
Satu pertanyaan Kevin cukup menjadi pemantik kewarasan Ans. Pria muda itu merenung mengingat barang rumah yang bisa dipasang kamera tetapi terlihat tidak nampak. Di tengah kesibukannya berpikir. Justru yang lain merasa lapar dan lelah karena menunggu sejak tanpa kejelasan.
"Pa, Ar cape. Tidak bolehkah kita duduk?" celetuk Ar yang juga merasa masih mengantuk karena berulang kali menguap.
Ans kecil menggenggam tangan Ar, "Kita harus sabar, Ar. Aku rindu suara Ale dan nasehat Al."
"Anak-anak, kalian lapar tidak?" tanya Monica mengalihkan perhatian kedua anak itu agar setidaknya masih memiliki pengalihan perhatian.
"Lapar banget, Ka." jawab serempak Ar dan Ans bersamaan, membuat Monica berpikir sesuatu.
Monica mengambil ponsel dari saku celananya. Lalu mengetikkan sesuatu sekedar untuk mengirim pesan pada Ans dewasa. "Kalian tunggu, makanan akan segera datang."
Gadis itu sengaja meminta kedua sahabatnya untuk melakukan sesuatu. Yah solusi yang lebih baik daripada hanya berdiri menjadi patung. Bukan bermaksud untuk tidak menurut hanya saja keadaan mereka sudah lelah pikiran. Jika fisik ikut tumbang maka lawan dengan mudah melumpuhkan mereka.
Satu pesan berhasil mengalihkan perhatian Ans dewasa. Dimana pria muda itu membalas pesan Monica dengan jawaban pasti, sedangkan di sisi lain terdengar suara tangisan yang tersedu-sedu. Suara tak mampu lagi berucap setelah melihat apa yang terjadi pada orang-orang tersayangnya.
__ADS_1
Dekapan hangat dengan sentuhan kepala yang berusaha menenangkan pun ikut bergetar tak kuat menahan kesedihan. Hening bersua isak tangis. Di depan mata melalui layar berukuran dua puluh empat inci terpampang jelas bagaimana pemandangan terakhir dua raga yang meregang nyawa.
"Ans, pasti itu orang lain 'kan?" tanya Ale lirih berusaha untuk menghapus rasa sedih di hatinya.
Di tengah hutan belantara dua raga tergantung di atas pohon dengan tangan merentang yang menjadi simbol salib. Akan tetapi raga itu bersimbah darah dengan kondisi yang menyeramkan. Jangankan akal sehat, perasaan di hati langsung terjatuh tak mampu berkata-kata.
"Ale, kita harus kuat. Ingat bagaimana perasaan Ans jika tau papa dan mama Aldo telah tiada. Percaya padaku, kita pasti akan keluar dari sini." Al berbisik memberi semangat adiknya meski hati sendiri tidak mampu berbohong ikut berduka atas kenyataan yang pahit.
Obrolan kedua anak itu tak terdengar begitu jelas membuat sang pengamat hanya bisa memperhatikan dari layar ponselnya. Setelah mengalami kegagalan karena keluarga Wellington tidak panik atas hadiah yang dikirimnya. Sontak ia beralih haluan dengan menakuti anak-anak tapi siapa sangka. Kedua anak itu juga sekuat baja.
"Ck. Mereka pikir bisa mengalahkan kepintaranku di villa milikku. Lihat saja apa yang akan ku lakukan." Niat hati ingin memeriksa setiap CCTV-nya tiba-tiba saja gambar di ponsel menghilang menjadi buram seperti TV tanpa antena. "Apa yang terjadi?"
Panik bukan main karena tidak bisa memantau apa yang tengah dilakukan keluarga Wellington. Orang itu berjalan mondar-mandir mencari ponsel lain dan berusaha untuk menyambungkan ke CCTV kembali tetapi hasil tetap sama bahkan menggunakan laptop pun hasilnya sama.
Apa yang terjadi? Siapa yang mengganggu pekerjaannya? Ketika berpikir dirinya yang paling berkuasa. Seseorang membuktikan bahwa setiap langit masih ada langit di atasnya lagi. Kepintaran itu sama seperti kekuatan dan jika disalahgunakan, maka akan ada yang datang meruntuhkan kesombongannya.
__ADS_1
"Kalian sudah boleh duduk dan silahkan minum serta makan makanan yang ada." ujar Kevin mempersilahkan. "Monica, ambillah ini untukmu." Kevin mengulurkan sebotol orange jus yang langsung diterima dengan senang hati oleh sahabatnya.
Ketenangan semua orang berbanding terbalik untuk Ans dewasa. Dimana pria itu harus menghancurkan sistem keamanan yang ada di villa. Yah awalnya ingin melakukan itu hanya saja lebih baik mengacaukan sinyal yang bisa menjadi sumber masalah. Jika CCTV tidak ditemukan, maka harus dirusak tanpa perlu menemukan.
Ide itu dia dapat setelah berpikir tenang tanpa beban. Sekarang semua orang bebas dari pengawasan yang bisa menjadi penyebab rasa khawatir dan takut. Duduk di depan laptop menyala tak membuat Ans berdiam diri. Pria itu tengah melakukan hal lain yang sudah dibentuk skema hingga mendapatkan titik pencerahan.
Entah kenapa, misteri keluarga Kevin dan tragedi yang tengah bergulir seakan memiliki hubungan. Bukan karena sekte yang dijelaskan Monica melainkan ada alasan lain yang masih sekedar menjadi kesimpulan pribadi. Lamunannya buyar disaat ada tangan memegang bahu kanannya.
"Boleh aku duduk?" tanya Papa Delano yang dibalas anggukan kepala Ans. "Terima kasih sudah membantu keluargaku, tapi bisakah mereka pergi dari sini? Aku ingin mencari anakku tanpa harus mengkhawatirkan yang lain."
"Tuan, jika ingin mengirim mereka pergi dari sini. Tentu bisa saja, tapi siapa yang jamin diluar sana akan aman? Bukan maksudku untuk menambah ketegangan hanya saja," Ans menghela napas pelan ketika ingin mengatakan prediksinya yang pasti sudah terjadi. "Siapapun dalang dibalik semua kekacauan ini, dia pasti sudah menemukan saudara Anda."
"Jika benar demikian, apa yang harus aku lakukan? Pasrah?" Papa Delano menahan amarahnya. Kedua tangan mengepal erat menyambut rasa gemuruh di hati. "Semua ini benar-benar tidak masuk akal. Apa salah keluargaku?"
Pertanyaan bagus tetapi siapa yang akan menjawab? Sebagai orang asing tentu tidak saling mengenal hingga kekacauan menyatukan mereka. Ingin berterus terang hanya saja seperti sengaja menyodorkan pisau di depan mata. Lalu apa yang harus dilakukan?
__ADS_1
"Apakak ada teror melalui pesan? Kecuali pesan di ponsel anak-anak." Ans menatap Papa Delano sengaja intens, sedangkan yang ditatap enggan menatapnya balik.