The Gubuk

The Gubuk
TG 34:Suara...


__ADS_3

"Kalian tidak ada yang mau bertanya?" Ans mengedarkan tatapan matanya beralih dari satu wajah ke wajah yang lain. "Baiklah, sekarang dengarkan aku. Kita akan membagi dua kelompok dari team satu tetap di dalam dan team dua ...,"


Penjelasan Ans memang disimak baik tetapi apa yang disampaikan sangatlah beresiko karena keluar dari villa berarti harus siap menjadi penyambut tamu tak kasat mata. Ide gila karena bisa menjadi bahan sasaran pertaruhan nyawa. Oleh sebab itu, pria muda satu itu menawarkan dirinya sendiri untuk menjadi bagian team dua.


Tentu saja mereka menolak tetapi tak bisa melakukan apapun. Monica memilih ikut menjadi team dua. Sehingga yang akan berada di dalam ruangan adalah keluarga Wellington dan sedangkan yang akan meninggalkan ruangan adalah ketiga muda-mudi mahasiswa yang berusaha untuk melakukan segala cara agar misteri di dalam villa bisa terungkap.


Sebenarnya situasi semakin runyam. Tiba-tiba angin menerpa menyapa tulang dengan dinginnya hawa. Suara gemericik air kembali terdengar membasahi bumi bersambut derap langkah kaki yang semakin mendekat. Ketukan pintu yang begitu keras mengagetkan semua orang.


Sayup-sayup suara panggilan yang begitu familiar membuat Mama Bara terdiam trenyuh akan suara itu dan rasanya ingin sekali bergegas berlari mendekati pintu. Wanita itu ingin memeluk putrinya kembali. Harapan baru dengan rasa syukur setelah mendengar suara sang putri yang berada di balik pintu.


Namun Monica langsung menahan pergerakan wanita itu. Tindakannya bukan berniat melarang tetapi suara yang didengar nyonya Bara, bukanlah Ale. Suara anak kecil yang merintih meminta tolong itu hanya pengalih perhatian yang berpura-pura berusaha memanipulasi keadaan.


Siapa lagi jika bukan makhluk tak kasat mata. Sehingga ia tak sungkan menghentikan pergerakan Nyonya Bara agar tidak nekat membukakan pintu. Ia tahu sang pemanggil sengaja menggunakan kelemahan anggota keluarga Wellington hanya unyu mencerai beraikan persatuan mereka.


"Nyonya, dia bukan putrimu." Monica mencoba menggoyangkan tubuh Mama Bara. Akan tetapi bareng wanita dewasan itu berusaha memberontak sehingga Kevin ikut membantu dengan membacakan ayat kursi.


"Apa yang kalian lakukan pada istriku?" tukas papa Bara meraih lengan sang istri lalu mendekapya dengan erat. "Istriku baik dan tidak terjadi apa-apa. Dia hanya merindukan putrinya. Kenapa kamu membawa nama putri kami?"


"Lihatlah suami Anda saja tidak mendengar suara Ale. Bagaimana nyonya berpikir itu adalah Ale? Dia bukan putri Anda tetapi makhluk tak kasat mata yang ingin membuatmu meninggalkan ruangan ini agar bisa dijadikan persembahan." lanjut Monica membuat Nyonya Bara bergidik ngeri.

__ADS_1


Bagaimana menjelaskannya? Ktika benar-benar mendengar suara Ale yang merintih kesakitan meminta tolong. Rasanya sakit ketika seorang ibu tak mampu mengulurkan bantuan agar bisa menyelamatkan putih semata wayangnya. Meski ia sadar yang hilang bukan hanya Ale tetapi juga Al ikut menghilang.


Setelah mendengar pernyataan Monica. Papa Bara merasa bersalah terhadap gadis itu. Sebab ia sudah berpikir yang bukan bukan. Sementara Ans dan papa Delano saling bertukar pandang. Kedua pria itu merasa aneh kenapa hanya mama Bara yang bisa mendengar suara Ale.


Apakah itu karena memang ikatan batin atau memang yang diincar satu persatu agar mengalihkan perhatian. Semua semakin tidak jelas tetapi suara gaduh di luar sana kian menambah suasana tegang. Kini tak ada yang bisa dilakukan kerena mereka semua terjebak.


Suka, tidak suka maka harus ada yang bertindak tetapi di antara semua orang tidak ada yang sanggup meninggalkan villa. Akhirnya Ans mencari solusi lain. Pria itu meminta semua orang mengumpulkan ponselnya, lalu mengatur ruangan sedemikian rupa dengan posisi empat cermin saling berhadapan membentuk lingkaran.


"Setiap orang menempati satu penjagaan. Lihat tongsis di tengah yang sudah ku letakkan bola kristal. Jika setiap memantulkan cahaya maka akan menyatu di titik inti. Monica ingin mendapatkan sumber cahaya di keadaan yang tidak memungkinkan.


"Jadi, ini solusi terakhir dariku. Apa kalian setuju?" tanya Ans tanpa keraguan.


Aroma itu terus berubah menimbulkan rasa eneg di perut semua orang. Ans kecil mulai merasa tak nyaman hingga mengundurkan diri berlari menghampiri wastafel. Melihat itu, Kevin menyusul dan meminta yang lain agar tetap ditempat masing-masing.


Dibantunya Ans kecil mengeluarkan sisa makanan yang belum tercerna seutuhnya. Setelah beberapa saat terlihat wajah si anak mulai membaik meski masih pucat pasi. Pasti karena kelelahan dan terlalu memikirkan keadaan.


"Sudah lebih baik?" tanya Kevin membuat Ans kecil menganggukkan kepala, lalu mencuci mukanya agar kembali segar. "Ayo, aku akan memberimu minuman hangat." ajaknya membawa anak itu ke sisi lain.


"Ka, rasanya sakit disini." Ans kecil memegang dadanya. Hal itu cukup menarik perhatian Kevin yang langsung memintanya untuk membuka sweater.

__ADS_1


Entah apa yang dipikirkan Kevin tetapi begitu Ans melakukan permintaannya. Pria muda itu menahan napas seraya mengusap wajahnya kasar. Tanda sayatan yang sama juga ada di dadanya. Ia hanya ingin diam mencoba tetap berpikir positif.


"Pakailah gelangku, dan jangan pernah lepaskan. Berikan gelang satu ini untuk saudaramu. Aku sudah cukup memakainya selama ini." Sepasang gelang yang di dapat dari orang tua angkatnya diserahkan kepada Ans kecil.


Setiap manusia memiliki ego yang tinggi hanya saja untuk memahami arti kehilangan harus jatuh dalam duka. Dulu tak seorangpun mengulurkan bantuan padanya dan keluarga di saat terkena musibah tapi hari ini ia memiliki kesempatan untuk menolong orang lain.


Orang tua angkatnya selalu mengajarkan kebajikan tanpa mengenal kasta, umur maupun gender. Setelah melakukan yang dirasa benar, barulah ia kembali ke tempatnya semula. Sementara itu di luar ruang keluarga tubuh Noland sudah dikuasai makhluk bayangan yang menjadi pemimpin para makhluk tak kasat mata.


Makhluk itu terus menerus mengetuk pintu ruang keluarga, sesekali berhenti dengan rintihan suara yang menggetarkan jiwa. "Khi khi khi bukaa...,"


"Ans, pintunya bisa jebol." bisik Monica terus mengawasi arah pintu yang berderit kian kencang karena Noland berusaha mendorong pintu berulang kali.


Sayangnya Ans tidak ingin mendengar, pria itu tengah memperhitungkan kemungkinan gagal atas idenya. "Monica, kita harus tetap tenang. Aku akan melakukannya, jika kamu tidak bisa tenang."


Melakukan apa? Satu pertanyaan yang bersarang di kepala si gadis. Bagaimana tidak berpikir demikian ketika tau apapun bisa dilakukan Ans. Kesibukan kedua itu dalam perbincangan singkat, justru rasa sakit mulai dirasakan Kevin.


Sensasi panas yang mulai merayap menjalar ke seluruh pori-pori. Apalagi dadanya seperti baru membentur sesuatu hingga mengalami kesulitan bernapas. Apa yang terjadi padanya? Sayup-sayup terdengar panggilan yang begitu dekat seakan seseorang berbisik ditelinga.


"Suara ini ...," Kevin berusaha mencari pegangan agar tubuhnya tetap seimbang tetapi sayang sekelebat bayangan yang menerjang berhasil menghempaskan hingga terpelanting ke belakang, membuat perhatian semua orang teralihkan ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2