The Gubuk

The Gubuk
TG 46: MONSTER JIWA


__ADS_3

Dinginnya pembaringan tak membuat Ans merasa kesakitan karena ia sudah terbiasa bersemedi setiap tiga bulan sekali. Ruangan yang digunakan oleh Monica merupakan ruangan semedinya. Sehingga jelas tubuh sudah terbiasa.


Wajah yang mulai kembali normal dengan deru napas teratur menyadarkan Ans bahwa Monica sudah menjemput alam mimpi. Meski begitu ia tak berniat untuk meninggalkan wanitanya. Sejenak ingin mengenal raga manusia yang kini menjadi bagian dari hidupnya.


Ia tak pernah menyangka akan memiliki kesempatan menjadi kekasih seseorang. Apalagi menjadi ayah dari seorang anak. Sejatinya sebagai seorang monster, Ia sadar diri akan ketentuan alam yang mengharuskan untuk hidup seorang diri. Jika dunia sibuk membaca kisah vampir. Nyatanya monster jiwa itu juga ada.


Yah, dia adalah si month jiwa. Akan tetapi karena pertukaran jiwa yang dilakukan berjalan sempurna tanpa halangan berarti, maka kehidupan menjadi neraka berjalan yang dimanfaatkan untuk membantu manusia. Satu kesempatan hidup didapatkan tetapi sebagai gantinya ia melihat keluarga satu persatu meninggal dunia.


Sekali lagi, siapa yang ingin tau umur aslinya? Ans bukanlah pria muda dengan usia dua puluh tahun tetapi ia sudah berusia sembilan puluh sembilan tahun. Wajahnya tak berubah setelah menginjak usia dewasa. Semua itu karena energi di dalam tubuh selalu membakar sel kulit mati yang menjadi penyebab utama penuaan dini.


Darah yang mengalir di tubuhnya lebih ampuh dari darah ayam cemani. Jika seseorang melakukan ritual, maka lebih baik menggunakan darahnya saja. Sayangnya tak seorangpun tahu sehingga Ans masih dalam keadaan aman karena selalu menyembunyikan jati diri dari publik.


Dunia ini dipenuhi banyak tipu muslihat termasuk apa yang tak terlihat. Baik manusia maupun makhluk lain akan selalu berusaha mendapatkan tujuan mereka dan beberapa tak peduli akan terjangan yang bisa menjadi masalah di kemudian hari.


"Kamu dimana? Aku khawatir dengan keadaanmu." Kevin memeluk bingkai foto Monica yang ada di meja belajarnya. Ia merasa kesepian karena sang sahabat hilang bak ditelan bumi.


Bisa saja membuat laporan ke pihak kepolisian tapi masih belum dua puluh empat jam. Sekarang hanya bisa menunggu waktu karena semua tempat sudah dijelajahi dan hasilnya nihil. Tak seorangpun melihat Monica.


Rasa lelah setelah berlarian seperti gasing membuat pria itu terlelap menikmati alam mimpi. Tubuh yang terasa panas bergetar merasa ketakutan sesaat terlelap lalu terlonjak kaget karena mimpi yang menyeramkan. Detak jantung berdebar begitu cepat tak karuan.


"Mimpi apa tadi? Kenapa aku melihat Monica menggendong bayi tapi bayi itu terbakar." Kevin bergegas mencuci muka agar kembali terjaga, lalu buru-buru mengambil kertas dan pena.


Jemarinya begitu cekatan mencoret-coret kertas membentuk lukisan. Selama dua menit akhirnya sebuah gambar membuat matanya menyipit mencoba memperhatikan detail tanpa terkecuali. Gambar itu memang Monica yang terlihat bahagia tapi bayi itu, benar-benar tidak bisa dipahami.


Waktu memberikan Kevin clue akan kondisi Monica saat ini, tetapi pria itu hanya manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan. Satu gambar yang baginya terlihat tak jelas. Justru menjadi kehidupan sang sahabat yang bahagia mendapatkan orang terkasih setelah sekian lama.


Waktu bergulir beranjak menuju malam. Tubuh yang lelah kini kembali terasa segar begitu terbangun, "Nyamannya. Ans, kamu dimana?"


Suara panggilan itu mencapai tempat di mana Ans tengah mempersiapkan hal lain. Pria itu bergegas keluar dari ruangan sebelah lalu menghampiri sang kekasih yang ternyata sudah bangun. Seulas senyum menyambut seraya membantu Monica untuk turun dari tempat tidur.


Tidak ada pertanyaan apapun selain membimbing sang kekasih memasuki ruang sebelah. Dimana tersedia brankar untuk tempat berbaring dan beberapa peralatan medis yang digunakan untuk pemeriksaan mandiri. Kali ini ia harus melakukan sesuatu yang memang masuk akal.


Setidaknya Monica tidak akan mengeluh ataupun berpikir terlalu banyak. Ia meminta sang kekasih untuk melakukan semua yang dikatakannya. Gadis itu sangat menurun dan tetap bahagia. Sungguh rasanya begitu miris ketika yang didapatkan adalah kebaikan tetapi yang akan dilakukannya pasti akan menyakiti.


Tanpa menunggu lama ia mengoleskan gel ke perut Monica. Yah, Ia tengah melakukan USG yang kini terlihat tampak di layar monitor. Awalnya sang Kekasih tak memahami apa itu karena baru saja bangun tetapi secara perlahan mulai menyadari apa yang tengah dilakukannya.


Tatapan mata Monica menatap begitu intens kearahnya bahkan tak berkedip. Ia tahu, tatapan itu tertuju padanya. "Saat ini kamu tengah hamil dan dia calon bayi yang akan menjadi anak kita."


"Bagaimana itu mungkin? Bukankah kita ...," ucapan Monica seketika terhenti mengingat apa yang sudah terjadi.


Kini perlahan ingatan mulai menghantam kenyataan. Jadi semua yang dilakukan di dalam mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan atau bagaimana? Sungguh ia bingung dengan keadaan saat ini.


Ans membantu Monica bangun, lalu merengkuh tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. "Aku tahu kamu sangat kebingungan dengan hal ini tapi inilah faktanya bahwa kamu sudah mengandung anakku."


"Aku sungguh tidak tahu mau mengatakan apa lagi tetapi ada hal lain yang harus kamu ketahui tentang diriku. Monica sebenarnya aku bukanlah manusia. Raga ini memang benar sama seperti ragamu hanya saja jiwaku tak sama seperti jiwamu.


"Mungkin kamu ingat tentang ritual pemanggilan arwah yang dilakukan di villa. Ritual itu bertujuan untuk melakukan pertukaran jiwa dari raga yang sudah tidak bernyawa dirasuki jiwa yang sudah tiada.


"Sesungguhnya aku salah satu dari mereka. Mesti bukan sebagai pelaku tetapi hanya korban. Aku bukti dari hasil ritual dan aku sadar, bahwa diri ini bukanlah manusia seutuhnya. Akulah monster jiwa yang bisa saja membahayakan umat manusia.

__ADS_1


"Aku jujur padamu hari ini karena saat ini kamu tengah mengandung anakku. Kebenaran identitasku seharusnya tidak untuk dikatakan hanya saja keadaan memaksaku untuk berkata sebenarnya. Aku tahu, ini tidak adil bagimu. Monica lebih dari kebenaran siapa aku, masih ada yang harus kamu ketahui.


"Jika orang di luar sana lebih memanggilku dengan nama monster jiwa. Maka aku meyakini diriku hanyalah raga dengan jiwa yang sudah tak lagi bernafas. Apakah sekarang kamu masih ingin bersamaku dan mengandung bayi kita?


"Monica bayi ini bukan hanya akan membawa kamu pada derita tetapi mungkin juga bisa mengambil nyawa sebagai taruhannya. Jadi pikirkan baik-baik sebelum memberikan keputusan, apapun keinginanmu akan kuturuti." pungkas Ans setelah jujur tanpa memberi jeda agar kuat menjelaskan siapa dirinya.



Jujur itu merupakan suatu kewajiban yang tak bisa diganggu gugat. Sama seperti yang dilakukan Ans. Pria itu memberikan apa yang menjadi hak Monica dan tidak bermaksud mengikat untuk tahu siapa dirinya. Ia tak ingin ada rahasia lagi karena takdir sudah berkata lain.


Diamnya Monica menjadi tanda tanya. Ia tak tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan gadis itu. Detak jantung semakin berdebar begitu cepat dan ia merasa takut akan keputusan sang gadis yang mungkin justru langsung menolaknya.


Namun tiba-tiba balasan tangan yang melingkar di pinggang seraya wajah mendongak menatap ke arahnya terlihat begitu tenang. "Aku tidak peduli siapa kamu karena bagiku, kamu adalah manusia baik dan pria yang kucintai.""


"Apa kamu tahu, Ans. Seorang wanita bisa meninggalkan prianya tetapi aku sebagai seorang ibu tak ingin egois. Bagaimana Aku mempertaruhkan nyawa anakku hanya demi nyawaku sendiri? Bagiku tidak masalah jika kamu monster atau apapun itu.



"Selama ini, kamu pria yang bertanggung jawab bahkan rela menolong orang asing yang mengalami kesusahan. Manusia lain saja tak bisa sepertimu yang masih menuruti ego akan keserakahan. Awalnya kupikir cinta ini bertepuk sebelah tangan tapi kini aku sadar.



"Kamu juga mencintaiku, lalu apalagi yang harus ku khawatirkan?" tanya Monica mengakhiri pengakuan isi hatinya.


Pernyataan Monica membuat Ans bernapas lega. Meski tak sepenuhnya merasa tenang. Satu kebenaran telah terungkap dan kini waktunya kebenaran kedua yang mungkin bisa mengubah keputusan gadis itu. Jika pun Monica melakukan perubahan ia takkan mempermasalahkan itu.


Monica mengernyit karena tak paham dengan maksud Ans hanya saja mencoba untuk mencerna hal itu. Ans yang menyadari akan kebingungannya sontak melakukan sesuatu untuk membuat ia mengerti. Pria itu mengambil sebilah pisau yang selalu dibawa.


Kemudian mengiris sedikit jari untuk membuktikan bahwa darah itu memiliki kelebihan. Ia juga tak lupa mengambil toples dengan seekor hewan yang hampir sekarat karena kehabisan oksigen. Toples itu dibuka, lalu setetes darah dibiarkan jatuh ke kepala si hewan.



Awalnya hewan itu terlihat kejang bahkan lemah tak berdaya tetapi di detik berikutnya hewan itu terlihat segar bugar seperti tak pernah mengalami sekarat. Pemandangan itu nyata dan tidak ada manipulasi.


"Inilah perbedaan antara aku dan manusia. Bisa saja menggunakan darahku untuk membuat orang yang mengalami luka kembali sembuh hanya saja untuk hal itu, resiko terlalu besar dimana orang tersebut akan menjadi sama sepertiku.


"Meskipun hanya sedikit terkena tetesan darahku. Jiwaku yang tidak murni akan membuat orang-orang lain terkontaminasi sama seperti halnya dirimu. Apalagi sekarang yang ada di dalam rahim itu adalah anakku.


"Secara garis besar ia akan memiliki kekuatan dan darah yang sama. Apa kamu tahu risiko besar ketika melahirkannya saja maka pertaruhannya adalah nyawamu dan nyawaku. Disini ketika kamu mengalami kesulitan aku bisa merasakan tetapi disaat aku yang mengalami kesusahan hanya anak kita yang bisa merasakan.


"Ikatan ini tak mungkin terputus ataupun diabaikan. Salah satu diantara kita akan selalu bertahan tetapi mungkin tidak dengan yang lainnya. Apakah kamu sanggup selalu melihatku sama seperti sekarang tetapi tubuhmu justru sudah menua."


Penjelasannya terlalu cepat hingga membuat Monica diam tak mau menyela. Gadis itu hanya menahan diri mendengarkan seraya berusaha memahami dengan akal sehat yang tersisa. Sakit tak bisa dirasakan ketika terlanjur dibiarkan.


"Ketika anak-anak lain akan tumbuh dewasa. Maka anak kita akan berhenti di umur yang sama sepertiku. Jika pun aku bisa mengubah darahmu menjadi darah yang sama sepertiku, kemungkinan kecil untuk menyelamatkan tetaplah sangat minim. Monica, aku akan tetap memberikan satu pilihan padamu.


"Lanjutkan atau gugurkan? Pilihan dan keputusan final ada ditanganmu." ucap Ans mengakhiri pengakuan keduanya seperti kereta api ekspres yang langsung terjang sampai ke Surabaya.


Pria itu berusaha mengingatkan Monica setiap resiko yang akan diambil dan dilaluinya. Akan tetapi gadis Itu tampak tak memperdulikan hal itu. Ia tahu betapa keras kepalanya seorang Monica. Apalagi jika memiliki keyakinan akan takdir yang sudah di genggaman tangan. Tidak salah hanya saja ambisius.

__ADS_1


Ia bersyukur ketika Monica berkata telah menerima bayi mereka dan akan melahirkannya. Apapun itu tak akan mengubah kenyataan ketika itu memang sudah ditakdirkan maka akan terjadi. Namun Ia tak akan sanggup menikmati rasa bersalah jika sesuatu terjadi di antara keduanya.


"Ans, aku hanya menginginkan satu hal yaitu menikmati sisa hidupku bersamamu karena aku sudah ikhlas sejak aku memberikan hak seorang pasangan. Apa kamu tahu? Selama ini aku berpikir apa kekuranganku hingga kamu tak mau kembali padaku.


"Lalu kamu datang melalui mimpi dan aku sangat bahagia untuk hal itu. Jika kini penderitaan menjadi gantinya, aku tak lagi mempermasalahkan hal itu. Sebanyak apapun penderitaan di dunia ini, selama kamu bersamaku. Maka semua akan baik."


Hati berkata iya tetapi apalagi yang bisa dilakukan? Selain pasrah pada keinginan hati meski tak memungkiri gejolak di dalam pikiran. Keputusan Monica tetap sama. Gadis itu ingin menjalani kehamilan yang menurut Ans hanya dipenuhi penderitaan.


Dua Insan itu berusaha untuk saling melengkapi satu sama lain. Waktu yang terlalu membuat kehidupan semakin penuh warna hingga tak terasa satu bulan telah berlalu. Pengakuan Ans menjadi awal dunia baru tetapi kini tubuh Monica hanya terbaring di atas ranjang balok es.


Perubahan hidup yang drastis tetapi gadis itu tak sekalipun mengeluh ataupun mengerang kesakitan. Betapa tegarnya sang Kekasih untuk menghadapi kesulitan selama masa kehamilan. Padahal ia sendiri tak pernah meninggalkan gadis itu hanya untuk kepentingan dunia.



Selain sibuk menemani Monica, pria itu sesekali membawa kekasihnya untuk menikmati udara segar di luar sekedar mengubah suasana hati yang memang dibutuhkan oleh ibu hamil. Benar-benar pasangan yang saling berusaha mengerti satu sama lain.


Kini tubuh Monica terlihat begitu kurus tetapi perut kian membesar. Gadis itu memang tidak bisa menikmati makanan sembarangan dan sudah disiapkan oleh Ans agar tetap mendapatkan asupan nutrisi. Jika dunia sibuk membaca novel vampir, pria itu disibukkan merawat calon anak yang membuat sang kekasih harus kuat untuk bertahan hidup.


Sementara di sisi lain, Kevin semakin lelah tak tentu arah. Dari sekian banyak tempat tujuan jalan bahkan orang-orang lama yang sudah disambangi tapi tak menemukan satu jalan pun untuk menemukan keberadaan Monica. Semakin lama ia tak tenang ketika mimpi buruk selalu datang.


Harapannya hanyalah dimanapun wanita itu berada selalu sehat dan dalam penjagaan Sang Maha Pencipta. Sudah ada tiga gambar yang sama dan semua itu semakin menambah kegelisahan hatinya selain Monica tengah melakukan salam perpisahan. Jujur ia benar-benar berharap bisa menemukan sebelum firasat yang ia rasakan benar-benar terjadi.


Para mahasiswa masih terus datang keluar masuk fakultas tetapi Kevin semakin enggan untuk menimba ilmu. Seluruh waktunya sudah dihabiskan untuk melakukan pencarian. Kegalauan pria itu juga diawasi oleh Bryan dan Fatih. Tentu saja ada rasa bersalah karena membuat seorang pria yang tulus harus kelimpungan.


Diam bukan berarti mereka tak tahu apa saja yang dilakukan Kevin bahkan siapapun yang bisa menjadi petunjuk sudah dihapuskan agar Kevin tak menemukan keberadaan Monica yang kini berada di rumah mereka.


Jahat? Tidak. Semua dilakukan demi kebaikan Kevin juga sehingga mereka berusaha untuk memastikan semua berjalan seperti keinginan sang kakak. Agar tiga bulan tidak ada kendala dari luar.


Ans berharap tidak ada seorangpun yang mendekati rumah mereka tanpa seizin tuan rumah. Tak terasa hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Kehamilan Monica benar-benar sangat meresahkan.


Wanita itu bahkan selalu menghabiskan lebih banyak darah dari biasanya. Ketika bulan pertama hanya menghabiskan satu kantung per minggu, lalu berubah menjadi empat kantong perminggu tetapi kini justru sehari bisa menghabiskan dua kantong.


Sementara darah itu harus didapatkan dari rumah sakit yang tentu saja dengan alasan logis. Ketiga bersaudara itu pun juga melakukan transfusi darah. Setidaknya meminimalisir kecurigaan orang-orang karena mereka hanya ingin Monica bisa tetap dalam keadaan baik sampai melahirkan dan melihat anaknya sendiri. Semua akan dilakukan demi kebaikan ibu dan anak.


Rembulan malam tanpa bintang menghiasi langit tak berawan. Ans tengah berusaha menenangkan Monica yang terlihat begitu gusar. Setelah sekian lama gadis itu baru tak kuat dengan rasa sakit yang kian menyayat ketegaran.


Rintihannya begitu lemah membuat Ans semakin tak tega. "Apa kamu ingin melahirkan sekarang?" tanyanya ikut merasa kesakitan karena bayi itu seakan berusaha membebaskan diri.


Monica menggeleng pelan. Ia tak tahu apa yang diinginkan oleh bayi itu hanya saja terasa seperti ada tangan yang mencabik-capek dinding rahimnya. Sakit teramat sakit tetapi ia tak ingin melihat tatapan sang kekasih justru semakin lemah.


Saat ini ia lebih membutuhkan semangat dibandingkan duka yang mungkin bisa saja justru membuatnya semakin tak berdaya. "Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Monica seakan merasa ia harus mengatakan apa yang ingin disampaikannya.



Hampir tiga bulan diam tanpa melakukan apapun dan memberikan keluhan sedikit. Hati mengharapkan hal sederhana. Ans mengangguk mempersilahkan Monica untuk mengatakan permintaan yang dirasa sangat penting untuk ia dengarkan. Pria itu membantu sang kekasih untuk duduk meskipun begitu kesulitan.


"Bolehkah aku bertemu Kevin untuk terakhir kalinya." pinta Monica dengan tatapan mata menunduk membuat Ans menyadari sang sahabat yang seharusnya berada di sisi sang kekasih juga.


Bagaimana caranya mempertemukan kedua sahabat itu? Ketika keadaan Monica saat ini bahkan kesulitan untuk bangun. Ingin menolak tapi tak mungkin. Sontak Ia mengangguk menerima permintaan sang kekasih.

__ADS_1


__ADS_2