
Fokus yang terbagi membuat Al tidak melanjutkan pengamatannya karena Ale tiba-tiba menepuk pundak mengejutkan. Sontak saja ia kembali mengalihkan perhatian pada Ar. Dimana saudaranya itu benar-benar bersikap janggal. Tak ingin berpikir aneh, ia mengajak semua saudara keluar dari kamar.
Kebetulan sekali berpapasan dengan Mama Aldo di tangga. Ternyata wanita itu ingin meminta anak-anak untuk bergabung bersama para orang tua duduk di ruang keluarga membicarakan sesuatu yang penting. Tentu saja tidak ada yang bisa menolak sehingga mereka ikut begitu saja.
Tampak para ayah memasang wajah serius, sedangkan para ibu terdiam mencoba menahan diri. Dari keenam orang dewasa di ruang keluarga, Papa Delano yang menjadi kepala keluarga. Dimana pria itu melambaikan tangan membuat anak-anak menghampiri, lalu diminta duduk dekat dengannya.
"Papa kenapa terlihat tegang? Apa Ada masalah pekerjaan?" Al bertanya seraya meraih tangan sang ayah. Dipijatnya secara perlahan berharap bisa meredakan beban pikiran orang tua.
Ale malah bergelayut manja memeluk Papa Delano, sedangkan Ar dan Ans memilih duduk beralaskan karpet bulu seperti menunggu sang pendongeng membacakan cerita. Melihat anak-anak siap untuk mendengarkan apa yang menjadi tujuannya. Justru hati masih memiliki keraguan.
Suara helaan napas pelan berembus menerpa ubun-ubun Ale, membuat gadis itu mendongak menatap papanya. "Papa capek kerja, ya? Mau Ale buatin es jeruk?"
"Papa tidak apa-apa, Sayang." Dikecupnya kepala sang putri dengan khidmat. Ia percaya keempat bersaudara yang menjadi pewaris keluarga Wellington akan selalu saling menjaga satu sama lain. "Bagaimana liburan kali ini? Apa kalian betah atau mau pulang ke rumah?"
__ADS_1
"Big no, Dad." Seru Ar seketika mengejutkan semua orang. Anak itu tidak biasanya seheboh itu, lalu apa yang terjadi? Tak ada yang bisa memahami karena apa yang terjadi baru pertama kali.
Ans menarik tangan Ar agar kembali duduk ke tempat semula. "Ar, dengerin Papa dulu. Lagian Papa itu cuma tanya, bukan memaksa kita buat balik ke rumah detik ini juga. Ayolah, tenang sedikit!"
"Terserah tapi aku gak mau pulang." tukas Ar begitu kesal. Perasaan di hati seperti bara api yang memanas tertiup embusan angin.
Entah kenapa semua orang tampak seperti ingin menjauhkan dia dari dunia baru. Padahal kebahagiaan nyata baru saja didapatkannya, tiba-tiba bayangan hutan kembali datang menyapa. Semilir angin segar, warna hijau alami, pemandangan indah tiada duanya.
Sikap Ar sudah diluar batas wajar. Seketika membuat Mama Cardwell mendekati putranya. Wanita itu memeriksa kening, leher bahkan denyut nadi sang putra, "Suhu tubuh dan detakan jantung normal, tapi kenapa kamu bertingkah aneh, Ar? Apa kamu makan sesuatu yang salah?"
Pernyataan Al memang sedikit melegakan hati. Meski sebagai seorang ibu memiliki firasat aneh yang tidak bisa dijelaskan. Entah apa yang memicu rasa gelisah di hati kian meningkat. Padahal seluruh anggota keluarga tengah berkumpul. Jujur saja, mendadak ia was-was dengan keputusan yang sudah dibuat kakak iparnya.
Situasi yang bertambah tegang membuat Papa Delano berdehem keras. Pria itu mengalihkan perhatian semua orang kembali tertuju padanya seorang. "Okay, karena kalian sudah berkumpul maka akan Aku sampaikan tujuan pertemuan kali ini." Satu tarikan napas dihembuskan secara perlahan.
__ADS_1
Tatapan mata menatap wajah anak-anak secara bergantian. "Liburan kalian akan diperpanjang tapi kami tidak bisa selalu berada di villa karena ada pekerjaan yang darurat. Demi kebaikan bersama, Papa membagi tugas untuk menjaga kalian selama lima hari ke depan."
"Hari pertama Papa dan Mama Aldo yang tetap dirumah menemani kalian. Hari kedua giliran Papa dan Mama Cardwell, lalu hari berikutnya Aku dan Mama Dela. Mama dan Papa Bara di hari ke empat, dan hari terakhir kita semua akan berkumpul bersama, lagi. Apa kalian bisa menerimanya, Anak-anak?" tanya Papa Delano menyudahi pengumuman yang memang harus diberitahu pada ke empat anaknya.
Anak-anak saling pandang. Ale bahkan melepaskan tangannya dari perut sang Papa. Gadis itu tampak murung karena impiannya memiliki waktu berlibur bersama seluruh anggota keluarga tanpa ada urusan pekerjaan. Kenapa orang dewasa selalu sibuk? Rasanya ingin sekali memberontak menolak tubuh menjaga orang dewasa.
Perubahan ekspresi sang putri mendapatkan sambutan pelukan hangat. Si gadis jutek dengan sisi manja yang luar biasa menguras waktu ketika dituruti. "Sayang, jangan sedih. Kan tidak sendirian dan ketiga saudaramu akan selalu berada disisimu sebagai keluarga. Ayo senyum!"
"Apa kalian menyayangi kami? Tidak bisakah liburan kali ini terbebas dari kesibukan orang dewasa? Papa, Mama selalu memiliki alasan untuk meninggalkan kami." tutur Ans begitu terbuka mengutarakan kekecewaan yang dia rasakan.
Wajar bukan seorang anak mengharapkan waktu kedua orang tuanya? Apalagi dunia yang fana kian kejam sehingga orang-orang harus bekerja keras hanya untuk memperbaiki kehidupan sosialnya. Jika dipikirkan keluarga mereka sudah berkecukupan. Jadi tidak begitu memikirkan tentang materi bahkan dari hasil pekerjaan utama para pria dewasa sudah cukup untuk mereka melanjutkan hidup.
"Ans, tidak boleh bicara seperti itu." Mama Aldo mengingatkan sang putra agar menjaga bicaranya. Ia tak ingin ada perdebatan panjang, sedangkan para orang dewasa tidak mungkin mengatakan masalah yang tengah di alami keluarga mereka.
__ADS_1
Tiba-tiba Ar beranjak dari tempat duduknya, "Pergilah kalau memang kalian ingin pergi. Aku mau balik ke kamar." Tangan yang masih memegang tangannya seketika ditepis, lalu berlari meninggalkan ruang keluarga.
Sayup-sayup terdengar siulan burung gagak dari luar. Hawa dingin menelusup menyentuh kulit menyebarkan aura tak nyaman. Dari kejauhan senandung mantra kembali terdengar menyebutkan nama yang mampu menggetarkan jiwa. "Sawang ing raga marang sliro ingkang asmi Ansell Geraldo."