The Gubuk

The Gubuk
TG 18: Karena Ayam Goreng


__ADS_3

Sang pengemudi memutar stir menurut mengikuti saran kawannya karena ia pun lelah setelah melakukan penjelajahan hutan selama tiga hari yang cukup menguras tenaga. Betapa lega hatinya ketika melihat ada mobil lain yang terparkir di halaman depan villa.


"Monica, sebaiknya kamu bangunin Kevin. Aku akan coba ketuk pintu dulu." tugas si pengemudi tanpa menunggu jawaban. Ia membuka pintu mobil, lalu turun meninggalkan kedua sahabatnya.


Langkah kaki berjalan cepat agar tidak kedinginan terlalu lama di luar. Apalagi cuaca tak mendukung. Meski tidak hujan, nyatanya angin cukup kencang menghisap kehangatan berganti hawa nan dingin menusuk tulang. Jika orang sakit gigi, bisa semakin sakit di luar.


Pintu utama yang tinggi besar nan megah diketuk secara sopan sebagai tanda membutuhkan pertolongan. Sekali ketuk hingga tiga kali ketuk tapi tak ada jawaban. Apa semua orang sudah tidur? Tatapan mata beralih melirik jam di pergelangan tangan kanan.


"Pantas saja tidak ada yang membukakan pintu. Rupanya sudah jam dua belas kurang. Mana udara semakin dingin lagi, tak coba sekali lagi deh." gumamnya bermonolog pada diri sendiri. Niat hati ingin mengetuk tiba-tiba pintu di depannya bergerak secara perlahan.


Seorang pria dengan penampilan orang jawa membukakan pintu masuk. Tatapan matanya diam menyelidik seperti tengah mengawasi sekitarnya. Apa ada yang aneh? Entahlah hanya saja merasa risih ketika diperhatikan begitu intens.


"Selamat malam, Pak. Bolehkah saya dan kedua teman saya menginap malam ini? Kami ingin ke kota hanya saja ditengah perjalanan jalanan rusak. Kami bingung harus pergi kemana lagi." jelasnya mengatakan situasi yang memang begitu adanya.


Lagipula tidak berguna jika ingin berbohong. Mereka sudah lelah dan ingin segera merasakan air untuk menyegarkan diri, lalu tidur setidaknya dengan alas dan bukan rumput di tengah hutan. Tentu tidak ingin mati kedinginan di luar sana.

__ADS_1


Pak Rudi menganggukkan kepala, "Ajak masuk temannya! Nanti tak siapin kamar buat kalian." Pintu dibuka lebih lebar, kemudian berjalan mendahului yang lain kembali masuk ke dalam, sedangkan yang bertamu berlari kembali ke mobil.


Ketiga mahasiswa jurusan Perhutani yang tengah mengeksplorasi wilayah hutan di salah satu wilayah. Justru terjebak di saat perjalanan pulang. Bagi mereka menemukan villa berpenghuni merupakan suatu pertanda untuk istirahat sejenak. Seperti itulah yang dirasakan Monica, Kevin, dan Ansel.


Rudi memberikan dua kamar terakhir untuk digunakan tetapi Monica tidak suka sendirian. Sehingga mereka bertiga akan tinggal satu kamar yang berbatasan langsung dengan halaman samping rumah sisi kanan. Di kamar itu tidak ada kaca besar karena tersedia lubang ventilasi bulat yang cukup tinggi untuk digapai.


"Vin, elo gak mau mandi?" Digoyangnya tubuh Kevin yang sudah kembali tidur duduk disofa, membuat Ansel terkekeh pelan. "Ans, bantuin bangunin tukang tidur kenapa. Malah diketawain."


Ansel bukannya tidak mau membantu hanya saja percuma. Kevin bisa tidur dimana saja dan kapanpun. Bukan karena ngantuk tapi emang gak bisa diem dikit. "Kamu mendingan mandi duluan, biarin Kevin tidur. Besok kalau laper pasti bangun."


"Bener juga sih, ok lah. Aku mandi duluan. Jagain nih anak, takutnya tidur sambil jalan." pamit Monica meninggalkan Kevin yang mendengkur halus.


Tangan terampil, tatapan mata fokus dan bibir diam tanpa kata. Kesibukan yang menyita waktu dan meluapkan keadaan sekitarnya. Ansel tengah memastikan sampel tidak ada yang tertinggal. Tidak lucu setelah sampai laboratorium kota. Justru bahan yang dibutuhkan kurang atau menghilang.


"Mau ayam goreng." gumam Kevin seraya beranjak dari tempat duduknya. Mata yang terpejam dengan langkah kaki berjalan menjauhkan diri dari dalam kamar.

__ADS_1


Sayangnya Ansel tidak menyadari kepergian Kevin. Mahasiswa satu itu terlalu larut mencocokkan laporan fisik dan catatan di buku yang ditulis Monica. Sementara di luar sang sahabat terus berjalan mengikuti aroma ayam goreng yang begitu menggiurkan.


Langkah kaki terus menyusuri lantai dalam villa. Sesekali terantuk barang tetapi mata tetap terpejam. Kebiasaan Kevin tidur sambil berjalan. Ansel yang sibuk bahkan lupa menutup pintu kamar sehingga sang sahabat bebas berkeliaran seperti zombie.


Sementara di kamar lain, Papa Delano yang bermimpi buruk tersentak. Sontak saja ia bangun dari lelapnya mimpi untuk kembali menenangkan diri. Diambilnya gelas dari atas nakas tetapi tidak ada isinya. "Aku harus kebawah ambil air."


Tanpa menunda ia turun dari ranjang perlahan agar tidak membangunkan sang istri yang pasti sudah kelelahan. Langkah tanpa alas kaki supaya tidak menimbulkan suara sedikitpun. Begitu keluar dari kamar, Papa Delano sengaja mempercepat langkahnya.


Kondisi ruangan yang temaram membuat seluruh pemandangan sejauh mata memandang tampak teduh tanpa banyak pencahayaan. Wajar saja karena villa memiliki area yang luas dan akan menghabiskan banyak sumber daya. Jika terus menyalakan lampu utama.


"Dimana ya saklar lampunya." Papa Delano meraba dinding dapur hingga menemukan tombol yang membuat ruangan dapur menyala lebih terang dan jelas. "Syukurlah, ketemu juga."


Satu langkah berbalik mengalihkan perhatiannya. Dimana di sudut ruangan seseorang tengah jongkok menghadap ke dinding dengan suara seperti memakan sesuatu yang keras. Dari perawakan, ia tidak kenal karena bukan adik ataupun penjaga villa. Jelas itu orang asing, tapi siapa?


Satu langkah berjalan mendekat dengan perasaan was-was hingga aroma amis tercium. Apa yang dimakan orang itu? Belum sempat semakin mendekat tiba-tiba saja orang yang jongkok menoleh ke arahnya. Tak mampu menelan saliva begitu perut terasa mual.

__ADS_1


Tanpa sadar gelas ditangan melayang jatuh membentur lantai. Suara yang menyentak sisa kesadarannya, "Apa yang kamu makan?" tanya Papa Delano tak kuasa melihat mulut seorang pria muda yang mengoyak daging mentah.


"Ayam goreng." jawabnya tak begitu jelas membuat sisa daging jatuh ke lantai.


__ADS_2