
"grroooaahhh......" geraman monster tersebut saat sudah mengetahui dimana keberadaanku, aku terus berlari tanpa arah, tak memperdulikan tatapan orang-orang yang bingung melihat ku seperti dikejar setan, aku mencoba mencari tempat yang aman sampai aku terjebak pada sebuah gang kecil.
"Sial!!" Aku langsung berbalik dan dihadapkan dengan monster bergigi runcing tanpa mata yang terlihat lapar, tanpa sadar aku bergidik ngeri saat air liurnya menetes, dia lebih menjijikan daripada anjing yang gila.
"grrrooahh" monster itu semakin mendekat kepadaku perlahan dengan tangan yang menggapai-gapai, kuku-kukunya yang panjang dan hitam terlihat sangat menyakitkan jika menggores kulit! Tidak ada cara lain aku sudah terlalu terpojok berada di gang kecil ini! tanpa menunggu lagi aku langsung menjentikkan jariku.
"..." keadaan yang semula hingar bingar kini langsung sunyi dengan adanya portal yang kubuat. Saat monster itu lengah dengan keadaan langsung saja ku lemparkan sebuah pisau tepat ke kepala sang monster namun sayang pisau itu meleset ke dadanya.
"cih!" Sesaat luka pada monster itu menghilang dan terlihat baik-baik saja, jadi ini tipe monster yang bisa beregenerasi?, cukup merepotkan tapi ku harap akan setimpal. Saat monster itu mengayunkan cakarnya aku langsung menangkis lalu kuberikan pukulan tepat pada ulu hati disusul dengan tendangan pada perutnya, monster itu terhuyung ke belakang dan langsung ku tancapkan pisau tepat pada punggungnya. Ia pun ambruk dengan pisau yang menembus dari punggung hingga dadanya.
"grrrrr...." Saat monster itu mencoba untuk menggapai kaki ku, langsung saja ku injak tangan berkuku hitam itu dan tanpa pikir panjang ku tancapkan butterfly knife tepat di kepalanya.
"grooaahhh....." setelah lengkingan panjang monster itu pun mati, mencegah agar tidak hidup lagi aku memutilasi tubuh monster tersebut menjadi beberapa bagian, cukup menyenangkan kalau saja dia manusia aku pasti akan menjual organ dalamnya dan aku akan menjadi orang kaya mendadak. Tak masalah aku sudah cukup uang di umurku yang muda ini. Saat aku mencoba membelah bagian tubuhnya darah yang bermuncratan berwana hitam memiliki bau yang sangat busuk! Kalau saja bukan monster yang bisa beregenarasi pasti aku tak perlu melakukan ini.
"grrr.." ku tusuk jantung dari monster itu dan langsung berubah menjadi sebuah batu kecil.
"yahh paan nih? Akik? Aku kira bakalan dapet berlian, yaudalah lumayan juga buat koleksi" aku melangkah pergi meninggalkan tubuh monster yang sudah berceceran itu, saat ku hancurkan portal yang ku buat, aku dikejutkan oleh seorang perempuan yang berdiri sambil melihat ke arah gang tempatku membunuh monster itu. 'dia gak bisa liat yang tadi kan? Gak mungkin! Kan aku udah pake portal kecuali kalo dia bukan orang biasa' tanpa sadar aku melamun. Sesaat kemudian aku sudah tidak menemukan perempuan itu di depan ku, 'ya udalah, mungkin aja tadi kebetulan terus dia kaget pas liat aku keluar dari gang'. Aku mutusin buat pulang ke rumah karena ini dah tengah malem, gak nyadar ternyata aku lama juga dalem portal.
***
__ADS_1
Autor Pov
Saat dalam perjalanan pulang Nilia memutuskan untuk mampir ke toko kecil yang terlihat sudah tua.
"Tingg..." saat Julia membuka pintu lonceng berbunyi cukup nyaring hingga membuat seorang wanita tua melihat ke arah pitu.
"Hai Nilia, apa yang kau dapatkan sampai larut malam begini?" Sapa sang nenek dengan senyum keibuan yang tulus.
"Hehh... hanya sebuah batu akik" Nilia menjawab dengan lesu sambil menunjukkan batu itu kepada sang nenek.
" Baiklah ayok ikut aku" sang nenek mengajak Nilia menuju ruang rahasia yang berada di balik lemari tua.
" kemari tunjukkan batu itu kepada ku"
" ini, aku pikir akan dapat lebih karena monster itu dapat beregenerasi ternyata aku hanya dapat batu ini" adu Nilia kepada sang nenek.
" Ini sudah cukup menguntungkan karena kau hanya membutuhkan pisau untuk membunuhnya" sang nenek mencoba menghibur Nilia.
" hmm baiklah, berapa harga batu ini?" Nilia memilih untuk mengganti topik pembicaraan.
__ADS_1
" 100 koin, bagaimana" sang nenek memberikan harga kepada Nilia.
" Apa tidak bisa lebih?" Nilia merasa semakin lesu dengan harga yang di berikan oleh sang nenek.
" ini sudah cukup mahal untuk ukuran batu biasa" sang nenek tetap kekeh dengan penawarannya.
" baiklah-baiklah aku akan menjualanya" Nilia menyetujui harga yang diberikan oleh sang nenek.
" ok, aku akan memberikan uangnya di depan" sang nenek meletakkan batu itu pada sebuah kotak hitam di depannya.
Nilia pun melangkah keluar dari ruangan itu dan menunggu sang nenek untuk memberikan uangnya.
" terimakasih aku akan langsung pulang" Nilia melangkah keluar melewati pintu.
" sama-sama, hati-hati Julia" sang nenek melambaikan tangan sambil tersenyum ramah.
Kali ini Nilia benar-benar pulang ke rumahnya, ia tidak mau mengambil resiko telat pergi ke sekolah esok hari.
Tanpa ia sadari seseorang tengah mengikutinya dari kejauhan, melihat Nilia dengan tatapan penasaran.
__ADS_1