The Gubuk

The Gubuk
TG 7: Sisi Kanan Bangunan Villa


__ADS_3

Ar tersenyum simpul seraya menggeleng kepala. "Siapa yang melamun? Aku cuma kagum dengan deretan pepohonan rindang yang ada di luar sana. Lihat saja! Berjejer rapi dan hijau segar sehingga tidak membosankan."



Pernyataan Ar berhasil menyita perhatian Papa Aldo. Dimana pria dewasa itu menoleh ke belakang memperhatikan anaknya dengan seksama. Tidak ada perubahan apapun, lalu kenapa tiba-tiba bersikap sangat tenang dan terkesan mencintai alam bebas. Padahal Arsya Cardwell merupakan seorang anak muda yang menyukai kehidupan perkotaan.



Seperti seharian bermain di gamezone, atau sibuk melakukan ekstrakurikuler basket bersama teman sekelasnya. Jadi tidak heran ia merasa aneh mendengar ucapan Ar yang biasanya menjadi ciri khas Al. Akan tetapi jika ada perubahan ke arah yang lebih baik. Tentu saja harus bersyukur. Iya 'kan?



Perjalanan menuju villa tak memakan waktu lama. Dimana bangunan tunggal yang ada di wilayah itu berdiri tegak tanpa saingan. Halaman luas dengan air mancur di sisi kiri menyamhut kedatangan mobil sewa milik Papa Bara. Satu per satu turun meninggalkan mobil begitu sudah terparkir di tempat sebelumnya.



"Bara, kita bisa periksa area sekitar dulu. Aku khawatir anak-anak merasa bosan, jadi nanti bisa buat tenda untuk tempat bermain bersama. Bagaimana?" celetuk Papa Aldo begitu keluar dari mobil, membuat Bara terdiam sejenak. "Nanti tetap diawasi. Kita semua di rumah 'kan?"



"Ok deh, Ka. Ayo!" putus Bara menerima ajakan Aldo sehingga kedua pria dewasa itu berjalan kearah lain.


__ADS_1


Langkah kaki melewati setapak halaman rumah, lalu beralih ke sisi kanan bangunan. Dimana hanya ada rerumputan liar tetapi terlihat dirawat karena begitu pendek seakan baru saja dipotong. Keduanya berjalan menyusuri area yang tampak jarang dijamah karena beberapa barang seperti kursi, meja dan beberapa benda lain teronggok di bawah pohon besar.



"Ka Aldo, kurasa seharusnya kita tidak ke area sini, deh. Feelingku gak enak nih." ujar Bara mencoba mengutarakan perasaan hatinya yang mendadak cemas tak karuan. Padahal semua baik dan tidak ada hal aneh.



Sayangnya Aldo justru terkekeh pelan karena rasa takut adiknya selalu muncul di saat yang tidak tepat. Seorang dokter tapi takut dengan hal di luar nalar. Yah itulah Bara. Jadi tanpa harus dijelaskan, ia paham maksud dari feeling mendadak tak bagus.



Bara hanya bisa menahan diri mengalah dengan keyakinan hati kakaknya. Meski setiap kali langkah kaki bergerak maju, rasa was-was kian bertambah. Entah kenapa ia merasa ada yang mengawasi pergerakan mereka. Apa yang tidak bisa diucapkan berubah menjadi buliran keringat membasahi kening.




"Terserah Kakak. Sebaiknya kita buruan balik, ayo!" Ditariknya tangan Aldo hingga tubuh sang kakak terhuyung hampir jatuh. Ia tak peduli karena feelingnya semakin tak berbentuk.



Bagaimana menjelaskannya? Ia pun tidak paham kenapa merasa area samping villa begitu seram. Di ruangan alam yang terbuka tetapi justru sesak seakan berdiri diantara kerumunan orang banyak. Apa perasaan seperti itu wajar? Jujur saja lebih baik tidak datang kembali ke tempat yang sama.

__ADS_1



Alih-alih mendapatkan ketenangan selama musim liburan. Bisa jadi berujung di atas brankar rumah sakit karena tertekan. Apalagi begitu kembali masuk ke dalam villa langsung mendapatkan pertanyaan beruntun dari anggota keluarga tertua. Beruntung Aldo bisa mengatasi tanpa menutupi kebenarannya.



Sementara di dalam kamar anak-anak kembali berkumpul. Toples kunang-kunang diletakkan ke tengah atas meja menjadi pajangan yang menyita perhatian ke empat pasang mata. Siang hari memudarkan cahaya indah yang hanya tampak ketika malam hari, membuat Ale sedikit kecewa.



"Jadi, apa yang dikatakan Pak Joko padamu, Al?" tanya Ans ketika mengingat apa yang terjadi selama perjalanan tadi. Ia hanya ingin tahu apa arti dari danur.



Al mengambil ponselnya dari balik saku jaket kesayangan. Lalu memeriksa sesuatu, kemudian menyerahkan si benda pilih ke Ans. Dibiarkannya sang saudara memeriksa sendiri karena ia masih ingin menghemat suara. Apalagi wajah masam Ale terlihat begitu tak bersahabat. Harus bagaimana menghibur saudara perempuan satu-satunya itu?



"Ale, bersabarlah! Nanti juga malam tiba dan kamu bisa puas melihat kunang-kunang yang bercahaya. Please senyum." punya Al seraya mengusap kepala sang adik bungsu. Kakak mana yang tega melihat kesedihan seorang adik?


Suara helaan napas panjang terdengar begitu jelas. Namun bukan Ans, Ale, atau dirinya. Sontak mengalihkan perhatian dan ternyata Ar terlihat begitu bosan. Anak satu itu tak hentinya mengubah posisi duduk membuat yang lain merasa aneh. Apalagi cuaca tak panas, lalu kenapa begitu gelisah?


"Haish, Aku pengen ke hutan tadi. Papa sih pake acara datang," keluhnya asal bicara. "Gak usah lihatin aku gitu juga, lah. Disana seru, sejuk, belum lagi bisa renang di danau. Hayo kapan lagi bisa sebebas itu?"

__ADS_1


"Ar, kamu masih sadar 'kan?" Ale mengkode Ans untuk memeriksa saudara mereka.


Tubuh Ar tak panas ataupun dingin tetapi sikap anak itu kelabakan. Apa yang terjadi pada anak itu? Tak satupun dari mereka tahu kecuali si pemilik raga, sedangkan Al tiba-tiba tertarik pada satu kunang-kunang yang bercahaya. Tampak berkilau tetapi ketika diperhatikan lebih serius. Hewan itu seperti tersiksa. Apa jangan-jangan?


__ADS_2