
1 Jam kemudian Deon sedang berada di depan sebuah gate bersama Gisella dan Freya. "Deon, apa kita bertiga akan berburu bersama." Kata Gisella melihat Freya.
"Benar, kita bertiga akan berburu bersama." Deon mengangguk.
"Aku harap kamu tidak menjadi bebanku dan Deon." Kata Freya melihat Gisella.
"Seharusnya aku yang mengatakan kalimat itu kepadamu." Gisella menatap Freya.
"Sepertinya aku telah salah mengajak mereka berdua." Gumam Deon.
"Baiklah, ayo kita masuk ke dungeon." Kata Deon masuk ke dalam gate. Freya dan Gisella saling menatap kemudian masuk ke dalam gate.
Saat masuk ke dalam dungeon. Deon melihat dirinya berada di dalam hutan. "Freya, Gisella bersiap bertarung." Kata Deon melihat laba-laba bewarna hitam sebesar 3 meter yang berada di atas pohon.
"Baik." Gisella dan Freya mengangguk melihat laba-laba sebesar 3 meter yang berada di atas pohon.
"Wind arrow." Teriak Gisella menembakan 10 panah angin ke arah laba-laba.
"Lightning ball." Teriak Freya menembakan 10 bola petir ke arah laba-laba. "Booom." Ledakan terjadi. "Buuukk." Laba-laba terjatuh di tanah dan mati.
"Laba-laba itu mati karena seranganku." Kata Freya melihat Gisella.
"Jangan bercanda. Laba-laba itu jelas mati karena seranganku." Kata Gisella. Deon menghela nafas melihat Freya dan Gisella yang bertengkar.
"Bangkit." Kata Deon melihat laba-laba yang tergeletak di tanah. "Wuuzzz." Bayangan hitam keluar dari laba-laba dan membentuk laba-laba sebesar 3 meter.
"Anda berhasil membangkitkan arwah." "Arwah yang bisa di summon 17/20." Notifikasi muncul di depan Deon.
"Berhenti bertengkar. Ayo masuk ke dalam hutan." Kata Deon berjalan ke dalam hutan.
"Baik." Freya dan Gisella mengangguk kemudian mengikuti Deon ke dalam hutan.
Saat masuk ke dalam hutan Deon melihat 7 laba-laba bewarna hitam sebesar 3 meter yang berada di atas pohon. "Gisella, Freya masing-masing dari kalian bunuh 2 laba-laba. Aku akan membunuh 3 laba-laba." Kata Deon melihat Gisella dan Freya.
"Baik." Gisella dan Freya mengangguk.
"Bangkit." Kata Deon kemudian 16 arwah harimau dan 1 arwah laba-laba muncul di depannya. "Bunuh 3 laba-laba itu." Kata Deon menunjuk 3 laba-laba. "Rooaarrr." "Kiikkk." 16 arwah harimau kemudian menyerang 3 laba-laba.
"Wind arrow." Teriak Gisella kemudian menembakan 20 panah angin ke arah 2 laba-laba. "Buusshh." "Buusshh." Panah angin menembus tubuh laba-laba.
"Lightning ball." Teriak Freya menembakan 20 bola petir ke arah 2 laba-laba. "Booom." Ledakan terjadi.
Tidak lama kemudian prajurit arwah Deon berhasil membunuh 3 laba-laba hitam. "Level Up." "Poin +5." "Silakan pilih hadiah anda. New Skill / Poin +10."
__ADS_1
"Akhirnya aku level 50." Deon tersenyum melihat notifikasi yang muncul di depannya.
"Aku akan memilih new skill." Kata Deon memilih New Skill.
"Shadow Stelth. Sebuah kemampuan yang dapat merubah anda menjadi bayangan. Saat menjadi bayangan anda tidak dapat di lihat oleh mahluk hidup yang jauh lebih lemah dari anda."
"Aku mendapatkan kemampuan yang bagus." Deon tersenyum melihat skill baru yang dia dapatkan.
"Bangkit." Kata Deon melihat mayat 3 laba-laba yang tergeletak di tanah. "Wuuzzz." Bayangan hitam keluar dari tubuh 3 laba-laba dan membentuk laba-laba sebesar 3 meter.
"Anda berhasil membangkitkan arwah." "Arwah yang bisa di summon 20/20." Notifikasi muncul di depan Deon.
"Ayo masuk ke dalam hutan." Kata Deon melihat Gisella dan Freya.
"Baik." Gisella dan Freya mengangguk. Deon kemudian masuk ke dalam hutan di ikuti Gisella dan Freya.
Beberapa jam telah berlalu. Saat ini Deon sedang melihat Gisella dan Freya sedang bertarung dengan laba-laba hitam. "Wind arrow." Teriak Gisella kemudian menembakan 10 panah angin ke arah laba-laba. "Buusshh." "Buusshh." Panah angin menembus tubuh laba-laba.
"Lightning ball." Teriak Freya menembakan 10 bola petir ke arah laba-laba lain. "Booom." Ledakan terjadi.
"Kiieekkk." Deon melihat laba-laba bewarna putih sebesar 4 meter yang tiba-tiba muncul di atas pohon.
"Menghindar." Teriak Deon melihat laba-laba putih menyemburkan jaring putih dari mulutnya. "Ahhhh." Deon melihat Gisella dan Freya terkena jaring laba-laba.
"Deon, tolong kami." Teriak Gisella melihat dirinya tidak bisa bergerak.
"Rooaarr." "Kiekkk." 20 prajurit arwah Deon kemudian menyerang laba-laba putih.
Melihat arwah prajuritnya bertarung dengan laba-laba putih. Deon kemudian menolong Gisella dan Freya. "Arwah telah kembali ke kematian abadi." Deon melihat notifikasi yang muncul di depannya.
Tidak lama kemudian Deon melihat arwah prajuritnya berhasil mengalahkan laba-laba putih. "Level Up." "Poin +5." Notifikasi muncul di depan Deon. "Wuuzzz." Deon melihat gate yang muncul di depannya.
"Bawa mayat laba-laba putih itu keluar dungeon." Kata Deon melihat prajurit arwahnya. "Roaarr." "Kiiekkk." Prajurit arwah Deon kemudian membawa laba-laba putih ke luar dungeon.
"Ayo kita keluar." Kata Deon keluar dari dungeon. "Baik." Gisella dan Freya mengangguk kemudian keluar dari dungeon.
"Wuuzzz." Gate menghilang setelah Deon, Gisella dan Freya keluar dari dungeon. "Aku ingin menjual mayat laba-laba ini kepada asosiasi." Kata Deon melihat pria berpakaian hitam.
Pria berpakaian hitam melihat mayat laba-laba dan berkata. "Karena mayat laba-laba ini memiliki banyak luka di tubuhnya. Harganya hanya 25 juta."
"Tidak masalah." Jawab Deon. "Saat ini aku memiliki 50 juta di rekeningku. Aku tidak kekurangan uang sama sekali." Gumam Deon.
"Kirim nomor rekeningmu." Kata pria berpakaian hitam. Deon kemudian memberikan nomor rekeningnya kepada pria berpakaian hitam. "Ting." Deon melihat 25 juta masuk ke dalam rekeningnya.
__ADS_1
"Kirim nomor rekening kalian berdua." Kata Deon melihat Gisella dan Freya.
"Baik." Gisella dan Freya kemudian mengirim nomor rekening mereka berdua kepada Deon.
Deon kemudian mentransfer 8,3 juta ke rekening Gisella dan Freya. "Terimakasih Deon." Gisella berterimakasih melihat 8,3 juta masuk ke dalam rekeningnya.
"Deon, ayo kita makan ke restoran. Aku akan mentraktirmu." Freya tersenyum kepada Deon.
"Kamu." Gisella terkejut melihat Freya mengajak Deon makan di restoran.
"Kringg." Deon melihat smartphonenya berbunyi. Deon membuka smartphonenya dan melihat panggilan dari Clara. "Ada apa Clara." Kata Deon menjawab panggilan.
"Kak, Hiks, hiks." Clara menangis.
"Kenapa kamu menangis." Tanya Deon.
"Ibu Meninggal. Pesawat yang ibu naiki mengalami kecelakaan." Kata Clara.
"Ahhh." Gisella dan Freya terkejut mendengar kata Clara.
"Maaf Freya, hari ini aku tidak bisa makan bersamamu." Kata Deon berjalan ke motornya. "Brooom." Deon menarik gas kemudian mengendarai motornya.
Beberapa menit kemudian Deon kembali ke apartemennya. "Kak, ibu telah meninggal." Clara menangis.
"Bagaimana kamu bisa tahu bahwa ibu telah meninggal." Tanya Deon. Kathrina kemudian menghidupkan televisi.
Deon kemudian melihat berita bahwa tidak ada satupun korban yang selamat dari kecelakaan pesawat. "Sigh, Jadi seperti ini rasanya kehilangan seseorang." Gumam Deon menyentuh dadanya.
"Apa anda tertarik untuk berpatisipasi ke dalam game. Ya/Tidak." Deon melihat notifikasi yang muncul di depannya.
"Hari ini bukan waktu yang tepak untuk berpatisipasi ke dalam game." Gumam Deon kemudian menekan Tidak.
Deon memeluk Clara dan berkata. "Menangislah jika itu membuat hatimu tenang." "Huuaaa." Clara kemudian menangis dengan kencang. Kathrina menangis melihat Clara yang menangis di pelukan Deon.
Keesokan harinya Deon, Clara dan Kathrina berada di rumah sakit. "Apa anda keluarga dari Ibu Georgina." Kata dokter pria melihat Deon.
"Benar, aku keluarga dari ibu Georgina." Deon mengangguk.
"Silakan ikuti saya." Kata dokter pria melihat Deon. Deon, Clara dan Kathrina kemudian mengikuti dokter pria.
"Kreekk." Dokter pria kemudian masuk ke dalam kamar Jenazah. Deon, Clara dan Kathrina kemudian masuk ke dalam kamar jenazah.
"Ini jenazah ibu Georgina." Kata dokter pria menunjuk kantong kuning. Deon membuka kantong dan melihat wajah ibunya yang hangus terbakar.
__ADS_1
"Ibu." Clara menangis melihat wajah ibunya yang hangus terbakar.
"Bibi." Kathrina menangis melihat wajah ibu Deon.