
"kau...arghh.." kenapa lagi dengan tato di tanganku, kenapa sangat panas. Aku langsung mencari air untuk menghentikan ini walaupun aku tau itu tak berguna. Sampai ku rasakan sebuah tangan menghentikanku.
"Apa?" apa? Apa yang sebenarnya dia inginkan? Kenapa dia selalu mendatangiku?.
"Ikut denganku!" tanpa meminta persetujuanku dia menyeretku untuk mengikutinya.
"Tunggu! Tunggu sebentar!" aku mencoba menarik tanganku namun kekuatanku seakan tak ada apa-apanya. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan berbalik kepadaku.
"Apa yang kau impikan semalam?!" Aku tertegun, apa maksudnya dengan mimpiku semalam? Apa hubungan dia dengan mimpiku?.
"Apa maksudmu dengan mimpiku semalam? Apa hubungannya denganmu?" aku menatapnya dengan menyelidik, apa yang dia maksud adalah mimpi buruk itu?.
"Benar kau pasti memimpikannya. Kita akan menjadi rekan ke depannya jadi , kendalikan dirimu" dia berbalik dan aku langsung menarik lengan bajunya.
"Apa maksudmu?! Kenapa kita menjadi rekan?" aku ingin penjelasannya, kenapa semua hal menjadi semakin aneh.
"Berisik!".
" Kau!.. " "Lia!" belum sempat aku memakinya, dan Widura sudah memanggilku terlebih dahulu.
"Apa yang kau lakukan di sini?".
"Aku..." saat aku ingin memberi tahu Widura tentang monster itu, aku melihat bahwa monster itu sudah menghilang.
"Aku melihatmu menabrak orang tadi, gapapa kan?" aku tidak memperhatikan Widura karena masih mencari di mana monster itu.
"Lia?".
"Kau melihatnya kan? Siswa yang ku tabrak tadi, apa kau mengenalnya?".
"Apa maksudmu Winda?" Aku mengernyit karena nama yang di ucapkan Widura adalah nama perempuan.
"Winda? Bukankah itu nama perempuan? Maksudku laki-laki yang tadi ketumpahan makanan siapa namanya? Kau taukan?" Widura menatapku curiga, namun aku tidak memperdulikannya.
"Ahh kalau tidak salah namanya Bian, dia anak kelas sebelah. Kenapa? Jangan-jangan kamu........." Widura masang muka nyebelin banget sumpa, rasanya tuh pengen nonjok gitu loh.
"Paan sih ga usah sok tau deh, aku tuh curiga sama dia. Emang kamu gak ngerasain aura dia apa?" wajah ku tuh dah serius banget ehh Widuranya malah barcanda lagi.
"Aura? Aura paan? Orang biasa biasa aja kok auranya, kayak manusia"
Jadi Widura gak bisa ngerasain aura monster dari Bian? Tapi tadi jelas-jelas aku ngerasain aura Bian kuat banget, dan Widura juga ada di sana! Apa cuman aku yang ngerasain aura itu?.
"Woi ngelamun aja! Kita dah nyampek depan kelas nih" hehh gak bisa apa ya dia gak ganggu pas aku lagi mikir gini!.
"Iya-iya tau! Yudah sana balik ke habitat, ganggu pemandangan aja!" Aku harus cari tau dulu tentang Bian, baru aku akan memberi tahu soal ini ke Widura.
"Yaelah punya temen kok judas amat, masih untung juga tadi dicariin pas sendirian luntang lantung di koridor kayak anak ilang, ehh malah di usir" Widura menampakkan wajah sok tersakiti, hilih lah.
"Dih sok ngambek lagi, kayak cewek aja" sebenernya seneng juga punya temen modelan Widura.
"Hehhh cuman bisa sabar emang kalo ngomonng ama situ" sumpah eneg ama mukanya Widura.
__ADS_1
"Yauda sih terima nasib aja, bye!".
"Bentar deh, nanti pas pulang bareng ya, sekalian jelasin tentang Bian!" aku kira Widura tidak memperhatikan soal pembicaraan tadi.
"Ahh oke, aku masuk dulu"
########################
Aku merapikan bukuku karena bel sudah berbunyi. Akhirnya pulang juga setelah seharian cuman ngelamun sampek ngehalu. Abis ini enaknya langsung makan terus tidur. Gak usah nugas soalnya besok gak ada PR.
"Nilia"
"Eh iya?" sampek lupa kalo yang disebelah aku Mada.
"Kamu pulangnya sama siapa?"
Baru aja aku mau jawab sendirian, jadi keinget sama Widura yang tadi ngajakin pulang bareng. Untung aja inget.
"Ohh aku pulang sama Widura"
"Ohh gitu ya? Kalo gitu aku duluan ya" sekilas aku melihat ekspresi sedihnya, tapi aku gak ngerti kenapa. Apa ku ajak Mada aja ya? Dia kan hunter ntar sekalian aku tanya soal aura Bian ke dia sama masalah portal.
"Mada tunggu!" dia berbalik saat sudah mencapai pintu.
"Itu, ada yang mau aku omongin sama kamu, jadi kita bisa gak pulang bareng?"
"Ehh gapapa emang? Kan kamu pulang sama Widura" dia menggaruk lehernya yang tidak gatal, keliatan canggung banget.
"Rumah kita searah kok, dan gak jauh jauh amat"
"Oh oke, ayok ke perpus kalo gitu"
Kita berdua berjalan berdampingan menuju ke perpus.
"Emang gapapa ke perpus pas jam pulang sekolah gini?" Mada terlihat ragu dengan tujuanku.
"Gapapa kok lagian temen aku yang jaga perpus" lumayan lah punya temen penjaga perpus, bisa dijadiin tempat nongkrong sementara.
"Oke"
Setelah menaiki tangga dan berbelok kita sampai di perpustakaan sekolahku. Perpustakaan ini terletak di lantai dua lebih tepatnya seluruh lantai dua di gedung B. Menurutku perpustakaan ini cukup bagus dan bukunya lumayan lengkap. Mulai dari buku pelajaran sampai buku cerita dan sejarah ada di sini.
"Nilia" suara itu berasal dari pojok perpustakaan, saat aku melihat Widuran dan Kia sudah duduk si situ aku pun menghampiri mereka dengan Mada yang mengekor di belakangku.
"Hai Kia lama tidak bertemu ya" aku tersenyum kepada Kia. Dia adalah salah satu temanku yang ada di sekolahan ini, dan tentu saja dia bukan manusia biasa dia adalah seorang elf dan berada di sekolah ini untuk mengawasi tunangannya yang sekarang menjadi guru seni di sekolahku.
"Ya kau tidak pernah datang ke sini lagi, dan siapa yang kau bawa" aku memperkenalkan Mada ke Kia saja, karena Widura pasti sudah tau Mada.
"Dia adalah Mada teman sekelas ku, dan dia seorang hunter. Mada dia adalah Kia, dia bukan manusia tapi seorang elf" aku langsung memberitahukan identitas mereka karena aku harus bekerjasama dengan mereka berdua untuk ke depannya.
"Mada"
__ADS_1
"Kia" mereka berdua berjabat tangan dan saling tersenyum.
"Oke kalo gitu, jadi tujuanku ngumpulin kalian semua di sini itu mau ngomongin soal portal sama seseorang yang mengganggu akhir akhir ini, aku pikir di antara kalian pasti tau tentang ini" aku langsung membicarakan tujuanku tanpa basa basi karena sekarang udah mau malem jadi harus cepet.
"Portal?" kia terlihat terkejut dengan pernyataanku.
"Iya apa kau tau sesuatu?" aku harap kia dapat menjawab pertanyaanku.
"Ceritakan dulu kejadian mu, baru aku akan memberikan penjelasan" langsung saja aku menceritakan semua kejadian aneh yang aku alami mulai dari kejadian di taman sampai kejadian tadi siang saat istirahat. Tidak hanya Kia yang kaget tetapi Mada juga.
"Jadi waktu itu kau sudah membuat portal?" kali ini Mada yang menimpali.
"Apa maksudmu dengan sudah?" aku merasa salah dengan kalimatnya.
"Waktu itu aku tidak merasa ada yang membuat portal, dan saat aku ke taman belakang aku kira kau melawan monster tanpa portal. Tapi waktu aku sudah bergabung melawan monster itu aku baru merasakan kalau sudah ada sebuah portal di sana". Aku terkejut dengan penjelasan Mada. Bukankah itu berarti setiap orang atau hunter bisa masuk ke portalku?.
"Tapi waktu itu aku jelas jelas merasakan portal dari awal pertarungan" Widura kini ikut dalam pembicaraan ini, aku yakin dia juga merasa penasaran dengan situasi ini.
"Sepertinya aku tau situasi ini, aku pernah membacanya di salah satu bukuku. Jadi aku akan membawakannya besok, untuk saat ini apa kau bisa membuka portalmu?" dengan pernyataan Kia, aku langsung mengangguk dan berjalan ke area yang lebih luas dan menjauh dari mereka.
"Aku akan membuat portal di sini tapi tidak akan memasukkan kalian, jadi aku ingin Mada atau Widura mencoba masuk ke dalam portalku".
"Aku akan masuk" Widura menawarkan diri dan aku hanya mengangguk untuk menanggapinya.
Aku langsung membuka portalku tanpa mereka, saat ini suasana langsung sunyi tanpa suara apapun dan aku tidak melihat keberadaan mereka lagi. Aku menunggu Widura untuk masuk tapi sudah lebih dari lima menit aku tidak melihat atau merasakan adanya Widura dalam portalku. Aku menunggu beberapa saat lagi, tapi Widura belum juga masuk. Jadi ku putuskan untuk membuka portalku. Namun baru saja aku akan membukanya tiba-tiba terdengar suara berderit dari rak buku di bagian belakang.
Aku berjalan perlahan ke arah belakang, kenapa tiba-tiba ada aura monster di sini? Seharusnya dengan keamanan sekolah tidak ada monster yang bisa masuk. Tapi kejadian ini sudah dua kali, seharusnya sekolah sudang mengetahui dan menangani hal ini. Apa lagi penjaga perpustakaan ini Kia, seorang elf yang secara otomatis bisa merasakan aura monster.
Aku bersembunyi di balik rak buku perpustakaan, di sana aku melihat sosok hitam dengan banyak tentakel seperti gurita dari punggungnya, dengan mata merah dia terlihat seperti mencari sesuatu. Aku mulai memperhatikan monster itu untuk mencari titik lemah dan menancapkan jarum yang kini ku pegang. Aku masih belum mengetahui tingkat kekuatan dari monster tersebut, jadi aku harus berhati-hati.
Bersamaan dengan aku menembakkan jarum di tanganku monster tersebut juga menembakkan cairan hitam dari salah satu tentakelnya. Aku menghindari cairan tersebut dan menemukan bahwa lemari di belakangku sudah korosif oleh cairan hitam.
"Sial!"
Aku mengeluarkan pisau di kedua tanganku dan berjalan maju untuk menyerangnya, pada awalnya ku kira akan gampang karena dia membutuhkan jeda waktu untuk mengeluarkan cairan. Namun yang tak ku sangka setiap tentakel menjadi semakin besar dan panjang. Ku ayunkan pisauku untuk memotong setiap tentakel tapi karena tentakel itu menyerang dari segala arah, kakiku kini di lilit dan diangkat ke atas yang membuatku terbalik. Ku rubah senjataku menjadi sebuah pedang panjang dan ku ayunkan kembali pedangku untuk memotong tentakel yang melilit kakiku hingga aku kembali berdiri. Dia kembali menyerangku membabi buta dengan tentakelnya. Aku harus menemukan titik lemahnya untuk mengalahkan monster ini, tapi dengan tentakel sebanyak ini aku bahkan tidak bisa mendekati tubuhnya.
"Arhhh..." sialnya kini kakiku malah terkena cairan hitamnya yang terasa sangat panas. Untungnya cairan itu tidak membuat kakiku korosif seperti lemari tadi. Aku berusaha untuk berdiri dengan satu kakiku dan dua pedang di tanganku. Aku tidak akan bisa mengalahkan monster ini karena keadaan ku saat ini sangat merugikan tapi aku juga tidak bisa membuka portal dan meninggalkannya begitu saja.
"Hahhh...." aku menghela nafasku dengan frustasi, kali ini aku setidaknya harus bisa menyerang badannya. Aku melemparkan pisauku ke arah jantungnya bersamaan dengan menyerangnya agar bisa mengalihkan perhatiannya. Namun perhitunganku salah, pisauku hanya menancap di bahunya dan kedua tanganku kini dililit oleh tentakelnya. Dia menarikku dari dua arah dan mengangkatku.
"Sial kenapa monster ini sangat kuat!!" aku hanya bisa menggerutu atas kesialanku bertemu dengan monster kuat seperti ini.
Aku berusaha menggerakkan pedangku untuk memotong tentakel di tanganku namun tentakel tersebut melilit tanganku semakin kuat seperti ular. Semakin memberontak semakin kuat lilitan tentakel itu.
"crakk... Aakhhhh" kudengar suara retakan disertai dengan rasa sakit yang menyengat pada tanganku dan pedang yang ku pegang sudah jatuh ke tanah. Aku tidak bisa merasakan salah satu tanganku lagi lalu tentakel itu melepaskan lilitannya yang membuatku menggantung dengan satu tangan. Bisa kurasakan tentakel itu beralih melilit tubuhku dengan sangat erat. 'Apa dia akan membunuhku dengan cara meremukkanku? Bahkan aku tidak bisa meminta bantuan kepada siapa pun. Kenapa mereka tidak bisa masuk di saat seperti ini? Sial!!'.
Saat ini aku sudah kesulitan untuk sekedar bernafas dan penglihatanku mulai memburam, bahkan kini aku sudah tidak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali. Saat kurasa kesadaranku akan menghilang ku rasakan tato di tangan ku memanas dan bersinar. Tepat setelah itu tubuhku terbebas dari tentakel yang melilit. Aku terjatuh dan saat itu pula pandanganku menggelap. 'Apa yang terjadi?'.
*******************
Halo aku up lagi walaupun udah lama banget. makasih yang udah baca😘, semoga gak bosen. Selamat menikmati😊😊
__ADS_1