
Monica menggelengkan kepala pelan. Meski tau cerita lengkapnya, bukan berarti ia memahami sepenuhnya hanya saja. Kevin adalah saksi kunci peristiwa masa lalu yang bisa menjadi petunjuk. Obrolan serius kedua sahabat itu terhenti ketika terdengar suara panggilan dari arah perkumpulan.
Ternyata Papa Bara meminta semua orang untuk kembali ke kamar masing-masing agar beristirahat. Satu per satu meninggalkan ruang tamu tetapi tidak dengan ketiga mahasiswa yang tetap berdiam diri berdiri di sebelah sofa dengan tatapan saling pandang.
"Apa yang harus kita lakukan? Apa membiarkan atau?" tanya Monica dengan wajah cemas. Hati benar-benar tak tenang karena untuk pertama kalinya menghadapi situasi di luar nalar.
Sementara Kevin tampak berpikir keras mencoba mengingat apa yang bisa menyelamatkan keluarga Wellington. Rasa kehilangan saudara dan kedua orang tua sekaligus sangatlah menyakitkan. Ia tak ingin ada anak yatim piatu lain dengan kehidupan yang miris.
Baginya, tidak boleh ada Kevin lain di dunia ini. Apalagi hanya untuk memberikan satu pihak kepuasan akan permainan akal sehat. Kebiasaan yang harus diperhatikan tetapi seringkali malah terlupakan. Yah seperti itulah manusia pada umumnya.
"Guy's, aku tidak tahu ini membantu atau tidak tapi kita harus cari silsilah keluarga pemilik villa. Baik itu dari leluhur sampai keluarga yang terakhir menjadi penghuni. Biasanya ada jejak yang tertinggal di sejarah keluarga." kata Kevin memberikan saran masuk akal hanya saja masih disebut sopan kah melakukan pengecekan tanpa izin?
Ans dewasa tak ingin mengambil resiko begitu besar sebenarnya. Akan tetapi melihat situasi yang ada, mungkin saja masih aman. Yah begitulah pikitnya. "Kita istirahat dulu, besok pagi bisa dibicarakan lagi. Okay, ayo kembali ke kamar."
"Ans, apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Monica dengan ragu. Entah kenapa ia merasa keputusan Ans kali ini terlalu menyepelekan masalah.
__ADS_1
Bukan berniat su'udzon. Namun ia tidak ingin melihat sesuatu yang diluar ekspektasi saja. Apalagi selama mengenal Kevin, hidupnya sudah cukup diselimuti ketegangan. Meski mereka bersahabat sejak kelas satu SMA. Tetap saja yang tinggal bersebelahan adalah ia dan Kevin karena satu perumahan.
Kehidupan normal yang terlihat baik dan wajar. Nyatanya memiliki sisi lain yang tidak semua orang tau. Seperti Kevin yang sering tidur sambil jalan. Sebenarnya apa yang terjadi di dapur bukanlah pemandangan pertama kali bagi gadis itu.
Namun, selama ini masih terkejut setiap kali melihat tingkah aneh Kevin karena terbawa mimpi. Maka dari itu, ia tidak merasa bersalah ketika meminta Papa Delano menyiram Kevin dengan air es yang dingin. Apalagi kali ini yang dimakan daging ayam segar.
"Kita bahkan tidak tahu bangunan villa seluas apa dan seluk beluknya seperti apa. Bagaimana jika tersesat? Aku hanya tidak mau kalian kenapa-kenapa. Apa ini cukup menjadi alasan?" jawab Ans serius membuat Monica dan Kevin pasrah karena disini tanggung jawab ada di pundak sang pemimpin.
Benar yang dikatakan Ans. Andai mereka mengenal bangunan tempat mereka bernaung mungkin saja bisa menemukan sesuatu. Langkah kaki berpindah ke kamar tetapi bukan berarti berdiam diri. Sang pemimpin mengambil laptop yang sejak datang ke villa sengaja langsung di charge.
"Kevin, bolehkah kamu cerita kisah keluargamu, lagi? Aku ingin menemukan clue sebelum menyampaikan tentang apa yang kita ketahui pada keluarga Wellington." Ans mengalihkan perhatian. Ia menoleh ke arah sahabatnya yang duduk merenung menatap lantai diam membisu.
Pertanyaan itu tidak lagi memberikan efek apapun hanya saja kemelut hati tak memungkiri akan trauma masa lalu. Helaan napas panjang mencoba menetralkan emosi serta pikiran yang kian mendung. Kisah lalu meninggalkan ia hidup seorang diri sebagai anak yatim piatu. Andai tidak ada yang mengadopsinya.
Bisa jadi saat ini hanya menjadi manusia lemah tak berdaya tanpa ilmu pengetahuan. "Semua itu bermula ketika ayah mengajak kami liburan bersama. Ibu, aku dan kedua saudara serta seorang anak tetangga berkunjung ke sebuah pulau terpencil. Pulau yang indah dengan banyaknya pepohonan rimbun."
__ADS_1
"Aku ingat ayunan kayu di samping rumah penginapan yang menjadi tempat favorit kami. Suara gemericik air dari arah hutan dan juga sepoi angin yang mendukung. Jujur saja, awalnya semua baik-baik saja. Yah setidaknya itu yang aku pikirkan.
"Malam pertama hari pertama, semua aman terkendali tapi anak tetangga ternyata membawa sesuatu yang dianggap tabu. Boneka jerami yang terbungkus kain putih. Tidak tahu didapatkan dari siapa hanya saja rasa penasaran anak-anak membuat kami bermain boneka itu seraya menyanyikan lagu nina bobo.
"Lagu yang syarat akan makna. Permainan berdurasi sepuluh menit terhenti karena ibu memanggilku dan yang lain untuk menikmati puding. Kami pergi meninggalkan kamar begitu saja, bahkan tidak menoleh ke arah boneka jerami yang sebesar lengan."
Kevin beranjak dari tempat duduknya, lalu beralih berjalan mendekati vas bunga yang tergeletak di atas nakas. Vas diangkat, lalu tiba-tiba dilepaskan begitu saja hingga jatuh membentur lantai. Tindakan nekat Kevin mengejutkan Ans. Dimana pria itu langsung berlari, kemudian menarik tangan sahabatnya.
"Kamu ini kenapa? Jangan aneh-aneh deh, Vin." tegurnya khawatir tetapi yang dikhawatirkan justru terkekeh pelan.
Kevin menunjuk ke lantai ke arah serpihan guci yang pecah berantakan. "Santai saja, tapi coba lihat pola dari serpihan itu! Ada yang tersembunyi sebagai clue. Ini disebut langkah pertama, kita memiliki waktu tiga hari sebelum keluarga ini hilang satu persatu."
"Apa maksudnya dengan waktu tiga hari?" tanya ulang Ans ingin lebih memahami apa yang akan terjadi.
Sekelebat bayangan hitam menerobos masuk melewati pintu tanpa bisikan suara. Bayangan itu melesat menerjang tubuh Kevin hingga terhempas menabrak dinding membuat Ans ikut tersentak jatuh terjungkal ke belakang. Suara erangan terdengar mengerikan bergema di ruangan kamar bahkan Monica langsung terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Pergi! Jangan ganggu kami." ucap Monica dengan tangan sibuk mengibaskan sesuatu yang tak nampak. Gadis itu merasa tidak aman tetapi masih mampu bertahan. "Ans, cepat gandeng tangan Kevin!"