The Gubuk

The Gubuk
TG 20:Meminta Maaf


__ADS_3

Dikeluarkannya papan ouija, empat ponsel milik anak-anak, toples berisi kunang-kunang, pisau berlumuran darah, sepotong daging mentah, dan juga bulu ayam berwarna hitam. Barang yang menurutnya patut dicurigai.


Pasalnya setiap barang seakan saling berkaitan. Apalagi artikel yang terpampang jelas sebagai wallpaper ponsel. Hal itu semakin membuat praduga lebih besar. Meski begitu, sebagai ayah ingin memberi satu kesempatan kepada anak-anak untuk menjelaskan apa yang terjadi.


"Maafkan, Al, Pa. Semua ini karena kami merasa bosan pada malam pertama di villa. Papan itu, Al pinjam dari teman dan akhirnya mengajak ketiga saudaraku untuk bermain." ujar Al melindungi Ar agar tidak kena omelan sang papa.


Karakter setiap anak tentu bisa dikenali oleh orang tua mereka dengan sangat baik. Sehingga Papa Delano menghela napas panjang. Ia tahu jika Al melindungi salah satu saudara yang sangat disayanginya. Bukan hal aneh lagi karena setiap waktu selalu begitu.


Ar merasa masalah kali ini, tidak sepele seperti biasanya. "Pa, Al berbohong. Aku yang membawa papan permainan itu dan menyembunyikannya di tas ransel milik Ale. Kami bermain juga karena aku yang memaksakan diri, sedangkan yang lain menurut." Rasa bersalah memintanya untuk berkata terus terang.


Obrolan masih berlanjut dengan interogasi tetapi Ansel dewasa memperhatikan bagaimana perilaku kunang-kunang yang ada di dalam toples. Entah mengapa, saat menatap hewan bersinar itu, ia melihat penderitaan yang bisa dirasakan oleh hatinya. Perasaan was-was, cemas dan takut bercampur menjadi satu.

__ADS_1


"Maaf, sebelumnya. Kunang-kunang itu lebih baik dibebaskan. Jika dibiarkan di dalam toples bisa mati secara perlahan." ujar Ansel dewasa menyela obrolan keluarga Wellington.


Jujur saja ia tak tega tapi instingnya berkata untuk segera membebaskan kunang-kunang. Al yang merasa sudah melakukan permintaan Ansel dewasa jadi bingung akan satu hal. Kunang-kunang dari mana dan kenapa ada di dalam kamar.


Diambilnya toples kunang-kunang yang ada di atas meja. Sekali lagi ia perhatikan dan jumlah di dalam toples justru lebih banyak dari yang sebelumnya. Aneh 'kan? Tidak mungkin bisa berkembang biak secepat kilat atau muncul begitu saja seperti sihir.


"Aku sudah melepaskan semua kunang-kunang ini, bahkan toples kutinggal di luar sana. Bagaimana Papa menemukan ini?" Al menatap tak percaya akan fakta yang tidak masuk akal.


Monica dan Kevin masih mencerna semua yang terjadi hingga kedua mahasiswa itu saling pandang dengan tatapan mata terbelalak. Seakan keduanya memikirkan hal sama. Tidak ada yang menyadari perubahan ekspresi tersebut kecuali dua insan yang saling berkaitan akan sebuah peristiwa masa lampau.


Keduanya berhenti di depan jendela. Jarak enam meter adalah jarak yang cukup untuk melakukan obrolan pribadi. Tatapan mata serius tetapi terlihat gusar melirik kanan dan kiri. Wajahnya yang ayu mendadak pucat dengan bibir gemetar bingung mau memulai dari mana.

__ADS_1


Digenggamnya pundak Monica seraya mengguncang agar tidak melamun lagi, "Kamu mau bilang apa? Jangan bikin aku cemas deh."


"Ans, aku bingung mau mulai darimana tapi apa yang terjadi sama keluarga ini pernah dialami keluarga lain juga. Gimana ya jelasinnya." Kedua tangan saling bertautan dengan rasa ragu di hati. Takut ia salah menilai situasi, tapi harus berkata terus terang.


"Jelasin aja! Biar aku tau karena kita sekarang disini bersama mereka. Jika sesuatu terjadi pada mereka, maka kita bisa dijadikan tersangka. Mereka orang luar yang liburan sedangkan kita orang asli sini meski bukan di kota yang sama." ucap Al meyakinkan Monica untuk jujur.


Keraguan itu tentang emosi yang tarik ulur untuk diutarakan. Keyakinan yang masih dipertanyakan akan kebenarannya. Terlalu rapuh untuk disentuh, apalagi digenggam. Sehingga hanya bisa katakan berharap kepastian.


"Apa yang terjadi pada anak-anak keluarga itu, maka pernah dialami oleh keluarga Suryo yaitu almarhum ayahnya Kevin. Kisah yang pernah menjadi dokumentasi saat kelas sejarah masa SMA. Apa kamu ingat? Semua kisah itu sebenarnya kisah nyata." tutur Monica yang akhirnya bisa bernapas lega karena mengungkap sebuah kebenaran.


Al mencoba memutar ingatan dua tahun yang lalu. Saat itu wali kelas memberikan pekerjaan rumah. Dimana setiap kelompok harus melakukan dokumentasi sejarah kehidupan. Mau sejarah seorang pahlawan, keluarga, sahabat atau profesi seseorang. Kebetulan kelompok mereka tetap tiga orang yang sampai saat ini langgeng.

__ADS_1


Seingatnya Kevin lah yang langsung memutuskan untuk membuat karangan kisah kehidupan sebuah kelurga bahagia. Akan tetapi karena satu peristiwa yang menghancurkan seluruh kebahagiaan sederhana keluarga tersebut. Kisah yang penuh intrik, misteri dan pilu air mata karena berakhir tragis.


"Monica, apakah maksudmu anak yang terselamatkan itu Kevin?" tanya Al mencoba memastikan kesimpulannya benar. Anggukan kepala sang sahabat langsung menyadarkan ia akan fakta yang benar-benar mengejutkan. "Apa ada solusi untuk menghentikan semua ini?"


__ADS_2