The Gubuk

The Gubuk
TG 13: Menyatukan Informasi


__ADS_3

Si gadis jutek mulai menjelaskan semuanya dari awal. Dimana ia mengatakan permainan papan ouija menjadi sumber masalah yang menghadirkan keanehan selama beberapa waktu terakhir. Dari hasil pencarian berpatok dengan kata DANUR. Satu hasil cukup menjadi sumber konkrit.


Apalagi ketika penjelasan Pak Joko dipertimbangkan secara lebih matang. Maka ia menyimpulkan kedatangan para makhluk tak kasat mata di sekeliling mereka. Hanya saja tidak satupun dari mereka memiliki kepekaan terhadap hal di luar nalar.


Hal tersebut membuat intensitas komunikasi semakin menipis. Dimana pesan yang tertera di grup whatsapp menjadi bukti pertama. Lalu cuaca yang memburuk tanpa mengenal waktu. Tanda-tanda kehadiran para makhluk sudah jelas tetapi masih tidak pahami.


Disisi lain ada sebuah informasi yang menyatakan tentang sekte satanic. Sekte dengan tujuan memperoleh kemakmuran dalam bentuk kesejahteraan di kehidupan yang fana. Ditambah lagi tentang Baal si makhluk yang bersimbol tamat. Semua informasi disatukan meski memiliki keraguan sebesar dua puluh persen.


Al menopang wajahnya dengan pandangan menatap papan ouija. "Apa keterangan tentang papan ini sudah pasti? Jika iya, pasti ada solusinya."

__ADS_1


"Al, semua informasi merupakan hasil dari pencarian beberapa laman. Kurasa kita harus memikirkan ini bersama-sama." Ale mengedarkan pandangan matanya. Ia mencari sesuatu yang baru saja diingatnya. ''Kunang-kunang. Apa aku harus melepaskan mereka?"


Satu pertanyaan yang memiliki jawaban jelas. Setiap makhluk hidup dimuka bumi ingin kebebasan. Jika mengurung maka mengekang takdir. Sementara kodrat manusia berusaha memperbaiki diri dan bukan menjadi alasan kesedihan bagi orang lain.


"Apa kalian melihat kunang-kunang yang tadi? Mereka terlihat tenang saat ini, padahal sebelumnya satu diantaranya bergerak kesana kemari tidak karuan. Ahh iya, aku ingat hal itu terjadi tepat ketika Ar mulai bersikap aneh. Apa satu sama lain memiliki hubungan?" tutur Ans mengutarakan isi pemikiran.


Ar merenung mengingat semua yang sudah terjadi. Mau tak mau, ia harus ikut berpikir begitu keras. Penjelasan Ale, pertanyaan dan pernyataan Ans serta Al digabungkan menjadi satu. Fakta yang terungkap memang cukup mengejutkan tetapi ada sesuatu yang terlewat.


"Rasanya itu seperti ada yang menyentuh kepalaku. Tangan dingin dengan ukuran telapak tangan mirip tangan Papa Bara. Entahlah, tapi benar-benar membingungkan. Apalagi emosiku meledak, padahal aku baik-baik saja. Apakah itu wajar?"

__ADS_1


Obrolan anak-anak begitu seru hingga tidak menyadari ada yang mendengarkan semua itu. Ia yang tersenyum samar dengan sebilah pisau tergenggam ditangan kanan. Entah apa yang tengah dipikirkan. Siapapun yang melihat senyum iblisnya pasti merinding.


"Ar, kamu terlalu kecapean, kurang tidur juga. Kita tahu bukan bagaimana hasil dari begadang?" celetuk Al mengurai ketegangan yang ada agar kembali normal. Meski ia sendiri memikirkan semuanya tanpa terkecuali.


Sesuatu mengusiknya tetapi apa? Ia sendiri masih mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang benar-benar mengusik pikiran. Jangankan bisa tenang, hati berkata akan terjadi hal diluar harapan mereka. Apalagi ketika mengingat keputusan sang papa.


Aku harus mencari kebenarannya tanpa melibatkan ketiga saudara ku. Hanya saja bagaimana caraku menghindari mereka bertiga? Villa saja begitu besar dan tidak mungkin mencari dalam waktu yang singkat. Bagaimana jika berterus terang pada papa atau mama? Tidak. Kasian Ans, Ar dan Ale kalau liburan diakhiri begitu saja.~ kata hati Al yang sibuk bermonolog pada dirinya sendiri.


Sekelebat bayangan gelap melintasi luar jendela tetapi keempat anak itu masih tidak melihat. Mereka sibuk dengan perdebatan hingga kepekaan terhadap sekitarnya berkurang tapi tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari arah balkon. Suara yang cukup nyaring seperti kelapa jatuh.

__ADS_1


"Kalian disini saja." Al beranjak dari tempatnya, lalu berjalan menuju arah balkon seorang diri. Detakan jantung bertalu-talu menahan napas dalam diam menanti pandangan pertamanya. Sejauh mata memandang diselimuti rintik hujan. "Kenapa ada aroma busuk?"


__ADS_2