
"Suara ini ...," Kevin berusaha mencari pegangan agar tubuhnya tetap seimbang tetapi sayang sekelebat bayangan yang menerjang berhasil menghempaskan hingga terpelanting ke belakang, membuat perhatian semua orang teralihkan ke arahnya.
Monica berteriak paling kencang diantara yang lain. Gadis itu benar-benar merasa terkejut karena pada akhirnya Kevin hilang kendali. Iya tahu bahwa makhluk tak kasat mata yang menyerang Kevin masih berada di sekitar mereka tetapi tak mungkin untuk mengatakan hal itu.
Setelah melihat wajah yang lainnya sudah pucat pasi kecuali Ans dan papa Delano. Ia berusaha untuk membuat keadaan tetap tenang dan hanya berusaha berdoa dari dalam hati agar bisa membantu Kevin bangkit kembali. Tak hanya itu saja karena ia juga memberikan isyarat pada Ans agar segera menolong Kevin.
Sang sahabat tengah sangat membutuhkan pertolongan membuat Ans dewasa beranjak dari tempatnya. Tanpa diminta pun,ia akan menolong Kevin karena mereka sudah seperti saudara.
Sedangkan di sisi lain Al masih melindungi Ale dengan berjalan di depan menghalau serangan jika ada yang menyerang. Anak satu itu mulai berjalan menyusuri dinding yang terasa lembab seperti terowongan. Anehnya hanya ada aroma lain yang bukan berasal dari tanah. Melainkan aroma garam bercampur dengan entah apa baunya tidak dikenali.
"Al, apa perjalanan masih sangat jauh? Pegal sekali kakiku dan sudah terlalu lelah." Ale memegang pundak sang kakak dengan erat. Gadis itu memang sudah kehabisan tenaga dan tak kuat lagi untuk berdiri di kakinya sendiri.
Meskipun begitu tetap dipaksakan untuk berjalan cukup jauh dan nyatanya tak kunjung sampai. Belokan demi belokan terus dilalui hingga titik bercabang tapi mereka berdua hanya berputar-putar dari satu lorong ke lorong lain tanpa menemukan arah jalan pulang.
Hal itu membuat Al menghentikan langkah kaki. Ia berpikir sejenak hingga berniat untuk melakukan sesuatu seorang diri karena melihat Ale yang tidak kuat lagi. Jujur saja hatinya merasa sakit, "Ale, apa kamu bisa menunggu di sini sendiri? Aku akan mencoba mencari jalan keluar. Apakah kamu mau menungguku?"
"Aku tidak mau! Di sini terlalu gelap dan kamu tahu aku takut kegelapan. Apapun yang akan kamu lakukan, aku hanya ingin tetap di dekatmu, hanya itu saja." tegas Ale menolak tawaran Ans.
__ADS_1
Keputusan itu tak bisa diubah. Ia juga tak mungkin memaksa adiknya untuk mengikuti permintaan yang memang sangat beresiko. Jika meninggalkan seorang gadis di tengah terowongan yang memang sangat gelap. Apapun pasti bisa terjadi dan jika sesuatu terjadi. Maka siapa yang akan merasakan perasaan paling bersalah? Tentunya hanya dia seorang.
"Yasudah, kita akan melakukan sesuatu. Oh iya, bukankah kamu selalu membawa spidol?" tanya Al mencoba mengingatkan adiknya akan kebiasaan satu itu.
Sang adik tak berniat menjawab tapi sibuk mencari spidol yang ternyata ada di saku celana. Rupanya ia lupa mengeluarkan spidol terakhir kembali ke dalam tas. Spidol mini yang memiliki desain khusus dan berwarna biru dikeluarkan dari celana.
Lalu spidol diberikan kepada Ans membuat anak lelaki itu berniat ingin menandai tetapi tanah yang mereka pijak tak mungkin untuk diwarnai sehingga berusaha mencari solusi lain. Tidak ada ide lain, selain menyobek kaos yang ia kenakan menjadi beberapa bagian.
Kemudian tanpa menunda lagi ia mengaitkan satu bagian kaos ke sudut lorong yang dianggap akan terlihat jelas. "Ale, kita akan melakukan perjalanan sekali lagi melewati lorong. Disetiap lorong akan ada tanda dari kaosku. Jadi lorong terakhir yang tidak kita lewati itulah jalan keluarnya."
Lorong yang kedua anak itu lewati memiliki akhir dari tiga arah yang berlawanan. Satu diantara jalan akan mencapai tujuan yang bisa mengejutkan jantung tanpa sambutan. Sementara dua jalan lain hanya memiliki akhir ketidakberuntungan. Dimana satu jalan menuju hutan terlarang dekat gua dan satunya lagi menuju pembuangan limbah yang berasal dari perbatasan wilayah.
Al tak sanggup melihat Ale yang begitu ngos-ngosan sehingga ia memilih untuk menggendong adiknya. Langkah kaki semakin pelan karena ia harus lebih hati-hati. "Al kamu bawa ini saja," Sobekan kaos diserahkan, lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Kembali ke atas sana. Dimana Ans berusaha menolong Kevin tetapi bayangan hitam yang menyerang sahabatnya justru semakin murka. Bayangan itu menyeret tubuh Kevin semakin menjauh dari yang lainnya tiba-tiba tanpa permisi melemparkan raga tak berdaya hingga jatuh membentur lantai dengan begitu kerasnya.
Suara batuk dengan darah segar yang mengalir membuat Kevin kembali bernapas. Tatapan mata terpana ketika melihat tangannya yang dipenuhi cairan warna merah bercampur tanah. "Apakah mungkin?" gumamnya masih terpaku pada kebenaran yang cukup menyentak kesadarannya.
__ADS_1
Dadanya tak lagi sesak bahkan sudah lebih baik. Jadi sekelebat bayangan itu ingin menolong atau mencelakai? Bingung akan apa yang terjadi mendadak teralihkan dengan padamnya seluruh lampu ruangan. Gelap gulita bersambut semribit angin kencang.
"Nyalakan senter kalian!" seru Ans dewasa membuat semua orang kelabakan tetapi tetap melakukan seperti perintahnya.
Di saat masih berusaha menyatukan cahaya pada garis sejajar bersinggungan tiba-tiba terdengar suara benda jatuh tanpa ada aba-aba. Suara yang begitu keras membuat telinga berdengung dengan tatapan mata teralihkan ke arah sumbernya. Erangan panjang dengan raga melengkung berjalan memasuki ruang keluarga.
"Ma, apa itu?" tanya Ar tak mampu mengedipkan mata melihat makhluk yang datang mendekat ke arah mereka.
Mama Delano hanya bisa menyembunyikan anaknya ke belakang punggung sedangkan Mama Bara tampak terdiam menatap makhluk yang ada di depan sana. Reaksi setiap orang berbeda-beda tapi dari semua orang hanya Ans yang tidak terkejut lagi. Justru pria muda itu tersenyum simpul, lalu mengeluarkan sisi lain dalam tubuhnya.
Aura yang dingin dengan tatapan mata nan tajam. Sorot cahaya yang memantul bersambut tirai disibakkan membuat ruangan itu sedikit bercahaya. Tak seorangpun menyadari perubahan ekspresi wajah Ans dewasa. Dimana pria muda itu berjalan tanpa rasa takut melewati bayangan hitam yang berdiri dihadapannya.
Nyawang ing raga ingkang dadi getih patih.~batinnya seraya mengayunkan tangan kanan yang melepaskan sebilah benda tajam.
Benda itu melesat melewati sisi kanan Kevin yang masih termenung entah memikirkan apa. Sesaat ketika mendengar suara desingan Monica melirik ke arah sumbernya hingga ia melihat netra Ans yang berubah menjadi merah menyala. Untuk pertama kalinya ia merasa tunduk akan rasa takut dari dalam hati terdalam.
Ans, apa itu kamu? Siapa kamu sebenarnya? Kenapa perubahan ini begitu menjadi perasaan yang tak menentu.~ucap hati Monica hampir kehilangan konsentrasinya.
__ADS_1