
Kesibukan orang-orang yang tengah fokus pada lampu untuk dipantulkan ke cermin agar memantulkan keluar villa, membuat mereka tak menyadari bahwa Ans memulai perjuangannya sendiri. Pria muda itu tengah menghadapi manusia yang kini sudah dikuasai makhluk panggilan.
Serangan pertama hanya menembus ruangan yang tak berarti apa-apa, lalu serangan kedua kembali diluncurkan hingga menancap tepat di leher makhluk itu. Sayangnya itu tak akan mengubah apapun karena makhluk itu semakin beringas dengan langkah kaki berlari mendekatinya siap menerkam.
Bukannya menghindar, Ans justru siaga menekuk kedua kakinya seraya mengangkat kepalan tangan ke depan. Kemudian sekali ayunan tangan menghantam dada si makhluk. Tampak makhluk itu terpental ke belakang. Sontak membuat Ans mulai berjalan mendekati si makhluk yang tengah mengerang kesakitan.
"Kamu pikir didunia ini hanya tentang dirimu yang paling berkuasa? Lihatlah kenyataan, selama aku masih hidup maka tidak akan kubiarkan makhluk sepertimu mengambil tumbal lagi." tukas Ans memperingatkan makhluk itu agar mau pergi meninggalkan Villa.
Bukannya jawaban yang didapatkan. Makhluk itu semakin mengerang dengan suara yang terdengar memekakkan gendang telinga. Makhluk itu berusaha bangkit lagi, lalu menerjang Ans tetapi tubuhnya yang kaku bak robot mengubah keadaan berbalik pada dirinya sendiri.
Ans melayangkan pukulan telak hingga menghantam bagian belakang membuat makhluk itu tersungkur membentur lantai. Tak memungkiri kekuatan keduanya seimbang dengan kelebihan energi yang semakin saling tarik menarik menyebarkan suasana tak nyaman.
Namun tetap tak sama karena Ans selalu penuh strategi. Sementara makhluk itu hanya mengandalkan emosinya yang meledak. Aura yang tersebar hitam pekat menggetarkan jiwa yang terbuai. Semua orang merasakan energi negatif yang menyebar mencoba membelenggu jiwa.
Kevin yang baru menyadari apa yang terjadi bergegas membantu Ans tetapi ia justru terpental karena energinya tak seimbang. Kekuatan antara Ans dan makhluk itu seakan saling mengikat satu sama lain membentuk sebuah perisai yang tidak bisa ia lihat. Akan tetapi Monica mampu melihat itu dan hanya bisa tertegun melihat apa yang terjadi.
Rasa was-was yang ia pikir akan kehancuran di kemudian hari kini berubah drastis. Iya tak menyangka Ans memiliki kekuatan sebesar itu. Lalu kenapa sang sahabat meminta untuk membuka mata batinnya? Ketika kebenaran pria itu mampu melihat mereka yang tak kasat mata.
Sedih ketika menyadari bahwa dirinya tak dianggap tetapi hati masih berusaha mencoba menerima, merelakan dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Mungkin hari esok ia akan tahu kenapa Ans harus menyembunyikan jati dirinya. Yah, hanya itu harapan seorang sahabat.
Sementara yang lain tak mampu untuk berkata apapun karena mereka terus fokus pada cahaya. Pertarungan di depan mata menjadikan mereka seperti patung yang memang disediakan untuk menjadi penonton. Apalagi ketika makhluk itu meraung murka menatap ke arah mereka.
Erangan yang menyakitkan tak dipedulikan Ans. Pria itu justru mengeluarkan sebuah belati. Kilauan benda tajam dengan ujung runcing. Kini tangannya siap melayangkan serangan tetapi tiba-tiba kaki si makhluk berhasil mencengkramnya.
Sementara tubuh si makhluk masih dalam kuncian tangannya. Sontak saja ia menancapkan pisaunya hingga darah mulai merembes membasahi lantai dengan aroma amis tak karuan. Anehnya meskipun terluka parah makhluk itu tetap berhasil mendorong tubuh Ans hingga jatuh ke belakang.
Tak ada amarah di wajah Ans selain senyum seringai yang disembunyikan. Ia telah berhasil menyegel jiwa makhluk panggilan ke dalam raga Noland Yoshida. Raga itu hanya seorang manusia dan mulai kelelahan tetapi makhluk itu tak akan pernah menyerah. Justru semakin mengeluarkan energi yang kian besar.
Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Ditatapnya dengan tajam tak berkedip, "Kau ingin melakukan apa? Menghancurkan Villa ini hanya dengan menyebarkan energi. Coba saja jika bisa." Ans menyindir begitu pahit membuat si makhluk memanggil bala bantuan.
"Lakukan saja sesukamu. Panggil semua teman agar aku bisa memusnahkan kalian satu malam." sambung Ans begitu yakin akan pendiriannya karena ia menyadari bahwa bahaya akan tetap mengintai dari mana saja.
Suara senandung kembali terdengar makhluk itu menatap Ans dengan langkah kaki yang terserang-seok. Jalannya begitu kesulitan tetapi tangannya mulai tumbuh kuku panjang warna hitam dengan ujung lancip yang siap mencabik mangsa, sedangkan Ans tetap diam di tempat tanpa melakukan pergerakan selain meningkatkan kewaspadaan.
Makhluk itu berhasil mendekati Ans tetapi tak menyadari bahwa di bawah kaki pria yang dihampiri terdapat terdapat lingkaran pelindung. Seketika langkahnya tertahan tak sanggup untuk mendekat. Kevin memperhatikan semua itu secara seksama.
Ia tak menyangka akan melihat semua kejadian janggal itu dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana cara Ans menyergap dan mematahkan tubuh lawan. Terlihat begitu lihai, sedangkan dia tahu bahwa pria satu itu tak mengenal dunia lain selain ilmu pengetahuan alam.
Satu pertanyaan yang kini menyita pikirannya. Siapa Ans sebenarnya dan apa motif sang sahabat hingga berdiam diri selama berjam-jam hanya untuk melakukan kesibukan tetapi tiba-tiba melakukan tindakan. Heran dan tak bisa menemukan jawaban.
Pertanyaan itu sangatlah wajar. Apalagi ketika dunia seakan membuat satu fakta yang nyata menjadi tidak nyata dan yang semu menjadi nyata. Lalu apa kaitannya dengan Ans serta makhluk itu? Apakah mungkin juga memiliki hubungan di kehidupan masa lalu atau memiliki kisah yang sama menyakitkan seperti dirinya.
Tak seorangpun akan tahu siapa Ans, kenapa dan bagaimana bisa menghadapi makhluk panggilan kecuali dia sendiri yang menceritakan. Kisah ini mungkin hanya untuk satu keluarga tetapi sayangnya bukan demikian. Tidak peduli dari ujung dunia mana. Kisah yang sama akan selalu menjadi momok menakutkan.
Kepergian keluarga tercinta secara mendadak dalam sebuah tragedi seperti mimpi buruk bagi siapapun begitu untuk Kevin maupun keluarga lainnya. Mereka hanya tak tahu betapa hancur dan terlukanya Ans lebih dari siapapun. Pria satu itu hanya berusaha menjalani takdir nan kejam.
Kisah itu masih sama. Dulu ia juga memiliki keluarga bahagia yang hancur karena sebuah peristiwa hingga raga merenggut nyawanya. Akan tetapi takdir berkata lain karena satu tindakan dari ayahnya. Ketika keluarga memiliki kesempatan kedua untuk hidup normal tetapi tidak dengannya.
Kenyataan itu lebih pahit dari obat manapun. Ans memang manusia tetapi jiwanya? Siapa yang berani menebak. Satu kenyataan yang menjadi fakta dalam hidup akan menggemparkan dunia. Pria itu tak memperdulikan apapun selain tujuan hidup yang kini akan ia capai.
Sungguh tak disangka ketika dalam suatu perjalanan tujuan lainnya justru datang menghampiri tanpa diminta. Pertemuannya yang membawa ke villa seperti takdir yang memang sudah memutuskan hari dan waktu untuk menyelesaikan semuanya. Kini disinilah ia berada.
Dunia seperti neraka yang terlihat tampak seperti surga. Ketika orang menyadari kematian tak akan bangkit. Lalu dia disebut apa? Raga mati yang hidup menjadi bukti nyata bahwa kematian bisa dibangkitkan kembali.
Pria itu bukan anak dari manusia yang hidup sebagaimana mestinya karena kehidupan kedua diciptakan oleh ritual yang dilakukan oleh ayahnya sendiri. Yah dia adalah salah satu bukti dari hasil ritual sekte yang menggunakan tumbal sebagai pertukaran.
Pergantian dari jiwa yang tak berdosa untuk membangkitkan manusia yang telah tiada. Meski ia meyakini semua itu adalah takdir ilahi. Tetap saja ia tak mampu menerima kenyataannya yang sangat tak masuk akal. Apalagi akibat dari perbuatan ayahnya justru melanggar aturan alam.
__ADS_1
Meskipun begitu, dia juga mendapatkan kelebihan yang tak orang lain miliki. Sejak awal masuk ke dalam villa ia bisa merasakan bahkan melihat semua keanehan. Sebenarnya bukan tanpa alasan menyetujui Monica karena ia tahu itulah yang akan menjadi jalan pilihan.
Meski berpura-pura tak memahami, itu dilakukan sekedar untuk memanipulasi makhluk yang juga mengawasinya. Ikatannya dan para makhluk seperti saudara yang tidak bisa untuk dilupakan apalagi dihapuskan. Perjuangannya memang tak semudah itu hingga mencapai titik ini dan bisa berhadapan dengan makhluk yang selalu menjadi alasan manusia melakukan kemungkaran.
Keberanian Ans tak lain dan tak bukan hanyalah bentuk dari tujuan hidup, sedangkan Monica yang masih tak menyadari apa yang terjadi berusaha untuk mengingat semua yang ia pelajari tapi hasilnya nihil. Tak satupun ras ataupun klan dari pemburu hantu yang bisa disamakan dengan sahabatnya itu.
Perasaannya semakin tak mengenali sang sahabat. Apalagi ketika Ans memiliki perisai berwarna merah darah dengan tatapan mata semakin nyala terang bak lautan darah. Bahkan makhluk mulai terlihat lemah tak berdaya menunjukkan pandangan. Bagaimana mungkin makhluk yang terlihat begitu garang dan menyeramkan bisa tunduk begitu saja.
Hal yang tidak bisa dibenarkan apalagi dianggap sebagai lazim. Kevin yang berjalan lagi ingin mendekati Ans untuk membantu tak jadi melanjutkan langkah kakinya karena isyarat jemari Ans melarang ia untuk mendekat. Padahal sahabatnya itu tak melihat ke belakang.
Apakah pria itu menyadari setiap pergerakan dari pihak lain? Sungguh tak tahu lagi apa yang bisa dikatakan. Tiba-tiba satu perintah membuyarkan pikiran yang mulai ingin berkelana. Suara Ans terdengar begitu jelas dan tegas tak ingin dibantah.
"Vin, cepatlah bawa mereka semua keluar dari villa ini!" titah Ans mengembalikan kesadaran Kevin yang termenung.
Ingin sekali menolak tetapi aura sang sahabat semakin tak bersahabat seakan siap menghancurkan seluruh isi rumah. Tak ingin menambah ketegangan, ia memberikan kode pada Monica agar mereka mulai mendekat merapat. Akan tetapi makhluk itu menyadari keinginan Ans sehingga bangkit lari menghampiri Monica.
Ans juga menyadari pergerakan makhluk itu hingga ikut berlari menabrakkan diri pada tubuh makhluk yang kini jatuh bersama dengannya. "Kau sungguh menyebalkan. Sudah ku ingatkan untuk menjauh dan pergi dari sini tetapi justru semakin tidak tahu aturan."
Rauangan si makhluk terdengar memekakkan telinga membuat Ans mencengkram kuat-kuat. Pria itu tak menyadari tangan kanan sang makhluk mencekram bahu dan langsung menancapkan kuku ke punggungnya. Rasa sakit nyeri hanya menghadirkan senyum simpul karena dia tak peduli dengan luka yang berada di punggungnya.
"Aku tak membutuhkan apapun darimu selain kau pergi atau ku hancurkan." tegas Ans memperkuat cengkraman tangannya.
Pria itu tengah berusaha untuk menekan energi makhluk itu agar yang lainnya mampu melewati perisai dan pergi keluar meninggalkan Villa. Jika tidak, maka semua akan terpental seperti yang terjadi pada Kevin sebelumnya.
"Kalian cepatlah pergi! Aku tidak punya banyak waktu dan tidak mungkin terus menahannya. Cepat pergi!" seru Ans memberikan perintah membuat Kevin dan Monica pandang menganggukan kepala.
Kedua insan itu membantu keluarga Wellington berjalan beriringan melewati pertarungan Ans dan si makhluk. Satu per satu berlalu pergi meninggalkan tempat itu menyisakan Ans bersama sang makhluk yang kini saling mencengkram satu sama lain.
Setelah semua pergi, Ans tanpa rasa takut mulai menunjukkan jati dirinya. Jemari tangannya berubah membesar dengan kuku putih panjang nan tajam berujung runcing yang langsung ditancapkan ke dada si makhluk.
Tampak jelas makhluk itu terkejut menyadari rasa sakit yang benar-benar menyiksa. Akhirnya ia sadar siapa Ans. Betapa tak berdayanya di hadapan garis keturunan yang memiliki raga manusia tetapi jiwa berasal dari bangsanya.
Suara batin makhluk itu merintih meminta ampunan kepada Ans tetapi tak dianggap karena pria itu tak ingin ada korban lagi. Bagaimana bisa membiarkan keluarga lain mengalami hal sama yang bisa saja membangkitkan jiwa kematian. Satu saja sudah cukup dan itu akan menjadi murka alam.
Tidak terbayangkan jika ada manusia lain yang sama sepertinya. Ia pasti akan merasa sangat sedih ketika jiwa yang sama dengan raga yang berbeda justru memiliki harapan dan tujuan yang berbeda. Apalagi dengan memiliki jiwa para makhluk maka ia dengan mudah akan mengendalikan bangsa gaib.
Namun justru itu akan menimbulkan badai di kehidupan para manusia. Ia bukanlah satu diantara para makhluk yang siap menerkam menjadikan darah manusia hanya untuk tetap kekal. Kehidupan kedua membuat takdir terasa begitu kejam.
"Kau terlalu banyak kata, aku sudah memperingatkan dengan caraku, tapi apa kau mengerti dan mau menerima? Tidak. Kau justru menerima panggilan dari manusia ini hanya untuk mengusik dan membuat manusia yang tidak berdosa melakukan hal yang tidak seharusnya.
"Apa kau pikir bangsa kita yang hanya segelintir tetapi sangat banyak untuk manusia bisa dimaafkan dengan selalu menjerumuskan manusia ke dalam jalan yang sesat? Bagaimana jika aku hancurkan seluruh keluargamu dengan satu kebebasan. Raga mungkin bisa mengalami kematian tetapi jiwa bisa dihancurkan.
"Aku tak peduli kau dari mana dengan siapa dan akan melakukan apa, tapi tujuanmu untuk datang kemari sudah tidak benar. Meski tugasmu untuk menyesatkan tetapi tugasku untuk mengakhiri kesesatan. Kau dan aku mungkin satu bangsa hanya saja tujuan kita tak akan pernah sama. Kau pikir di dunia ini hanya dirimu yang bisa kuat?
"Aku datang untuk memperingatkan bangsamu agar menjauh dari manusia." Ans menyudahi ceramahnya yang hanya dilakukan agar perasaan kembali tenang.
Permohonan maaf berubah menjadi rintihan. Makhluk itu berusaha untuk melepaskan diri tetapi kuku Ans yang terbenam di dada justru semakin menancap tak mau dilepaskan. Sebenarnya jiwanya bisa saja pergi melepaskan diri dari raga manusia itu tetapi Ans telah menyegel. Sehingga tidak bisa keluar begitu saja.
Energi yang saling bersinggungan membuat Ans semakin kuat dan bisa mengendalikan kedua esensial yang ada di dalam tubuhnya. Ia tak peduli dengan negatif atau positif karena baginya akan tetap sama dan Ia bisa merasakan, melihat bahkan menghancurkan apa yang diinginkan. Meskipun begitu tetap terus berusaha untuk menjadi manusia biasa.
Kini dibiarkannya makhluk itu terus mengerang kesakitan hingga suara langkah kaki terdengar semakin mendekat. Aroma yang sangat familiar membuatnya harus mengubah perubahan tangannya kembali ke semula. Entah kenapa kedua sahabatnya itu harus kembali lagi padahal sudah diperingatkan untuk tidak kembali.
"Ana, katakan padaku apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?" Monica menawarkan diri tetapi Kevin menghalanginya mendekati Ans yang terlihat menatap ke arah lain.
"Aku saja, kamu harus tetap di sini agar aman." ujar Kevin melindungi Monica yang membuat Ans harus menahan diri untuk tidak melakukan hal di luar batasnya.
__ADS_1
"Kalian kenapa kembali? Seharusnya pergi menjaga keluarga itu karena para makhluk akan segera datang. Jika kalian disini, lalu siapa yang akan melindungi mereka?" Cecar Ans membuat Monica dan Kevin kembali saling pandang.
"Bagaimana mungkin para makhluk datang ketika pemimpinnya sudah kamu sekap." Monica melakukan pembelaan, membuat Ans memejamkan mata.
Pria itu menoleh ke arah kedua sahabatnya. "Kalian tidak akan memahami situasi ini tapi cepatlah pergi dari sini agar tidak ada yang terluka. Jika kalian menganggapku sebagai sahabat turuti dan pergilah!"
"Kau juga sahabat kami. Bagaimana kami meninggalkanmu sedangkan kamu di sini menghadapi makhluk itu seorang diri." kali ini Kevin yang melakukan perlawanan bukan bermaksud untuk melawan tetapi ia juga khawatir akan keadaan sahabatnya itu.
"Kalian benar-benar keras kepala." Ans kembali memejamkan mata lalu tiba-tiba membuka matanya kembali dengan binar mata yang begitu mengejutkan Kevin dan Monica. "Aku bisa menjaga diriku karena ini adalah tugasku. Jika kalian ingin menyelamatkan diriku. Pergilah! Lindungi mereka."
Perdebatan itu masih cukup alot hingga suara teriakan dari arah luar membuat keduanya terkejut dan tanpa disadari langkah-langkah langsung berlari meninggalkan Ans. Saat itulah Ans tak lagi tinggal diam. Pria itu menyadari dan merasakan akan kehadiran begitu banyak makhluk yang mulai mendekati bahkan mengepung villa.
Satu sayatan menyisakan kemarahan membuat dada Noland terbelah menjadi dua. Ans benar-benar meluapkan semua energi untuk menghabisi makhluk itu yang sudah tersegel dalam tubuh Noland Yoshida. Lalu ia beranjak Pergi meninggalkan ruang keluarga.
Namun bukan melalui jalan depan melainkan melompat dari jendela. Tak ingin orang lain menyadari kekuatannya ia harus melakukan sesuatu untuk menutupi identitasnya. Semua sudah dipersiapkan hingga ia meraih mantel yang sengaja disembunyikan di area luar Villa.
Kemudian berlari menuju arah suara yang tadi sempat ia dengar. Benar saja keluarga Wellington sudah terkepung oleh lingkaran makhluk yang benar-benar cukup memenuhi halaman villa. Tak peduli dengan ritual itu akan berlanjut atau pun tidak. Pemanggilan persembahan telah dilakukan oleh Noland Yoshida.
Maka siapapun yang telah ditandai untuk dijadikan persembahan akan tetap diambil oleh para makhluk sedangkan incaran mereka adalah dua anak yang kini terlihat ketakutan di antara. Ans kecil dan Ar berusaha untuk tetap berada di dekat keluarga mereka.
Kedua anak itu benar-benar merasa tertekan melihat apa yang tidak seharusnya. Kin tak harus memiliki mata batin karena semua makhluk memang sengaja menampakkan diri untuk menggoyahkan Iman manusia. Menyadari betapa complicatednya situasi Ans dewasa memilih untuk menyamar menjadi salah satu makhluk di antara puluhan makhluk.
Akan tetapi penampilannya tak akan bisa disamakan bahkan Kevin dan Monica yang terlanjur masih berada di halaman villa. Dimana keduanya tak bisa menerobos lingkaran itu menyadari keberadaan Ans yang seolah-olah ingin menghapuskan jejak.
"Kevin sebenarnya siapa Ans?" tanyanya karena benar-benar merasa tak habis pikir akan apa yang dilihatnya.
Kevin hanya bisa menggeleng. Ia pun tak paham dan tak tahu siapa atau mungkin takkan pernah tahu. "Siapa dia? Dia sahabat kita dan aku tahu hatinya tetaplah baik dan apapun yang akan dia lakukan pasti untuk melakukan pertolongan. Percayalah kita memiliki sahabat yang memang baik."
Kepercayaan Kevin tak mengubah apapun karena ia memiliki hati yang memang meyakini siapa Ans. Pria dengan pribadi yang sangat baik dan tidak pernah memiliki dendam. Meski kehidupan pria satu itu begitu tertutup dan hanya sekedar belajar, belajar dan terus belajar. Satu keyakinan cukup untuk mengatakan siapa Ans dan pantas untuk tetap diperjuangkan.
"Kamu benar, Ans pasti akan membantu kita semua tapi aku tidak mau terjadi apapun padanya." ucap Monica menyadari akan isi hatinya yang mulai menaruh hati pada Ans tetapi tak sanggup untuk mengatakannya.
"Semua akan baik. Percayalah, coba lihat dia menyatu bersama para makhluk dan para makhluk masih tak menyadari itu. Bukankah itu sesuatu yang sangat-sangat tidak biasa. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu, di mana bayangan hitam yang pernah kita lihat di kamar. Bayangan itu juga telah melepaskan mantra yang ternyata mengikat jiwaku."
"Yah aku yakin akan hal tersebut. Bayangan itu hanya ingin menolongku tapi kenapa melakukan itu? Aku tidak tahu jawabannya. Jadi sebaiknya kita melakukan sesuatu tapi apa yang harus kita lakukan?" Kevin berpikir sejenak tak mungkin untuk maju ke depan dan menolong keluarga Wellington tetapi ia juga ingin membantu.
Monica ikut berpikir apa yang akan ia lakukan kali ini. Tentu bukanlah hal yang sepele tapi apa? Tiba-tiba ia mengingat akan satu kenyataan yaitu hilangnya dua anak dari keluarga Wellington dan pemikiran Kevin juga sama dengannya.
"Ayo kita mencari dua anak itu." ajak Kevin lalu menggandeng tangan Monica. Kemudian keduanya berlari menyusuri halaman villa melalui samping rumah.
Langkah kaki keduanya berusaha untuk menstabilkan keseimbangan tubuh. Ditengah kegelapan yang ada mereka lupa untuk membawa cahaya. Akan tetapi tiba-tiba puluhan kunang-kunang menyapa menyambut perjalanan mereka.
"Kunang-kunang ini terlihat ingin menunjukkan sesuatu. Apa kita harus mengikuti mereka?" tanya Monica membuat Kevin sepakat untuk mengikuti para kunang-kunang yang terus bergerak maju ke depan menyusuri jalan hutan.
Pepohonan yang rindang dengan jarak yang begitu semakin memekatkan kegelapan malam. Semilir angin berhembus menyergap dingin terasa menyentuh kulit. Kevin tak melepaskan tangannya dari tangan Monica meski sedetikpun nikah hingga keduanya terus melangkahkan kaki mengikuti para kunang-kunang.
Aneh tapi nyata tetapi mereka meyakini bahwa kunang-kunang itu hanya berniat baik. Entah itu firasat atau apa tapi semakin memasuki hutan tanah lembab dengan licinnya yang harus lebih ekstra hati-hati. Sesekali Kevin menunggu Monica agar tidak terjatuh.
Perjalanan selama lima belas menit membuahkan hasil begitu tatapan mata melihat corong sebuah gubuk yang berada di depan sana. "Vin, apakah itu gubuk yang pernah kamu maksud?"
Pertanyaan membuat Kevin mengangguk, "Yah, itu memang gubuk yang pernah aku lihat bersamaan Ans. Ayo, kita harus kesana. Aku yakin di sana kita menemukan petunjuk sebenarnya."
Langkah kaki semakin dipercepat bahkan para kunang-kunang mulai beriringan dengan langkah mereka. Seakan apa yang ditunjukkan telah dimengerti oleh manusia. Sehingga hewan itu hanya memberikan sinarnya untuk menerangi sedikit jalan.
Namun perjalanan semakin sulit ketika untuk mencapai gubuk harus melewati jembatan yang terlihat begitu rapuh. Kevin mencoba melangkahkan satu kaki menapaki jembatan kayu usang yang terdengar cukup tak kuat.
"Monica, jembatan ini tidak akan aman untuk dilewati tapi kita harus mencobanya. Apakah kamu menunggu di sini saja?" Tatapan mata menatap gadis yang berdiri di sebelahnya.
"Aku tidak akan pernah berdiam diri untuk menolong sahabatku. Tidak peduli apapun itu yang terjadi maka kita harus berusaha bersama-sama." Monica tak suka berpangku tangan dan ia memilih untuk berjalan di depan agar Kevin merasa lebih tenang.
Langkah demi Langkah mulai menyusuri jembatan kayu usang itu tetapi benar-benar hampir tak bisa dilalui. Lalu bagaimana orang akan datang ke gubuk itu? Satu pertanyaan yang mungkin jawabannya adalah sesekali harus mendatangi sehingga tak akan membahayakan nyawa setiap hari.
Jembatan dengan jumlah kayu lima puluh baru dilewati mencapai kayu kelima belas. Tiba-tiba jembatan sudah mulai bergoyang. Kevin benar-benar menjaga Monica agar tetap berada di dekatnya dan tak melepaskan satu pegangan tangan. Keduanya tampak saling mencoba melindungi dan menjaga.
Sementara di sisi lain Al dan Ale baru saja keluar dari pintu yang tampak asing. Kedua anak itu sibuk memperhatikan sekitarnya yang membuat hati ingin menangis. Rasa sedih kembali menguasai hati dan pikiran. Mereka tak kuasa untuk melihat apa yang ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Tutup matamu! Jika kamu tidak ingin mengingat ini terus." Al membantu sang adik memejamkan matanya dengan telapak tangan.