The Gubuk

The Gubuk
TG 19:Semakin Aneh


__ADS_3

Sadar benar, jika di depannya manusia asli tapi kenapa makan daging mentah? Apa tidak punya makanan lain. Melihat kejadian janggal seperti itu, siapapun pasti menahan rasa eneg di perut. Begitu juga dengan Papa Delano. Niat hati ingin mencari sesuatu untuk menyadarkan si pemuda.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah belakangnya. Sontak ia menoleh, tatapan mata terpatri pada seorang gadis berusia dua puluh tahunan. "Siapa kamu? Kenapa bisa ada di villa."


"Maaf, Sir. Saya akan jawab nanti tapi tolong siram temanku dengan air dingin. Kakiku tidak bisa digerakkan." ujar Monica yang melirik ke bawah. Kaki gadis itu gemetaran karena shock melihat apa yang dilakukan Kevin.


Papa Delano melakukan permintaan Monica tanpa tanya. Sebagai seorang dokter sangat tidak menganjurkan mandi air dingin di waktu yang menunjukkan dini hari. Akan tetapi melihat situasi yang ada. Jelas dibutuhkan shock terapi untuk pasien aneh seperti Kevin.


Seember air dingin yang dicampur air mineral dari dalam kulkas diguyurkan begitu saja membuat Kevin kelabakan. Rasa kantuk yang melanda sekejap mata lenyap tanpa jejak. Dingin menusuk tulang mengejutkannya.


"Astaga, bapak ini ...," Kevin ingin mengeluh begitu melihat ember di tangan Papa Delano tetapi rasa daging mentah yang masih berdarah mengalihkan fokusnya. "Hueek, aku makan apa?" Tatapan mata terpana tak percaya akan seonggok daging yang kini sudah basah kuyup.


"Apa barusan aku makan daging mentah?" tanyanya pada diri sendiri dengan tubuh bergidik ngeri.


Bagaimana bisa menikmati makanan mentah? Padahal ikan salmon yang jelas sehat saja, tidak bisa dinikmati karena dia pecinta makanan yang matang. Lalu apa yang terjadi hingga daging mentah masuk ke perut tanpa disadarinya.


Rasa mual membuat Kevin berlari ke kamar mandi. Monica berusaha ingin menolong tetapi ia masih terkejut. Melihat situasi yang rumit. Papa Delano membantu Kevin agar bisa memuntahkan semua daging mentah yang terlanjur masuk ke dalam perut.


Lima belas menit kemudian. Para orang tua terbangun. Lebih tepatnya dibangunkan karena kedatangan tiga tamu asing. Dimana tanpa seizin mereka Pak Rudi membiarkan orang asing tinggal di tempat yang sama. Sang penjaga hanya berargumen demi membantu sesama manusia.


Bukannya ingin menghakimi hanya saja jika terjadi sesuatu. Siapa yang akan bertanggung jawab? Apalagi melihat tingkah Kevin yang aneh. Tentu saja harus waspada karena di villa masih ada anak-anak yang membutuhkan kenyamanan tanpa rasa takut.

__ADS_1


"Tuan, saya minta maaf atas nama Kevin. Ini semua salahku karena terlalu fokus memeriksa hasil penelitian kami." Ansel mengambil alih tanggung jawab seorang pemimpin karena memang dia lalai menjaga Kevin.


Bara mencoba memahami apa yang terjadi dan beranggapan semua yang terjadi hanya kebetulan. Sehingga rasanya tidak baik, jika ingin mempermasalahkan hal yang diluar dugaan. "Ka, ini sudah larut. Apalagi ada wanita juga, biarkan mereka tinggal. Sebagai sesama manusia kita bisa berbagi tempat tinggal."


"Mereka bisa tinggal tapi tolong jaga pemuda itu. Siapa namamu dan kedua temanmu?" tanya Papa Delano dengan memberikan keputusan final, sedangkan Pak Rudi tengah sibuk membersihkan kekacauan di dapur tanpa keluhan.


"Namaku Ansel, dia Monica dan dia Kevin." balas Ans memperkenalkan kelompoknya sebagai bentuk kesopanan membuat yang lain menganggukkan kepala paham.


Obrolan mereka terhenti sesaat ketika suara langkah kaki terdengar menuruni anak tangga. Ternyata anak-anak terbangun tapi kenapa turun? Apa karena ingin mengambil air minum? Mama Bara langsung beranjak dari tempat duduknya. Wanita itu berjalan menghampiri keempat anaknya.


"Al, Ar, Ans, Ale. Kalian mau kemana?" tanya Mama Bara semakin mendekati anak-anak tetapi tidak ada yang menyahut.


Wajah pucat dengan raga berjalan seperti dikendalikan seseorang. Ketika mengamati sekilas tentu tidak ada yang aneh. Akan tetapi di saat melihat secara seksama barulah melihat kekompakan langkah kaki keempat anak itu dengan ujung jari telunjuk berwarna merah yang mengering.


Keanehan itu membuat semua orang meninggalkan ruang tamu. Tatapan mata terpatri pada keempat anak yang berjalan seperti robot. Langkah kaki mendekati pintu utama dan jika sampai keluar. Bisa saja ke arah hutan.


Tak ingin terjadi sesuatu pada anak-anak, membuat Mama Delano berlari menghampiri Al. Ditariknya tangan sang putra, lalu tanpa basa-basi melayangkan sebuah tamparan. Suara gema hasil cap jari terdengar begitu ngilu, "Albern Delano, sadarlah!"


Al tersentak kembali mendapatkan kesadarannya. Seketika mengerjap karena matanya terasa begitu berat. Kepala berdenyut sakit, "Ma, ada apa denganku?" Bingung dengan apa yang terjadi hingga suara tamparan lain mengalihkan rasa tak karuan di hatinya.


Bagaimana tidak? Mama Bara melakukan sesuatu yang mengejutkan dirinya. Ketiga saudara mendapatkan tamparan yang sama hanya untuk membuat mereka kembali sadar. Siapa bisa mengeluh? Tak seorangpun karena keadaan memaksa untuk bertindak kasar.

__ADS_1


Dibawanya keempat anak untuk duduk di ruang tamu. Tak lupa memberikan segelas air agar bisa kembali tenang karena terlihat seperti orang linglung bahkan tidak ada yang sadar akan rasa sakit di pipi masing-masing. Aneh bukan?


Lirikan mata tak sengaja melihat warna merah yang masih membalut ujung jari sang putri. Diraihnya tangan Ale, lalu dicium aroma yang ternyata bau anyir darah. Bagaimana bisa terluka? Apa anak-anak main petak umpet?


"Pa, bisa tolong ambilkan p3k." pintanya tanpa menoleh ke arah sang suami. "Sayang, kalian itu kalau main lebih hati-hati. Masa sampai luka seperti ini." Uluran kotak p3k diterima, lalu ia mulai mengobati jari putrinya yang masih mode diam.


Tatapan mata ke arah jari telunjuknya sendiri dan ternyata juga terluka. "Ma, obati punyaku juga." Ans mengulurkan tangannya, "Itu punya Al dan Ar, juga."


Pernyataan sang putra membuat rasa takut di hati Papa Delano kian menyergap. Ingin berpikir positif tapi keadaan semakin kacau. Perasaannya semakin tidak tenang. Kenapa anak-anak bisa terluka di jari yang sama, lalu berjalan seperti orang tidak punya kesadaran diri.


Belum lagi, ingatannya kembali pada kejadian di dapur dan juga apa yang dilakukan Kevin. Semua seperti kejanggalan yang benar-benar tidak masuk akal. Yah di luar nalar dari logikanya. Sekarang apa yang harus dilakukan? Bertahan tapi sampai kapan?


Kekhawatiran tak mampu menyudahi kemelut hatinya. Sejenak memikirkan baik dan buruknya situasi yang semakin tak bersahabat hanya saja keadaan mereka terlanjur terpisah. Apalagi di saat menghubungi Aldo. Justru tidak ada jawaban. Tentu tidak bisa meninggalkan villa begitu saja.


"Bara, kamu ikut denganku!" ajaknya melipir meninggalkan yang lain.


Langkah kaki menjauhi ruang tamu. Dimana tujuan mereka berdua hanyalah kamar anak-anak. Entah kenapa firasatnya menunjuk ke kamar itu. Ruangan yang temaram menyambut keduanya. Saklar lampu utama ditekan hingga lampu terang menyala membuat semua isi terlihat jelas tanpa bayangan.


"Periksa semua dengan hati-hati. Jangan lupa ambil gambar bagian yang menurutmu mencurigakan. Paham, Bar?" ujar Papa Delano mendapatkan sambutan acungan jempol sang adik.


Kedua pria itu bahkan sengaja mengunci pintu kamar anak-anak agar tidak ada yang mengganggu selama pemeriksaan. Sebagai seorang dokter yang memiliki tingkat ketelitian lebih besar. Tentu pekerjaan menjadi detektif tak sesulit menjabarkan isi pikiran manusia.

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian Papa Delano dan Bara kembali ke ruang tamu. Sang kepala keluarga menenteng satu box kado yang langsung diletakkan di tengah meja kaca. Tatapan mata menelisik beralih dari satu anak ke anak yang lain.


"Bisa jelaskan, siapa yang membawa semua ini?" tanya gusar Papa Delano yang terdengar ambigu.


__ADS_2