The Hunter

The Hunter
3.


__ADS_3

"Siapa kamu?" tanyaku dengan nada menyelidik. Saat aku akan bertanya lagi dia tiba tiba saja menyerangku. Dia langsung mengarahkan tangannya ke depan, saat aku tersadar dengan apa yang akan dia lakukan badanku sudah terpental ke belakang dan membentur ke dinding.


'Sial!! Dia monster tipe pengendali'.


"Uhukk..." aku terbatuk disertai dengan darah yang cukup banyak. Badanku terasa sangat remuk karena ini sudah yang ke dua kalinya monster membenturkan badanku. Saat aku mencoba berdiri dia langsung mencekik ku.


"ughh...le...pas...kan" aku mencoba mencari pisauku untuk menyerangnya.


"Kau mencari ini?" dia langsung menghancurkan pisauku.


'sial aku tidak bisa bernafas' aku mulai kehabisan nafas dan pandanganku mulai mengabur.


"ughh...uhuk...uhuk"


"Tenang aku tidak akan membunuhmu" dia melepaskan cekikannnya.


Aku langsung terduduk dan meraup udara sebanyak banyaknya.


"Apa sebenarnya maumu?" dia meraih tanganku dan memperhatikan tato milikku yang hanya dimiliki oleh hunter


"I get you!" dia sama sekali tidak memperdulikan pertanyaanku. Ia malah meletakkan tangannya di atas tato yang ku miliki.


"apa ya argghhh...."saat dia memejamkan mata tanganku langsung terasa seperti terbakar. Walaupun aku berusaha untuk melepaskan tanganku. Tenagaku sudah habis, bahkan untuk mengangkat tanganku, aku sudah tidak mampu. Rasa panasnya kini menjalar ke seluruh tubuh yang membuatku semakin menggeliat dan ingin melepaskannya. Setelah beberapa saat dia melepaskan tangannya dari atas tatoku dan rasa panasnya pun berangsur angsur menghilang namun rasa pusingnya semakin menjadi jadi. Tiba-tiba dia menarik kerah bajuku dan berbisik.


"Aku akan mengawasimu!" dia langsung menghempaskan tubuhku dan meninggalkanku dengan mata dingin dan ekspresi mengintimidasinya.


Pandanganku semakin mengabur dan apa yang ku lihat seperti berputar seakan akan ingin menghantamku, dan hal terakhir yang ku lihat adalah Widura dan Mada yang berlari kearahku.


Saat itulah aku seakan ditarik ke dunia yang sangat gelap 'Apa aku sudah mati?'


Aku merasa seperti berada di sebuah ruangan yang sangat gelap, aku sendirian tanpa seorangpun disini. Perlahan tubuhku yang ringan semakin terasa berat. Aku mulai membuka mataku dengan perlahan, rasa sakit di badanku semakin terasa jelas. Saat aku sudah sepenuhnya sadar, aku sedang bersandar pada pohon yang sangat besar dan di depanku terdapat banyak orang yang memakai baju zirah sedang mengerumuni sesuatu, saat akan ku gerakkan tanganku aku baru sadar bahwa aku tidak bersandar melainkan sedang di ikat di sebuah pohon besar.


Aku berusaha melepaskan ikatan di tangan dan tubuhku, tapi yang ku dapati adalah tubuhku terasa panas setiap aku berusaha melepaskan tali. Saat aku masih berusaha meronta tiba-tiba ada empat orang yang datang menghampiriku, mereka melepaskan ikatan yang ada di tangan dan tubuhku.


Kukira mereka akan membebaskanku ternyata mereka membawaku ke sebuah tiang dan mengikatku kembali, aku berusaha melepaskan diri tapi mereka memberikanku sebuah cambukan. Salah satu dari mereka terlihat meneriakkan sesuatu tapi aku tidak dapat mendengarkan apapun. Dia terlihat seperti pemimpin dari kelompok ini. Dia membawa sebuah pedang panjang dan mengarahkannya ke seorang perempuan, dan aku merasa harus menyelamatkan perempuan itu. Saat pria itu menusuk sang perempuan aku berteriak marah dan menangis tapi aku tidak tau apa yang membuatku melakukan itu.


Namun ada keanehan saat aku melihat mereka, aku tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas dan aku tidak mengenali mereka sama sekali. Sang pemimpin berjalan ke arahku dia menampilkan senyuman yang menjijikkan saat dia sudah sampai di depanku dia langsung menusukkan tangannya ke jantungku aku langsung memejamkan mata.


Aku terbangun dengan nafas memburu dan keringat yang bercucuran. Aku berada di dalam ruangan yang tidak asing untukku, ruangan dengan dominasi warna hitam dan gaya modern. Ini adalah kamarku!. Syukurlah ternyata itu semu hanyalah mimpi, lebih tepatnya mimpi yang terasa sangat nyata, bahkan rasa sakit saat ditikam masih terasa sampai saat ini.


Aku mencoba untuk bangun namun kepalaku langsung terasa seperti dihantam batu.

__ADS_1


"ughh..." tunggu, aku sekarang sudah tidak menggunakan seragam lagi! Siapa yang menggantikannya? Gak mungkin Widura kan? Gak mungkin gak mungkin!


"Udah bangun" Aku langsing menatap Widura dengan horor. Beneran bukan dia kan?


"Kenapa? Aku makin ganteng ya?" aku langsung memberikan tatapan datar pada Widura.


"Kok aku punya sih temen kayak gini" aku berbicara dengan ekspresi sedih yang dibuat buat.


"Dih masih untung dong punya temen kayak aku udah baik hati dan tidak sombong, trus suka menolong, ganteng lagi. Nilainya plus plus" dia bicara sambil mengangkat kedua tangannya. Dia beneran udah gila!.


"Terserah, kata orang yang waras ngalah" kalo debatnya ama Widura pasti bakalan lama jadi ngalah aja.


"Maksudnya aku gak waras gitu?" Widura berjalan menuju ke tempat duduk di sebelah tempat tidurku.


"Aku kan cuman bilang yang waras ngalah bukan Widura gak waras" udah deh mulai lagi debatnya.


"Ya sama aja itu mah" Widura mengambils segelas air dan memberikannya kepadaku.


"Udah ah kok jadi bahas waras apa nggak sih! Aku pengen nanya" aku mulai memberikan tatapan serius.


"Nanya apa?" Widura ikut memberikan raut wajah serius. Nanya gak ya? Kok jadi bingung sih.


"Anu..itu.. Kemaren..." kok malu sih mau nanya.


"Iya-iya... Kemaren kan waktu aku pinsan masih pakek seragam nah sekarang aku udah pakek baju biasa" aku menunggu beberapa saat apa Widura mengerti dengan maksudku atau tidak.


"Terus letak pertanyaannya dimana?" Dia gak pernah ikut pelajaran bahasa indonesia materi makna tersirat ya?.


Menghela napas "ya terus siapa yang gantiin baju aku!" kan! Aku nanyanya jadi pakek ngegas segala.


"Oooo... Yang sans dong, gak usah ngegas. Menurut kamu siapa yang gantiin?" Widura berbicara sambil menaik turunkan alisnya.


"Beneran deh aku rasanya pengen nimpuk muka kamu" aku sudah bersiap siap untuk memukulnya dengan bantal.


"Iya iya, yang gantiin kamu Mada. Puas!" Widura mengambil kembali gelas yang ada di tanganku


"ohh ya udah, bilangin makasih" aku kembali memposisikan diriku untuk tidur.


Mada? Berarti hunter kemarin benar-benar Mada?.


"Widura!" Aku langsung memposisikan diriku duduk kembali.

__ADS_1


"Hmm?"


"Jadi yang kemarin beneran Mada? Trus sekarang dia kemana? Kok dia bisa masuk di portalku sih?" Aku langsung menanyakan tentang mada dengan berturut-turut.


"Satu satu napa nanyanya. Iya yang kemaren emang Mada, aku aja sempet kaget pas tau kalo dia itu hunter. Sekarang dia aku suruh pulang soalnya udah nungguin kamu lama tapi dia bilang mau balik lagi sih. Kalo soal portal aku gak tau" Widura menjelaskan sambil bersedekap dada.


"aku bakalan nanyain langsung ke Mada aja deh. Trus aku gak sadarnya berapa lama kok sampek Mada yang nungguin?" kalo diliat sih Widura sekarang masih pakek seragam jadi gak mungkin lama kan.


"Tiga hari" Widura menjawab dengan enteng.


Aku hanya melongo dengan jawaban Widura. Luka aku emangnya parah banget ya sampek tiga hari segala.


"Lukaku parah ya?" aku menyingkapkan selimut untuk melihat keadaan kakiku.


"Gak juga sih, kaki kamu aja udah sembuh, malahan lebih cepet dari biasanya. Aku jadi penasaran kamu di apain sama monter itu" Widura meletakkan tangannya didagu, seperti pose orang berpikir.


Aku tiba-tiba teringat dengan monster yang menyerangku waktu itu. Dia bilang akan terus mengawasiku dan sepertinya dia salah satu murid di sekolahku.


"Kamu kenal gak sama dia, keliatannya dia salah satu siswa di sekolah kita" tidak mungkin seorang monster repot-repot memakai seragam sekolahku kalau hanya untuk penyerangan seperti itu.


"Gak tuh. Emang sih baunya familiar tapi aku gak pernah liat dia di sekitar sekolah. Lagian aku gak terlalu jelas liat mukanya. Pas aku sama Mada nemuin Kamu monsternya udah gak ada jadi aku cuman ngandelin bau pas cari dia kemarin " jadi Widura juga gak tau. Kalo gitu besok aku harus cari tau sendiri, sekalian nanya ke Kia tentang portalku yang sering di masuki orang.


"Ohh gitu. Sekarang Kamu mau ke mana?" Widura mengambil tas dan memakainya.


"Aku mau pulang, kamu kan udah sadar aku tinggal gapapa kan? Lagian abis ini Mada katanya mau ke sini" Widura berjalan menuju pintu dan memegang kenop nya.


"Bilang aja ke Mada gak usah ke sini lagi" Widura menghentikan niatannya untuk membuka pintu.


"Bilang aja sendiri!" Dia membalikkan badan sepenuhnya ke arah ku, "Lagian kamu juga gak punya temen selain aku, jadi itung-itung nambah temen".


Aku merengut dengan penuturan Widura "Terserah! Kalo cuman temen yang saling sapa aja aku gak butuh palingan nanti juga pergi kalo udah gak betah sama aku" ku lipat selimut yang tadi menutupiku, dan memutuskan beranjak dari tempat tidur.


Widura hanya menghela napas dengan penuturanku. Tanpa memperdulikannya aku berjalan menuju ke pintu dan memegang kenop yang sempat akan di buka oleh Widura, namun baru saja aku memutarnya Widura menahan tanganku.


"Jangan bergantung padaku" Widura berkata dengan lirih dan menunduk "Kau seharusnya mencari lebih banyak teman, jangan hanya bergantung padaku. Aku tidak bisa selalu bersamamu, kita pasti memiliki kepentingan lain yang berbeda. Jangan mempersulit dirimu dengan selalu sendiri, aku akan memba..." ku hempaskan tangan Widura sebelum dia selesai berbicara.


Sambil mengeratkan peganganku pada knop pintu, ku tarik napas dalam-dalam.aku dan Widura terdiam sampai beberapa saat.


"Kau....." aku menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatku "Aku tidak membutuhkan banyak teman. Aku juga sudah nyaman dengan kesendirianku. Selesaikan saja kepentinganmu, jangan mempertimbangkanku. Aku juga masih mampu berdiri sendiri tanpa bantuanmu atau orang lain" aku menggigit bibir dalam ku untuk menahan emosi.


"Kalau Kamu udah bosen, Kamu juga bisa pergi"aku menjeda kalimatku dan menatap Widura langsung "Seperti yang lain"

__ADS_1


Aku langsung keluar dari kamar dan berjalan ke luar dengan tergesa tanpa memperdulikam Widura lagi.


"Hai Lia....." bahkan aku tidak membalas sapaan dari Mada dan melenggang pergi tanpa melihatnya. Aku tidak mau mengambil resiko meluapkan amaraku padanya.


__ADS_2