The Gubuk

The Gubuk
TG 45:Tindakan Cepat


__ADS_3

Tak bisa berkutik ketika tatapan mata ketiga saudaranya sudah menatap dirinya dengan tatapan mata tak bersahabat. Ia tahu meskipun sebagai kakak, ketiga adiknya juga memiliki hak sama. Di dalam situasi kali ini ia harus mengalah dan mau mendengarkan.


Melihat kakaknya sudah mau meminta maaf dan bertanya baik-baik. Kini ketiga saudara itu duduk di sofa yang saling berhadapan dengan sang kakak. Black memegang tangan kanan Ans, begitu juga dengan blue yang melakukan hal sama tetapi red hanya ingin menatap tanpa melakukan apapun.


"Apa kakak tahu apa yang terjadi di dalam mimpi itu hanyalah mimpi." ucap Bryan dengan hati-hati karena ia tak ingin kakaknya merasa tersinggung.


Ans mencoba untuk memahami, isadar apa maksud pertanyaan adiknya tetapi ia juga tahu bagaimana cara Bryan untuk melihat semua itu. "Katakan sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan! Aku tidak ingin ada teka-teki."


"Kak sebenarnya meskipun itu mimpi tapi tetap terjadi dalam kehidupan nyata. Mungkin Ka Ans berfikir itu sekedar mimpi hanya saja untuk Monica itu kenyataan dan saat ini ...," Aurora tak berani meneruskan ucapannya karena ia masih belum siap untuk mengatakan kebenaran.


Bagaimana jika sang kakak tahu bahwa Monica telah mengandung anaknya? Akan tetapi, jika tidak mengatakan bisa saja sesuatu hal yang buruk akan terjadi. Kenyataan tetap sama dimana bayi itu bukanlah anak biasa yang bisa dianggap sebagai manusia. Lalu bagaimana ia akan melakukan penjagaan? Ketika kenyataan belum diungkap, maka tidak bisa melindungi dua orang sekaligus.


Kehamilan Monica kini menjadi problematika. Alih-alih menjelaskan dengan baik. Bryan mencoba mengurai dan meminta sang kakak untuk menceritakan apa saja yang terjadi di dalam mimpi. Sontak saja Ans menolak karena itu privasinya dan tidak untuk diceritakan meskipun ke adiknya sendiri.


Diamnya sang kakak membuat Bryan menghela napas panjang, lalu sesaat mendongak menatap atap mencoba mengalihkan perhatian sejenak. "Apakah kakak tahu, jika yang kalian lakukan itu menghasilkan sesuatu yang tidak seharusnya."


"Apa maksudmu?" tanya Ans sedikit lebih tegas terdengar sangat mempertanyakan tetapi menjadi sebuah pernyataan.


Ingin sekali mengatakan langsung tetapi ia membutuhkan bukti dan bukti itu hanya ada pada Monica. Fatih yang merasa kedua saudaranya kesulitan mengungkapkan kebenaran. Ia berniat untuk mengatakan yang sebenarnya tanpa harus menunggu bukti.


"Monica tengah hamil anakmu." ucap Fatih membuat mata sang kakak terbelalak tak percaya.


"Bagaimana mungkin itu terjadi? Kita saja tidak pernah bertemu dan kalian tahu itu. Omong kosong dari mana semua ini?" kata Ans membela dirinya tetapi detak jantung tak mampu berbohong.


Sejak melihat Monica ia merasa ada sesuatu yang salah. Pasti ada yang sudah terjadi tetapi masih belum menyadari dimana kesalahannya. Kini pernyataan Fatih menjadi jawaban yang masih sulit untuk diterima oleh akal. Jika memang Monica hamil anak darinya. Lalu kenapa ia justru melihatmu Kevin yang bermalam dengan gadis itu?


Pikirannya terbagi mencari jawaban pasti. Hati berkata mimpinya membawa kehidupan nyata tetapi akal sehat menolaknya karena hubungan mereka hanya sekedar di dalam alam bawah sadar. Meski begitu, ia masih mengingat pergulatan semalam dan itu memang nyata.


Melihat kakaknya termenung, Bryan menyodorkan segelas air putih yang diterima tanpa kompromi. "Aurora bisa ajak Fatih jalan-jalan?" Lirikan mata mengkode kedua saudaranya itu agar pergi dan ia bisa berbicara empat mata dengan Ans.


"Why not, Fatih ayo. Bukankah kamu janji mau beliin aku boneka panda." Gadis itu menarik tangan Fatih yang mau, tak mau harus ikut beranjak pergi meninggalkan ruang tamu.


Tak ada percakapan diantara Ans dan Bryan hingga suara mobil keluar dari garansi terdengar menjadi jawaban atas kepergian kedua saudaranya. Meski begitu, bicara di ruang tamu tidaklah aman karena apa yang akan didiskusikan bukanlah hal sederhana. Rumah mewah yang ditempati mereka berempat ditambah beberapa pelayan untuk menyediakan kebutuhan.


Bryan mengajak Ans pindah ke kamar utama yang merupakan kamar kakak pertama. Kamar itu seperti tempat perenungan diri bagi sang kakak karena dikelilingi oleh tanaman hias yang menambah pasokan oksigen di dalam ruangan. Kini keduanya duduk bersebelahan menatap ke depan dimana ada area balkon dengan tirai yang terbuka.


"Kakak atau aku yang mau mengatakan?" tanya Bryan setelah menikmati keheningan, membuat Ans menyandarkan punggung ke belakang.


Sungguh bukannya ingin diam membisu hanya saja bagaimana menjelaskan sesi olahraga ranjang yang dilakukan di alam mimpi? Apalagi obrolan itu sangatlah sensitif dan tak mungkin untuk dikatakan seperti obrolan makanan ringan dari pinggir jalan.


"Kamu saja," tukas Ans berbalas lirikan mata sang adik yang tersenyum simpul.


Bryan ikut menyandarkan punggung ke belakang seraya bersedekap, "Ka Ans menggunakan alam mimpi untuk membuka pintu alam tersebut agar bisa bertemu Monica. Perasaan rindu yang terpendam mengubah keinginan menjadi harapan. Sejak awal aku sudah ingatkan agar Kakak kembali saja."


"Tapi apa? Ka Ans dengan pasti menolak bahkan membawa kami keliling wilayah untuk menemukan tempat yang tepat dan berujung pada kota Jakarta. Meski kami yang memilih fakultas, kakak lah yang bisa memberikan keputusan final. Bukan begitu?


"Awalnya kupikir semua baik hingga dua minggu lalu, aku masuk ke kamar kakak dan tak sengaja menembus perisai yang melindungi alam mimpi kalian. Benar, Ka. Semua terjadi di depan mata tapi aku memilih pergi tanpa membangunkanmu.


"Kupikir itu hanya akan terjadi sekali." Bryan menggelengkan kepala karena tak abis pikir dengan kelakuan kakaknya yang memang sudah jatuh dalam dekapan Monica. "Ka Ans mengulanginya lagi dan lagi, hal itu membuat energi terbagi. Kakak tahu apa maksudku 'kan?"


Penjelasan Bryan cukup masuk akal dan ia juga mulai mengingat apa yang sudah dilakukannya. Sejak kapan ia memulai semua itu? Matanya terpejam dan perlahan membuka energi jiwa yang akan mempermudah pengembalian ingatan. Samar-samar sekelebat adegan kembali berputar di dalam kepalanya.


Seperti roll film yang tayang secara langsung. Kini ia melihat Monica yang datang ke kamar melewati pintu waktu alam bawah sadar. Gadis itu tampak bahagia memeluk erat dirinya dan tanpa keraguan mencuri ciuman pertamanya. Sentuhan yang tiba-tiba terasa begitu manis.


Obrolan panjang kali lebar semakin jauh tenggelam dalam kehangatan hingga tatapan mata mematikan mengawali permainan ranjang. Hasrat berbalut rindu yang menggebu tak terelakkan membutuhkan tempat pelampiasan. Seakan saling mengharapkan hingga pergulatan menjadi awal perubahan.


Rasanya setiap sentuhan kembali menyentak kesadarannya. Apalagi ketika hentakan paksa yang dirinya lakukan bersambut darah kehormatan. Monica tersenyum menyambut hangat dekapan yang kian tertanam menyatukan raga.


Sejak saat itu, di setiap malam keduanya bertemu. Melepas rindu dengan sisa kesadaran yang tak mampu diubah menjadi semu. Kini cukup jelas dan bisa dimengerti ketika Monica mengandung anaknya. Jika benar demikian, maka gadis itu akan mengalami kesulitan besar dalam hidupnya selama tiga bulan ke depan.


Bryan menyadari perubahan atmosfer sekitarnya. Setelah bersama Ans beberapa tahun, ia tak begitu terpengaruh karena memang sudah kebal. Meski tetap dalam batas yang harus disadari oleh dirinya sendiri. "Apa Kakak tidak ingin melindunginya? Jika sampai ada yang tau kehamilan gadis itu, maka berapa banyak orang berpikiran sesat akan memanfaatkan bayi kalian."

__ADS_1


Ketika seorang manusia hamil bersama pasangannya. Maka jelas anak itu akan menjadi manusia seutuhnya tapi kasus kali ini beda. Dimana Monica telah menerima benih yang memiliki energi dari alam lain yang berasal dari Ans. Sehingga proses kehamilannya pun tak semudah yang bisa dibayangkan.


Jika kehamilan umum membutuhkan waktu sembilan bulan. Monica hanya menjalani masa hamil selama tiga bulan saja. Bayi itu bukan membutuhkan nasi, apalagi buah. Melainkan makanan yang biasa menjadi penambah semangat yaitu darah. Inilah yang dimaksud tidak seharusnya.


Meski nanti akan berpengaruh pada kesehatan dan mental. Ans harus bisa memindahkan Monica ke dalam rumahnya agar tidak menjadi bahan omongan tetangga dan tentu demi kebaikan semua orang. Sebelum itu, ia harus memastikan benar atau tidaknya bahwa janji yang ada adalah milik mereka berdua.


"Ayo, kita pergi! Aku akan menemuinya." putus Ans beranjak dari tempat duduknya membuat Bryan tersenyum lega.


Tak berlama-lama keduanya dengan cepat membelah jalanan menggunakan mobil sedan berwarna putih hingga memasuki kawasan perubahan dimana rumah Monica berada. Area rumah cukup sepi bahkan terlalu senyap. Baru saja ingin turun tapi tiba-tiba pintu gerbang terbuka dengan sebuah mobil keluar yang akhirnya melewati mobil mereka.


"Kita ikuti mereka." kata Ans membuat Bryan menganggukkan kepala menurut yang menjadikan sesi perjalanan seperti seorang agen pengintai.


Perjalanan terlalu lama hingga dua puluh menit memasuki area pusat perbelanjaan. Kevin yang turun dari mobil berlari membukakan pintu untuk Monica yang disambut senyuman hangat. Terlihat seperti pasangan serasi, tapi Bryan justru menyodorkan kardus masker ke arah kakaknya.


"Ka, pakelah!" Aku akan alihkan perhatian Kevin dan Kakak bisa lakukan yang seharusnya.


Setelah memberikan saran. Pria itu tak menunggu jawaban dan langsung turun dari mobil begitu juga Ans yang sudah memakai masker berwarna hitam. Keduanya berjalan seimbang tetapi tetap jaga jarak aman hingga memasuki pusat perbelanjaan yang tampak cukup ramai.


Diantara pengunjung yang ada. Bryan mulai mencari akal yang bisa memuluskan rencananya sedangkan hanya mengamati dari kejauhan tapi tetap bisa menjangkau semua orang. Setelah menunggu selama sepuluh menit, seorang cleaning service tak sengaja menabrak Kevin hingga membuat celana pria itu basah terkena air pel.


Sebagai bentuk permintaan maaf, cleaning service membantu Kevin untuk mendapatkan celana baru sehingga membuat Monica harus menunggu seorang diri. Gadis itu tampak santai hingga tarikan tangan membawanya berpindah tempat. Suasana tangga yang jarang digunakan terlihat begitu sunyi.


Tatapan mata meneduhkan menatapnya tak berkedip, "Apa maumu?" tanya gadis itu dengan bibir bergetar.


"Tutup matamu dan tebak siapa aku." Suaranya terdengar lembut membuat Monica terpesona menurut dengan menutup mata. Di saat itulah masker dilepaskan. "Monica, siapa aku bagimu?"


Pertanyaan itu bersambut sapuan manja di bibir yang mengalihkan perhatian Monica dari rasa takut, was-was berubah menjadi kenikmatan yang selalu dirindukan. Sentuhan yang sama seperti saat di dalam mimpi.


"Ans." ucap Monica lalu perlahan membuka kelopak matanya tetapi wajah di depannya bukanlah Ans melainkan mahasiswa baru yang bahkan tidak ia kenal. "Kamu ...,"


Lagi-lagi Ans membuat Monica terdiam dengan ulahnya. Dibiarkannya gadis itu memahami sentuhan yang sama meski wajah berbeda. Perlahan tapi pasti ketenangan didapatkan kembali. Pagutan yang hanya menjadi pembuktian jati diri.


Pertemuan itu membuat Monica menerima ajakan Ans untuk pergi dari pusat perbelanjaan. Kedua insan itu memilih pindah tempat ke rumah mewah yang memang milik Ans sendiri. Tentu saja sudah mengirim pesan pada Kevin akan melakukan pekerjaan darurat.


Suasana rumah memang teramat sepi karena pelayan tidak akan berkeliaran terlalu sering saat weekend. Ans menerapkan cuti pekerjaan dan membebaskan para pelayan untuk liburan saat hari minggu. Sementara keluarganya akan bebas menikmati waktu di rumah seharian.


"Kamar ini," Monica menyentuh lembutnya ranjang yang sangat dia hapal. Ans tiba-tiba datang memeluknya dari belakang. "Apa ini sungguh kamu, Ans? Atau hanya orang asing yang ingin mengambil tempat Ans ku."


"Apa mau bukti lebih? Sebenarnya bukan itu yang ingin kubicarakan denganmu." Dibimbingnya Monica untuk duduk di pangkuannya, "Apa akhir-akhir ini kamu merasakan sesuatu yang aneh?"


Monica menggeleng lalu Ans kembali bertanya yang tidak ada lagi jawaban selain gelengan kepala. Sepertinya gadis itu memang masih belum merasakan apapun, apalagi menyadari tentang kehamilannya. Ans bernafas lega meski ia harus tetap memberitahu tentang kabar yang memang hak sang gadis.


Ditatapnya sang gadis dengan perasaan sendu. Ia merasa tak tega tapi apa yang bisa dilakukannya? Ketika kenyataan itu memang sudah terlanjur. Belum sempat ia mengatakan kebenaran dan tiba-tiba ingat harus memeriksa sesuatu.


Perlahan tangannya mengusap perut Monica seraya mengalirkan energi miliknya. Monica yang tak menyadari hanya berpikir bahwa sang kekasih merindukannya dan ia membiarkan tangan itu menetap melingkar di perut hingga tiba-tiba terasa panas menjalar ke seluruh tubuh dengan detak jantung begitu cepat.


Sensasi yang dirasakan aneh tetapi ia benar-benar yakin dirinya baik-baik saja. Hanya saja bingung rasa panas di tubuhnya berasal dari mana. Sehingga tanpa menunda waktu, ia melepaskan tangan Ans kemudian beranjak dari tempat nyaman dan memilih menuju kamar mandi untuk berendam.


Ans membiarkan Monica pergi karena ia tahu gadis itu kepanasan akan ulahnya. Kini ia menyadari benar ucapan Aurora akan bayi yang ada dirahim sang kekasih. Sekali sentuhan bisa merasakan ikatan itu, meski darah mungkin akan selalu berwarna sama tetapi jiwa akan memiliki rasa yang berbeda.


Tak ada jalan lain selain membiarkan Monica hamil untuk mengandung selama tiga bulan atau saat ini juga menghancurkan kandungan yang baru saja berkembang. Akan tetapi kemungkinan kecil keselamatan untuk bisa tetap bertahan. Dilema akan langkah selanjutnya karena sangat sulit hingga tak mungkin untuk memutuskan dari satu pihak saja.


Bagaimanapun Monica tentu berhak tahu akan kehamilannya. Meski membawa petaka dan bisa menjadi kegemparan dunia. Apapun keputusan gadis itu, ia harus mengatakan mengungkapkan identitas aslinya. Apakah gadis itu akan menerima kekurangannya dengan lapang dada?


Bagaimana jika tidak dan memilih pergi? Dilema hati yang tak bisa diakhiri begitu saja karena kenyataan lagi-lagi mengujinya untuk tetap bersabar mencoba tenang. Selain helaan napas panjang mengingat apa yang akan ia lakukan.


Sementara di sisi lain, Kevin merasa kebingungan akan sikap Monica yang tiba-tiba saja mengirim pesan dan mengatakan akan pergi ke luar kota seorang diri. Anehnya ketika ia sampai di rumah sang gadis, tak satupun barang di bawa bahkan kunci rumah pun masih bersamanya.


Ingin bertanya pada siapa? Ke mana dan apa yang harus ia lakukan? Bingung bukan kepalang yang membuatnya duduk di teras merenung mencerna semua kejadian. Seketika ia ingat akan seorang cleaning service ia menumpahkan air ke celana.


"Mungkinkah itu semua sudah direncanakan?" tanyanya pada diri sendiri sembari menatap ke halaman depan.

__ADS_1


Firasatnya memang benar tetapi ia tak akan bisa melakukan apapun karena di saat itu juga Ans sudah membawa Monica tanpa melewati kamera CCTV. Saat ini kehidupan akan berputar sebagaimana mestinya. Satu sisi Kevin yang akan mencoba mencari tahu keberadaan Monica dan di sisi lain Ans ingin berusaha menjelaskan pada Monica tentang kehidupan masa kini.


Waktu berlalu begitu cepat dan Ans sengaja membiarkan Monica untuk beradaptasi di rumahnya. Hal itu dilakukan agar sang gadis merasa lebih nyaman sebelum ia mengatakan kebenaran. Iya juga tidak lupa untuk memperkenalkan ketiga adiknya.


Kini Aurora memiliki teman untuk berbincang selayaknya para gadis yang membuat seorang kakak ikut tersenyum bahagia. Ia tak pernah berpikir akan kebutuhan adik gadisnya yang satu itu. Selama ini Ia pikir sudah menjadi teman tapi ternyata sikap seorang kakak hanya terlalu tegas dan begitu keras mendidik agar bisa melindungi diri masing-masing.


"Kak, apa boleh kami tidur sekamar?" tanya Aurora pada Ans membuat Monica menggelengkan kepala pelan. Gadis itu mengharapkan sang kekasih menolak permintaan adiknya.


Namun sayang Ans justru mengangguk mengiyakan dan memberikan Monica pada adiknya untuk malam ini. Pria itu sengaja melakukan itu agar bisa berbincang dengan Bryan dan Fatih untuk melakukan sesuatu yang penting sebelum memulai apa yang harus mereka lakukan.


Ruangan yang akan ditempati Monika tidaklah mungkin ruangan biasa yang bisa menyebabkan orang lain tahu. Tidak baik, jika orang lain tahu apa yang terjadi pada gadis itu nantinya. Perubahan sikap karena faktor kehamilan yang lebih cepat dari biasanya dan kebutuhan yang memang jauh dari kata manusia.


Meski ia akan membatasi kebutuhan Monica dengan caranya sendiri. Malam berlalu dengan begitu cepat dan tak ada yang tahu apa rencana ketiga bersaudara bahkan Aurora yang tak tahu juga hanya menikmati waktu bersama Monica sebagai teman baru.



Keakraban itu juga terlihat saat sarapan bersama. Mereka terlihat begitu akrab dan membicarakan hal-hal yang jarang didengar di rumah itu. "Wih seru nih, Kak, kalau kita bisa nonton bareng pasti kita bakalan heboh sendiri." Seru Aurora membuat Monica terkekeh.



Ans yang melihat kebahagiaan wajah kedua gadis itu ikut bahagia karena ketenangan tak surut meski tengah menikmati makanan. "Apa kalian ingin menonton film? tanyanya membuat Aurora dan Monica saling pandang lalu mengangguk serempak. "Oke, kita akan menonton tapi di rumah saja dan ruangan sudah disediakan oleh Bryan."



"Iya bener apa yang Ka Ans katakan. Kita akan nonton jadi apa request kesayangan kalian. Eh maksudku film apa yang kalian inginkan?" tanya Bryan mencoba mencari referensi yang mungkin saja bisa berbeda dari keinginannya sendiri.



Sementara Fatih hanya menyimak karena tak ingin melakukan apapun. Saat ini, Ia merasa membutuhkan ketenangan tetapi bukan berarti menjauh dari keluarganya. Jujur saja ia merasa kasihan dengan Monica yang masih tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.



Namun ia juga tidak mungkin menilai kakaknya sebagai penjahat karena sang kakak sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik tanpa melukai. Kenyataan itu terlalu pahit untuk dikatakan tetapi jika tidak diungkapkan maka akan berubah menjadi petaka. Pepatah ini sangat cocok untuk situasi keluarganya.



Satu jam berlalu akhirnya semua orang berkumpul di sebuah ruangan khusus yang memang digunakan untuk menonton film. Meski baru pertama kali mereka melakukan hal di luar kebiasaan. Tampak cemilan juga minuman bersoda menemani pemutaran film pertama.


Ans yang membiarkan Monica duduk di sebelah kanan dan juga Aurora di sisi kiri ikut menonton sembari menyimak tetapi sesekali ia melirik ke arah sang kekasih. Setiap saat ingin memastikan gadis itu baik-baik saja. Apalagi wajah yang cantik sudah mulai tampak pucat.


Reaksi pertama dari kehamilan sudah dimulai dan itu akan berlanjut hingga beberapa waktu ke depan. Sekali saja mencoba membayangkan betapa menderitanya Monica karena mengandung buah hati mereka. Mau, tak mau setelah menonton film ia harus memberitahu kebenaran tentang dirinya sendiri.


Betapa ia tak mampu mengatakan siapa dirinya yang merupakan manusia tetapi berjiwa makhluk lain. Jika dipikirkan ia tak ada bedanya dengan monster yang pernah dibinasakan. Meski pada kenyataannya ia tak akan berbuat jahat ketika orang lain tak berbuat jahat pada keluarganya.


Alih-alih merasa baik. Pria itu justru semakin gelisah, cemas, was-was. Entah pikirannya kemana hingga tak menyadari sang kekasih mulai tampak tak sehat dan begitu lelah. Fatih yang menyadari itu langsung menyenggol pundaknya. Tak berlama-lama ia membawa sang kekasih berpindah ke kamar.


Sementara yang lain tetap berada di ruang tersebut untuk melanjutkan menonton film. Ans tak membawamu Monica kembali ke kamarnya. Pria itu justru membawa sang kekasih masuk ke lift yang sudah ada sejak lama tetapi memang jarang digunakan. Selama dua menit berada di lift hingga mencapai sebuah ruangan khusus.


"Ans, kita mau kemana? Ruangan ini terasa begitu dingin." ucap lirih Monica membuat Ans semakin memeluk erat tubuhnya. Ia bisa merasakan kekhawatiran pria itu.


Tak ada jawaban karena pria itu fokus membaringkan Monica di atas ranjang. Dimana tak seorangpun akan menyangka jika di bawah ranjang tersebut adalah balok es yang bisa membekukan darah. Ranjang khusus untuk kehamilan langka.


Tentu tidak dianjurkan untuk manusia biasa karena pasti akan menjadi manusia yang dibekukan. Berbeda lagi dengan kondisi Monica. Dimana energi panas dari tubuhnya yang berasal dari si jabang bayi akan mengubah keadaan menjadi sebaliknya.



Balok es itu hanya untuk menetralisir agar Monica tak merasakan sakit yang berlebihan jadi keselamatan gadis itu bisa tetap dipertahankan. Satu pertanyaan, apakah Ia tak mengharapkan bayi itu?


Sungguh munafik ketika ia menjawab tidak. Kenyataannya Ia juga ingin memiliki pewaris tetapi bukan berarti dengan kelahiran satu nyawa dan ditukar dengan nyawa Monica. Bayaran itu tak sebanding karena kehidupan miliknya bisa dikatakan mendekati awet muda.


"Tidurlah! Aku akan menjagamu." bisik Ans ikut berbaring di sebelah Monica.

__ADS_1


__ADS_2