
Seorang gadis berwajah pucat yang berusia delapan tahun terbaring di atas ranjang mengenakan gaun hitam dengan lengan panjang. Gadis beliau si pemilik rambut hitam sebahu berhias jepit bunga mawar. Tidak ada pergerakan sedikitpun dari tubuh yang terbujur kaku menyisakan aroma tak sedap.
Sudah beberapa hari jasad itu tidak dibaluri pengawet karena sibuk mempersiapkan ritual pemujaan yang akan menjadi pertukaran jiwa. Apapun akan dilakukan demi kembalinya sang putri. Seulas senyum samar menghiasi wajah dengan tatapan rindu yang menggebu-gebu.
Wajar bukan? Ketika seorang ayah merindukan suara tawa putri semata wayangnya. Seumur hidup yang dipenuhi penderitaan tetapi memiliki tempat berlabuh berbagi kebahagiaan. Lalu tiba-tiba takdir merenggut alasannya tetap bertahan hidup di dunia yang fana. Tidak ada lagi kata yang bisa menjabarkan emosinya.
Sentuhan lembut penuh kehati-hatian memulai perawatan jasad ditemani nyanyian kidung nina bobo khas Jawa. Tangan berbalut sarung tangan plastik begitu telaten mengoleskan cream pengawet yang baru saja dibeli. Terlihat sudah terbiasa karena begitu luwes.
Sementara itu, Anak-anak kembali duduk di tempat yang sama. Kali ini tidak ada pembahasan karena mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Tanda tanya yang awalnya tidak mendapatkan jawaban, tiba-tiba menemukan titik pencerahan. Dimana beberapa informasi yang telah di temukan mulai bisa disatukan.
Ale sibuk menyusun ponsel yang sengaja dikuasainya seorang diri. Gadis itu meletakkan papan ouija di tengah, lalu satu persatu ponsel diletakkan sesuai tempat duduk si pemilik benda pipih. Tak lupa mengambil gambar hasil coretan tangan Ar.
__ADS_1
"Ale, apa semua ini?" Al menatap satu persatu, ia mencoba untuk memahami maksud dari adik bungsunya.
Hal itu membuat yang lain ikut mengalihkan perhatian dan fokus menunggu penjelasan Ale. Dimana si gadis masih berpikir keras tentang apa saja yang saling berkaitan. Tangannya menopang dagu tetapi bibir tersenyum simpul, tatapan mata menyipit dengan alis terangkat.
"Baal merupakan setan yang menyimbolkan kerakusan dan ketamakan. Baal juga disebut sebagai 'Lord of Wealth' yang berarti sebagai pemberi kekayaan yang licik. Baal dan Mamon adalah dua malaikat gelap yang memegang kunci kekayaan,” ucap Ans membaca artikel yang disalin Ale, lalu dijadikan wallpaper.
"Ar, baca tulisan di wallpaper mu." pinta Ans ingin tahu apa semua ponsel dipasang wallpaper sama.
__ADS_1
Ans menghela napas kasar. Rasanya enggan untuk membaca, namun tatapan mata Ans memaksanya agar mau melakukan permintaan sederhana seorang saudara. "Sekte? Tunggu dulu, Ale kamu ini cari informasi apa? Kenapa semua terlihat semakin menyeramkan."
"Semua itu berhubungan satu sama lainnya, Ar." Ale menunjuk ke papan ouija, "Dimulai dari kamu memaksa memainkan permainan ini, lalu kemunculan beberapa kata yang dirangkai menjadi DANUR. Kemudian coretan gambarmu. Semua berawal dari kamu."
"Jadi maksudmu, semua ini salahku begitu?" tanya Ar dengan nada setengah kesal, membuat Al mengangkat tangan menghentikan perdebatan yang bisa saja menjadi masalah baru.
Sebagai kakak yang selalu harus bersikap tenang meski keadaan mulai menegangkan. Ia tak tahu dengan pemikiran Ale meski menyadari semua pernyataan sang adik bungsu benar adanya. Tetap saja harus mengendalikan emosi Ar demi kebaikan bersama.
"Kita dengarkan dulu apa yang akan Ale katakan. Please calm down!" ucapnya sepenuh hati membuat Ar menghembuskan napas kasar sedangkan Ale kembali membenarkan posisi barang seperti semula.
__ADS_1