The Gubuk

The Gubuk
TG 22: Makhluk Tak Kasat Mata, Hilang


__ADS_3

Teriakan perintah dari Monica menyentak kesadaran Ans. Pria muda itu langsung bangkit dari tempatnya terjungkal meski harus menahan tangan yang terasa terkilir. Hal itu tak menjadi alasan untuk berdiam diri. Dibantunya Kevin untuk berdiri.


Darah segar mewarnai bibir sahabatnya. Jelas saja pasti luka dalam karena benturan yang cukup keras. Anehnya kegaduhan di kamar itu tak seorangpun dari keluarga Wellington mendengar. Seakan dunia lain yang menjadi pusat keributan.


Bayangan itu melesat kesana kemari tetapi seakan berputar-putar di satu tempat. Monica yang memiliki kelebihan mencoba mengalihkan perhatian si makhluk dengan mencakar kulit pergelangan tangan kirinya sendiri. Hal itu dilakukan hanya untuk mengubah aroma darah di dalam ruangan.


Incaran makhluk itu adalah Kevin. Sehingga tidak masalah baginya untuk menjadi pengalih perhatian meski dengan sadar mengumpankan diri sendiri. Apapun akan dilakukannya agar mereka bisa selamat terlebih dahulu. Benar saja, makhluk itu semakin kebingungan karena aroma darah bercampur di satu ruangan.


"Ans, makhluk itulah yang menculik satu per satu anggota keluargaku. Jika dia disini maka orang yang mengirimnya juga ada disekitar villa atau ... uhuk di dalam villa dan tinggal bersama kita." jelas Kevin dengan menahan rasa sakit di dada yang terasa panas seperti dibakar arang menyala.


Kamar tamu yang mereka tempati saja letaknya paling ujung. Meski dua kamar dari tempat mereka adalah kamar yang ditempati Tuan Delano. Tetap saja setiap ruangan memiliki dinding yang tebal karena bangunan mengikuti desain negara Belanda.


"Apa yang harus kita lakukan? Berteriak?" tanya Ans bingung sendiri. Jujur saja situasi lebih menegangkan. Seumur hidup yang mempercayai logika tapi tiba-tiba dihadapkan dengan hal mistis.


Kevin mengedarkan pandangannya menelusuri seluruh sudut kamar tetapi selain ranjang, meja, kursi sofa, bufet, lemari kayu, kamar mandi. Tidak ada pajangan kecuali beberapa vas bunga. Sekali lagi berusaha mengingat masa lalu di antara kekacauan pada masa itu.


Tubuh yang mulai gemetaran tak membuat pria muda itu menyerah. Dilawannya ingatan yang ternyata masih menghadirkan kesedihan mendalam hingga ia menemukan secuil kebenaran tentang makhluk tersebut. Tangannya terangkat menunjuk ke sudut ranjang sisi kanan membuat Monica menoleh ke arah yang dimaksud.


"Air daun bidara disembunyikan di bawah ranjang. Kita bisa gunakan itu untuk menangkal serangan makhluk yang berniat menculik satu per satu anggota di villa ini." tutur Kevin lalu kembali membuka mata. "Monica, ambillah bambu di bawah ranjang menggunakan tangan kanan!"


Sembari menahan rasa perih. Gadis itu beranjak dari tempatnya tetapi tidak menyadari jaraknya semakin menjauh dari keberadaan Kevin. Aroma darah yang mulai terpisahkan membuat sang makhluk beralih haluan. Semilir angin yang berembus begitu dingin menerpa.


Sensasi panas dingin menyergap mencekal lengan Ans. Tubuh pria muda itu terpelanting terhempas ke belakang sedangkan Kevin mengerang kesakitan menikmati cengkraman tangan di lehernya. Deru napas mulai terganggu, sekali lagi aroma DANUR tercium begitu menyengat dari si makhluk.


"Ha-ha-ha, percuma kamu mengambil nyawaku. Ritualnya sudah hancur sejak awal karena ... Uhuk ...," Kevin berusaha memanasi si makhluk dengan berargumen tetapi justru makhluk itu mengeratkan cekikan di lehernya.


Dunia terasa semakin kejam ketika takdir merenggut kebahagiaan hati. Seperti kehilangan keluarga dalam perjalanan yang sebenarnya diharapkan sebagai ladang kebersamaan. Rasa takut tak lagi memperngaruhi hati yang terkoyak.

__ADS_1


Namun saat ini, ia tidak sendiri dan justru bersama dua nyawa yang sangat disayanginya. Bagaimana akan menyerah? Di sisa kesadarannya sebuah mantra diucapkan. Entah itu bekerja atau tidak tetapi mantra itu hasil akhir dari pencarian selama bertahun-tahun.


Lirih lemah tak berdaya hingga terantuk membentur lantai dengan kebebasan yang pergi melepaskannya. Akan tetapi tubuh terasa begitu panas seakan darah di dalam mendidih. Apa yang terjadi? Ia bingung dengan reaksi tubuhnya.


Samar-samar terlihat langkah kaki yang mendekat membuat tangannya terangkat berusaha menggapai sang sahabat tetapi pandangan berubah gelap tak berujung. "Pergilah dari sini ...," pintanya menghabiskan sisa kesadaran untuk memperingatkan.


Di saat bersamaan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Ans tak ingin ada yang panik sehingga ia meminta Monica untuk membukakan pintu hanya saja setelah memindahkan tubuh Kevin ke atas ranjang. Barulah kedua insan itu berpura-pura tenang menyambut sang pengetuk.


"Kalian belum tidur? Sebentar lagi pagi. Setidaknya istirahat karena kesehatan itu penting." ucap seorang pria bule dengan wajah semrawut. Mungkin saja baru bangun tidur atau malah habis begadang hanya untuk lembur kerja.


Monica menangkupkan kedua tangan didepan dada. "Terima kasih atas perhatiannya, Sir. Kami baru saja bangun tapi memang masih mengantuk. Apa ada yang bisa kami bantu?"


"Begitu ya, sebenarnya saya kemari ingin minta tolong. Sampaikan pada keluargaku agar cepat pergi dari villa ini dan jangan cari kami lagi." ucapnya membuat Monica berpikir keras. "Selamat pagi, selamat tinggal."


Suara pamitan yang terdengar begitu jauh tetapi raga ada di depan mata. Tak ingin berprasangka buruk. Gadis itu menganggukkan kepala, lalu menatap kepergian si pria bule yang berjalan begitu cepat. Meski merasa aneh karena bulu kuduk meremang.


Pengulangan permintaan tersebut seketika menyadarkan Monica akan hal yang sangat familiar. Kenapa orang meminta permintaan aneh? Dilihatnya kembali ruangan depan kamar yang sudah kosong tetapi bulu kuduk semakin berdiri. Itu berarti yang barusan datang adalah arwah.


"Ans, cubit aku!" pintanya dengan nada suara bergetar membuat Ans melakukan permintaannya dengan hati. "Aw, sakit. Sebaiknya kita segera beritahu keluarga Wellington untuk pergi dari villa. Ans, kita sudah diperingatkan. Sekarang bagaimana?"


Kepanikan melanda merongrong rasa tak bertuan. Kedatangan arwah barusan semakin memperkuat dugaan tindakan praktek tak bermoral yang bisa menjadi petaka. Entah apa yang menjadi alasan misteri kali ini tapi dia yakin akan satu hal. Yaitu nyawa semua orang dalam bahaya.


Ans mencoba menenangkan Monica dengan membawa gadis itu berbaring di pangkuannya. Ia yang terbiasa tegas harus melunak demi kebaikan bersama. Setelah apa yang terjadi, ia sadar sahabatnya memiliki kelebihan sebagai gadis indigo. Bagaimana bisa baru tau sekarang?


Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa sinar mentari menyongsong hari baru. Rasa kantuk yang tak tertahan lagi, membuai ketiga mahasiswa itu dalam lelapnya mimpi panjang. Sementara di tempat lain tampak raut wajah kebingungan. Disaat membuka mata pertama kali yang terlihat hanya dinding putih tanpa hiasan.


"Aku ada dimana?" tanyanya pada diri sendiri dengan tatapan mata ke sekeliling tetapi hanya menemukan kehampaan.

__ADS_1


Bingung dengan keadaan sekitarnya. Apalagi hanya bagian dinding atas yang terlihat putih sedangkan setengahnya lagi berwarna hitam. Kesadaran yang masih dikumpulkan tersentak ketika tangan tak sengaja menyenggol sesuatu di belakangnya.


"Apa ini?" Diangkatnya benda yang ia pikir kenyal, tapi tiba-tiba terdengar suara lenguhan khas bangun tidur yang sangat familiar. "Ale, apa itu kamu?"


"Hooaam," Ale menutup mulutnya menggunakan tangan kanan, lalu bangun sekedar untuk duduk seraya merenggangkan kedua tangan. "Al, kita dimana? Kok kepala ku pusing banget, ya."


Kepala pusing? Apa yang dirasakan Ale juga dirasakannya. Ia pun heran dan tidak bisa bertanya, lalu bagaimana menjawab pertanyaan adiknya? Ditengah kebingungan yang semakin memusingkan, sayup-sayup terdengar suara aneh dari arah luar ruangan.


Entah apa yang dibaca tetapi terdengar begitu asing. Keduanya masih tidak menyadari berada dimana dan karena ulah siapa. Kedua anak itu sudah terpisahkan dari keluarga sejak semalam. Sementara di dalam villa terjadi kehebohan setelah mengetahui hilangnya kedua anak keluarga Wellington.


Para pria dewasa berpencar mencari keberadaan Ale dan Al. Suara panggilan yang saling bersahutan terus bergema di sepanjang lorong villa. Dari satu sudut ke sudut lain tetapi tidak ada tanda-tanda yang bisa dijadikan petunjuk. Rasa khawatir kian melanda karena mereka mengabaikan firasat yang sudah dirasakan.


Anehnya kenapa penjaga villa juga menghilang tanpa kabar bahkan di saat memeriksa kamar paling belakang. Ternyata kamar itu sudah lama tidak dihuni. Sarang laba-laba yang menghiasi langit kamar ditemani sarang kecoa dan juga tikus. Jadi, dimana Pak Rudi menginap?


Papa Delano tetap memeriksa kamar belakang meski harus di bantu Bara untuk mengusir para makhluk perekat yang sibuk mengigit sesuatu. Fokusnya tidak teralihkan membuka laci yang ada di dalam kamar. Satu per satu diperiksa dengan teliti tetapi setelah perjuangan begitu keras. Justru tidak menemukan apapun.


Kakak beradik itu keluarga dari kamar si penjaga dan tidak lupa menutupnya lagi. Kemudian berjalan menyusuri lorong sisi lain yang menarik perhatian. Dimana ada pintu kayu menuju halaman belakang villa. Pintu tinggi besar yang pasti tebal terlihat bersih bahkan saat memegang knop terasa tidak berdebu.


"Ka, apa mungkin penjaga itu punya rumah sendiri di belakang villa?" tanya Bara. Lebih tepatnya menerka-nerka kemungkinan yang bisa saja terjadi.


Diputarnya knop pintu, lalu didorong ke depan. Semilir angin menerpa wajah menghantarkan kesegaran aroma dedaunan yang basah karena hujan. Pintu terbuka lebar dengan suara derit pelan. Itu berarti sering dilewati oleh manusia karena engsel berfungsi dengan baik. Apalagi terlihat bekas jejak semalam.


"Jejaknya hanya di tanah tapi kenapa lantainya tetap bersih? Jika memang berjalan masuk harusnya ada jejak coklat dengan tanah basah yang menempel. Apa mungkin orang itu melepaskan sepatu, jadi masuk tanpa alas kaki?" gumam Papa Delano dengan kesimpulan pertamanya, membuat Bara berjongkok.


Jejak kembali diamati, tapi tetap seperti dugaan sang kakak. Jejak itu mengarah ke dalam villa dan buka sebaliknya. Bagaimanapun orang yang baru dari luar pasti meninggalkan jejak tanah hanya saja kenapa jadi membingungkan? Kedua pria itu sibuk merenung memikirkan apa yang terjadi.


Tanpa menyadari ada sepasang mata yang mengawasi dari jarak dekat dengan tatapan tajam nyalang seperti pemangsa di hutan yang siap menerkam. Seringai jahat tersungging dibibirnya, "Orang kota seperti kalian pasti hanya bingung. Aku akan memulai ritual malam ini dan anak kalian harus menjadi persembahan."

__ADS_1


__ADS_2