak tahu anak-anak ada di hutan seperti apa. Meski sang asik bungsu susah menceritakan segalanya. Tetap saja tidak melihat secara langsung, jadi bagaimana akan berkomentar?
Bara mencoba mengingat area sekitar villa yang mereka pilih sebagai tempat berteduh selama liburan beberapa hari. Selain bangunan dengan desain modern tetapi tampak kuno dengan posisi dikelilingi hutan lebat. Tidak ada hal lain yang bisa dipastikan. Apalagi mengenai hutan, maka hanya penjaga villa sendiri yang bisa mengatakan.
"Papa tidak tahu, Ar. Kita disini untuk berlibur bukan menjelajahi alam 'kan? By the way kenapa menanyakan itu? Apa kalian melihat sesuatu?" Tatapan mata menyelidik menatap anaknya. Ia hanya tidak ingin kecolongan tetapi yang ditatap menggelengkan kepala begitu pasti.
Langkahnya pasti berjalan mendekati pintu belakang villa dengan hati-hati. Pintu besi dengan gembok berkarat menjadi tujuannya. Tatapan mata tajam dengan penampilan tertutup jas hujan bertudung besar. Kilatan petir memantulkan kilauan benda tajam yang tergenggam di tangan kanan.
__ADS_1
Setetes warna merah jatuh dari ujung si benda tajam menyatu menyentuh tanah. Langkah demi langkah semakin mengikis jarak hingga mencapai tujuan. Dikeluarkannya kunci sebesar ibu jari berkepala boneka. Lalu tanpa banyak kata membuka gembok. Suara gesekan tertelan kerasnya rintik air hujan.
Gembok akhirnya terbuka, ia bergegas mendorong pintu yang sudah lama tak dikunjungi. Ruangan gelap nan engap di penuhi debu. Terasa sangat kotor tetapi ia tak peduli dan tetap menutup pintu dari dalam. Kemudian menyalakan lampu dengan menekan saklar di sisi kiri pintu masuk.
Kegelapan berakhir menunjukkan isi ruangan yang menyeramkan. Ranjang tertutup tirai putih nan lusuh. Meja rias di sudut ruangan dengan cermin yang retak, sedangkan keempat dinding memiliki hiasan yang tidak enak untuk dipandang. Satu sisi belakang ranjang terdapat beberapa patung berbentuk kepala rambut panjang.
Sisi kanan ranjang berhias peralatan tajam seperti gergaji, pedang, parang dan lainnya yang tampak berkarat tetapi deretan pisau terlihat masih mengkilap seakan baru saja diasah. Sementara Sisi dinding bagian kiri ranjang berisi tulisan latin aneh dengan deretan simbol membentuk deretan makam.
Langkah kakinya berjalan menghampiri ranjang menyibak tirai nan lusuh membuat debu beterbangan. Jas hujan yang melekat di tubuh perlahan dilepaskan begitu masuk melewati tirai. Sebilah pisau terjatuh ke lantai bersamaan jas hujan yang melorot jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Sebentar lagi anakku akan hi-dup ...," ucapnya terbata-bata menatap tubuh yang terbaring di atas ranjang.