
Aroma busuk kian tercium. Begitu menyengat hingga remaja itu menutup hidungnya berusaha untuk menahan rasa mual yang berputar di dalam perut. Benar-benar seperti berdiri di antara tumpukan gudang pembuangan sisa makanan. Bagaimana bisa ada bau tidak sedap?
Padahal kamar yang ditempati berada dilantai dua dan hanya memiliki satu jalan masuk serta keluar. Al menghentikan langkahnya, lalu mengangkat tangan bersiap menyibak tirai. Hati berdegup begitu kencang. Rasa was-was kian menyerang. Ia ragu tetapi harus memeriksa.
Kain nan menjuntai panjang kini tergenggam di tangan, "Ayolah, tenang Al." Helaan napas panjang hanya sekedar untuk menetralisir perasaannya.
Suara tirai terdengar begitu jelas memecah ketegangan yang ada. Rintik hujan lebat menyambut menyambut Al. Ternyata tidak ada apapun selain cuaca yang memang tidak bersahabat. Tatapan mata menelusuri area sekitar balkon dari sisi kanan ke tengah hingga ke kiri. Tidak ada apapun.
Setelah memastikan semua aman. Tiba-tiba beberapa pertanyaan muncul. Suara apa tadi? Bukankah seperti benda jatuh? Jika iya, dimana benda itu terjatuh? Bingung dengan situasi yang ada tetapi sebagai kakak berusaha untuk tetap tenang hingga terasa sentuhan hangat memegang bahu kanan.
__ADS_1
"Diluar tidak ada apapun. Sebaiknya kita istirahat ... " Al berbalik tanpa rasa curiga hingga tatapan mata terbelalak melihat sesuatu yang tidak bisa dijabarkan.
Sesosok makhluk tinggi besar dengan tubuh berselimut bulu hitam nan lebat berdiri di hadapannya. Sosok yang begitu mengerikan hingga membuatnya kesulitan berkata-kata. Wajah tak berbentuk dengan lidah menjulur meneteskan air liur.
Mendadak bibirnya kelu. Ingin berteriak, nyatanya tubuh terdiam seakan dikendalikan oleh orang lain. Rasa takut tak mampu lagi ditahannya. Tubuh yang gemetar berharap bisa digerakkan. "Sii-aa-paa kaa-muu?"
Suaranya terbata mempertanyakan esensi tak kasat mata yang menahan pergerakannya. Tangan besar dengan kuku panjang berujung runcing masih setia memegang pundaknya. Siapa yang tidak takut? Tubuh berusaha tenang tetapi tak mampu bertahan dalam keterkejutan yang teramat besar.
"Al!" Satu tepukan pundak kembali mengejutkan, "Kamu ngapain ngelamun? Ayo balik duduk." Ans menarik tangan sang kakak tanpa permisi.
__ADS_1
Dimana kakaknya terlihat kebingungan. Apa yang terjadi? Ia pun tidak tahu. Hanya saja selama sepuluh menit sang kakak tampak diam berdiri di depan jendela. Aneh karena hanya menatap rintik hujan tanpa menoleh untuk mengatakan apa yang dilihat.
Hal itu membuatnya berinisiatif menghampiri agar bisa menyadarkan sang kakak. Ternyata Al justru melamun menatap ke arah hutan. Tatapan mata kosong seakan baru saja mengalami shock terapi. Ingin bertanya lansung hanya saja ia sadar harus menenangkan sang saudara terlebih dahulu.
Segelas air putih diulurkan, "Minumlah, Al. Hujannya nanti reda kok. Jadi jangan khawatir begitu." Dibimbingnya sang kakak agar duduk di tempat sebelumnya. Lalu membiarkan meminum air darinya.
Ale mengamati perubahan wajah Al yang begitu kontras. Sang kakak yang selalu tenang dengan ekspresi santai tetapi serius. Kini terlihat aneh karena tatapan mata kosong, wajah memucat bahkan bahunya naik turun tak karuan. Apa yang terjadi? Apa yang dilihat Al?
"Guy's, ada pesan masuk." celetuk Ar mengalihkan perhatian semua orang yang ada di dalam kamar tersebut. "Danur? Ini orang apa-apaan sih."
__ADS_1
Pesan dari nomor asing yang tidak berasal dari mana berhasil mengembalikan kesadaran Al. Anak lelaki itu beranjak meninggalkan tempat duduknya, lalu bergegas mengambil toples kunang-kunang yang ada diatas meja. Hati berkata ia harus melepaskan hewan itu ke tempat asalnya.
"Kalian tetap di rumah! Aku akan pergi sebentar." ucap Al pasti tanpa keraguan.