
Namun bagaimana dengan dirinya? Hati merasa seperti tersayat sembilu. Di depan sana, tepatnya di dinding yang hanya ada pajangan mengerikan yaitu gantungan kepala tanpa tubuh. Beberapa kepala yang terpajang itu adalah kepala anak-anak seusia mereka berdua.
Ia tahu kepala itu asli karena boneka tidak akan senyata itu. Apalagi kepala yang paling atas terlihat masih baru. Dari aroma sudah jelas ada balsem yang biasa digunakan untuk mengawetkan tubuh. Aroma itu selalu ada di laboratorium sekolahnya saat melakukan eksperimen.
Bukan hanya itu saja karena di saat yang sama tatapan mata teralihkan pada sebuah bingkai foto keluarga berukuran empat R dengan jumlah anggota tiga orang. Terdiri dari orang tua dan seorang anak gadis yang usia pasti persis seperti usia Ale. Entah kenapa menatap foto anak itu seakan begitu sendu.
Tatapan mata yang layu dengan senyum dipaksakan. Apa yang terjadi pada anak itu? Kenapa foto dengan latar belakang tema party ulang tahun justru hanya ada kemurungan di wajahnya. Tak ingin semakin larut menikmati kesedihan si anak dalam foto. Al mengedarkan pandangan ke arah lain.
"Ale, sepertinya itu pintu keluar." Al tak membiarkan Ale membuka mata tetapi justru menggandeng tangan adiknya. Lalu melangkah maju, "Semoga ini jalan kita."
Secercah harapan membuat Al dan Ale saling menguatkan. Kedua bersaudara itu berjalan dengan sangat hati-hati karena tidak ingin menarik perhatian siapapun. Tak pernah berpikir apa yang akan mereka temui di depan sana. Saat ini hanya ingin berpikir positif tanpa memikirkan rasa sedih di hati.
"Al, ada tangan yang memegang kakiku." cicit Ale dengan langkah terasa berat setelah berjalan sepuluh langkah, membuat Al berbalik mencari tahu apa yang mengganggunya.
__ADS_1
Seorang wanita paruh baya dengan penampilan lusuh yang kaki dan tangannya diikat tali tambang dan bibir tertutup lakban hitam. Siapa wanita itu dan kenapa berada di rumah yang terlihat kuno? Apalagi terlihat seperti salah satu korban penyekapan.
"Nenek siapa?" tanya Al membuat Ale menarik tangan kakaknya, lalu ikut berbalik ke belakang.
Ale yang merasa kasihan melepaskan lakban nenek itu dengan cekatan tetapi ketika sudah dibuka. Gadis itu tersentak hingga limbung ke belakang membuat Al sigap menahannya. "Monster ...,"
Raungan si nenek membuat Al menarik tubuh Ale menjauh dari wanita paruh baya itu. Untung saja kaki sang adik sudah terbebas ketika didekatinya tadi. Gigi runcing dengan bibir terbakar membuat penampilan wanita itu benar-benar mengerikan. Apalagi air liur yang terus menetes seakan merasa kelaparan.
"Astagfirullah, Vin. Makhluk itu sudah mendiami tubuh manusia berapa lama." Monica bahkan terkejut melihat wujud nenek yang ternyata juga dirantai menyatu dengan dinding. "Al, Ale. Cepat kemari!"
Tanpa pikir panjang, keduanya berlari menghampiri Monica. Perasaan gelisah bercampur lega terluapkan dengan pelukan hangat. "Kalian tidak apa-apa 'kan?" tanyanya begitu lembut membuat Al dan Ale semakin mengeratkan pelukan.
Sementara Kevin berjalan menghampiri si nenek. Pria itu seakan mengenali wajah yang tidak begitu asing baginya. Meski harus menjaga jarak aman, ia tetap mengamati dari dekat tanpa bisa disentuh. Pahatan wajah masih tetap sama dan wajah itu tidak pernah dia lupakan.
__ADS_1
"Kamu ...," baru saja ingin menyebutkan sebuah nama tetapi suara dentuman keras terdengar dari arah Villa. Sontak ia berdiri kembali menghampiri Monica dan anak-anak. "Kita harus keluar dari sini. Ayo!"
Langkah kaki meninggalkan sebuah gubuk yang ternyata berada di tengah hutan. Keempat insan itu menyusuri jalan yang sama tetapi kali ini harus ekstra hati-hati ketika melewati jembatan karena ada anak-anak yang harus dijaga.
Selama lima belas menit akhirnya terbebas dari kengerian jembatan goyang. Kevin yang berjalan dibelakang membiarkan Monica di depan, lalu Ale, kemudian Ans yang ada di depannya tapi tiba-tiba langkah sahabatnya terhenti. Entah karena apa.
"Ka, dia itu anak yang ada di dalam foto di gubuk." ujar Ale yang melihat apa yang dilihat Monica, membuat Al dan Kevin bergeser mencoba melihat apa yang dimaksud Ale.
Monica tau sosok di depannya adalah arwah penasaran. Pertanyaannya kenapa arwah itu menghadang jalan mereka? Apakah karena membawa kabur tahanan atau ada hal lain yang ingin disampaikan. Rasa penasaran kian melanda hingga arwah yang berdiri di depan saja menunjuk ke arah selatan.
"Dia ingin kita ke sana, Ka." sambung Ale yang mendapatkan bisikan gaib seakan menjadi perantara membuat Al semakin mengeratkan pegangan tangannya.
Kevin bisa merasakan energi yang ada disekitarnya tetap positif sehingga tidak mempermasalahkan jika ingin mengikuti petunjuk si arwah. "Monica, sebaiknya kita jalan bersama-sama. Ayo kita lihat apa yang menjadi keinginan arwah itu."
__ADS_1