The Hunter

The Hunter
26. Membunuh Orc


__ADS_3

Deon memegang badan ibunya dan berkata. "Aktifkan skill Confession Of The Dead." Deon kemudian mengingat ingatan ibunya dalam waktu 24 jam terakhir.


"Ahhhh." Deon melihat ibu Deon berteriak saat sayap pesawat terbakar. Pesawat jatuh ke tanah kemudian meledak. "Booom."


"Sigh." Deon menghela nafas saat melihat ingatan ibunya. "Aku akan menguburkan Jenazah ibuku." Kata Deon melihat dokter pria.


"Baik." Dokter pria mengangguk.


Beberapa jam kemudian Deon berada di pemakaman bersama Clara, Kathrina, Gisella, Freya dan Agnes. "Karena aku merebut tubuh Deon, aku berjanji akan melindungi anakmu Clara." Gumam Deon melihat makam Georgina ibu Deon.


"Gisella, Freya, Agnes terimakasih sudah datang di pemakaman ibuku." Kata Deon melihat Freya, Gisella dan Agnes.


"Deon, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Karena semua orang di dunia ini akhirnya akan meninggal." Kata Freya.


Deon mengangguk dan berkata. "Clara, Kathrina ayo pulang."


"Emm." Clara mengangguk. "Baik kak." Kathrina mengangguk.


30 Menit kemudian Deon kembali ke apartemennya. "Apa anda tertarik untuk berpatisipasi ke dalam game. Ya/Tidak."


"Oohh, aku pikir tidak akan mendapat undangan berpatisipasi ke dalam game lagi. Karena kemarin aku menolak undangan." Kata Deon melihat notifikasi yang muncul di depannya.


Deon masuk ke dalam kamarnya kemudian menekan Ya. Deon memejamkan matanya dan tertidur.


Saat membuka mata, Deon melihat dirinya berada di tengah padang rerumputan. "Deon aku sangat merindukanmu." Deon melihat wanita berambut pirang yang tidak lain Gabriella memeluk dirinya.


"Quest Bertahan hidup. Bunuh semua Orc. Reward 60 poin." Notifikasi muncul di depan Deon.


"Roooaarr." Ekspresi Deon menjadi buruk melihat ratusan mahluk hijau setinggi 2 meter berlari ke arahnya dan Gabriella.


"Deon, apakah kita berhasil menyelesaikan misi ini." Kata Gabriella melihat ratusan Orc yang berlari ke arahnya.


"Kita pasti berhasil menyelesikan misi ini." Kata Deon dengan ekspresi serius.


"Gabriella sama seperti sebelumnya. Kamu tidak perlu ikut campur saat aku mensummon prajurit arwahku." Kata Deon melihat Gabriella.


"Baik." Gabriella mengangguk.


"Bangkit." Kata Deon kemudian 14 arwah Harimau dan 2 arwah laba-laba muncul di depan Deon. "Bunuh Orc yang mendekat." Kata Deon memberi perintah. "Rooaarr." "Kieekk." Arwah prajurit Deon kemudian menyerang Orc.


"Rooaar." Arwah harimau mengigit kepala Orc. "Roaarr." "Crasshh." Arwah harimau mencakar tubuh Orc. "Roooarr." Orc berteriak dan menebas kepala harimau menggunakan pedang.


"Arwah telah kembali ke kematian abadi." Notifikasi muncul di depan Deon.


"Orc itu setara monster rangking B." Kata Deon melihat pajurit arwahnya yang bertarung melawan Orc.


"Bangkit." Kata Deon melihat Orc yang telah mati. "Wuuzzz." Bayangan keluar dari tubuh Orc dan membentuk Orc setinggi 2 meter. Semua Orc terkejut melihat arwah Orc yang berdiri di depan mereka.


"Anda berhasil membangkitkan arwah." "Arwah yang bisa di summon 16/20." Notifikasi muncul di depan Deon.


"Bunuh Orc itu." Kata Deon memberi perintah.

__ADS_1


"Rooaarr." Arwah Orc berteriak kemudian menyerang kepala Orc menggunakan pedang. "Crasshh." Kepala Orc terpotong dalam sekali tebas.


"Bangkit." Kata Deon melihat Orc yang baru saja mati. "Wuuzzz." Bayangan keluar dari tubuh Orc dan membentuk Orc setinggi 2 meter.


"Anda berhasil membangkitkan arwah." "Arwah yang bisa di summon 17/20." Notifikasi muncul di depan Deon.


"Ini akan menjadi pertarungan yang panjang." Kata Deon melihat pertarungan arwah prajuritnya melawan Orc.


Beberapa Jam telah berlalu. Saat ini Deon sedang melihat arwah prajuritnya yang sedang bertarung dengan Orc. "Arwah telah kembali ke kematian abadi." Deon melihat Orc membunuh arwah prajuritnya.


"Bangkit." Kata Deon melihat ratusan mayat Orc yang tergeletak di tanah. "Mana anda tidak cukup untuk membangkitkan arwah." Notifikasi muncul di depan Deon.


"Sial, aku tidak menyangka manaku akan habis." Kata Deon dengan wajah penuh keringat.


"Kembali." Kata Deon kemudian 10 arwah prajuritnya menghilang.


"Gabriella. Sekarang giliranmu untuk bertarung." Kata Deon melihat Gabriella.


"Baik." Gabriella mengangguk.


"Light shot." Teriak Gabriella menunjuk Orc yang mendekat ke arahnya. "Buusshh." Laser cahaya menembus kepala Orc. "Buukk." Orc jatuh ke tanah.


"Wuussshh." "Gabriella menghindar." Teriak Deon melihat tombak yang melesat ke arah Gabriella. "Ceepp." "Uuuhh." Tombak menancap di dada Gabriella.


"Deon, aku tidak ingin mati." Gabriella menangis melihat Deon. "Wuusssh." "Ceeepp." Tombak menancap di kepala Gabriella.


"Berengsek. Jika aku mempunyai mana lebih banyak. Gabriella tidak akan mati." Deon mengutuk.


Melihat Orc tidak mengejarnya Deon kemudian bersembunyi di balik batu besar. "Aku akan istirahat disini untuk memulihkan manaku. Setelah manaku pulih aku akan membunuh semua Orc." Kata Deon dengan ekspresi serius.


London, Inggris. Gabriella terbangun dari tidurnya. Gabriella mengambil smartphone dan melihat kontak teleponnya. "Ehh, siapa Deon ini." Kata Gabriella melihat wajah Deon.


"Mungkin dia temanku waktu sekolah dan aku melupakannya." Gumam Gabriella.


"Aku sudah memulihkan sedikit manaku. Seharusnya sekarang aku bisa membangkitkan arwah." Kata Deon.


"Shadow Stealth." Kata Deon kemudian tubuhnya menjadi bayangan. "Wuusshh." Deon kemudian berlari ke arah mayat ratusan Orc.


Deon melihat ratusan Orc yang tergeletak di tanah dan berkata. "Bangkit." "Wuuzzz." Bayangan keluar dari tubuh 10 Orc dan membentuk Orc setinggi 2 meter.


"Anda berhasil membangkitkan arwah." "Arwah yang bisa di summon 20/20." Notifikasi muncul di depan Deon.


"Rooaar." Orc berteriak melihat 10 arwah orc. "Bunuh semua Orc." Deon memberi perintah. "Rooaar." Arwah Orc berteriak kemudian menyerang puluhan Orc. "Rooaar." Orc berteriak kemudian menyerang arwah prajurit Deon.


Beberapa jam telah berlalu. Saat ini Deon sedang melihat pertarungan arwah prajuritnya dengan 1 Orc. "Rooar." Arwah Orc berteriak kemudian menebas kepala Orc. "Crasshh." Kepala Orc terpotong dan menggelinding ke tanah.


"Quest Selesai." "Anda mendapatkan 60 Poin." "Akhirnya selesai juga." Deon menghela nafas dan terjatuh di tanah.


"Karena Gabriella mati di dalam game. Seharusnya semua ingatan tentang game dan diriku terhapus." Kata Deon memejamkan matanya.


Saat membuka matanya Deon melihat dirinya berada di dalam kamarnya. "Open status window." Kata Deon kemudian status window muncul di depannya.

__ADS_1


Nama : Deon


Usia : 25 tahun


Ras : Manusia


Class : Necromancer


Level : 52


Health : 55


Strength : 55


Agility : 55


Stamina : 50/50


Mana : 205/205


Poin : 60


"Aku akan menambahkan 5 Poin di Stamina dan 55 poin di Mana." Kata Deon meningkatkan statusnya. "Sing." Cahaya biru menyelimuti tubuh Deon.


"Kreeekk." Deon melihat Kathrina masuk ke dalam kamarnya. "Ada apa Kathrina." Tanya Deon melihat Kathrina.


"Clara tidak memperbolehkanku tidur di kamarnya." Kata Kathrina melihat Deon.


"Kamu bisa tidur di kamar ibuku." Kata Deon melihat Kathrina.


"Tidak bisakah Kathrina tidur dengan kak Deon. Kathrina takut tidur sendiri." Kata Kathrina.


"Baiklah, kamu bisa naik ke kasur. Aku akan tidur di bawah." Kata Deon.


"Tidak kak, tidurlah di kasur juga." kata Kathrina.


"Baiklah, aku akan tidur di kasur." Deon menghela nafas.


"Naiklah ke kasur." Kata Kathrina melihat Deon.


"Baik kak." Kathrina mengangguk dan naik ke atas kasur.


"Kak, bisakah kamu memelukku. Seperti kakak memeluk Kathrina saat sakit." Kata Kathrina dengan wajah merah.


"Aku akan memelukmu." Kata Deon memeluk Kathrina. Kathrina tersenyum melihat Deon memeluknya.


"Tidurlah." Kata Deon melihat Kathrina.


"Baik kak." Kathrina mengangguk kemudian memejamkan matanya.


Melihat Kathrina telah tertidur Deon kemudian keluar dari kamarnya. Deon berbaring di sofa kemudian memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2