
Perbandingan antara cinta dan obsesi itu satu banding seratus. Cinta bukan lah emosi yang menuntut harus ada di sisi kita melainkan ikhlas ketika takdir memang sampai pada masanya. Titik di mana Allah menetapkan akhir dari denyut jantung setiap insan yang bernyawa.
Namun, manusia memiliki sifat tak mau menerima kenyataan karena keras kepala. Obsesi adalah sebuah rasa yang melewati batasan di atas batasan itu sendiri. Andaikata kita mengibaratkan tembok china sebagai benteng pertahanan kesadaran diri. Maka tembok itu sudah runtuh melebur menjadi debu.
Siapa yang akan memahaminya? Diri sendiri karena pada dasarnya di lubuk hati terdalam sadar akan tindakan di luar batas kewajaran yang mengakibatkan bencana untuk orang lain. Seperti dia yang berusaha melawan takdir Allah hanya untuk bisa kembali menikmati masa kehidupan bersama sang buah hati.
Jika manusia memiliki akal sehat tentu akan menyadari apa yang dilakukan adalah salah besar bahkan termasuk tindak kejahatan. Akan tetapi bagi dia, semua tindakan halal karena tujuan hidup tercapai jika semua berjalan sesuai rencana.
Apapun itu, satu kenyataan lagi tak bisa terbantahkan yaitu kebenaran akan selalu menemukan jalan pulang. Tak peduli sebanyak apa kabut gelap datang membelenggu. Suatu saat akan ada secercah sinar mentari yang menghantarkan cahaya menguak tabir surya.
Tatapan tak lepas dari wajah manis putrinya yang terlelap dalam kedamaian. "Sebaiknya aku mulai proses ritual malam ini agar tidak ada penghalang lagi. Dua anak sudah cukup untuk menjadi pengganti nyawa anakku. Sebelum itu, aku harus memberi mereka makan yang lezat."
"Bagaimana aku mendapatkan makanan? Dapur hanya satu dan selama ini Joko yang memasak untukku. Apa aku harus berpura-pura menjadi tamu asing? Bukan ide buruk." gumamnya dengan pikiran yang simpang siur.
Menyamar tentunya ide bagus apalagi jika bisa mendekati semua lawan dari jarak dekat hanya saja kondisinya seperti orang hutan yang sangat jarang berganti pakaian. Wajah pun tertutup bulu lebat seperti orang Arab. Alih-alih berusaha berpikir keras. Dia bergegas mencari alat pencukur rambut.
"Mari mulai melakukan pembersihan." tukasnya dengan alat pencukur di tangan kanan sedangkan wajah menghadap ke cermin kamar mandi.
Perlahan menghapus kumis dengan hati-hati agar tidak terluka, lalu beralih pada bagian wajahnya yang lain. Tak lupa menggunting rambut di kepala hingga terlihat cukup rapi. Wajah tampan dengan tatapan mata sendu yang hampir terlupakan. Seulas senyum tersungging menghiasi bibir.
"Selamat datang Noland Yoshida." ucapnya menyapa diri sendiri.
Satu tahap telah dilakukan, lalu beralih ke tahap berikutnya yaitu mandi sampai bersih untuk menghilangkan aroma bahan kimia, tanah, darah. Suara gemericik air yang jatuh benar-benar menyegarkan tubuh usangnya. Entah sudah berapa lama tidak menikmati kesegaran seperti saat ini.
Kesibukan Noland mempersiapkan diri untuk melanjutkan rencananya. Justru siap diterima oleh para penghuni villa. Dimana Kevin sudah kembali ke ruang tamu membawa beberapa buku yang dianggap penting. Pria muda satu itu juga menjelaskan sesuatu yang harus diketahui semuanya.
__ADS_1
"Ingat saja bahwa kita pasti kalah kalau dikuasai oleh rasa takut. Siapapun yang memiliki tujuan untuk menjadikan kita tumbal, maka dia manusia. Sementara yang menyerang tanpa wujud adalah makhluk panggilan." Kevin menyudahi sesi penjelasannya karena merasa semua informasi sudah cukup untuk menjadi bahan meningkatkan waspada.
Para ibu ditemani Papa Delano sudah berpindah ke dapur untuk membuatkan makanan dengan bahan yang seadanya, sedangkan yang lain tetap menunggu diruang tamu. Tidak seorangpun mandi sehingga memiliki bau keringat meski hanya semribit.
"Pa, ini kenapa airnya mampet, ya?" tanya Mama Delano yang berada di kamar mandi membuat suaminya datang menghampiri.
Pria itu mencoba memeriksa apakah kran rusak atau bagaimana tetapi terlihat baik-baik saja. Hingga ia mengambil alat perkakas yang tergeletak di ujung sudut ruangan dapur. Kemudian membongkar kran dengan hati-hati. "Sebaiknya Mama ambil air dari kran tempat cuci piring saja. Disini biar papa benarkan dulu."
"Okay, Pa. Mama kembali ke dapur dulu." pamit istrinya kembali mengambil sayur sawi yang sudah dipotong cincang.
Kesibukan para istri yang tengah memasak diabaikan dan kini ia fokus mencari tau penyebab dari tersumbatnya aliran air. Satu per satu dibongkar hanya saja tidak bisa menemukan titik masalahnya hingga diambilnya sebuah kawat yang bisa dibentuk sesuai keinginan.
Kawat itu dimasukkan ke dalam pipa air. Yah mungkin saja tersumbat sesuatu. Siapa tahu 'kan? Tangan bergerak maju mundur yang terasa benar-benar los hingga semakin maju mulai merasakan ada sesuatu yang menyangkut. Tak ingin berlama-lama kawat lebih disodokkan ke dalam.
Di saat yang sama ia menyalakan air menggunakan tombolnya langsung sehingga tidak membutuhkan kran. Suara aliran air terdengar jelas bergerak membuat Papa Delano mengambil ember yang ada di sudut kamar mandi. Ia ingin menampung airnya agar bisa digunakan nanti jika macet lagi.
Pintu segera ditutup dengan alasan akan melakukan perbaikan tetapi yang sebenarnya adalah mencari bungkus untuk mengambil sampel rambut yang ada di dalam air. Setelah memisahkan contohnya, barulah ia juga memeriksa tekstur dari rambut itu sendiri untuk memperkirakan umur yang bisa menentukan hasil awal tanpa keraguan.
"Rambut tidak terawat. Kasar, hitam dan jarang mendapatkan sentuhan air. Siapapun yang memiliki rambut ini pasti baru saja mencukur habis. Ujungnya jelas dan terpotong rapi." tutur Papa Delano dengan kesimpulannya.
Menemukan bukti yang bisa dijadikan untuk Ia melakukan sesuatu nantinya membuat Papa Delano kembali membuka pintu kamar mandi dan seolah-olah tidak terjadi apapun. Pria itu membantu para wanita dari keluarga untuk melanjutkan memasak meski sesekali mengawasi sekitar, bahkan jendela dapur juga sudah dikunci dari dalam. Hal itu bertujuan agar tidak ada orang luar yang berani masuk untuk melakukan sesuatu.
Sementara di sisi lain. Raga tak bernyawa yang setengah terbakar mulai dikerumuni lalat. Tubuh itu hampir terlihat seperti daging panggang tapi terbuang sia-sia. Tak seorangpun melihat raga itu karena disembunyikan di bawah semak-semak yang cukup tebal. Semilir angin terus bergerak terbuai awan yang berarak.
"Sekarang aku sudah siap untuk melakukan tugas selanjutnya tapi apakah penampilanku sudah cukup meyakinkan?" tanyanya pada diri sendiri seraya menatap penampilan barunya melalui pantulan cermin.
__ADS_1
Penampilannya memang sudah sama seperti orang-orang yang menjadi penghuni Villa hanya saja ia tak menyadari akan luka yang ada di lengannya. Luka itu berupa luka cakaran. Sebenarnya bisa saja ditutupi tetapi pemilihan pakaian atas yang hanya lengan pendek tentu mempertontonkan bekas luka cakar tersebut.
Langkah kaki yang mulai berjalan menjauh dari cermin terlihat terseok-seok seperti berat untuk berjalan. Kekurangan yang terjadi padanya mungkin bisa dianggap sebagai kelebihan untuk meminta pertolongan. Yah, itulah rencana yang akan dijalankan. Dia ingin berpura-pura terluka karena dikejar hewan atau apapun itu yang bisa menjadi titik membalas orang-orang yang berada di villa.
Perlahan Ia membuka pintu besi yang terdengar berderit tetapi tak sekeras itu hingga bisa mengalihkan perhatian orang lain. Langkah demi langkah menyusuri area belakang Villa karena ia tak ingin orang lain tahu dari mana munculnya. Sehingga memilih memutari area belakang villa .
Sejenak ia menghentikan langkah kaki menatap ke arah hutan. Dimana di kejauhan sana tampak jelas berdiri sebuah gubuk. Entah ada apa di sana hingga membuat pria itu menatap dengan tatapan rindu. Tanpa ingin menunda waktu yang semakin beranjak menuju malam peraduan.
Pria itu terus menyusuri belakang villa di mana hanya ada kegelapan berteman kesunyian malam. Tak ada rasa takut ataupun gentar untuk tetap maju. Padahal area itu bisa dikatakan sangat minim pencahayaan karena area belakang Villa sama sekali tidak memiliki lampu yang menyorot ke belakang.
Sementara di dalam villa, semua orang sudah mulai berkumpul saling tolong-menolong untuk menyiapkan acara makan malam. Yah demi kebaikan bersama mereka siap untuk bekerja sama melakukan segala sesuatunya secara bersama-sama pula. Tentu itu sangat bagus dan tidak akan membuat siapapun merasa kesepian apalagi merasa terabaikan.
"Ans, apakah kamu benar-benar yakin semua akan seperti yang kamu katakan?" Monica bertanya pada sahabatnya ketika mereka berdua tengah mengambil semangkuk sup terakhir dari dapur.
Ans menghentikan langkahnya, lalu ia menoleh ke arah Monica. "Semua sudah disimpulkan. Siapapun dia pasti akan berusaha masuk ke dalam villa dan bergabung dengan kita jadi kita harus sangat waspada. Kuharap kamu paham dengan apa yang kumaksud. Ingatlah semua ini dilakukan karena kita memang tidak ingin membuat yang lain khawatir atas apa yang sudah menjadi bukti nyata."
"Okelah, aku paham denganmu Ans tapi bagaimana kita mengenali orang itu? Bukankah kita semua tahu di sini siapapun bisa menjadi tersangka bahkan aku pun bisa menjadi tersangka." tutur Monica membuat satu argumen yang memang jika dipikirkan benar tetapi juga tidak bisa untuk dijadikan bukti.
"Semua itu hanya bisa kita ketahui nanti. Akan tetapi dia juga tidak sebodoh itu dan begitu juga dengan kita. Sehingga melupakan fakta dari fakta yang telah ditemukan. Cerita satu ke cerita lain yang sudah dirangkai sedemikian rupa. Aku sudah mencoba membuat skema dari satu sudut ke sudut lain yang berakhir dengan terbentuk pola.
"Siapapun dia, dia akan berpura-pura tetapi kita tidak pernah berpura-pura. Siapapun yang mencoba masuk ke dalam villa ini mungkin bukan pelakunya tapi bisa juga pelakunya. Apa itu cukup membuatmu paham, Monica?" Ans menjelaskan secara ambigu membuat Monica hanya menganggukkan kepala seolah paham.
Akhirnya semua orang duduk di tempat masing-masing lalu mengambil makanan yang mereka butuhkan. Tidak ada pembicaraan apalagi berusaha untuk saling mengobrol karena mereka sudah cukup merasa sangat lelah pikiran, tenaga, hati bahkan jiwa pun ingin sekali beristirahat. Siapa sih yang ingin menikmati hidup dalam dunia mencekam?
Menikmati makanannya hingga tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Suara itu terdengar kencang hingga lama-lama mulai melemah. Di hati merasa takut karena bertanya-tanya, siapa yang mengetuk pintu malam-malam seperti ini. Apalagi di luar sana hujan mulai turun membasahi bumi. Suasana benar-benar tidak bisa diperhitungkan atau menjadi pengingat keadaan yang memang tidak jelas.
__ADS_1
"Apakah kita akan membukakan pintu untuk orang asing?" tanya papa Delano membuat keluarganya saling pandang.
Ans dewasa beranjak dari tempat duduknya. Pria muda itu tanpa permisi berjalan menghampiri pintu yang masih berjarak enam meter dari tempat semua orang menikmati hidangan. "Aroma ini sangat familiar. Apa yang akan dilakukan oleh orang itu?"