
Langkah kaki yang bergerak menjauh, membuat ketiga saudaranya menyusul. Apapun yang Al pikirkan tidak bisa dibiarkan seorang diri. Orang tua mereka mengajarkan untuk selalu bersama dalam suka dan duka. Sehingga situasi apapun menjadi tanggung jawab bersama-sama.
Keempat anak berjalan menuruni anak tangga dengan wajah tegang, bingung, cemas, perasaan tak karuan. Akan tetapi suara obrolan dari arah ruang tamu membuat mereka harus bersikap biasa saja. Tentu sebagai anak tidak mengharapkan orang tua cemas hanya karena hal sepele.
"Anak-anak, kalian mau coklat hangat?" tawar Mama Bara yang melihat kedatangan anak-anak menuruni anak tangga, membuat yang lain menoleh ke arah tangga.
Ale berlari kecil mempercepat langkah kaki menuruni anak tangga karena melihat kue coklat favoritnya tergeletak di atas meja. Melihat itu sang mama tertawa pelan. Dibiarkannya si gadis mencomot sebungkus pie coklat isian selai apel.
Kotak kue pie mengalihkan perhatian Ale dan ketiga pasang orang tuanya. Melihat itu Al memberi kode pada kedua saudaranya agar ikut menyibukkan diri bersama keluarga. Satu isyarat memisahkan mereka berempat. Dimana diam-diam Al menyelinap keluar dari villa.
Anak itu sudah tidak takut lagi karena memiliki tujuan yang harus segera diselesaikan. Tatapan mata menelusuri seluruh halaman depan villa. Derasnya hujan cukup menjadi penghalang pandangan bahkan pepohonan di seberang depan sana terlihat putih karena tertutup hujan.
Setelah mempertimbangkan apa yang akan dilakukan tetapi situasi tidak mendukung. Al mengangkat toples kunang-kunang. Hewan yang akan menjadi kebahagiaan untuk Ale, tetapi perasaannya tidak tenang akan keselamatan ketiga saudaranya. Satu tindakan untuk mengakhiri dilema hati.
__ADS_1
Diputarnya tutup toples secara beraturan, "Kalian memang memikat hanya saja nyawa harus dibebaskan. Pergilah kembali pada keluarga kalian dan maaf telah mengurung tanpa berpikir panjang. Selamat jalan, Kunang-kunang."
Satu per satu hewan itu keluar meninggalkan toples membuat Al merasa lega. Terbang mengudara tanpa kekangan. Senang rasanya bisa melihat makhluk hidup lain kembali ke habitatnya. Meski awalnya khilaf dengan bertindak sesuka hati untuk kesenangan pribadi.
Tutup toples dipasangnya kembali, lalu tanpa ingin mengingatkan Ale tentang kunang-kunang. Maka toples itu disembunyikan di dalam pot yang memiliki sebatang pohon cemara berukuran mini. Sepertinya tanaman satu itu sudah menjadi bonsai.
Setiap gerakan Al tak luput dari perhatian seseorang. Tatapan mata merah nan tajam seakan siap menghujam pisau ke arah anak itu. Setelah berusaha keras untuk mengabulkan permintaan sang istri, tiba-tiba datang seorang tokoh perusak rencananya. Benar-benar menyebalkan.
Al kembali masuk ke dalam villa. Celotehan suara tawa terdengar menghangatkan hati. Ia bersyukur memiliki keluarga yang harmonis bahkan selalu saling melengkapi. Meski acara liburan menjadi terganggu karena tidak bisa berkumpul serempak. Tetap saja menerima rencana yang seketika berubah.
Apalagi cuaca tidak menentu sehingga semua kegiatan outdoor ditiadakan. Padahal biasanya akan ada acara seperti olahraga, berkebun atau hal lain yang bisa menjadi momen kebersamaan mereka. Liburan kali ini terpaksa hanya bercengkrama di dalam ruangan menghabiskan waktu dengan obrolan.
"Nak, kamu darimana?" Mama Bara menoleh menyambut kedatangan sang putra. Dibiarkannya Al duduk di sebelah Ans yang memang duduk di kursi sofa single.
__ADS_1
"Dari toilet, Ma. Kebelet jadi gitu deh," Al mengamati ekspresi ketiga wajah saudaranya yang tampan baik-baik saja. Itu berarti aman. "Coklatnya habis, ya? Iih gak disisain buat aku ...,"
"Tunggu disini, biar Papa ambil dari dapur." ucap Papa Delano berinisiatif membantu para mama agar tetap menemani anak-anak.
Pria itu pergi berlalu meninggalkan ruang tamu. Langkah kaki panjang yang sangat cepat mengikis jarak antara ruang tamu menuju dapur. Perasaannya sangat aman hingga aroma tak sedap menyambut kedatangannya ke area ruangan berukuran empat kali lima meter di depan mata.
"Bau apa ini? Kenapa bikin perut mual." Ia menutup hidungnya seraya berjalan maju menelusuri ruangan dapur yang tampak rapi. Selain bertujuan mencari pie coklat, Ia juga ingin tahu sumber dari bau tak sedap yang tercium begitu menyengat.
Tatapan mata terpatri pada bungkusan kain putih berlumuran warna merah yang teronggok di sudut ruangan. "Apa itu?" Tanpa ingin buru-buru Ia mencari sarung tangan plastik yang tersedia di salah satu laci. Lalu berjongkok seraya mencoba untuk membuka bungkusan tersebut.
Terbelalak tak percaya dengan apa yang ada dilihatnya. Tubuh terhuyung ke belakang tak mampu berucap apapun. Diam membisu tak bersuara. Tanpa sadar setetes air mata jatuh membasahi pipi hingga suara panggilan seseorang dari belakang dihiraukannya.
"Ka, kenapa lama sekali? Anak-anak sudah ... Aarrrhhgg, apa itu?" pemandangan yang tidak bisa dijabarkan membuat Bara ikut menjerit karena terkejutnya.
__ADS_1