The Gubuk

The Gubuk
TG 23: Mulai Terkuak


__ADS_3

Ketika manusia dihadapkan pada keadaan yang tidak bersahabat bahkan dipenuhi tekanan mental karena situasi yang menuntut perasaan untuk tetap tenang. Terkadang insan lupa akan fakta bahwa kejahatan itu datang tanpa diminta. Kenyataannya begitu mata jahat menyapa ingin menyapu kedamaian yang ada.


"Tuan, kalian disini? Lihatlah di dapur, kami menemukan sesuatu." ajak Monica membuat Papa Bara dan Papa Delano bergerak meninggalkan tempat kejanggalan.


Mereka bertiga berlari menghampiri ruangan yang dimaksud Monica. Dimana sudah ada anggota keluarga yang lain berkumpul bersama. Entah apa yang dikerumuni sehingga semua berdiri menjauh dari tengah ruangan. Monica membuka jalan agar kakak beradik bisa melihat hasil penemuan Ans.


Dimeja tengah yang biasanya terdapat bahan makanan dan juga kompor. Kini di penuhi barang-barang aneh. Dimulai dari beberapa robekan kain putih yang diyakini sebagai kain kafan, dupa sisa bakaran, tempayan dengan bercak warna hitam, tulang belulang kecoklatan sebesar lengan dan beberapa barang lainnya.


Semua barang itu ditemukan dari beberapa sudut ruangan berkat petunjuk Kevin. Entah siapa yang berniat untuk menyimpan barang tak layak sebagai sesaji ruangan. Bagaimana tidak berpikir demikian? Jika ia mendapatkan setiap barang di tempat yang tidak pernah terpikirkan.


Misalnya seperti kain kafan yang disembunyikan di bawah lemari kamar anak-anak. Lalu sisa dupa yang ditemukan di belakang televisi ruang tengah, begitu juga dengan barang lainnya diletakkan pada tempat yang bisa di jangkau hanya saja tidak terpikirkan.


Papa Delano tentu tidak paham hal di luar nalar begitu juga dengan keluarganya. Satu hal yang pasti adalah ia ingin keluarga aman. Al dan Ale ditemukan karena kedua anak itu masih memiliki masa depan yang panjang. Selain itu ia tak ingin ada yang terluka.


Harapan orang tua akan selalu sama tetapi situasi bahkan tidak bisa diminta sesuai harapan masing-masing. Setelah melihat apa yang ditemukan. Keluarga memilih berkumpul diruang tamu bahkan para ibu tidak melepaskan tangan anak mereka karena merasa takut.


"Tuan, boleh saya berbicara terus terang tapi mohon untuk dipertimbangkan." Monica memulai obrolan dengan nada pelan karena ia tak mengharapkan ada keributan masal.


Papa Delano mempersilahkan tanpa ragu karena hati masih berusaha beradaptasi dengan semua kejadian. Apalagi wajah kedua putranya tampak kian pucat pasi. Pasti rasa takut kedua anak itu lebih besar darinya. Semoga saja mental Ar dan Ans masih bisa bertahan.


Tatapan mata terpaut pada Kevin yang mengangguk memberikan izin, lalu beralih pada Ans dewasa yang mengedipkan mata. Perlahan menghirup udara kemudian mengembuskan secara perlahan-lahan. Beban pikiran tak mengubah beban hati yang kian memberatkan rasa.


"Sebelumnya saya minta maaf. Jika apa yang akan disampaikan mungkin tidak masuk akal dan bisa menganggapku sebagai pasien gangguan jiwa tapi di tanah yang kita pijak memiliki yang namanya tapak tilas leluhur.


"Apapun yang saat ini terjadi pada keluarga kalian merupakan kisah lain dari kisah terdahulu. Secara singkat saya menyebutnya sebagai kisah beruntun yang didalangi seseorang untuk mendapatkan satu tujuan. Siapa dan kenapa berani melakukan semua ini? Hanya dia yang tau.


"Si dalang yang saat ini mengendalikan seluruh situasi dengan memberikan teror nyata pada kita. Seperti mengambil dua anak dari keluarga kalian yang pasti berlanjut pada anak lainnya. Jika tidak dihentikan, maka satu per satu menjadi penghuni villa tak bertuan.

__ADS_1


"Satu lagi yang ingin ku sampaikan yaitu dimana dini hari tadi, seseorang datang menemuiku dan berpesan agar kalian segera meninggalkan villa dan melupakan mereka yang sudah tidak bersama. Wajahnya mirip dengan Tuan-tuan ...," Monica sedikit menahan diri karena ingin melihat reaksi keluarga Wellington.


Pernyataan itu bersambut helaan napas berat dari Papa Delano sedangkan yang lain masih terlihat mencerna penjelasan darinya. Wajah tegang menghiasi suasana hati yang diliputi rasa takut, cemas, khawatir dan juga sisa harapan.


"Ans, bisa ikut aku? Kita harus periksa sesuatu." bisik Kevin, lalu menarik tangan sahabatnya agar ikut dengannya.


Monica yang melihat kepergian kedua sahabatnya masih berusaha untuk tetap tenang. Saat ini ia memiliki kewajiban untuk menyampaikan pesan terakhir dari salah satu keluarga Wellington. Sementara Kevin dan Ans berjalan kembali ke dapur.


Kedua pria muda itu berjalan beriringan tetapi Ans tidak tahu apa yang ingin dilakukan Kevin. Sehingga hanya menemani tanpa bertanya-tanya. Langkah kaki terhenti di depan jendela dapur, lalu dibuka lebar. Tatapan mata menatap ke luar dimana hanya ada beberapa tumbuhan perdu.


"Ans, menurutmu berapa meter jarak antara pagar villa ke dapur dan butuh berapa waktu untuk menghilang dari pandangan mata?" tanya Kevin tanpa basa basi membuat Ans menggeser tubuhnya untuk melihat keadaan luar.


Sesaat mengamati bagaimana medan yang datar tanpa ada hambatan. Halaman luas dengan rumput terawat. Siapapun yang berlari dari pagar menuju dapur pasti memiliki estimasi waktu yang berbeda-beda karena tergantung seberapa cepat laju lari. Apalagi jika hanya berjalan biasa.


"Jalan kaki sepuluh menit, lari biasa tujuh menit, lari cepat lima atau empat menit. Bisa saja lebih cepat kalau menggunakan teknik lari marathon." jawab Ans pasti setelah memperkirakan sesuai dengan ilmu yang dikuasainya.


Sesaat mengedarkan pandangan matanya ke setiap sudut ruangan. Banyak peralatan dapur tetapi apa yang bisa digunakan untuk mengukur hingga tatapan terpatri pada tali tambang yang teronggok di sudut bufet sisi dekat tempat cuci piring. Diambilnya tambang itu, lalu diberikan pada Kevin.


Dari dalam ruangan, Ans memperhatikan kesibukan Kevin yang mengukur lahan di depan dapur tetapi anak satu itu juga menandai dengan batu yang ditemukan. Entah apa yang ada dalam pikiran sang sahabat tapi ia tahu mereka tengah berusaha memecahkan misteri.


Setiap tindakan tak selalu mendapatkan pengawasan intens. Seperti yang dilakukan Ans yaitu sibuk mengamati Kevin. Dari ruangan lain juga ada yang menatap gerakan pria satu itu. Seringai semakin menampakkan diri meski samar karena berada di dalam kegelapan.


"Siapa kamu? Kenapa memperhatikan sedetail itu? Seharusnya rumus dari permainan tetap hanya kami yang tau. Lalu bagaimana bisa ada yang tau selain anggota sekte? Mencurigakan." ucapnya bermonolog pada diri sendiri seraya menggenggam erat pisau di tangan kanannya.


Orang itu hanya bisa diam menunggu malam agar bergerak bebas karena kini jumlah dari penghuni villa semakin bertambah. Tidak mungkin untuk menuntaskan setiap rencana dengan terburu-buru. Di tengah rasa penasaran tiba-tiba terdengar suara rintihan kesakitan.


Suara itu terdengar begitu lirih tetapi cukup untuk didengar sang pendengar. Meski tak dianggap bahkan hanya dijadikan pajangan sudut kamar. Nasib memang begitu miris ketika ingin menjadi orang baik. Justru takdir merenggut kebebasannya untuk hidup layak.

__ADS_1


Tatapan mata tak lagi bisa membedakan kapan siang dan kapan malam karena kedua bola matanya sudah diambil paksa untuk dijadikan persembahan. Kini hanya separuh harapan menjadi semangat hidup walau sadar akan hasil akhir tetaplah kematian yang mengerikan.


"Rrrggghhh, lee-paa-ss ...," pintanya merintih mengharapkan pengampunan tetapi semakin ia tersiksa. Maka sang dalang akan merasa puas.


Rintihan terus terdengar tanpa henti. Hal itu menyusul kekesalan di hati sang dalang yang langsung berbalik melangkahkan kaki mendekati mangsa yang terpasung di kamar rahasianya. Tanpa rasa bersalah wajah yang tak lagi mulus dia tampar begitu keras hingga tangan terasa panas.


"Diam! Sekali lagi menggonggong. Kupenggal kepalamu." ancam sang dalang membuat tubuh mangsanya gemetaran.


Baginya darah hanya minuman yang harus segar. Tak peduli dengan cara apa untuk mendapatkan persembahan karena yang terpenting adalah kembalinya sang putri tercinta. Apapun akan dilakukan demi kehidupan kedua yang sudah dijanjikan oleh ketua sekte.


Kembali lagi ke ruang tamu. Dimana Papa Delano berusaha menenangkan istrinya. Setelah semua penjelasan dari Monica yang juga menceritakan kisah hidup Kevin. Keluarga Wellington akhirnya menyadari liburan kali ini justru menjadi tragedi.


Sepintas ingatan kembali bergulir. Dimana itu terjadi seminggu sebelum berangkat ke Indonesia. Saat itu malam belum begitu larut. Suasana perkotaan yang selalu di penuhi oleh lalu lalang kendaraan. Akan tetapi tidak dengan malam itu.


Jalanan begitu sepi senyap seakan tidak ada kehidupan. Di tengah perjalanan menuju ke rumah selepas dari kantor tiba-tiba ban mobilnya mengalami bocor. Sayangnya cadangan ban sudah tidak ada. Disaat kebingungan mencari bantuan ternyata disekitarnya hanya ada kesunyian.


Selama hampir satu jam tidak ada kendaraan lain yang lewat. Ia yang seorang diri mencoba menghubungi keluarga tetapi ponsel tidak mendapatkan sinyal sedikitpun. Entah ada perbaikan tower atau bagaimana. Ia hanya tau bahwa tubuh sudah lelah dan membutuhkan istirahat.


Alih-alih mendapatkan bantuan. Dari tempatnya berdiri ia melihat ada orang yang berjalan mendekat meski jarak yang jauh menjadi masalah pandangan matanya. Satu yang masih diingat yaitu orang itu melangkahkan kaki seperti kilat. Tiba-tiba saja sudah semakin dekat.


Berpikir itu adalah keberuntungan untuk meminta tolong. Sontak ia melambaikan tangan dengan harapan bisa segera pulang. Namun siapa sangka semribita angin kencang menghalangi pandangannya hingga tidak bisa melihat kepergian orang yang dilihatnya.


Jika dipikirkan secara logika memang hal biasa saja. Sebenarnya bukan itu yang dikatakan sebagai firasat buruk. Melainkan ia terkejut dengan kondisi ban mobil yang baik-baik saja setelah angin kencang menerpa. Bingung tanpa bisa bertanya tapi karena tidak mau ambil pusing sehingga dilupakan begitu saja.


"Sebaiknya kalian berkemas dan kita akan pulang sekarang!" putusnya setelah mempertimbangkan resiko yang bisa lebih besar lagi.


Siapa yang mau kehilangan seluruh anggota keluarga? Apalagi dengan cara ganjil yang sangat tidak lazim. Tak seorangpun mau selain menerima takdir tapi buka berarti pasrah begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2