The Gubuk

The Gubuk
TG 33: Saling Menjaga


__ADS_3

Bara hanya pergi mengambil ponselnya tapi Ans dan Delano sudah heboh karena tidak sabaran. Pria itu berpikir hanya sebatas saja, sedangkan bagi Ans dan Delano merupakan satu titik akhir dari pencarian misteri. Tak terasa detik waktu kian mendekati pertengahan malam.


Hitungan detik demi detik kian menyisakan jarak, ruang dan waktu. Ponsel yang tergeletak di atas nakas masih menyala, lalu dicarinya sebuah foto beberapa bulan kebelakang yang seingatnya tersimpan di gallery. Beberapa saat men scroll foto yang tidak seberapa banyak itu hingga menemukan beberapa foto lama yang dia butuhkan.


"Aha, ini dia fotonya. Coba periksa ponselmu, Ka. Aku sudah kirim." ucap Bara yang ingin berbagi hasil jepretan fotogenik yang diambilnya.


Ponsel yang selalu dibawa bergegas dibuka, tatapan mata fokus menunggu hasil download gambar tetapi karena sinyal yang memang terbatas berkat kelakuan Ans. Maka harus bersabar tetapi Ans meminjam si benda pipih agar mempermudah pengecekan foto.


Sontak saja kedua pria itu berjalan menghampiri Kevin yang entah tengah sibuk melakukan apa karena tampak begitu serius. Sepertinya sang sahabat berusaha keras untuk tidak terlelap meski untuk itu harus menyibukkan diri. Tetap saja menjadi semangat untuk yang lain agar bisa lebih tegar.


Kabel data dipasang dari ponsel ke laptop, lalu mengalihkan file ke folder yang telah disediakan. Perlahan foto yang dikirim Bara mulai menampakan diri. Dimulai dari rambut keriting hitam legam, alis panjang nan tebal, kelopak mata lebar dengan mata merah kecoklatan, hidung tidak begitu mancung, dan bibir kaku tanpa ekspresi.


Wajah oriental dengan khas campuran yang bisa dipastikan perpaduan Jawa dengan orang luar. Noland Yoshida saat masih berwajah tampan tanpa ada bulu yang menutupi area bawah hidung dan dagu. Sesaat mengamati hingga Kevin mengatakan satu kebenaran yang langsung menjadi kepanikan tersendiri.


"Bukankah orang asing yang terluka wajahnya sama seperti foto itu." tukas Kevin tanpa keraguan.


Ans mengamati lebih seksama dan benar saja. Wajahnya memang sama bahkan tidak ada yang berbeda kecuali bekas luka di dahi yang terlihat samar. Seketika ia juga mengingat akan obat yang diberikan Tuan Delano pada pasien asing itu. Ia lupa untuk bertanya karena terlalu larut memikirkan hal lain.


"Tuan, obat apa yang Anda berikan padanya?" Ans menatap intens Papa Delano, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum tipis seraya mengambil sesuatu dari balik saku celana. Lalu memberikan padaku. "Obat pelumpuh syaraf."


"Obat ini akan bekerja selama delapan jam sejak sepuluh menit pemberian. Entah kenapa wajahnya yang seperti baru dicukur, aroma sabun bercampur bensin dan darah yang sebenarnya luka dari benda tajam terlalu tidak masuk akal. Jadi tanpa ingin membuat kegaduhan, aku memberikan obat untuk dia istirahat total.


"Bukan bermaksud untuk bertindak jahat hanya saja kecurigaan seorang dokter selalu memiliki alasan yang tepat." Papa Delano menoleh kebelakang yang ternyata adiknya kembali menjaga sang istri tercinta. "Aku mendapatkan sampel dari saluran pipa air. Lihatlah!"


Plastik kecil dengan isi rambut berwarna hitam legam diletakkan ke atas meja. Kevin memeriksa mencoba menyamakan dengan foto yang ada di depan mata sedangkan Ans semakin menghela napas panjang. Bagaimana tidak? Setelah berusaha mencari titik terang, justru ia dan kedua sahabatnya terjebak dalam masalah bisnis.


Bukannya tidak kasihan tetapi ia merasa lelah setelah menikmati penelitian di hutan kemarin. "Tunggu dulu, Vin apa kamu ingat saat aku bilang melihat gubuk ditengah hutan?" Sekilas ingatan tiba-tiba datang menyapa.


"Ingat, dan kita juga berusaha mendekati gubuk itu sampai Monica meminta untuk balik ke tenda. Kenapa?" tanya balik Kevin karena memang tidak paham dengan maksud Ans.


"Gubuk? Apa kalian tidak tahu, Ar mengatakan ada cerobong asap dari hutan." sambung Papa Delano menambah penerangan di tengah kegelapan kebenaran. "Apa mungkin jika villa ini terhubung dengan gubuk yang kalian maksud?"

__ADS_1


Pertanyaan itu bisa saja menjadi jawaban terakhir dari teka-teki yang ada. Hanya saja bagaimana cara mereka membuktikan satu fakta terakhir itu? Ketika semua mengurung diri di ruang keluarga dan berusaha menjaga keluarga. Satu cara yang bisa dilakukan adalah pergi keluar mencari bukti.


Hanya saja itu tidak mungkin karena mereka harus tetap bersama hanya. Lalu bagaimana akan melakukan itu ketika semua sudah jelas. Berpikir ulang apa yang akan ia lakukan ketika situasi semakin mendesak sedangkan di bawah tanah. Tepatnya di mana Al dan Ale yang tersekap mulai menemukan titik jalan terang.


Kedua anak itu akhirnya bisa melihat secercah harapan dari lubang saluran air yang ternyata berada di bawah tempat mereka duduk. Siapa sangka yang dimaksud adalah sebuah saluran air yang entah ke mana arahnya. Lubangnya tak seberapa besar mungkin itu cara lain yang tidak pernah terpikirkan oleh siapapun.


"Al, ini tidak mungkin untuk dilewati. Lihat saja lubangnya terlalu sempit. Pasti ada jalan lain." ucap Ale menegur Al seraya menatap lubang tak seberapa yang ada di depan mata.


Al mengganggu paham, dia juga tak mungkin meminta sang adik untuk melewati jalan yang bahkan tidak muat untuk tubuh adiknya. Akhirnya lagi dan lagi, harapan itu pupus. Sehingga ia kembali mengelilingi ruangan yang entah kesekian kalinya. Selama berjam-jam menahan lapar dan haus tapi semangat di hati masih ada.


Apapun akan dilakukannya demi bisa terbebas dan membawa Ale kembali kepada keluarga. Ia berusaha untuk mencari di dinding tetapi kali ini hanya menyorotkan lampu senter hp yang mulai meredup ke sudut-sudut lantai yang mungkin saja menemukan hal lain untuk menjadi jalan.


Tiba-tiba sorot lampu seakan terpantul balik ke arahnya. Hal itu aneh karena mereka berada di dalam ruangan tanpa cermin. Akan Tetapi yang terlihat justru seakan terpantul di depan cermin. "Ale, apakah kamu melihat apa yang kulihat barusan?" Ans bertanya tanpa menoleh ke belakang menatap adiknya yang tengah konsen pada hal lain lagi.


Panggilannya tak juga dijawab dan justru diabaikan oleh adiknya. Heran akan hal itu, sontak ia berpaling menoleh ke belakang menatap dimana Ale berada. Sang adik tengah berdiri di depan jalan terbuka. Anak itu sudah menemukan jalan pintas yang ternyata dinding bergeser.


Hati seketika merasa senang dengan rasa syukur karena akhirnya apa yang dicari telah ditemukan.


Namun tiba-tiba suara desingan terdengar melesat begitu cepat, membuat Al spontan berlari menarik tubuh Ale dari depan pintu. "Kamu tidak apa-apa, Ale?" tanyanya begitu panik.


"Ini semua jebakan. Bagaimana bisa seperti ini? Bukankah ini ruangan perangkap keluar dari satu ruang, lalu masuk ke ruang yang lain? Jika demikian justru lebih berbahaya." ujar Ale begitu panik tetapi masih berusaha untuk menyeimbangkan diri tetap berada di dalam pelukan sang kakak.


Al tahu betapa cerdiknya sang adik tetapi ia juga tahu bahwa adik satu-satunya itu juga seorang perempuan yang harus dijaga. Mana mungkin ia membiarkan adiknya terluka. "Ale, kita harus tetap di sini sementara waktu. Coba kupikirkan harus melakukan apa agar kita bisa keluar tanpa luka sedikitpun."


"Apa yang kamu lakukan, Al? Jangan bertindak gegabah! Meski aku memang takut tapi aku lebih takut jika terjadi sesuatu padamu. Kita ini saudara jadi bagaimana cara kita menanga6 situasi harus tetap menjaga menjaga satu sama lain. Ingat kata Papa dan Mama.


"Kamu adalah pemimpin dan aku adalah anggota yang harus bisa saling memahami untuk melengkapi. Boleh saja bertindak sebagai kakak yang bertanggung jawab tapi jangan pernah lupakan bahwa aku juga memiliki tanggung jawab sebagai seorang adik." tegas Ale membuat Al terdiam tak mampu mendebat adiknya kali ini.


Emang benar setiap hubungan memiliki tanggung jawab dan kewajiban masing-masing. Bahkan tak jarang untuk memenuhi hal tersebut kita harus berkorban satu sama lain. Mungkin tidak aneh lagi dan sangat wajar ketika saudara memberikan kebahagiaan untuk saudara lainnya. Hanya saja kita harus saling mengingatkan bahwa memenuhi tanggung jawab itu, bukan berarti selalu mengorbankan diri sendiri.


Puluhan pisau yang terus seperti melesat seperti hujan dibiarkan begitu saja hingga lantai bergelimangan benda tajam yang berkilau. Bagaimana cara kerja mekanisme semua perangkap itu? Satu hal pasti ada pemicunya. Jika satu pintu terbuka, maka pintu lain yang tertutup. Jadi setiap pintu saling terkait, itulah poin utamanya.

__ADS_1


i


Al memperhitungkan waktu di setiap desingan pisau yang melesat hingga akhirnya berhenti. Ia pikir sudah aman tetapi tak seperti dugaannya. Tiba-tiba terdengar suara erangan nan mengerikan. Suara yang terdengar samar perlahan mendekat dengan derit menghantarkan getaran ngilu di telinga.


Suara itu seperti seseorang tengah terus menerus mencakar dinding. Apakah iya salah mendengar atau memang ada sesuatu di balik dinding yang kini menjadi tempat keduanya disekap. Kenapa ia merasa ada bayangan lain yang berusaha untuk mendekati tapi tak mampu mendekat.


Perasaan itu benar-benar kuat. Meski ruangan penyekapan minim pencahayaan, bukan berarti ada bahaya. Akan tetapi apa yang membuat suara itu hanya berteriak tanpa melakukan penyerangan?Apakah di dalam ruang sekap ada barang yang dijadikan pelindung? Pikiran Al semakin tak karuan ketika mulai menyadari bahaya itu datang bukan hanya dari satu arah saja.


"Aku merasa takut tapi bukankah kita harus pergi dari sini tanpa harus meninggalkan satu sama lain." ucap Ale seraya memainkan kaos Al yang benar-benar sudah menjadi tempat pelampiasan kekhawatirannya.


Sesaat Al menghela napas seraya memejamkan mata mencoba menetralkan perasaan di hatinya. "Kita bisa keluar tapi untuk itu, aku harus melakukan sesuatu untuk melihat situasi yang ada. Aku tidak tahu seberapa banyak bahaya yang akan datang. Semua yang akan terjadi pasti sudah direncanakan dan tidak akan semudah itu hingga membiarkan kita tetap hidup."


"Aku tahu, kita telah disekap dan siapa yang melakukan itu, aku tak tahu. Apakah kita benar-benar tidak bisa lepas bahkan pergi dari tempat ini? Apa untungnya menyekap anak-anak" Ale mulai merasa sedih lagi mengingat ia sangat merindukan keluarganya.


Lagi-lagi hatinya merasa trenyuh karena menahan rasa sedih seorang diri. Padahal ia sendiri sadar ada sang kakak yang tetap bersamanya. Al mungkin terlihat tegar tetapi bagaimana dengan hati remaja itu? Al bahkan tak membiarkan dirinya untuk menangis terlalu lama dan melupakan rasa takut yang pasti juga menyergap hati. Iya tak ingin egois apalagi berusaha berkeras hati.


Namun apalah daya ketika hati dikuasai rasa takut dan pikiran semakin gelisah. Debaran jantung saja tak mampu lagi untuk tenang mencoba mencari kedamaian. Salahkah bila ia merasa tertekan di antara rasa yang kini semakin menyudutkan hati dan jiwa?


Al mengusap kepala Ale. Ia tak akan mampu untuk berkata apapun selain berusaha menenangkan adiknya kembali. Seiring waktu yang hanya berputar sekian detik tampak semakin merasa terasingkan. Sementara diatas sana suara desing yang berasal dari alunan lagu mengubah suasana.


"Ans, kita harus menghentikan semua itu. Lagu ini tidak boleh dimainkan karena semua makhluk bisa saja datang di saat lampu padam. Aku rasa kita juga harus segera mencari apapun itu yang bisa menghasilkan sinar untuk dipantulkan keluar Villa." ujar Monica yang terkejut karena dentuman suara lantunan senandung pemujaan.


Penjelasan kali ini menggunakan bahasa Indonesia karena terlalu panik. Gadis itu lupa bahwa mereka tengah berada di antara keluarga orang asing. Kevin yang memahami memilih bertindak cepat dengan mengelilingi setiap bufet, almari dan tempat yang memungkinkan mendapatkan barang penghasil cahaya.


Setelah melakukan pencarian selama beberapa waktu hanya ditemukan empat senter yang entah masih menyala atau tidak. Akan tetapi tetap dikumpulkan menjadi satu, lalu diletakkan ke atas meja. "Empat senter. Kita hanya memiliki ini tapi aku akan periksa dulu apakah masih berfungsi dengan baik atau sudah rusak."


Dari keempat senter yang menyala hanya tiga yang bisa dihidupkan tetapi satu senter sudah hampir mati dan dua senter setidaknya cukup terang. Jika mengingat tempat Villa berada tidak akan cukup. Apalagi jika semua lampu padam dan kegelapan menyala.


Maka Villa membutuhkan cahaya satu yang bisa menerangi lebih dari sekedar lilin. "Ada satu solusi lagi tapi untuk itu kita harus keluar dari villa." ujar Ans membuat semua orang menoleh menatap ke arahnya.


Monica menggelengkan kepala berharap Ans tidak mengatakan apapun yang akan menjadi bumerang. Ia tahu benar bagaimana keputusan dadakan seorang Ansel. Pasti di luar ekspektasi meski memang untuk kebaikan bersama. Tetap saja ekstrim, sedangkan yang lain merasa penasaran.

__ADS_1


Ketika semua cahaya dirumah padam, maka ada yang bisa lakukan. Pernyataan itu agaknya langsung memicu tindakan wajar tetapi situasi tak mendukung. Satu puzzle berhasil dipecahkan tapi tiba-tiba ada kepingan puzzle lain. Terlalu berlebihan meski kenyataan akan tetap karena satu alasan sederhana.


"Kalian tidak ada yang mau bertanya?" Ans mengedarkan tatapan matanya beralih dari satu wajah ke wajah yang lain. "Baiklah, sekarang dengarkan aku. Kita akan membagi dua kelompok dari team satu tetap di dalam dan team dua ...,"


__ADS_2