
Rasa cemas yang melanda tak mengubah kenyataan bahwa tanggung jawab lebih besar dari ketakutan itu sendiri. Terlalu banyak berpikir bisa saja merugikan diri sendiri tapi jika gegabah bisa berakhir penyesalan. Apa yang baik dan benar untuk dilakukan?
Ia pun tidak tau karena merasa bimbang meski hati yakin tetapi pikiran mulai tidak bisa dikendalikan. Sesaat memejamkan mata hingga ketenangan datang menyapa, "Jika aku mengandalkanmu, apa kamu akan baik-baik saja?" Perlahan membuka mata hingga terpaut pada netra sang sahabat yang tertegun akan keseriusannya.
"Ans, apapun yang kamu katakan akan aku dengarkan tapi ubah keputusanmu yang ingin membuka mata batin. Aku tidak mau kamu mengalami apa yang selama ini terjadi padaku. Bukannya senang justru selalu tertekan. Meski aku bisa melihat sejak lahir, bukan berarti sudah terbiasa.
"Memiliki kelebihan memang bisa menjaga diri dari gangguan mereka disaat beberapa waktu hanya saja tidak baik jika sendirian, lalu dikelilingi oleh mereka. Rasanya seperti berdiri di antara orang asing. Aroma tubuh yang sudah tidak sama akan mudah dikenali.
"Sudahlah, aku cuma mau kamu tetap jadi dirimu. Itu saja, jadi katakan apa yang harus ku lakukan!" Monica menyudahi penjelasan yang bisa dibilang sesi menasehati.
Siapa sih yang mau menjerumuskan sahabat sendiri ke dunia lain? Meski ia tahu Ans bisa adaptasi dengan hal baru tanpa bantuan siapapun tetapi bukan berarti akan dijebloskan ke lubang kegelapan nan dalam. Tetap saja ia memikirkan resikonya yaitu bisa mengalami gangguan jiwa.
Jangan salah mengira mudah karena melihat mereka yang tak nampak. Bayangkan saja, ketika duduk diruang tamu lalu tiba-tiba ada yang melesat terbang atau menggantung di atas dan terkadang sengaja muncul hanya suara saja. Seperti itukah yang disebut ketenangan? Itulah namanya ketegangan.
Ans melepaskan satu earphones, lalu dipasangkan ke telinga Monica. Senandung Jawa yang masih terdengar, kini juga di dengar sahabatnya. "Apa yang harus kita lakukan? Aku tidak paham dia tengah melakukan apa."
Jelas sekali perubahan wajah Monica dengan mata melebar, alis terangkat, bibir terkunci rapat. Gadis itu terkejut sekaligus merasakan energi lain yang sudah menguasai sang pemilik suara senandung kematian. Semakin lama mendengarnya justru debaran jantung semakin melemah.
Sontak saja Monica melepaskan earphones itu, lalu memegangi dadanya seraya tarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Hal itu dilakukan berulang kali hingga kembali normal tanpa ingin melanjutkan mendengarkan senandung yang mampu menyeret jiwanya.
Akan tetapi ada yang aneh dengan Ans. Kenapa sang sahabat tetap baik-baik saja? Padahal senandung itu biasa digunakan sebagai sarana pengikat jiwa kecuali raga yang memiliki garis keturunan terjaga batinnya. Apakah mungkin seperti itu atau hanya kebetulan saja?
"Ans, berapa lama kamu mendengarkan dia bersenandung?" Tatapan mata menyipit menatap intens Ans yang mengernyit tak paham kemana arah pertanyaannya, "Katakan saja, Ans."
"Sudah hampir sepuluh menit, kenapa?" tanya balik Ans heran hingga tiba-tiba Monica mendekat dan tanpa permisi mendengarkan detak jantungnya.
Bingung dengan kelakuan sahabatnya. Apa yang terjadi sampai bersikap seperti itu? Ia mencoba bersabar sedikit membiarkan Monica melakukan seperti pemeriksaan yang tidak bisa dipahaminya. Selain detak jantung, gadis itu juga mengecek denyut nadi bahkan intensitas suhu tubuh.
"Semua baik bahkan tidak ada tanda yang berbahaya. Syukurlah." gumam Monica bernapas lega. Lalu kembali duduk dengan benar tanpa mempedulikan suara bisikan yang mulai datang mengusik ketenangan. "Senandung itu disebut senandung kematian."
Ans semakin tak mengerti tapi Monica terlihat akan menjelaskan sehingga ia memilih untuk tetap diam menyimak. Meski telinga mulai gatal karena mendengarkan suara rintihan pilu yang bercampur sendu dari balik earphones.
"Bagi jiwa yang mudah terbawa arus untuk berpindah ke dunia lain, maka akan mudah dijadikan tumbal atau yang disebut persembahan. Catatan disini adalah manusia itu memiliki kendali atas dirinya sendiri hanya saja sekali jiwa kita bisa ditarik. Maka akan menjadi boneka para makhluk.
"Kita tidak sadar melakukan apa tapi melihat dengan mata kepala sendiri. Sebenarnya hampir mirip dengan Kevin hanya saja kelemahan Kevin jika sudah tertidur dan selama terjaga pasti akan aman terkendali.
"Permasalahannya, kamu bukan aku atau Kevin yang terpengaruh jadi secara tidak langsung mereka tidak bisa menyentuhmu kecuali ada raga manusia yang dikuasai makhluk tak kasat mata. Apa kamu paham maksudku, Ans?" tanya Monica membuat Ans mengangguk paham.
__ADS_1
Penjelasan yang sangat jelas tetapi fokus Ans terbagi karena suara senandung tak lagi terdengar berganti kesunyian malam. Semilir angin yang berembus mulai mereda begitu juga dengan gemericik hujan yang terdengar tenang kembali tetapi hawa dingin enggan tuk melepaskan raga.
Perubahan macam apa ini? Seakan mereka berada di tengah alam terbuka yang begitu hening tetapi menyiratkan misteri tak terduga. Ditengah lamunan memikirkan apa yang terjadi hidung mencium aroma wewangian dari arah luar. Aromanya begitu semerbak bercampur asap kemenyan.
"Apa kamu mencium bau yang sama?" tanya Ans memastikan dan Monica menganggukkan kepala bahkan yang lain ikut bergumam mempertanyakan aroma menyengat itu berasal dari mana.
Ingin sekali keluar membuka pintu hanya saja. Ia tidak tahu apa yang ada di luar saja jadi bergegas mengambil ponselnya. Kamera CCTV yang kini sudah menjadi miliknya menunjukkan area luar selain ruang keluarga tempatnya berkumpul.
Dari layar benda pipih masih terlihat begitu senyap tanpa ada jejak yang lewat hingga langkah kaki keluar dari sebuah kamar. Tatapan mata diam tak berkedip menyaksikan apa yang akan dia lihat dengan mata kepala sendiri. Perlahan tampak seorang pria berdiri tegak di depan pintu tapi tiba-tiba kepalanya lunglai lemah tak berdaya menunduk ke bawah.
Begitu juga dengan kaki kanannya yang mendadak loyo hingga jatuh tersungkur menghantam lantai membuat Ans masih enggan berpaling. Disaat masih sibuk mengamati tanpa sadar Kevin mulai merasakan kantuk kian mendera meski sudah sibuk ngobrol dengan Bara dan juga Delano.
Pria muda satu itu benar-benar tak kuasa lagi menahan rasa kantuknya. Lalu tanpa permisi berlari ke kamar mandi, membuat kedua pria dewasa yang bersamanya ikut berlari menyusulnya. Guyuran air shower menginjak tengah malam cukup membantu menjaga kesadaran yang tersisa.
"Apa yang kamu lakukan? Nanti bisa sakit." ujar Papa Bara yang tidak tahu bagaimana hasil akhir jika Kevin sampai tertidur.
Ditepuknya bahu sang adik agar tenang, "Dia harus terjaga, jadi melakukan itu. Kamu temani yang lain dan aku akan tetap disini." Tegasnya tak ingin memperdebatkan hal yang sudah pasti.
Bara pasrah karena kakaknya selalu berusaha membuat keadaan tetap baik dan kondusif. Jadi lebih baik kembali berkumpul bersama yang lain meninggalkan dua pria yang ada di dalam kamar mandi. Kepergian sang adik membuat Delano mendekati Kevin.
"Apa kami akan menemukan Al dan Ale?" tanyanya dengan menatap Kevin yang menahan dirinya sendiri untuk tidak terpengaruh berpindah tempat. "Katakan padaku! Aku harus melakukan apa supaya keluargaku berkumpul kembali."
Satu kesalahan? Bagaimana ia akan menemukan alasan itu ketika kehidupan sudah berjalan cukup lama. Siapa yang melakukan, kapan, dimana dan dengan siapa? Pertanyaan itu harus dia bawa kemana? Tanya diri sendiri atau tanya saudaranya?
"Satu kesalahan dari keputusan sepele yang mengakibatkan kehidupan seseorang hancur bahkan tidak bisa bangkit lagi atau kehilangan hal yang dianggap paling berharga. Satu tindakan yang diremehkan dan justru berujung duka nestapa.
"Aku berkata demikian karena belajar dari kasus keluargaku sendiri. Kupikir semua itu karena orang memang jahat kepada kami tapi hari ini semua ingatan semakin terlihat jelas tanpa ada kabut bayangan. Kisah yang ku ingat barulah sepintas tapi saat ini sudah lengkap seutuhnya.
"Keluargaku sangatlah beruntung karena memiliki warisan yang cukup untuk menikmati hidup selama tujuh keturunan. Apapun yang diinginkan bisa didapatkan tanpa harus bersusah payah hanya saja kedua orang tua ku terlalu perhitungan untuk menolong orang lain. Termasuk para pekerja kebun milik kami.
"Masalah gaji dan tunjangan bulanan memang selalu dibayar tepat waktu bahkan biasanya lebih awal dari jadwal. Akan tetapi untuk masalah pinjam meminjam," Kevin menjeda ucapannya sesaat dengan pikiran melanglang buana ke masa di saat dirinya masih anak-anak. "Baik ayah maupun ibu memilih untuk memberikan upah di muka."
"Kebiasaan itu sangat sepele hingga suatu pagi kami mendengar berita kematian istri salah satu pekerja. Sebagai majikan tentu datang melayat dengan membawa uang belasungkawa. Disitulah awal dendam tersulut.
"Andai uang yang diberikan hari itu didapatkan saat membutuhkan biaya berobat ke rumah sakit. Sudah pasti istrinya masih hidup dan tidak meninggalkan tiga anak yang masih balita. Kenyataan itu seperti bara api di dalam jiwa.
"Satu minggu setelah kematian sang istri. Semua orang gempar dengan penemuan tiga jasad balita yang merupakan anak dari pekerja tersebut dan selama sebulan penyelidikan kasus ditutup dengan tersangka utama sang ayah sendiri.
__ADS_1
"Aku ingat ibu mengatakan ingin pindah rumah karena merasa mulai tidak tenang tetapi ayah yang memikirkan nasib para pekerja mencoba untuk membujuk sehingga kami tetap di rumah yang sama. Semua berjalan baik bahkan kami bahagia karena kehidupan semakin makmur.
"Suatu hari, ibu mendapatkan kiriman paket. Tidak ada nama pengirim bahkan paket itu sudah ada di halaman rumah sejak entah kapan. Aku yang kala itu diminta masuk tidak melihat isinya tapi yang ku dengar suara teriakan."
Semakin jauh menceritakan awal mula. Ia merasa keadilan itu memanglah benar adanya. Meski manusia berusaha sebaik mungkin untuk berubah dan tidak melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain. Keadaan berkata sebaliknya.
Sebagai anak, ia tahu niat kedua orang tuanya agar para pekerja bisa menghargai uang. Yah, selain itu juga mengajarkan untuk memahami nilai uang itu sendiri. Kenapa demikian? Karena kehidupannya saja juga hemat untuk bisa menambah uang tunjangan para pekerja.
Namun tak seorang pun menyadari bahwa niat orang tuanya baik untuk kedepannya nanti. Meski begitu ia juga paham dimana kebutuhan hidup ada yang mendesak seperti orang sakit atau tertimpa musibah. Pada kenyataannya adalah takdir kehidupan tidaklah akan sama seperti yang direncanakan.
"Hari itu, ayah memutuskan untuk pindah rumah. Akhirnya kami pindah rumah tapi hanya ke desa sebelah yang bisa menjadi solusi terbaik. Ibu merasa aman dan ayah juga bisa bekerja. Semua berjalan lancar hingga dua tahun dan tiba-tiba ayah mengajak liburan yang jarang dilakukan. Kami bahagia dan bersemangat.
"Aku ingat betapa romantisnya ibu dan ayahku selama dalam perjalanan. Kami sebagai anak-anaknya bisa merasakan cinta kasih orang tua tanpa terkecuali hingga malapetaka itu datang. Rumah tempat kami berlibur ternyata sudah menjadi rumah bayaran seseorang.
"Tidak ada yang mencurigakan karena semua terlihat normal. Seperti di sini ada Pak Joko, di sana ada Bu Patmi. Seorang pelayan berusia empat puluh tahun dengan punggung bungkuk. Keanehan pertama yang baru kusadari hari ini adalah cara penyambutan di malam pertama saat keluargaku datang."
Lelah untuk terus menggerakkan bibirnya tetapi kisah masa lalu harus jelas agar bisa memahami kisah sekarang. Samakah atau justru tidak berhubungan sama sekali. Mungkin jika dua kisah disatukan akan menemukan titik terang. Pasalnya yang lebih sulit adalah karena ia menggunakan bahasa Inggris untuk mendongeng.
"Malam itu masih baru pukul enam petang ditemani rintik hujan dengan suasana teduh, sedangkan langit mendung gelap semakin gelap karena cuaca tak mendukung. Bu Patmi sudah berdiri di depan pintu membawa lentera karena penerangan memang tidak seterang di villa. Wajahnya datar tanpa senyuman meski sambutannya hangat.
"Aku merasa dia tengah waspada atau sedang diawasi. Entahlah karena tubuh lelah akibat perjalanan jauh. Kami masuk dan langsung membersihkan diri. Di saat sibuk berganti pakaian tiba-tiba lampu padam. Di saat itu aku melihat jam tangan digital yang kupakai tepat pukul enam lewat tiga puluh menit.
"Dulu tidak ada artinya bagiku karena merasa itu hanya mati lampu biasa saja tapi setelah kupikirkan ulang. Tiga puluh menit yang tertera memiliki maksud tertentu yaitu tanda seseorang memulai ritualnya. Dari sumber yang aku telusuri mengatakan lilin pertama harus dinyalakan tepat pukul enam lewat tiga puluh menit dan dengan syarat seluruh rumah gelap tanpa pencahayaan. Hal itu bertujuan agar jalan para makhluk tidak salah rumah.
"Rumah manapun yang gelap dan hanya memiliki aroma wewangian kemenyan, dupa bahkan bunga melati atau kantil. Maka rumah itulah yang akan didatangi oleh makhluk dengan satu tujuan memenuhi permintaan si pemanggil yang meminta bantuan."
Kevin menghirup udara sesaat karena lelah berbicara dengan tangan terangkat agar hidung tidak tersumbat air. Guyuran shower trus menyala membasahi kepalanya sesekali memgusap lengan yang pasti sudah kedinginan. Apalagi tengah malam mulai datang menyapa.
"Semua ini bisa memiliki satu tujuan yaitu orang yang melakukannya hanya ingin kekayaan tapi jika jumlah tumbal lebih dari yang dibutuhkan. Maka ritual bukan lagi untuk pesugihan melainkan membangkitkan seseorang dari alam kematian. Sebelum itu, aku akan menjelaskan apa itu pesugihan.
"Pesungihan adalah sebuah perjanjian antara manusia dengan jin atau makhluk halus dalam kerja sama untuk memperoleh kekayaan dalam waktu singkat. Untuk membuat sebuah perjanjian atau kontrak dengan jin biasanya memerlukan sebuah tumbal, mulai dari tumbal hewan hingga manusia.
"Hal yang boleh jadi mengerikan adalah ketika jin meminta tumbal manusia untuk menyetujui perjanjian tersebut. Sehingga, orang yang ingin mengikuti pesugihan harus mengorbankan satu orang untuk dijadikan tumbal supaya perjanjian sah.
"Tumbal nyawa manusia adakalanya diambil dari kerabatnya sendiri seperti saudara, anak, atau istri. Ada pula tumbal yang diambil dari orang lain misalnya dari rekan kerjanya, seprti anak buah.
"Setiap orang pastinya tidak berkeingan untuk menjadi tumbal pesugihan, oleh karena itu masing orang perlu mewaspadai akan terjadinya hal tersebut. Untuk mewaspadai terjadi penumbalan ini perlu mengetahui tanda-tanda seseorang akan dijadikan tumbal pesugihan.
__ADS_1
"Dan beberapa tanda orang yang akan dijadikan tumbal. Tanda pertama, orang yang akan dijadikan tumbal pesugihan bisa mengalami gila mendadak. Tanda kedua, sering menjerit-jerit ketakutan karena melihat makhluk halus, baik saat sadar atau lewat mimpi. Tanda ketiga, mendadak sakit parah tanpa didahului oleh gejala-gejala tertentu."
"Apa kaitan antara ritual pesugihan dan yang terjadi saat ini?" tanya Papa Delano membuat Kevin terdiam sesaat. Bukan karena tidak ingin menjelaskan melainkan hanya tengah lelah berbicara panjang kali lebar bak gerbong kereta api.