
“Yes, you and he will get married!”
Kenanga dan Alfin terdiam. semuanya langsung hening begitu saja.
“Aku ingin bicara denganmu.” Bisik Kenanga pada Meilani.
Kenanga pun langsung berdiri dan tanpa kata langsung keluar ruangan.
“Maaf, semuanya. Saya permisi dulu.” ucap Meilani. Dia pun pergi menyusul Kenanga.
Kenanga dan Meilani saling berhadapan di lorong kosong. Kenanga menatap tajam tantenya. Sedangkan Meilani tak terpengaruh sama sekali.
“Apa maksudnya? Perjodohan?” tanya Kenanga menuntut penjelasan.
“Iya. kamu sudah dengar sendiri dari mulut om kamu.” Jawab Meilani.
“Ini konyol. Perjodohan? Kenapa aku harus melakukannya?”
“Karena itu adalah perjanjian antara kakekmu dan kakeknya dokter Alfin.”
“Aku tidak ingin melakukannya.” Tandas Kenanga.
Meilani hanya mengendikkan bahunya acuh, “Terserah kamu. Kamu bisa mengatakan tidak untuk perjodohan ini. Karena sebenarnya perjodohan ini tidak terlalu dianggap serius.”
“Maksudnya?”
“Perjodohan ini bisa batal otomatis kalau diantara kalian ada yang sudah menikah atau memiliki calon. Tante tidak akan menagih janji ini kalau tahu bahwa dokter Alfin tidak sendiri saat ini. Dan lagi, perjodohan ini berlaku sampai usiamu tiga puluh tahun. Tapi lihat? Ulangtahunmu lima bulan lagi dan kau masih belum memiliki pendamping. Kamu tahu betapa gilanya tante karena kelakuanmu?”
Kenanga mendengus kesal, “Ini urusanku. Mau aku menikah, atau tidak, aku yang mengurusnya sendiri.” Tukasnya.
“Tante tahu hal itu. Tapi tante sudah berjanji pada mendiang mamamu. Kalau tante akan merawatmu hingga berusia tiga puluh tahun. Beliau ingin kau sudah punya orang yang akan menjagamu sebelum usia tiga puluh. Tante membiarkanmu selama ini. Membiarkanmu yang katanya tidak ingin memiliki pacar. Tapi sekarang sudah berbeda, waktunya sudah hampir habis. Jadi kamu menikah dengan dokter Alfin atau carilah pasanganmu sendiri dalam lima bulan ini.”
Kenanga kehilangan kewarasannya gara-gara ucapan Meilani yang tidak bisa diterima oleh akalnya.
“Ini terlalu konyol. Omong kosong.” serunya.
“Terserah kamu. Kamu sudah dewasa. Kamu bisa menentukan arah hidupmu sendiri. Tante hanya bisa membantumu sampai sini saja. Kau menyetujuinya atau tidak. Terserah padamu.”
“Aku tidak mau.” tegas Kenanga.
Meilani menganggukan kepalanya, “Oke. Katakan sendiri di dalam nanti.” Ucap Meilani langsung pergi meninggalkan Kenanga.
Kenanga mendesah keras. Dia menyugar rambutnya kasar.
***
Di sisi lain, suasana hening langsung terasa begitu Kenanga dan Meilani pergi. Alfin tentu saja terlihat gelisah. Dia lalu menyentuh tangan bunda.
“Ada yang Alfin bicarakan.” Bisiknya.
Bunda mengangguk. Dia lalu meminta izin pada suaminya dan Akra untuk keluar sebentar dengan Alfin. Setelah itu ibu dan anak itu menjauh dari ruangan ke tempat lebih sepi.
“Ada apa, Fin?” tanyanya.
“Bunda tahu apa yang Alfin mau bicarakan.” Ucap Alfin.
Bunda tersenyum lembut pada anaknya itu, “Bunda tahu. Ini pasti sangat mengejutkan untuk kamu. Tapi bunda memiliki alasan kenapa bunda menyetujui perjodohan ini.”
Alfin terdiam mendengarkan.
“Bunda mau kamu tidak terjerat masa lalu lagi. Selama tiga tahun ini, kamu sudah sangat menderita. Tidak bisa tidur, tidak bisa bergaul selain dengan Satya. Dan itu membuat bunda sedih. Kenapa anak bunda harus mengalami ini semua? Kenapa tidak bunda saja?”
Alfin memegang kedua bahu bundanya dan menatap lembut padanya, “Bun, bunda tidak berhak merasakan hal pahit seperti ini.”
“Tapi kamu juga tidak berhak. Sudah cukup. Bunda tidak ingin kamu terus tenggelam. Sudah waktunya kamu bangkit. Menemukan orang yang kamu cintai, menemukan takdir yang lain.”
Alfin terdiam. Dia tahu. Dia jelas tahu perasaan apa yang dialami bundanya. Dirinya memang selalu terbayangi masa lalu. Kenangan pahit dan mengerikan itu terus menjeratnya dari segala sisi hingga Alfin tidak tahu bagaimana caranya untuk terbebas.
Bunda menggenggam tangan Alfin dan menepuknya penuh kelembutan, “Bunda tidak akan memaksamu. Kalian juga baru saling mengenal. Tidak perlu terburu-buru. Tapi kalau kamu memang keberatan, bunda tidak masalah. Bunda tahu, kamu punya penilaian sendiri atas masalah ini.”
Alfin diam tak menanggapi. Setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan sejak dulu, bunda akhirnya pergi meninggalkan Alfin sendiri. Membiarkan putra bungsunya untuk memikirkannya.
***
Setelah hanya diam selama lima belas menit, Kenanga akhirnya melangkah menuju ruangan lagi. Di sepanjang jalan, dia berusaha menguatkan pendiriannya untuk mengatakan tidak pada perjodohan ini. Ini terlalu konyol dan tak masuk akal. Pernikahannya tidak bisa diatur oleh siapapun selain dirinya.
Tapi di depan pintu, dia bertemu dengan Alfin yang juga tengah berjalan ke arahnya. Mereka saling terdiam di depan pintu. Tidak ada yang membuka pintu lebih dulu.
__ADS_1
Kenanga akhirnya memalingkan pandangannya. Dia hendak membuka pintu tapi suara Alfin menghentikannya.
“Ada yang ingin saya tanyakan.” Ucapnya.
Kenanga hanya diam dengan satu tangan di daun pintu. Tatapannya tertuju ke arah lain.
“Apakah—“
“Saya menolaknya.” Potong Kenanga kini menatap Alfin dengan wajah datarnya.
Alfin terdiam sesaat, “Kenapa?”
Kenanga menoleh, “Apa maksudmu kenapa? Ini adalah hal paling konyol yang pernah saya dengar selama hidup saya.”
Alfin terdiam. Kenanga mengangkat satu alisnya, “Jangan-jangan kau menyetujuinya?”
Alfin terkesiap.
“Saya...punya alasannya.” Lirih Alfin. kenanga terdiam mendengarkan.
“Bunda saya ingin melakukan perjodohan ini agar saya bisa terbebas dari masa lalu. Beliau tahu bahwa saya menderita selama tiga tahun ini. Dan saya memahami perasaannya. Beliau berharap, saya bisa menemukan orang lain yang akan saya cintai. Beliau ingin saya menemukan takdir saya yang lain.” Ucap Alfin.
“Tapi saya bukan takdirmu. Dan saya belum ingin menikah.” Tukas Kenanga.
Alfin mengangguk pelan. “Itu terserah padamu. Kau berhak menentukan jawabanmu sendiri. Saya hanya menguraikan alasan saya.”
Kenanga tersenyum tak percaya, “Ini sungguh konyol, kau tahu?” ucapnya frustasi.
“Kau tidak suka dijodohkan dengan saya? Apa saya kurang dimatamu?” tanya Alfin.
“Bukan kau masalahnya. Tapi saya.” Tukas Kenanga. “Saya Abdi negara. Kamu akan menikah dengan seorang prajurit yang akan meninggalkan tanggung jawabnya sebagai istri untuk melindungi negara. Siapapun itu pasti tidak akan sanggup melakukannya.”
“Siapa yang bilang begitu?”
“Memang benarkan? Kita menikah lalu saya tiba-tiba dipanggil untuk tugas sebelum resepsi selesai. Saya akan meninggalkanmu sampai waktu tidak tahu kapan. Dan kita tidak tahu kapan bisa punya anak. Kita bahkan tidak tahu siapa yang lebih dulu meninggal.”
“Ternyata, Letnan Kenanga sungguh calon istri yang baik.” Komentar Alfin tersenyum kecil.
“Apa?” Kenanga mengernyit.
“Saya tidak masalah. Mau kau seorang tentara, seorang pebisnis, atau seorang presiden sekalipun. Saya tidak masalah. Kamu mencintai pekerjaanmu dan saya akan menghormatinya sebagai suami.”
“Jadi, jangan berfikir aneh-aneh dan mari jalani seperti air mengalir saja.” Ucap Alfin tenang.
Kenanga memalingkan wajahnya dari Alfin.
“Omong kosong.” Desis Kenanga langsung membuka pintu dan masuk ke ruangan meninggalkan Alfin.
Alfin tak langsung masuk. Dia terdiam di depan pintu yang terbuka dan mendesah pelan. Entah sampai kapan takdir akan terus mempermainkannya.
***
Di dalam, Andra, Bunda, Meilani dan Akra sudah menunggu Kenanga dan Alfin. Raut mereka menunjukkan rasa penasaran atas jawaban mereka. Begitu Kenanga duduk diikuti Alfin yang baru datang, Meilani langsung menyambarnya.
“Jadi bagaimana keputusannya?” tanyanya tak sabaran.
Kenanga hanya terdiam. menatap datar Alfin yang juga masih tak bersuara.
Tuk tuk
Meilani mengetuk meja, “Hello, kok diam saja?” tanyanya bingung.
“Saya menyerahkannya pada Let—Kenanga.” Ucap Alfin menatap Kenanga.
Kini semua atensi mengarah pada Kenanga. Perempuan berusia dua puluh sembilan tahun itu menatap tajam Alfin. Bagaimana bisa laki-laki itu menyerahkan keputusan padanya.
“Kenanga? Bagaimana?” tanya Bunda lembut.
Kenanga menoleh ke arah bunda. Hatinya langsung meleleh melihat senyuman bunda yang lembut dan menenangkan itu.
“Kenanga setuju?” tanya bunda lagi menunggu jawabannya dengan tenang.
Kenanga menatap bunda seolah tersihir. Dia seketika mengangguk.
“Kamu setuju?” seru Meilani senang. Alfin nampak terkejut.
Kenanga tersentak. Dia menatap Meilani dengan pandangan terkejut.
__ADS_1
“Ti-tidak, sa-saya...”
“Yes! Alena, kita akan menjadi besan!” sorak Meilani senang. Dia berpelukan dengan bunda. Akra dan Andra juga saling tersenyum senang dan turut merangkul satu sama lain.
Dan dibalik euforia kesenangan itu, Alfin memerhatikan reaksi Kenanga. Dalam penglihatannya, Kenanga nampak tidak senang. Sepertinya jawaban tadi tidak disengaja.
Dan sedetik setelahnya, Kenanga menolehkan wajahnya. Dia menatap Alfin yang sedari tadi terus menatapnya.
***
Usai makan malam itu, Kenanga langsung ke apartementnya. Dia sungguh kesal pada Meilani dan tidak ingin ikut pulang. Perempuan itu masih menyesali keputusan tanpa disengaja itu.
Begitu masuk kamar, Kenanga langsung merebahkan tubuhnya ke kasur. Dia tidak peduli meski make-up nya belum dihapus. Kenanga terus mendesah kasar. Dia ingin waktu diputar!
“Arggh!! Bagaimana bisa aku mengangguk?!” serunya kesal pada dirinya sendiri.
Ini karena dia terpesona dengan senyuman ibu Alfin itu. Kalau Kenanga bisa jabarkan, senyum Alena seperti oasis. Hatinya yang kering dan hampa seketika teraliri rasa hangat oleh senyumannya. Kenanga merasa melihat fitur ibunya di wajah Alena membuat dirinya tak bisa mengontrol diri dan perasaannya.
Tapi tetap saja. Dia belum siap menikah apalagi menikah dengan orang yang tak dia sukai.
“Kenapa ini terjadi padaku?!” lirih Kenanga frustasi. Dia mengacak-acak rambutnya.
Drrt
Kenanga mengambil ponselnya di tasnya. Ada panggilan video dari sahabatnya. Waktu yang pas untuk mengobrol. Kenanga berdecak kesal.
Kenanga menerima telfon itu dan wajah sahabatnya langsung muncul di layar.
“Hai , Letnan Kenanga!” sapanya riang.
“Hem.” Balas Kenanga malas.
Bibir lawan bicaranya itu langsung mengerucut, “Hei, sahabatmu menyapamu dengan riang dari Harare, Zimbabwe. Seharusnya kau senang sedikit.” Gerutunya.
Kenanga tersenyum paksa, “Hai, Siska! Puas?” wajahnya seketika datar kembali.
“Hehehe, puas.” Kekehnya senang.
Sahabat Kenanga ini bernama Siska. salah satu dokter militer juga. Mereka pertama kali bertemu saat operasi perdamaian di Kamboja beberapa tahun lalu. Siska yang ceria dan mudah berteman ini sangat menyukai Kenanga yang dinilainya sebagai wanita tangguh itu. Dan berkat kegigihannya menerobos ke dinding pertahanan Kenanga, akhirnya Siska bisa berteman dengan Kenanga. Dan persahabatan mereka awet hingga kini.
“Tapi kau nampak tidak senang? Kenapa? Ada masalah?” tanya Siska. Ini yang tidak disukai oleh Kenanga, Siska terlalu peka dalam menyadari keadaan. Dan Kenanga harus menceritakannya kalau Siska sudah penasaran.
“Tidak ada. Kurasa aku hanya lelah.” Kilah Kenanga.
“Hem, itu sangat masuk akal. Usiamu sudah tiga puluh, energimu hampir mencapai energi ibu-ibu.” Ejek Siska.
“Fisikku tidak selemah itu.” tukas Kenanga kesal.
“Hahaha, iya-iya. Letnan Kenanga akan mencapai stamina setara ibu-ibu usia empat puluh nanti di usia tujuh puluhan.” Kekehnya.
“Kalau aku panjang umur.”
“Siska akan doakan Letnan Kenanga panjang umur biar bisa memberantas banyak penjahat. Nanti kalau kau sampai di usia seratus tahun, ku bantu merayakannya.” Candanya.
“Kau yakin? Mungkin aku duluan yang menyiapkan pemakamanmu.” Tukas Kenanga.
Siska berdecak, "Dasar menyebalkan." ucapnya kesal.
Sudut bibir Kenanga terangkat kecil, "Kapan kau akan kembali?" tanya Kenanga.
"Tiga bulan lagi." keluhnya.
Kenanga mengangguk, "Oh."
Siska mendengus kasar, "Aku pergi."
"Hem, hati-hati disana."
Siska tersenyum lebar, "Dadah Kenanga!"
"Hem."
Dan sambungan pun terputus. Kenanga meletakkan ponselnya di nakas sedangkan dirinya pergi ke kamar mandi.
***
Keesokan paginya, Kenanga bersiap bekerja. Dia keluar dari apartementnya dan tengah menunggu lift.
__ADS_1
Lift pun berhenti di lantai tujuh, tempatnya berdiri. Hingga pintu lift terbuka, seseorang berdiri di depan pintu dengan ekspresi terkejut.
"Kak Anggi?"