The Gubuk

The Gubuk
TG 44:Sekedar Mimpi tapi Nyata


__ADS_3

"Jangan dipikirkan, Ka. Semua akan jelas pada waktunya. Kita harus balik ke kelas. Jadi, ayo, Ka!" ajak Bryan membuatnya harus beranjak dari tempat duduknya.


Keempat bersaudara itu pergi meninggalkan kantin setelah membayar makanan mereka. Begitu juga dengan Kevin dan Monica yang ikut menyusul karena tanda bel masuk kembali ke kelas sudah terdengar. Para mahasiswa yang memang masih berada di luar mulai memenuhi lorong.


Tak ada yang spesial karena sesi pelajaran akan selalu sama terkadang beberapa guru begitu membosankan. Akan tetapi beberapa guru lain begitu semangat membuat mahasiswa yang belajar ikut bersemangat. Seperti hari ini seorang dosen dengan penampilan yang cukup tertutup kembali mengkaji satu tema yaitu sabar.


Beliau adalah guru agama yang cukup dikenal mahasiswa sebagai guru terhumble di seluruh fakultas. Namanya ibu Sarah dengan logat Jawa yang medok meski berbahasa Indonesia. Sang dosen hijaber dengan usianya tak muda lagi masih antusias mengajar para mahasiswa.


"Baiklah, seperti yang kita pelajari terakhir kali. Bisa jelaskan apa itu sabar. Siapa yang ingat?" tanya Ibu Sarah dengan pandangan mata menyapu ke seluruh ruangan.


Fatih yang merasa bosan mengangkat tangan, membuat Ibu Sarah mempersilahkan untuk menjawab pertanyaan. "Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, َر َب ص yang berarti menahan, mencegah atau tabah. Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah."


"Alhamdulillah, begitu lengkap seperti hasil pencarian di google. Jadi sabar di sini adalah suatu kekuatan, daya positif yang mendorong jiwa untuk menunaikan suatu kewajiban. Di samping itu pula bahwa sabar adalah suatu kekuatan yang menghalangi seseorang untuk melakukan kejahatan." Ibu Sarah tersenyum karena mahasiswa barunya memiliki pengetahuan yang bisa membuat teman sekelas terpana.


"Orang yang sabar akan tahan menerima hal-hal yang tidak disenangi atau tidak mengenakkan dengan ridha dan menyerahkan diri kepada Allah Swt. Sabar merupakan salah satu kunci untuk meraih kebahagiaan dan ketenangan hidup. Siapa yang bisa sebutkan salah satu dalil tentang sabar?" Ibu Sarah kembali melemparkan pertanyaan yang kali ini membuat Kevin mengangkat tangan dan langsung dipersilahkan untuk menjawab.


Kevin terlihat mengubah posisi duduknya honda nyaman, "Firman Allah dalam Al Qur’an surah An-Nahl ayat 126-127 yang artinya: “Dan jika kamu memberikan balasan, Maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. akan tetapi jika kamu bersabar, Sesungguhnya Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS. An-Nahl [16]:126-127)."


Suara tepuk tangan terdengar memberikan apresiasi untuk ilmu yang dipelajari bahkan hapal di luar kepala. Ibu Sarah merasa senang karena ilmu agama masih didengarkan di kelas yang katanya dipenuhi murid bandel. Padahal selama dirinya mengajar tak seorangpun siswa membuat masalah.


"Satu pertanyaan terakhir sebelum lanjut ke pelajaran selanjutnya. Siapa yang bisa sebutkan macam sabar atau contoh dari kesabaran itu sendiri. Bagaimana denganmu, Monica. Coba jelaskan pada ibu." Ibu Sarah memergoki Monica yang melamun membuat gadis itu tersenyum simpul seraya menggaruk kepala.


"Contoh dari sabar adalah ketika seorang muslim tertimpa takdir yang buruk semisal musibah sakit atau kematian, maka kita harus bersabar dan mengingat bahwa para Rasul memiliki cobaan yang jauh lebih berat dibanding kita semua. Oleh karena itu Allah perintahkan kita untuk meniru para Rasul dalam hal bersabar.


"Seperti firman Allah Ta'ala yang artinya, Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran para rasul yang memiliki keteguhan hati, dan janganlah engkau meminta agar (adzab) disegerakan untuk mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 35).


"Sebagai manusia biasa kita harus bersabar tetapi juga ingat untuk mengikhlaskan." sambung Bryan yang mencoba menyelamatkan Monica dari pertanyaan Ibu Sarah, membuat seluruh kelas terpesona pada penjabaran pria satu itu.


Akhirnya Ibu Sarah tersenyum puas, lalu melanjutkan pelajaran dengan tema lainnya agar membuat kehidupan para mahasiswa dibekali ilmu agama untuk menyeimbangkan perubahan zaman yang semakin tak karuan karena banyak orang mengalami krisis kepercayaan dan minus dalam kepedulian sosial.


Ali bin Abu Thalib berkata, “Hubungan sabar dengan iman adalah seperti hubungan kepala dengan badan. Jika kepala terpotong, badan akan binasa.


Maka sebagai umat muslim harus ingat akan pengendalian diri agar bisa menjaga lisan dan hati serta pikiran. Seperti yang dilakukan Sam. Pria itu masih penasaran dengan benih yang ada dirahim Monica sehingga mau, tak mau harus bersabar dalam penantian yang entah sampai kapan.


Pelajaran selama dua jam berakhir dengan cepat. Hari ini hanya satu mata pelajaran karena dosen akan mengadakan rapat akbar yang biasa dilakukan setahun sekali. Para pengurus organisasi juga ikut karena memang harus turut andil dalam acara yang akan berlangsung dari siang sampai sore hari.


"Permisi, Ka. Bolehkah kami minta tolong?" tanya seorang mahasiswa yang menghampiri meja Sam begitu Ibu Sarah tak terlihat lagi.


Fatih menatap mahasiswa itu penuh selidik, "Minta tolong apa?"


"Kami pengurus rapat kekurangan orang. Apa bisa membantu ...,"


"Tidak ada. Kami sibuk dan harus belajar banyak hal." tolak Fatih seketika meringis menikmati sentilan di telinga dari saudaranya. "Kau tu, mainnya tangan. Sakit tau."


Dibiarkannya Fatih mengeluh sedangkan Sam mempersilahkan mahasiswa yang mengajaknya untuk berjalan di depan tanpa sepatah katapun. Melihat pergerakan sang kakak pertama, Black menyusul begitu juga dengan Aurora yang diikuti Fatih dengan celengan kepalanya.


Apa yang akan mereka lakukan? Berdiri di pojokan atau menjadi tukang bersih-bersih? Entahlah, satu hal pasti hanyalah mengikuti apapun keputusan kakak pertama. Kepergian keempat bersaudara membuat Monica memilih merebahkan kepala ke atas meja.


Hatinya tengah merindukan seseorang yang berhasil mencuri seluruh ketenangan hidupnya. Wajah yang selalu menjadi impian nyata tetapi rasa semu. Entah apa yang terjadi padanya hingga sering kali bermimpi hal sama di setiap malam selama tiga minggu terakhir.


Perlahan memejamkan mata berharap bisa menemui sang kekasih hati. Kevin yang melihat itu tersenyum, lalu menyelimuti tubuh sang sahabat dengan jaketnya. "Tidurlah! Aku disini untuk menjagamu."


Sahabat setia akan selalu ada di setiap suka, apalagi kala duka melanda. Seperti yang dilakukan Kevin. Pria itu bahkan tak pernah pergi meninggalkan Monica sejak tragedi di villa. Rumah yang berdekatan memudahkan dia memantau gadis itu. Bukan bermaksud posesif hanya saja rasa sayangnya tak bisa dipungkiri.


Sadar akan perasaan yang mulai berubah arah, tetap tak mengubah sudut pandangnya. Ia tahu sang sahabat sudah terlanjur mencintai Ans yang kini tak tau dimana rimbanya. Ingin sekali berteriak memanggil nama yang mengubah takdir menjadi prahara.


Rindu akan sikap dewasa Ans tetapi lebih sakit melihat luka dan kesedihan di mata Monica. Meski saat ini sudah lebih baik, tetap saja gadisnya larut dalam kenangan masa lampau. Tiba-tiba teman sekelas memanggilnya meminta bantuan.

__ADS_1


Tak ingin meninggalkan hanya saja terlihat sangat membutuhkan bantuannya. Sehingga terpaksa menyusul dan pergi keluar kelas. Langkah kaki yang menjauh membuat langkah orang lain berjalan memasuki kelas bahkan tak sungkan langsung menutup pintu agar tak seorangpun melihat keberadaannya.


Suasana kelas begitu sepi dan yang terdengar hanya suara helaan napas teratur dari Monica. Gadis itu benar-benar menikmati tidurnya. Tangan terangkat menyentuh wajah putih mulus yang lembut. Tatapan mata tak mampu berbohong ia merindukan gadis itu.


"Miss you, Monica." bisiknya di telinga gadis itu, lalu mengecup kening yang tertahan cukup lama. "Kuharap kehidupanmu akan selalu baik dan bahagia. Jaga dirimu dan anak yang ada di rahimmu."


Bisikan yang terasa hangat mengusik ketenangan alam mimpinya. Perlahan mengerjapkan mata, "Siapa yang bisik-bisik barusan?" tanyanya tetapi tak ada jawaban. "Iseng saja, mending aku pulang. Loh, Kevin kemana? Jaket di aku, jangan bilang ninggalin aku tuh anak."


Tak ingin menikmati sensasi horror di kelas seorang diri. Monica memasukkan buku yang ada di atas meja ke dalam tas. Lalu tak lupa mengirim pesan pada Kevin jika ia akan pulang duluan. Jaket yang tetap dipakai menjadi penghangat tubuh karena mendadak merasa dingin.


Waktu tak ubahnya roda kehidupan yang terus berputar. Siang yang berganti malam berteman arak awan yang temaram. Suasana rumah selalu sepi karena orang tua memiliki pekerjaan yang mengharuskan tinggal di negara lain, sedangkan Monica sebagai anak tunggal tidak lagi mempermasalahkan hal itu.


Gadis itu selalu masuk kamar tepat pukul sebelas malam karena sudah waktunya untuk beristirahat dengan tenang menjemput alam mimpi. Ia tak lupa berganti pakaian tidur yang akan membuatnya nyaman semalaman. Seperti biasa lampu kamar hanya menyisakan yang temaram.


Bantal lembut nan harum langsung menyambutnya dengan kenyamanan yang selalu ingin dirasakannya hingga samar-samar seluruh ruangan mulai terlihat buram. Begitu membuka mata ia berada di sebuah kamar besar dan indah dengan aroma terapi menenangkan.


"Kamu datang kesini? Untuk apa?" tanya seseorang yang berdiri di depan jendela dengan tubuh berbalut handuk mandi, membuat Monica tersenyum seraya beranjak dari tempat berbaringnya.


Langkah kaki mendekat, lalu memeluk raga yang berdiri membelakanginya tanpa keraguan. "Disinilah aku bisa menemukanmu dan memiliki waktu untuk berbagi perasaan. Kenapa kamu marah?"


"Apa aku tidak boleh marah?" Raga itu berbalik menampakkan wajah familiar yang selalu dirindukan Monica. "Pulanglah, jangan datang lagi."


"Ans!" panggil Monica tak sanggup menanggung rasa yang kini sudah semakin berkembang di hatinya.


Rasa takut kehilangan membuat gadis itu mencengkram handuk yang menutupi tubuh Ans hingga membuat pria itu menunduk mengikis jarak diantara keduanya. Tak elak bibir saling bertemu menyatu dalam pagutan sepihak.


"Aku tidak akan pernah menurut dengan permintaanmu yang satu ini," Sekali tarik meluncurkan handuk yang jatuh ke bawah, tubuh kekar nan polos terpampang jelas di depan mata. "Kamu itu cuma milikku."


Ans tak bisa berkutik ketika Monica menyerangnya berusaha menguasai tubuhnya. Sentuhan yang selalu membangkitkan keinginan untuk memiliki, gadis itu membuat jiwa lelakinya menyala dan tak bisa berdiam diri begitu saja.


Permainan dimulai membuat kedua insan itu saling berusaha mengimbangi satu sama lain hingga tubuh jatuh ke atas ranjang. "Kita sudah melakukannya berulang kali. Apa kamu tidak bosan?"


Obrolan terhenti berlanjut aksi yang menghangatkan tubuh keduanya bersambut lenguhan manja nan menggairahkan. Penyatuan raga yang menggila di alam mimpi membuat kedua insan itu menikmati percintaan yang sama sekali tidak disadari saat kembali ke dunia nyata. Ironis ingatan manis dalam mimpi.


Ans larut menjejaki pendakian dan mengharapkan balasan membuat Monica tak tinggal diam. Alam mimpi yang menjadi rumah bersama bagi kedua insan itu. Sayangnya baik Ans atau Monica tak menyadari bahwa kini raganya hanya bergerak seperti cacing kepanasan di kegelapan malam.


"Black, sampai kapan Kakak pertama akan seperti itu?" tanya blue yang ikut menjaga tubuh kakak pertamanya di ruang tamu.


Black mengedikkan bahu karena benar-benar tidak tahu. "Kita harus cari cara agar Ka Ans bisa mengingat dan membedakan mana mimpi yang kini berlanjut menjadi dunia nyata."


"Apa itu berarti Monica hamil anaknya Ka Ans?" tanya Red membuat Aurora menghela napas dalam-dalam. Bukan ragu hanya saja melihat energi besar dari dalam rahim Monica, ia sadar gadis itu mengandung dari anak bukan manusia biasa.


"Sebaiknya kita pastikan dulu agar semua jelas tapi untuk itu kita harus membuat ka Ans bertemu Monica dengan wajah barunya. Jika gadis itu menerima dan melakukan hal sama seperti di dalam mimpi, maka ingatan Ka Ans tidak akan random lagi.


"Apa kalian ada ide? Kita harus membuat satu rencana yang tentu tidak rumit tetapi bisa berjalan sempurna." sambung Black membuat kedua saudaranya mengangguk paham.


Aurora ikut berpikir meski saat ini rasa kantuk melanda, "Apa kita culik saja gadis itu, bawa kemari trus kurung di kamar kakak."


Ide Aurora memang sangat bagus tapi mengingat Kevin selalu menjaga Monica. Rasanya itu akan lebih sulit meski mereka memiliki kekuatan dan kelebihan yang tidak orang lain miliki. Akan tetapi yang lebih dikhawatirkan adalah sang kakak pertama bisa murka karena mereka melakukan sesuatu hal yang nekat.


Bukan hal asing lagi ketika sang kakak dalam mode murka. Maka apapun akan terjadi. Jadi ide kali ini akan dipikirkan lagi seraya tetap menunggu proses yang tengah dilakukan Ans menikmati malamnya bersama Monica dialam mimpi.


Seakan waktu tak henti tuk menguji. Di sisi lain Kevin yang merasa tak gelisah tak menentu ingin sekali melihat keadaan sang sahabat tetapi pria itu berpikir ulang ketika melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


Jika semalam ini dan pergi ke rumah seorang gadis tentu tidak akan baik. Malam ini dibiarkan terlewat begitu saja. Rasa lelah menyerah menyergap rasa kantuk untuk menjemput alam mimpi. Raga yang diam semakin terasa letih menyudahi kegelisahan hatinya hingga pagi menjelang memberikan secercah sinar harapan.


Suasana rumah terlihat begitu sepi. Pagi ini ia bangun sangat awal, lalu datang ke rumah sang sahabat sekedar untuk memeriksa apa yang tengah dilakukan Monica. Weekend telah tiba membuatnya bisa bebas untuk berkeliaran. Akan tetapi kamar gadis itu terkunci dari dalam membuat rasa cemas kembali datang.

__ADS_1


Diketuknya pintu itu sedikit lebih keras dari biasanya. "Monica, bangun sudah siang." serunya sedikit memaksakan diri padahal waktu masih begitu pagi.


Tubuh yang terasa lelah, remuk rasanya ingin sekali tetap lanjut menikmati alam mimpi. Sayangnya ketukan pintu mengusik rasa kantuk yang kini hilang sudah. Kakinya turun dari ranjang dengan enggan berjalan malas menghampiri pintu.


"Pagi kenapa udah bangun jam segini? Aku masih pengen istirahat." racau Monica seraya menguap di depan Kevin.


Tatapan mata terbelalak melihat penampilan Monica yang berantakan. Gadis itu terlihat habis bersama seseorang semalam. Tanpa kata ia melewati gadis itu memeriksa seluruh ruangan kamar. Sayangnya tidak ada siapapun bahkan aroma parfum pria saja tidak ada.


"Kamu lagi cari apa, Vin?" tanyanya dengan begitu polosnya seperti tak menyadari apa yang mengusik perhatian Kevin.


Kevin yang tak menemukan apapun kembali menghampirimu Monica, kemudian memegang kedua bahu gadis itu seraya menatapnya dengan tajam. "Siapa yang bersamamu semalam?"


Satu pertanyaan itu cukup menyentak membuat Monica membuka matanya lebar-lebar. Apa yang dimaksud oleh Kevin. Jujur saja, dia tak paham bahkan benar-benar sama sekali tidak paham karena pertanyaan itu terdengar menyudutkan.


Kebingungan yang jelas tergambar di wajah Monica, membuat Kevin menarik tangan gadis itu hingga berhenti di depan cermin yang bulat besar. Ditunjuknya pantulan yang kini ada di depan mata, "Lihatkan leher dan dadamu dipenuhi jejak percintaan semalam."


"You see! Apa maksud semua ini, Monica? Apakah kamu sudah gila melakukannya. Siapa dia dan dimana orangnya?" geram Kevin semakin membuat Monica kebingungan.


Gadis itu melepaskan diri dari cengkraman tangan sahabatnya, lalu berjalan menghampiri cermin yang memantulkan tubuh idealnya. Jejak merah sepanjang jalan kenangan itu seperti masih baru. Jujur saja dia benar-benar tidak tahu dan tidak paham apa yang terjadi kecuali satu ingatan yang ia yakin itu hanyalah mimpi.


"Vin, aku sungguh tidak mengerti apapun dan kenapa tubuhku seperti ini. Mungkin serangga yang melakukannya" Gadis itu berkata yang sebenarnya meski juga mengelak karena tak ingin menceritakan apa yang terjadi dalam mimpi.


Lagi pula, apapun yang ada di dalam mimpi tentu saja hanya tentang ia dan Ans. Jadi bagaimana akan menceritakan semua itu pada Kevin? Pasti sahabatnya akan merasa ia sudah hilang akal karena terus-menerus mencari keberadaan Ans yang nyatanya hanya bisa ditemui di dalam mimpi.


Bukan masalah tentang kepercayaan atau tidak ingin terbuka, hanya saja ia tahu kapan harus menyimpan rahasianya sendiri. Kevin yang mendengar alibi Monica masih tak bisa percaya. Sebelum ia memastikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi.


Akhirnya ia mengalah untuk kali ini dan meminta Monica untuk membersihkan diri sedangkan ia akan melakukan sesuatu untuk membuat sarapan bersama. Kepergian Kevin dari dalam kamar membuat gadis itu langsung mengunci pintunya.


Langkah kakinya beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian melepaskan semua pakaian hanya untuk melakukan pemeriksaan. Jejak yang sama ternyata tertera jelas di sekujur tubuhnya. Jika semua yang terjadi hanyalah mimpi. Kenapa jejak itu ada?


Ia bukan hanya bingung tetapi juga heran akan fakta yang benar-benar tidak bisa dipahami oleh akal. Benarkah semua itu hanya mimpi atau memang ia bertemu Ans dan melakukannya dengan sadar. Hanya saja jika bertemu dalam kenyataan, kenapa ia tak bisa mendapatkan bukti nyata dari keberadaan sang kekasih.


Apa gunanya bingung? Toh Ia bisa bertemu Ans dikala rindu datang. Yah itu sudah cukup karena baginya kebersamaan tak harus selalu satu frekuensi. Pikiran kembali tenang mengingat percintaan semalam. Bukan mesum, Ia hanya merasa lebih hidup dengan semangat yang didapatkan dari pertemuan.


Tiga puluh menit kemudian sesi mandi berakhir. Monica sudah berpenampilan lebih rapi dan tertutup agar tanda cinta dari Ans tak menjadi bahan pertanyaan lagi. Ketika turun dari lantai atas, ia melihat Kevin sudah duduk di kursi ruang makan dengan dua piring nasi goreng spesial. Seperti biasa sarapan bersama tanpa ada obrolan.


"Vin, hari ini di rumah atau keluar?" tanya Monica mengalihkan perhatian pria yang hendak mengangkat piring bekas mereka makan.


Tatapan mata masih tampak marah tetapi berusaha menahan emosi. "Kamu mau pergi kemana?" tanya pria itu menurunkan nada suaranya agar Monica tidak terkejut lagi.


Bentakan tadi pagi masih dia sesali. Apalagi jika sampai mengulang lagi, bisa saja perasaan bersalah enggan pergi dari hatinya. Tatapan mata Monica bahkan benar-benar mengatakan yang sebenarnya. Meski hati ragu, ia tahu gadis itu tidak suka pergi seorang diri.


Satu pertanyaan menjadi jawaban yang tidak masuk akal. Bayangkan saja selama sebulan terakhir selalu kemanapun berdua, jadi kapan waktu yang dimiliki Monica untuk mengajak lelaki lain? Situasi sudah berbeda dan tidak sama seperti saat masih ada Ans.


Satu kenyataan yang menjadi kebenaran adalah Monica hanya dekat dengan dua pria selama ini. Pertama dia dan kedua Ans. Bingung bercampur keanehan karena jika gadis itu keluar malam maka ia bisa mendengar mobil keluar dari garasi. Kecuali memang pergi secara diam-diam tapi terbantahkan dengan fakta Monica selalu tidur tepat waktu.


Kevin yang melamun membuat Monica menepuk keningnya pelan, "Kevin! Mau nemenin aku gak?"


"Eh, apa?" tanya Kevin tergagap karena baru sadar melamun ke arah yang sudah menjadi masa lalu.


Monica mengambil buah jeruk yang ada di depannya, lalu melemparkan buah itu ke Kevin yang dengan sigap menangkapnya. "Aku mau tidur balik. Bye."


Gadis itu berlari meninggalkan ruang tamu meninggalkan Kevin yang sibuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Yah mana tau Monica ingin kemana. Orang dia saja lagi memikirkan kerumitan masa lalu, masa kini dan masa depan yang tertinggal. Sementara di rumah lain terjadi perdebatan yang cukup alot.


"Sebenarnya apa yang ingin kalian katakan? Bisa tidak bicara to the point dan bukan senggol kanan kiri. Kepalaku sudah pusing dan kalian menambah pusing." ujarnya seraya memijat pelipis yang terasa berdenyut. Sakit dengan kepala berputar-putar.


Baru saja terbangun dan tiba-tiba sudah di sidang. Rasanya seperti kepala dihantam kenyataan yang berat tetapi alasannya saja masih tidak jelas. Apa harus main tebak-tebakan? Padahal kepala tak bisa diajak kompromi.

__ADS_1


Tatapan mata menelisik dengan deru napas panjang. "Sorry, katakan apa mau kalian!"


__ADS_2