
Hari ini adalah hari pertamaku masuk ke sekolah di tahun ajaran baru. Tak terasa kini aku sudah memasuki kelas sebelas. Sepertinya masih kemarin aku mengikuti MOS dan menjadi seorang Hunter.
" Nilia....." saat aku berjalan di lorong kelas, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang memanggilku. Ia berlari dengan tergesa dari ujung lorong.
" kok kamu berangkat duluan sih!?" tegurnya.
" Gak tuh! Tadi aku udah nunggu kamu sambil jalan tapi gak dateng-dateng" sanggah ku dengan berjalan menuju ke kelas.
" kalo nunggu tuh gak sambil jalan, itu namanya ninggalin! " dia terlihat kesal dengan tanggapanku.
" Kan aku jalannya pelan jadi kamu masih bisa nyusul".
Menghela nafas " terserah, lain kali tunggu aku di rumahmu, untung kita sahabat kalo enggak... "
Segera ku potong ucapannya " Kalo enggak kenapa emangnnya?"
" Kalo enggak ya gapapa sih... Hehe" jawabnya sambil nyengir. Nih orang makin lama makin aneh aja.
Dia memang sahabatku, namanya Widura, saat aku tanya siapa nama panjangnya dia bilang hanya itu. Awalnya aku tak percaya tapi saat ku lihat rapornya waktu itu dan namanya benar-benar hanya Widura. Kita bertemu saat masih kelas 5 SD. Pertemuan kita cukup klise, dia yang sedang main layang-layang bersama teman-temanya lalu aku menghampiri mereka dan berkata ingin ikut bermain layang-layang bersama. Semua temannya menolak karena aku adalah seorang cewek. Tapi Widura memanggilku dan memberikan layangannya kepadaku. Mulai saat itu aku dan Widura sering bermain layang-layang bersama. Bahkan hampir setiap hari kita bermain layang-layang.
" Widura" kita berjalan sudah hampir sampai di kelas baruku.
" Iya, kenapa?" ia berkata sambil menatapku.
" Kelas kamu udah lewat". Kita memang berbeda kelas dari kelas 10.
" hah?" dia langsung melihat sekitar dan sepersekian detik berikutnya dia langsung menepuk jidatnya. " Ohh iya, sampek lupa sama kelas sendiri. Maklum kelamaan liburan, ya udah aku ke kelas dulu ya" dia mengusap kepalaku dan berbalik untuk menuju ke kelasnya.
Saat aku akan berjalan ke kelas aku dikejutkan oleh Mada, teman sekelas ku yang melihat ke arahku dan Widura saat dia pergi. Saat mata kita bertemu dia langsung mengalihkan perhatiannya ke hal yang lain.
" Mungkin dia sedang melihat lihat" Racauku saat memasuki kelas.
Karena ini adalah hari pertama masuk sekolah, selama seharian penuh kita tidak ada pembelajaran. Kita hanya melakukan pendaftaran ulang dan pengembalian rapor. Tapi jam pulang kita tetap pukul 15:00, mereka bilang akan ada pengumuman saat pulang nanti jadi tidak ada pulang pagi. Padahal semua jurusan sudah melakakuan daftar ulang dan mengembalikan rapor tapi tetap saja sekolah tidak memulangkan kita.
" Apa aku panggil Widura aja ya?" racauku sambil memperhatikan handphone di tanganku.
" Nilia!!!" aku terlonjak karena suaranya sangat memekakkan telinga. Hampir saja aku menjatuhkan handphone di tanganku.
__ADS_1
" Paan sih, gak usah ngagetin napa!" aku berkata dengan sewot.
" Ya elah, santai aja kali. Keluar yok!" ajak Widura langsung menarik tanganku.
" Kemana? Kita gak boleh pulang kan?"
" Gak pulang kok, ke tempat biasa aja" dia berjalan mendahuluiku.
Aku dan Widura berjalan menaiki tanggga, kita menuju ke tempat tertinggi di gedung ini. Roof Top adalah tempat biasa kita pergi kalau kita bosan, kita biasanya menghabiskan waktu di sana dengan makan-makan, atau sekedar bercerita tentang pengalamanku dalam berburu monster.
"Widura" aku tiba tiba ingin menanyakan tentang suatu hal.
"Apa?" Widura berbalik dari pagar pembatas roof top ke kursi yang aku duduki.
" Menurutmu monster apa yang paling kuat?, dan batu apa yang akan aku dapatkan kalau aku dapat membunuh monster itu? " pertanyaan yang cukup aneh untuk ku tanyakan kepada seorang monster seperti Widura. Ya Widura adalah seorang monster, dia ada dalam jenis yang cukup kuat. Orang awam hiasannya menyebut golongan Widura sebagai werewolf. Walaupun Widura adalah monster aku tidak pernah punya niatan untuk membunuhnya. Para hunter biasanya hanya membunuh monster yang menyerang manusia dan tidak memiliki kelompok.
" Entahlah, setauku ada seorang monster yang sangat kuat dia keturunan noble, ahh lebih tepatnya dia keturunan terakhir noble, tapi sekarang dia dikabarkan menghilang. Ada yang bilang kalau dia mati ada juga yang bilang kalau dia masih memulihkan kekuatannya. Kenapa? kau ingin membunuhnya? " Widura berkata dengan serius, yang membuat suasana sedikit canggung.
" Tidak juga aku hanya ingin tau, kalau begitu batu apa yang akan aku dapatkan kalau aku membunuhmu? Kau kan cukup kuat. Pasti batumu sangat mahal". Aku bertanya dengan maksud bercanda untuk mencairkan suasana yang cukup tegang tadi.
" Kau ingin membunuhku? Baiklah ayo kita bertarung" Widura berjalan ke tempat yang lebih lapang.
" Paan sih, kan aku cuma tanya" aku jadi merasa gak enak sama Widura.
" Ya kamu pengen tau kan, ya udah cobak bunuh aku! " Widura semakin memojokkan Julia dengan argumennya.
" kamu kok nyolot sih, kan aku cuman tanya"
Saat kami berdebat dengan cukup lama, tiba-tiba kami merasakan aura monster yang cukup kuat.
" Bukankah semua monster disini auranya sudah ditekan? " tanyaku pada Widura.
" Setauku juga begitu kalau pun dari luar, sekolah ini sudah dilindungi" Widura tiba tiba menghentikan kalimatnya.
" Tapi, jika orang dalam yang membawanya, monster dengan mudah bisa masuk". Widura dengan wajah seriusnya berkata kepadaku.
Kita saling bertatapan cukup lama dengan raut muka bingung. Aku menganggukkan kepala yang di balas anggukan kepala oleh Widura. Seolah kita bisa bertelepati, kita langsung menuju ke sumber aura.
__ADS_1
Aku dan Widura sudah sampai di taman belakan sekolah ini, untungnya taman ini tidak banyak dikunjungi oleh siswa siswi. Di Sana aku dan Widura melihat seorang monster yang aneh, aku langsung saja membuat portal untuk menghindari kekacauan di sini. Tiba tiba monster itu membelah dirinya menjadi beberapa bagian dan membentuk monster baru. Monster itu memiliki kepala buaya, badannya seperti manusia tapi dipenuhi sisik warna hijau, dan memiliki ekor yang ujungnya runcing.
" Dia monster jenis apa?" tanyaku pada Widura.
" Dia monster yang dibuat oleh monster kuat, biasanya monster seperti ini ada yang mengendalikan, mereka tidak bisa berpikir dan hanya menuruti pembuatnya" Widura berbicara sambil bersiap untuk berubah.
" Monster membuat monster? Menarik. Kau!!" tunjukku pada Widura.
" Apa? " Widura sudah bersiap untuk berubah dengan melepas dasinya.
" Gak usah berubah, kayaknya monster itu mudah dikalahkan" cegah ku agar Widura tidak berubah di sini.
" yahhh padahal aku pengen" Widura terlihat tidak terima dengan pernyataan ku.
"Yaa gapapa sih sebenernya, tapi pas abis berubah nanti aku gak mau cariin pakaian buat kamu" aku gak mau ambil resiko mengambilkan pakaian untuk Widura, secarakan kalo Widura berubah badannya jadi srigala yang otomatis pakaiannya robek.
" Iya jiga sih"
" Kalo mau berubah di rumah aja, jangan di sini" final ku.
" Hmm"
Aku melawan satu monster dan Widura melawan dua monster. Aku memulai dengan tangan kosong karena aku pikir monster ini tidak cukup kuat. Saat monster itu memukulku aku langsung menangkap tangannya dan kulanjutkan dengan tendangan samping namun monster itu dapat menangkis tendanganku. Ku lanjutkan serangan dengan berbagai kombinasi pukulan dan tendangan hingga akhirnya kakiku tertangkap oleh monster tersebut, saat aku mencoba untuk melepaskan genggaman di kakiku monster tersebut menancapkan kukunya di kakiku dan melemparkan aku ke pohon besar.
"ughh... Sial ternyata dia kuat!" aku mencoba berdiri namun kakiku ternyata terluka cukup parah sehingga aku kesulitan untuk berdiri.
Saat aku berusaha berdiri dengan benar tanpa sadar monster itu sudah berlari ke arahku untuk menyerang. Karena aku tidak memiliki persiapan yang sempurna aku hanya bisa melindungi kepalaku dan memejamkan mata. Tapi yang kudapati adalah monster itu terjatuh tepat di hadapanku dengan sebuah panah menancap di kepalanya.
Saat aku mencari dari mana arah panah itu. Aku benar benar terkejut karena orang yang memanah monster itu adalah teman satu kelasku. Dia di sana adalah orang yang tadi pagi melihatku dengan Widura. Dia adalah Mada, aku tidak menyangka kalau dia juga seorang hunter. Lalu bagaimana dia bisa masuk ke portalku? Aku terus memikirkan hal itu berulang ulang, sampai aku tersadar karena pergerakan dari monster itu.
" Heh dia gak bisa mati apa ya?" aku mengeluarkan pisauku dan langsung ku tancapkan pisau itu ke kepala dan jantungnya.
Saat aku mencari keberadaan Widura, aku melihat dia sedang berkelahi bersama dengan Mada. Aku memutuskan untuk membantu mereka, namun saat menuju ke arah mereka, tiba tiba aku melihat ada seorang siswa laki-laki yang sedang memperhatikan pertarungan antara monster itu dengan Widura dan Mada.
Saat mataku dan mata siswa itu bertatapan, aku baru sadar bahwa dia juga seorang monster. Dan saat akan ku hampiri, siswa itu memberikan tatapan dingin dan dia meninggalkan tempat itu dengan smirknya. Aku mengikuti siswa itu dengan tergesa dan tertatih karena kakiku yang terluka. Kenapa dia tidak langsung menghilang? Bukankah ini kesempatan untuknya karena kakiku sedang terluka, apa dia memang bertujuan untuk memancingku mengejarnya. Saat aku mengikutinya tiba tiba dia menghilang di persimpangan lorong.
" Kalo cuman mau kabur kenapa gak dari tadi aja sih, kan aku gak usah ngejar! " aku berkata dengan sewot.
__ADS_1
Saat aku berbalik untuk kembali ke tempat Widura, tiba tiba saja siswa itu sudah ada di depanku.
"Siapa kamu?".......