The Gubuk

The Gubuk
TG 39:Pertarungan Berakhir


__ADS_3

Entah apa yang terjadi pada Monica. Gadis itu berjalan seorang diri bahkan melepaskan tangan Al. Langkah kakinya tampak diseret seakan baru saja mengalami kecelakaan, sontak ia mengajak Al untuk bergegas menyusul agar tidak ketinggalan. Yah meski berjalan terseok-seok, nyatanya tetap cepat.


Raga manusia yang terlalu lelah meski tidak melamun pun bisa saja kerasukan arwah. Jiwa Monica berusaha untuk mengambil alih kendali tubuhnya tetapi arwah yang tanpa permisi meminjam raga enggan tuk melepaskan dia sebelum melakukan apa yang diinginkan. Ingin pasrah tetapi tak mau dikuasi makhluk yang sudah tiada.


Perjalanan dari hutan menuju jalan utama terasa begitu cepat membuat Kevin ngos-ngosan begitu juga Al yang langsung berselonjor di jalanan aspal. Hati memang lega karena akhirnya bisa sampai tempat yang terlihat untuk manusia, sedangkan Monica terus berjalan tanpa mempedulikan yang lain.


Gadis itu memasuki area villa. Dimana pertarungan masih berlanjut. Kedatangannya membuat tiga orang dengan pakaian serba hitam ala ninja teralihkan sejenak. Mereka menyadari akan aura murka dari sosok yang mendiami tubuh gadis itu tetapi tidak ingin berbuat jauh karena paham akan rasa sakit yang bisa dirasakan tanpa bercerita.


Seakan mendapatkan bala bantuan. Ketiga insan beralih ke sisi lain untuk menyelamatkan Ans dewasa yang hampir kewalahan menghadapi semua makhluk tak kasat mata. Langkah kaki yang berlari cepat nan gesit menyamarkan keberadaan mereka hingga terhenti diposisi yang tepat.


Satu kesempatan saja yang mereka butuhkan tetapi melihat situasi yang ada. Tak memiliki cara lain selain menggunakan jalan terakhir. Seorang di antara ketiganya mengeluarkan botol ramuan yang akan menghasilkan asap putih.


Bagi manusia tidak akan mengalami gangguan selain batuk tapi untuk para makhluk seperti obat yang mengacaukan sinyal di dalam indra penciuman mereka. Ramuan yang dibuat selama setahun dan hanya bisa bekerja selama satu menit. Sungguh perbandingan waktu yang terlalu besar.


"Tunggu makhluk itu mengalihkan perhatian yang lain, baru kita lempar ramuannya. Satu cukup untuk membuat kekacauan tapi buatlah isyarat dulu agar Ans bisa memahami rencana kita." ujar seorang diantara keduanya yang berdiri di tengah.


Seorang lagi yang berdiri di kiri mengambil tiga anak panah dari punggung, lalu memusatkan fokus pada busur yang kini terarah pada sasaran. Satu mata mulai terpejam dengan jemari siap melepaskan. "Semoga Allah bersama kita." Panas dilepaskan, terbang melesat mencapai sasaran.

__ADS_1


Ans dewasa melihat tiga panah yang jatuh di depannya. Panah yang bertujuan sebagai isyarat. Tentu saja ia harus bersiap dan kembali bersemangat melawan para makhluk gaib. Pria itu masih mengandalkan belati bertuah sebagai senjata pertempuran yang membuat para makhluk kesusahan.


Tanpa disadari Ans dewasa. Monica juga mulai meraung menyerang tanpa kenal rasa takut. Kekuatan yang entah dari mana hingga beberapa makhluk menghilang tak ingin kembali ke medan pertarungan. Suasana villa kian mencekam hingga suara jeritan dari belakang mengalihkan perhatian semua orang.


Seorang makhluk berhasil memanipulasi keadaan hingga mencapai Ans kecil yang kini menjadi tawanan. Melihat itu, Papa Delano berusaha untuk menyerang makhluk yang tak lain adalah Noland Yoshida. Raga manusia yang masih bisa disentuh membuat sang musuh merasakan sakit meski tak seberapa.


Tangannya terayun menyambar perut Papa Delano memberikan sayatan kuku tajam yang membuat pria itu tersungkur ke belakang. Melihat itu Ans dewasa berlari dengan cepat seraya melesatkan pisau yang berdesing membuat lingkaran mengikuti arah angin. Pisaunya berputar menyerang Noland Yoshida yang berusaha terus menghindar tanpa melepaskan Ans kecil dari cengkraman.


Tak peduli seberapa lihai sang makhluk menghindar dari pisaunya. Pisau itu tahu siapa sasaran utamanya hingga menyayat secara perlahan tanpa bisa disadari Noland Yoshida. Di saat bersamaan Ans dewasa menyepak kaki raga manusia hingga terhuyung kebelakang, hal itu dimanfaatkan menarik tubuh Ans kecil yang langsung dia hempaskan.


Papa Bara yang melihat itu dengan sigap menangkap tubuh anaknya agar tetap aman, sedangkan Ans dewasa kembali mendapatkan pisaunya dan tanpa basa-basi menusukkan senjata itu ke jantung sang makhluk yang menjerit meronta kesakitan. Darah mengalir begitu deras tetapi diabaikan.


Pria itu membalikkan mantra pemanggil makhluk bayangan dengan tumbal satu nyawa yaitu sang pemanggil itu sendiri. Satu mantra yang membuat alam bergema dengan jeritan para makhluk yang ikut kesakitan karena pemimpin mereka mulai kehidupan esensi jiwa yang tersisa.


Situasai itu dimanfaatkan ketiga insan yang langsung berlari mendekati kerumunan seraya melemparkan ramuan. Botol kaca yang pecah membuat cairan di dalamnya menguar berubah menjadi asap putih. Di saat bersamaan langkah gesit menarik Ans dewasa dari pandangan semua orang.


Pria yang banyak kehilangan tenaga itu berusaha menyeimbangkan diri berlari bersama ketiga insan yang membawanya. Langkah yang meninggalkan area villa sedangkan para makhluk tak kuasa lagi mengikuti pertempuran hingga membubarkan diri tanpa arah tujuan.

__ADS_1


Kevin dan Al yang baru sampai hanya melihat sisa hasil pertempuran dengan pemandangan tubuh Monica yang kejang terbaring di halaman. Sontak saja keduanya berlari menghampiri gadis itu dengan perasaan was-was tak menentu.


"Monica, sadarlah!" Kevin yang masih menggendong Ale sedikit kesulitan saat berusaha meraih tubuh sahabatnya.


Al yang menyadari itu langsung mengambil alih tubuh adiknya hingga membuat Kevin memangku kepala Monica seraya mengusap wajah gadis yang terlihat masih berusaha berjuang mengembalikan pengendalian diri.


"Ans ...," gumam Monica di sisa kesadarannya yang tak lagi sanggup menahan pergulatan di dalam tubuh manusianya.


Apa maksud dari Monica? Ia tak tahu tetapi perasaan lega ketika menyadari semua orang baik-baik saja. Keluarga Wellington kembali bersatu saling berpelukan tanpa ada kekurangan suatu apapun. Sesaat tak menyadari akan kehilangan Ans sang sahabat karena fokus membantu Monica yang tak sadarkan diri.


Dua jam telah berlalu. Akhirnya Monica mulai siuman dan mendapatkan perawatan yang dibutuhkan. Papa Bara dengan telaten mengurus gadis yang sudah berjuang untuk keluarganya, sedangkan yang lain berdo'a agar semua ketegangan sudah berakhir.


"Tuan, dimana Ans?" tanya Monica dengan tangan memegang kepala yang masih berdenyut tak karuan.


Rasanya seperti baru naik wahana rollercoaster. Eneg di perut bercampur pusing kepala yang tak bisa dijelaskan. Yah sekarang seperti itulah yang dirasakan gadis itu bahkan ingin berusaha bangun. Justru tubuhnya terasa sakit seakan baru saja membajak sawah seorang diri.


"Jangan bergerak dulu, kamu itu kelelahan dan tidak seharusnya memaksakan diri. Istirahatlah! Aku akan panggilkan sahabatmu." ucap Papa Bara tanpa menunggu jawaban meninggalkan gadis itu sendirian di atas tikar yang berjarak empat meter dari rombongan.

__ADS_1


Ans, kamu dimana? Kembalilah karena kami membutuhkanmu.~ucap hati Monica dengan sisa ingatan langkah kaki Ans yang pergi meninggalkan kerumunan bersama tiga orang asing dengan wajah tak dikenali.


__ADS_2