
Raganya yang memang dikendalikan oleh makhluk lain tetapi kesadaran yang masih ada sisa. Jelas melihat Ans pergi bersama orang lain. Rasanya sakit dan ingin memanggil pria itu untuk kembali tapi apalah daya ketika ia tak sanggup melakukan apapun.
Entah siapa mereka yang berani membawa Ans pergi darinya. Apakah selama ini benar-benar mengenal sang sahabat atau hanya sekedar mengenal nama saja? Jujur ia tak memahami apapun saat ini karena semua terasa semakin membingungkan. Apakah pemikirannya yang salah?
Sungguh tak tahu harus melakukan apa dan bagaimana. Sejatinya Ia hanya melihat tapi tak bisa melakukan apapun atau mungkin hanya dirinya yang melihat. Bisa jadi yang lain juga ikut melihat hal itu. Entahlah.
Meskipun mengenal sekedar nama. Tetap saja ia menganggap pria itu sebagai sahabat. Di sisi lain orang yang tengah dipikirkannya tengah duduk lemas, lelah tak berdaya. Setelah tenaga terkuras habis untuk menyerang para makhluk. Ans tergeletak menikmati rasa sakit disekujur tubuhnya.
Pria itu tahu apa akibat dari melakukan tindakan diluar batas kemampuan. Kekuatan yang dikeluarkan kali ini bukan sekedar main-main karena harus menumpas begitu banyak makhluk yang kekuatannya pun hampir sama rata. Sentuhan ramuan herbal dari tangan salah satu yang menolongnya membuat ia merasa sedikit lebih baik.
"Syukurlah kalian datang tepat waktu. Apakah perjalanan semuanya lancar?" tanya Ans membuat ketiga orang yang ada di depannya mengangguk. "Lalu, bagaimana dengan penyelidikan, apa kalian menemukan dia?"
"Kami sudah menyelidiki semua wilayah ini tapi sepertinya hanya tersisa satu tempat. Gubuk yang pernah kamu foto dan kirimkan ke kami. Hanya tempat itu yang belum kita periksa." ucap salah satu dari ketiga insan yang memberikan laporan membuat Ans berpikir sesaat.
Gubuk yang dimaksud pasti berada di dalam hutan dan dari kejauhan saja sudah tampak akan banyak bahaya yang mengintai jika ingin mendekati gubuk tersebut. Apakah harus pergi sekarang ketika resikonya masih terlalu besar. Akan tetapi, jika tidak pergi kemungkinan akan lebih berbahaya lagi untuk para manusia.
"Aku akan kesana sendiri jadi kalian tetap awasi area Villa. Aku tidak tahu apakah masih ada pemain lagi atau tidak. Setidaknya saat ini tidak ada ikut campur para makhluk lagi." putus Ans mencoba untuk mengambil solusi terbaik.
Apalagi ketiga insan yang mengenakan penutup wajah dengan penampilan serba hitam dan menyembunyikan jati diri juga merupakan adik angkatnya. Seorang kakak pasti wajar berusaha melindungi adiknya tetapi melihat situasi yang jelas belum tenang yang menjadi akhir adalah penolakan.
"Tidak bisa, Ka. Kepentingan kami kemari hanya untuk menyelamatkan kamu dan bukan untuk orang lain. Kami tahu tugas membantu makhluk lain tidak bisa diganggu gugat tetapi bagaimana kami akan melakukan itu? Ktika seorang pemimpin sekaligus kakak tertua mengalami kesulitan.
"Sekuat apapun Kakak. Kamu tetap membutuhkan kami dan kami membutuhkan kamu sebagai seorang pemimpin." sahut ketiga bersaudara dengan serempak membuat Ans harus bersabar seraya menghela napas pelan.
Ia lupa jika ajarannya mutlak dan tidak bisa ditoleransi. Ia juga selalu mengingatkan pada ketiga adiknya untuk ada satu sama lain di dalam kondisi apapun untuk tidak meninggalkan. Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri yang membuat dua orang manusia bersahabat lalu ia tinggalkan begitu saja.
Apakah ia harus kembali? Bagaimana jika kembali nanti, apakah itu mungkin? Tidak, tentu tidak mungkin karena kehidupan mereka berbeda. Kevin dan Monica manusia seutuhnya sedangkan dia? Manusia dengan jiwa makhluk lain. Perbedaan itu sangat kontras dan tak mungkin melakukan penyatuan dalam kebersamaan untuk beberapa waktu ke depan.
__ADS_1
Dilema akan keputusan tak membuat Ans merasa terpuruk. Ketika semua manusia memiliki hati untuk dikeluhkan, ia tak melakukan hal sama. Ketenangan yang paling utama agar bisa mengontrol amarah dan tetap menyegel energi jiwanya.
Andai semua orang tau setetes darahnya bisa mengubah takdir. Pasti orang-orang mulai berburu untuk mendapatkannya. "Kita akan ke gubuk tapi panggilkan orang kita untuk mengatasi kekacauan di villa. Keluarga itu dan kedua sahabatku harus kembali ke kota dengan selamat."
"Semua akan terjadi seperti keinginanmu, Ka." Tangannya berhenti mengoles ramuan karena tubuh Ans sudah mulai menghangat dan tak sedingin sebelumnya. "Bagaimana perasaanmu saat ini, Ka? Sudah lebih baik."
"Alhamdulillah, sudah. Apa kita disini aman?" tanya Ans yang tak lagi menggunakan kekuatannya untuk mendeteksi bahaya.
Satu pertanyaan langsung dijawab tindakan. Seorang dari ketiganya yang memiliki ikat busur berwarna biru muda langsung memanjat sebuah pohon yang cukup tinggi. Gerakannya cepat sama seperti Ans meski tak secepat Ans. Beberapa menit hanya ada penantian hingga si blue turun bergabung kembali bersama yang lain.
"Semua aman, Ka. Emm, apa aku tadi salah lihat ya," laporannya tampak ragu membuat si red yang memiliki pita merah di busur langsung meng-getok kepalanya. "Sakit, Ce."
"Kasih laporan yang bener, kamu seorang yang pandai manjat, Ca." Ce selalu spontan dengan apapun yang dilakukannya ketika diluar tugas. Si red yang memiliki karakteristik ceria tapi tak suka melihat penindasan itu selalu menjadi semangat tambahan.
Ans tak bisa hanya mengandalkan instingnya sebagai manusia. Perasaannya mulai lebih baik dan tanpa kata ia kembali mengaktifkan energi dari inti jiwanya. Mata yang berubah menjadi merah darah mengejutkan ketiga adiknya yang langsung menundukkan pandangan.
Tak hanya itu saja karena di depan gubuk juga berjejer arwah tanpa kepala seperti penjaga pintu yang menunggu kereta penjemputan saja. Meski tak memiliki kepala, bukan berarti ia tak bisa merasakan kesedihan mendalam dari para arwah yang merupakan anak-anak usia sepuluh tahunan.
Rupanya tumbal sudah berjumlah hampir sepuluh. Ritual membutuhkan setidaknya lima belas kepala anak tak berdosa. Syukurlah semua sudah dihentikan tapi aku harus menemukan tubuh pengganti yang ingin dibangkitkan.~ucap hati Ans menyudahi penggunaan energinya karena dadanya terasa sakit tak kuat menahan hantaman kekuatan yang saling bersinggungan.
Matanya kembali normal dengan seulas senyuman. "Ce, Ca, pergilah ke villa dan temukan jasad yang ingin di bangkitkan Noland!"
"Ka ...," Si red dan si blue mulai merajuk menolak perintahnya tetapi ketika mendapatkan tatapan tajam. Maka keduanya tak bisa berkutik, lalu berlari meninggalkan sang kakak dan saudara terakhir mereka.
"Kakak mau melakukan apa? Sampai mengusir mereka berdua. Aku tahu, Ka Ans tidak membutuhkan bantuan hal sepele seperti itu." Si black menyindir Ans dengan tepat sasaran sedangkan yang disindir justru terkekeh pelan karena ketahuan.
Ans mengambil ponselnya, lalu memeriksa apakah si benda pipih masih berfungsi dengan baik. Setelah memastikan bisa digunakan, ia menyelesaikan tugas terakhir dengan menghancurkan peralatan yang ada di dalam ruang keluarga melalui ponsel pribadinya.
__ADS_1
Tiba-tiba dari arah villa terdengar suara dentuman yang berasal dari ledakan di ruang keluarga. "Mereka tidak perlu mencari tahu keberadaanku. Identitas harus tetap dijaga, bukan begitu?" Ponsel diletakkan ke atas rumput, lalu perlahan tangannya sibuk melepaskan kulit wajah yang mengubah penampilan aslinya.
Wajah Ans memang sudah tampan tetapi lebih tampan lagi ketika kulit palsu sudah terkelupas sempurna. Si black hanya tersenyum getir mendengar penuturan sang kakak. Ia tahu kakaknya ahli menyamar dan bisa dengan mudah beradaptasi meski terkadang kesulitan untuk menikmati dunia yang fana.
Kebersamaan Ans dan Si Black seperti dua kakak beradik yang sangat saling mengenal. Semua itu dikarenakan Ans merawat black sejak usia sepuluh tahun. Pasti heran kenapa bisa di usia sekarang tetapi memiliki tubuh yang sama. Black kini berusia dua puluh tahun, lalu bagaimana dengan Ans?
"Ka, apa setelah misi selesai. Kita akan tinggal di kota atau kembali ke hutan?" tanya Black memberanikan diri membuat Ans mengusap kepalanya.
Kehidupan yang seringkali berpindah-pindah mengharuskan mereka belajar di banyak sekolah bahkan bisa dikatakan menjadi orang lain hanya untuk mendapatkan kehidupan normal. Seperti pemain bayangan yang harus bersembunyi dibalik awan. Satu yang ditekankan identitas tidak boleh seorangpun tahu.
Ans memahami lelahnya kehidupan yang harus berjalan disisinya. Egois karena ia mau ketiga adiknya bisa membantu orang lain tanpa harus mengungkapkan nama tetapi setelah lima tahun. Ia pikir sekarang sudah waktunya untuk memulai kehidupan baru.
"Kita akan pindah ke kota dan menjadi diri sendiri. Seperti keinginan kalian yang akan kuliah di tempat sama. Semua akan kulakukan demi kebahagiaan kalian." putus Ans penuh keyakinan membuat Black langsung menghamburkan diri memeluknya.
Sementara di villa, Blue dan Red harus melompati jendela samping rumah agar tidak ketahuan. Keduanya memeriksa setiap sudut, kamar dan ruangan lainnya selama beberapa puluh menit tetapi hasilnya nihil. Bagaimana menemukan jasad yang dimaksud oleh kakaknya?
Pertanyaan itu seperti secercah harapan yang tersisa hingga keduanya mengingat kasus terakhir kali sebelum kasus di villa. "Gudang." ucap keduanya serempak dan bergegas ke belakang villa.
__ADS_1
Setelah ke sana kemari, akhirnya menemukan pintu besi yang tampak mencurigakan. Beruntungnya pintu tersebut tidak terkunci sehingga dengan mudah masuk untuk melakukan pemeriksaan. Tatapan mata tak hentinya mengerjap melihat tubuh yang terbaring di atas ranjang tetapi mata anak itu terbuka lebar menangis darah.
"Apa proses pemindahan jiwa masih berlangsung?" tanya Blue bingung dengan fenomena di depannya.