
Alfin tengah berjalan di koridor rumah sakit ketika matanya tak sengaja menemukan Bagas berada di depan ruangan dokter. Lelaki berseragam loreng itu tampak duduk termenung di ruang tunggu. Alfin pun menghampirinya. Penasaran dengan apa gerangan kapten tim Rajawali itu berada di rumah sakit sepagi ini.
"Kapten Bagas, selamat pagi." sapa Alfin saat sudah sampai di depan Bagas.
Bagas menoleh dan menyadari bahwa ada Alfin berdiri di depannya dan menyapanya penuh senyuman. Tak ayal Bagas pun ikut tersenyum menyapa.
"Selamat pagi, dokter Alfin." ucapnya.
"Apa ada sesuatu hal yang membuat Anda berada di rumah sakit sepagi ini?" tanya Alfin sopan.
Bagas mengangguk, "Saya memiliki kepentingan dengan Dokter Fadli terkait rekam medis saya di Kemiliteran." jawab Bagas.
"Rekam medis? Apakah Anda sedang sakit?"
Bagas menggeleng, "Tidak, saya dalam keadaan baik-baik saja. Saya..." Bagas menjeda ucapannya, "ditugaskan menjadi tentara perdamaian PBB mewakili TNI." lanjutnya.
Alfin terkejut, "Anda akan menjadi tentara penjaga perdamaian?"
Bagas mengangguk.
"Dimana?" tanya Alfin lagi.
"Di daerah konflik, tapi untuk tempat pastinya saya tidak bisa memberitahukan secara detail karena itu adalah aturan umum." jawab Bagas.
Alfin mengangguk mengerti. "Saya mengerti. Saya cukup terkejut bahwa Anda ditugaskan dinas ke luar negeri. Lalu bagaimana dengan Tim Rajawali, Anda tidak akan meninggalkannya cukup lama, bukan?"
"Mungkin saya akan pergi selama 3 tahun. Dan Tim Rajawali sudah saya titipkan pada panglima agar Letnan Kenanga menjadi kapten menggantikan saya. Bagaimanapun dia adalah wakil saya dan dia juga teman sekolah saya. Kami memiliki banyak kemiripan jadi tidak akan terlalu sulit kedepannya."
Alfin mengangguk mengerti.
"Kamu sudah memberitahu yang lainnya? Pasti mereka sedih karena akan ditinggalkan kaptennya."
Bagas tersenyum pahit. Sejujurnya ini juga bukanlah keinginannya sepenuhnya. Namun karena perasaannya pada Kenanga sudah gak terbendung lagi dan kenyataan pahit bahwa wanita yang dicintainya telah menikah dengan orang dihadapannya membuat Bagas memilih keputusan itu.
Dia hanya ingin pulih dari rasa sakitnya dengan menjauh kemanapun itu.
****
"Siska." panggil Kenanga dengan suara tercekat.
Siska menjatuhkan pisau berlumuran darah itu kemudian berjalan pelan menghampiri Kenanga. Matanya menatap kosong dengan darah kelinci yang menetes dari tangannya.
"Kenanga."
Siska masih bisa mengenali dirinya meski sedang kambuh.
"A-apa yang---Heuu.."
Belum selesai Kenanga berbicara, dirinya tiba tiba terkejut ketika Siska menerjangnya dan mencekik lehernya. Kenanga merasakan sesak di lehernya.
"Sssiskaaa---" Kenanga merasa kehabisan nafas karena lehernya tiba-tiba dicekik oleh Siska.
Namun Siska yang berada di hadapannya seperti bukan Siska yang dia kenal. Matanya menatap kosong dengan tangannya yang mencekik erat leher Kenanga hingga ia merasa tak diberi kesempatan bernafas. Kenanga merasa Siska yang berada dihadapannya adalah kepribadian lain yang disebutkan oleh Satya.
__ADS_1
Kenanga tak memiliki pilihan lain. Dengan sekuat tenaga, dia mengangkat satu kakinya dan menendang paha Siska hingga wanita itu tersungkur. Setelah membuat Siska jatuh, Kenanga terbatuk-batuk keras dan merasa kepalanya pusing.
"Siska, kau tidak apa-apa? Maafkan aku." Bahkan dalam situasi itupun, Kenanga masih memikirkan sahabatnya itu.
"Aaaaa!! Mati! Hentikan!" tiba-tiba Siska berteriak sangat keras hingga membuat Kenanga sendiri berjengit kaget.
Siska yang terjatuh melirik pisau berlumuran darah itu yang ternyata tergeletak tak jauh dari posisinya. Siska mengambil pisau itu dan bangkit menyerang Kenanga kembali, namun sekarang Kenanga sudah siap. Perempuan itu memelintir lengan Siska hingga pisau yang berada di genggaman sahabatnya terjatuh. Ternyata meski ini adalah kepribadian lain Siska, rupanya tenaganya lebih lemah daripada Siska.
Setelah berhasil menjatuhkan pisau itu, Kenanga meringkus Siska yang terus berontak.
"Cukup Siska, kalau kau melakukan itu kau hanya menyakiti dirimu sendiri." ucap Kenanga dengan nafas tersengal-sengal.
Siska terus berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri. Berteriak seperti orang kesetanan dengan terus mengulangi kalimat yang sama. Mati. Hentikan.
Tak tau harus bagaimana dan sudah panik, Kenanga akhirnya menelfon Alfin.
****
Alfin sedang berjalan menuju ruangannya setelah dia bertemu dengan Bagas.
"Dokter Alfin." sapa rekan sesama dokternya, Dokter Aji.
"Dokter Aji." sapa kembali Alfin dengan senyum ramahnya.
"Sudah baik-baik saja, Dok?" tanya Dokter Aji. Alfin mengerti maksud pembicaraan itu.
Alfin mengangguk dengan senyum ikhlasnya, "Semuanya sudah kehendak Yang Maha Kuasa."
Dokter Aji menganggukan kepalanya. "Omong-omong, sudah lama aku tidak melihat Letnan Kenanga, bagaimana keadaannya?" tanyanya mengubah arah pembicaraan.
"Ah benar, Dokter Siska juga sudah tidak masuk kerja semenjak peristiwa itu. Dia pasti sangat terguncang."
Alfin menghembuskan nafas berat, "Iya. Saya turut sedih melihatnya."
"Semoga Dokter Siska diberi ketabahan atas musibah yang terjadi." harap Dokter Aji yang diamini Alfin.
"Saya ada jadwal meeting, saya duluan Dokter Alfin." pamit Dokter Aji.
"Silakan, dok. Sepertinya kenaikan jabatanmu sudah didepan mata." guyon Alfin.
"Aku mengamini ucapanmu saja, hahaha." tawa Dokter Aji kemudian pergi.
Dan baru saja Alfin hendak meraih gagang pintu ruangannya, ponsel di snelinya bergetar. Ada panggilan dari istrinya.
Alfin tersenyum, dia menempelkan ponsel ke telinganya, "Halo?"
***
"Pasien saat ini kondisinya sudah stabil, namun jangan banyak diajak bicara dulu ya. Hasil kejiwaannya sudah keluar, pasien menderita Dissociative Identity Disorder (DID)"
Kenanga dan Alfin duduk di ruang tunggu rumah sakit tempat mereka bekerja. Mereka hanya terus duduk senyap, tak ada pembicaraan di antara keduanya. Semuanya luruh dalam lamunan.
"Anggi," Alfin yang lebih dulu memulai pembicaraan. Kenanga menoleh.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan? Siska saat ini mungkin saja ditetapkan jadi salah satu tersangka setelah rekaman itu diketahui polisi tapi di sisi lain, Siska mengalami gangguan kejiwaan selama ini."
Kenanga tertunduk lesu. Dia mengacak rambutnya, merasa seperti kecolongan karena tidak tahu bahwa Siska sedang sakit.
"Kenanga?" panggil Alfin lembut. Dia tahu istrinya sedang pusing mencari jalan keluar terbaik dari masalah ini. Dan dia juga tak bisa terlalu ikut campur, karena bagaimanapun yang lebih mengerti Siska dan lebih berhak memutuskan adalah Kenanga. Dirinya akan terus menemani saja.
"Kita rawat dia dulu, sampai keadaannya cukup sembuh. Kita juga tidak bisa meminta keterangan apapun darinya karena yang melakukan itu semua adalah kepribadiannya yang lain, Siska pasti tidak sadar ketika fase itu terjadi." jelas Kenanga.
Alfin mengangguk mengerti. "Baiklah, aku setuju denganmu."
***
Satu bulan kemudian
Sudah satu bulan sejak Siska dirawat, keadannya sudah mulai membaik. Kenanga selalu menengoknya setiap hari, kadang ditemani Alfin, kadang sendirian.
Seperti saat kini, Kenanga sedang memerhatikan Siska yang sedang duduk di kursi ruang santai sambil menulis sesuatu. Kenanga tidak tahu apa yang tengah ditulis oleh sahabatnya itu karena jaraknya duduk memang cukup jauh. Hingga kemudian, Siska melambaikan tangan, memberi petunjuk agar Kenanga menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Kenanga. Rasanya ini adalah percakapan pertama mereka karena acap kali ditengok, Siska selalu diam, tak pernah mau bicara.
"Kau ingin tahu siapa dalang sebenarnya dari Miracle bukan?" tanya Siska dengan nada dingin dan datar.
Kenanga mengerti, ini mungkin kepribadian Siska yang lainnya. Dokter memang mengatakan bahwa kepribadian Siska yang lain sudah jarang muncul. Namun entah kenapa hari ini dia datang.
"Siapa kau?" tanya Kenanga datar.
"Eliona." jawab kepribadian Siska lain itu.
"Kau adalah doctor itu? Kau yang mengambil organ tubuh dari korban Miracle itu? Kau yang membuat banyak obat berbahaya?" tanya Kenanga.
"Tentu saja itu aku. Tidak mungkin wanita lemah ini yang melakukannya." jawab Eliona merendahkan Siska.
Kenanga mengetatkan rahangnya, merasa sudah menemukan jawaban yang sebenarnya.
"Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau bisa hadir di tubuh Siska?"
"Aku hadir karena ketidakberdayaannya melawan laki-laki jahat itu. Antonio sangat kejam tapi dia jugalah yang menciptakan diriku. Aku melindungi Siska dari laki-laki jahat itu. Biar aku yang menanggung semuanya asal Siska tetap aman. Aku diciptakan tanpa hati dan nurani jadi aku tidak akan merasa berdosa sedikitpun berbed dengan Siska." jawab Eliona.
Kenanga terdiam. Dia sudah bisa mengerti semuanya. Jadi Eliona memang seorang psikopat tanpa hati yang diciptakan dari penyiksaan Antonio. Namun Eliona melakukan hal kotor itu semua demi melindungi Siska.
"Saat Siska melakukan kegiatan relawan itu, sebenarnya hanya alibimu saja?"
Eliona mengangguk. "Awalnya itu memang kegiatan relawan tapi aku pergi di hari ketiga, aku diperintahkan Satya untuk mempersiapkan acar puncak itu yang kau gagalkan."
"Kemudian soal pembunuhan anjing bernama Minky itu?" tanya Kenanga lagi.
"Anjing?" Eliona mengerutkan alisnya, "Aku tidak membunuh anjing. Kapan aku melakukannya?" tanyanya bingung.
Kenanga bingung, bukankah anjing milik Siska dan Satya mati terbunuh? Kenanga fikir tidak mungkin Siska yang melakukannya, pastilah Eliona. Tapi melihat Eliona bingung seperti ini, menimbulkan tanda tanya besar pada Kenanga.
"Kalau bukan kau, lantas siapa yang membunuh anjing itu?"
Eliona terdiam sejenak, "Bisa jadi itu Siska sendiri." tandasnya tersenyum ganjil.
__ADS_1
...****...
Aku minta maaf temen temen, karena menghilang 😭 sejujurnya beberapa bulan saat aku menghilang dari NT adalah waktu terberat aku, aku ga bisa mengatakan alasannya tapi karena waktu terberat itu aku jadi ga fokus dalam menulis. Aku fikir aku harus menyelesaikan itu semua dan kembali ke NT dalam keadaan baik-baik saja. Jadi aku minta maaf semuanya, aku usahakan akan kembali sesering mungkin. Bagi temen temen yang lupa jalan ceritanya, bisa kilas balik di episode sebelumnya. Aku minta maaf🙏🙏🥺