The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 29. Tanpamu, Aku Baik-Baik Saja


__ADS_3

Setelah terjebak selama dua hari karena cuaca yang terus tak mendukung, akhirnya Siska berhasil mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma. Perempuan itu naik taksi sendirian ke apartementnya. Sengaja, untuk memberi pelajaran pada Kenanga.


Siska baru sampai di gedung apartementnya. Tapi ketika dia hendak naik lift, dia melihat rekan-rekan tim Kenanga datang.


"Dokter Siska? Lama tidak bertemu!" sapa Panji.


Siska tersenyum, "Hai semuanya." sapa baliknya sembari melambaikan tangannya.


"Bukannya kau akan disana selama 3 bulan? Kurasa kau pulang sedikit cepat." ujar Bagas.


Siska berkacak pinggang, "Memangnya kenapa kalau aku pulang lebih cepat? Aku sudah mengabdi selama dua bulan disana. Kebetulan ada kursi kosong untuk kepulangan kloter pertama jadinya aku yang menempatinya." jelasnya.


Bagas mengangguk mengerti.


"Tapi, kenapa kalian semua kesini? Mau ketemu Kenanga?" tanya Siska.


"Letnan sakit, kau tidak tahu?" tanya balik Riko.


"Hah? Dia sakit?" Riko mengangguk.


Siska terdiam sesaat lalu baru tersadar. "Ah, ini sudah mulai masuk musim kemarau. Kenanga memang selalu jatuh sakit di awal-awal."


"Makanya kami akan menjenguknya. Dia tidak masuk kerja hari ini. Ditambah lagi Danjen dan istri sedang berlibur. Kami juga tahunya kau tidak akan pulang hari ini, takutnya Kenanga tidak makan dengan baik. Kondisinya akan parah." jelas Angga.


Siska mengangguk mengerti, "Ya sudah deh. Yuk bareng saja ke atas." ucapnya.


Siska pun masuk ke dalam lift, diikuti semua anggota Tim Rajawali.


Ting


Lift berdentang. Mereka pun keluar dari lift. Mereka berjalan beriringan menuju unit Kenanga. Siska yang duluan menggapai pintu. Dia menekan sejumlah kode sandi.


"Saya lupa kalau kalian berbagi rumah yang sama." celetuk Riko.


Siska tersenyum kecil, "Secara harfiah, rumah ini adalah rumah Kenanga. Aku hanya menumpang tidur dan makan saja." ujarnya sembari mendorong gagang pintu.


Tim Rajawali hendak masuk tapi jalan mereka dihalangi Siska.


"Ada apa?" tanya Bagas.


Siska tersenyum manis, "Hehe, ini adalah rumah wanita lajang. Kalau kalian langsung masuk, takutnya Kenanga sedang dalam sitauasi yang tidak bisa dijelaskan. Jadi, biarkan aku yang mengeceknya dulu baru setelah kuizinkan kalian boleh masuk, oke?"


Mereka pun mengangguk.


"Terima kasih atas kesediaan kalian." ucap Siska. Perempuan itu membungkuk pelan lalu berbalik masuk ke dalam apartement.


"KENANGA!" teriaknya dari pintu. Siska berjalan masuk ketika tidak mendengar sahutan dari Kenanga.


Tapi begitu masuk ke ruang tamu, Siska langsung terkejut begitu dia menengok ke arah dapur.


"OH MY GOOD, KENANGA!" pekiknya syok.


****


Bruk


Alfin berhasil menangkap Kenanga tepat waktu. Tapi Alfin juga turut terjatuh karena licin dan akhirnya tubuh mereka saling menimpa dengan Kenanga berada di atasnya. Alfin merelakan punggungnya terhantam lantai.


Kenanga dan Alfin belum sadar dengan posisi mereka saat ini. Mereka saling bertatapan dengan jarak sedekat ini. Keduanya membeku.


"KENANGA!" teriakan seseorang mengagetkan mereka berdua. Hingga--


Cup


Kenanga tak sengaja mencium bibir Alfin yang berada di bawahnya. Mata perempuan itu terbelalak.


"OH MY GOOD, KENANGA!" pekik Siska syok.


Mata Kenanga terbuka lebar ketika mendapati Siska ada disana berdiri begitu terkejut. Kenanga buru-buru bangkit.


"Siska!" seru Kenanga panik.


Kenanga hendak membuka mulut lagi namun tangan Siska terangkat menyuruh Kenanga berhenti.


Perempuan itu tanpa kata berlari menuju pintu. Terdengar, pintu ditutup keras.


"Bangun." ujar Kenanga menyenggol kaki Alfin yang masih berbaring di lantai.


Alfin berusaha bangun meski sambil meringis. Dia memegang pinggangnya yang nyeri.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Kenanga.


Alfin mengangguk, "Tidak apa-apa. Hanya sedikit nyeri saja." ujar Alfin.


Sedangkan di sisi lain, Siska kembali menghampiri Tim Rajawali.


"Maaf ya semuanya, tapi ada sesuatu hal yang mungkin akan membutuhkan waktu untuk kalian menunggu dulu." ujar Siska.


"Ada apa? Kenanga baik-baik saja kan? Kenapa kau berteriak tadi?" tanya Bagas beruntun.


Siska meringis, "Um..dia..baik-baik saja. Hanya saja Kenanga sedang dalam kondisi yang sulit dijelaskan. Jadi tunggu sebentar dulu ya. Mau ngopi-ngopi dibawah juga tidak masalah. Atau bagaimana kalau menjenguknya dibatalkan saja?"


"Hah?"


Siska mengusap tengkuknya, "Karena sepertinya Kenanga sedang dalam kondisi tidak bisa ditemui saat ini."


"Kenapa? Sakitnya tambah parah?" serbu Panji cemas.


"Ti--dak juga. Hanya...ah, intinya, nanti saja menjenguknya ya." ujar Siska hendak menutup pintu.


"Eh tunggu." cegah Bagas. Siska menghentikan tindakannya.


"Kau yakin Kenanga sudah baik-baik saja? Kami ingin menjenguknya."


"Kondisi Kenanga sudah baik-baik saja. Tapi dia sungguh tidak bisa ditemui sekarang. Kondisinya sedang berantakan."


"Maksudmu berantakan, dia belum mandi? Tidak apa-apa. Aku pernah melihat yang lebih parah dari itu." tukas Bagas.


"Bukan itu. Masih mending kalau seperti itu."


"Lalu apa?"


Siska terdiam sesaat, "Dia menumpahkan sekarung tepung di dapur dan tergelincir. Jadi aku memintanya beristirahat dulu." Siska setengha berbohong. Jangankan menyuruh Kenanga beristirahat, dia justru akan menginterogasinya habis-habisan setelah ini.


"Apa? Tergelincir?!" seru Bagas.

__ADS_1


"Tapi dia tidak apa-apa. Sekarang dia sedang beristirahat. Jangan ganggu dia lebih dulu, ya?" pinta Siska.


Cepatlah setuju. Aku benar-benar ingin bertanya habis-habisan pada Kenanga batin Siska.


"Kapten, kita pulang saja. Seperti kata Siska, Letnan sedang istirahat. Kita tidak bisa mengganggunya saat ini." ucap Riko.


"Benar kapten, kita pulang saja." timpal Angga.


Bagas terdiam, dia lalu mendesah pelan.


"Ya sudah." akhirnya lelaki itu mengiyakan. "Kita pulang saja. Tapi setelah Kenanga bangun, katakan kalau dia masih sakit, izin lagi saja besok. Jangan dipaksakan. Nanti kami akan menjenguknya lagi."


Siska mengangguk mantap, "Kau tenang saja."


"Kami pergi. Sampai jumpa." pamit Bagas langsung pergi dengan bahu lunglai.


"Bye." Siska melambaikan tangannya. Akhirnya satu persatu anggota Tim Rajawali pergi.


Setelah memastikan bahwa mereka sudah masuk lift, Siska buru-buru kembali masuk ke rumah dan menutup pintunya.


***


Kenanga dan Alfin duduk berdampingan di sofa. Sedangkan Siska berdiri menatap mereka berdua. Siska menggelengkan kepalanya kala melihat penampilan kacau keduanya. Rambut, wajah, baju hingga sekujur tubuh mereka penuh dengan noda tepung.


"Katakan, kenapa ada sekarung tepung di lantai? Kalian sedang main perang tepung?" tanya Siska.


"Aku yang menumpahkannya." jawab Kenanga datar.


"Kenapa?" tanya Siska.


"Membuat kue."


"Hah? Membuat kue harus sampai sekacau ini? Kenanga, kalau dihitung-hitung, dengan tepung yang kau tumpahkan itu kau bisa membuat belasan loyang kue!" omel Siska.


"Ada beberapa kesalahan."


"Kesalahan apa?"


Kenanga berdecak kesal, "Bisakah kau berhenti menanyakan hal itu? Penasaran sekali."


Siska menganga tak percaya. Dia berdeham singkat, "Kita ganti topiknya. Kalian tadi sedang apa? Dan kau siapa?" Siska menunjuk Alfin dengan selidikan tajam.


"Saya Alfin." jawab Alfin.


"Alfin? Sepertinya aku pernah mendengarnya."


"Hah?"


"Namamu terdengar familiar." tandas Siska berfikir. "Ah, kau temannya Satya kan? Benarkan?!" serunya.


Alfin menganggukan kepala.


"Pantas aku merasa pernah mendengarnya, ternyata temannya Satya. Jadi, kalian sedang apa tadi?" tanyanya kembali pada fokus pembicaraan.


"Siska kau ini terus berputar-putar menanyakan hal yang tak penting." celetuk Kenanga.


Siska mendelik pada Kenanga, tapi Kenanga hanya acuh tak acuh. "Kalau begitu sekarang katakan, apa yang terjadi tadi?"


"Aku tergelincir dan Alfin menangkapku lalu kami terjatuh bersamaan. Terus kau datang dan sudah." jelas Kenanga malas.


"Memangnya kau fikir apalagi?"


Siska terdiam lalu menganggukan kepalanya.


Sedangkan Alfin diam-diam melirik Kenanga yang terus menatap lurus-lurus. Perempuan itu nampak tidak terpengaruh apa-apa soal ciumannya tadi atau dia mungkin pura-pura saja?


Sedangkan Kenanga diam-diam menelan ludahnya. Ingatan soal ciuman itu menghantui fikirannya. Oleh sebab itu dia tidak berani menoleh pada Alfin. Takut wajahnya akan meledak karena rasa gugup.


"Tapi, aku masih perlu mengiterogasi kalian soal pernikahan kalian. Kenapa kalian bisa tiba-tiba menikah? Benar karena dijodohkan?"


Kenanga dan Alfin saling terdiam, tak ada yang menjawab pertanyaan Siska. Siska berdeham.


"Jawab aku. Aku bukan patung, helo!"


"Jadi kau pulang karena hal ini?" balas Kenanga.


"Hah? Apa maksudmu?" tanya Siska bingung.


"Tidak ada." tukas Kenanga acuh.


"Kau benar-benar aneh." komentar Siska.


Drrt


Ponsel Kenanga kebetulan bergetar. Dia mengecek notifikasi pesan yang masuk dan langsung tertegun.


"Ada apa?" tanya Siska menyadari sikap Kenanga yang tak biasa. Alfin juga turut menatapnya.


Kenanga menaruh ponselnya kembali ke saku celananya, "Tidak ada apa-apa. Aku ada urusan. Aku pergi dulu." ucapnya tiba-tiba.


Kenanga bergegas bangkit lalu berjalan ke kamarnya. Siska dan Alfin saling berpandangan. Mereka mengendikkan bahu pertanda tidak tahu yang terjadi pada Kenanga.


Tak lama, Kenanga keluar dari kamar. Dia berganti baju dan wajahnya terlihat basah oleh air. Raut wanita itu kembali datar.


"Kau mau kemana? Siapa yang mengirimkan pesan?" tanya Siska penasaran.


Kenanga yang sedang memakai sepatu seketika menoleh, "Ayahku." jawabnya singkat. Sedetik kemudian, dia selesai memakai sepatunya.


"Aku pergi. Kalau kau masih penasaran, tanyakan saja pada Alfin." ujarnya lalu keluar rumah.


Sepeninggal Kenanga, Alfin hendak pergi diam-diam. Tapi Siska menatapnya tanpa suara.


"Kau." tunjuknya pada Alfin, "Diam disini dulu."


***


Kenanga berjalan menghampiri meja dimana duduk seorang pria paruh baya yang masih nampak bugar dan gagah. Dia Rafa, papanya.


Tanpa sapaan apapun, Kenanga langsung duduk didepannya.


"Kamu mau pesan minum dulu?" tanya Rafa.


"Tidak perlu. Langsung saja ke intinya." ujar Kenanga datar.


Rafa mengangguk. "Bagaimana persiapan pernikahanmu?" tanyanya memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Tidak bagaimana-bagaimana." jawab Kenanga.


"Loh, ini pernikahanmu. Dan tinggal satu minggu. Apa yang kamu sebut tidak bagaimana-bagaimana?"


"Semuanya diurus oleh Tante Meilani. Aku hanya tahu beres."


"Bagaimana bisa pernikahanmu disiapkan oleh orang lain?"


"Dia tanteku, bukan orang lain." tukas Kenanga.


"Lalu soal calon suamimu, kamu sudah yakin padanya?" tanya Rafa lagi.


"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku?" tuntut Kenanga. Lelah berbasa-basi.


"Inilah yang papa ingin katakan padamu. Papa ingin mendengar soal persiapan pernikahanmu." jelas Rafa.


"Kau tidak perlu tahu karena yang menikah adalah aku." tukas Kenanga.


"Baiklah, kamu benar." ujar Rafa mengalah. "Papa akan ke luar negeri saat hari-h tapi sebelum itu papa akan tetap datang ke pernikahanmu."


"Tidak perlu datang." tandas Kenanga.


"Bagaimana papa tidak perlu datang sedangkan yang akan menikahkanmu adalah papa?"


Kenanga mengangguk-anggukan kepala, "Ah benar, kau belum mati."


"Kenanga!" tegur Rafa.


"Setelah menikahkanku, kau bisa pergi." potong Kenanga.


Rafa mendesah pelan. Dia berusaha menenangkan perasaannya yang sedih bercampur kecewa itu.


"Kenapa kamu seperti ini? Apa sebenci itu kamu pada papa hingga kamu selalu menyuruh papa pergi? Apa karena mamamu?" tanya Rafa.


Kenanga menatap tajam Rafa, "Jangan pernah sebut nama mama oleh mulutmu." tekan Kenanga.


"Kenanga, apakah itu salah papa, mamamu meninggal dan papa menikah lagi? Apakah salah papa memberikan ibu baru untukmu? Papa hanya tidak ingin kamu kesepian dan kehilangan kasih sayang seorang ibu."


"Persetan itu semua. Semua yang kau katakan itu bohong. Demi aku? Cih, rasanya aku sangat muak." ujar Kenanga menahan emosinya yang menggelegak di dadanya.


"Kenanga--"


"Kau selalu mengatakan demi aku, apa papa salah? , papa melakukan ini untukmu. Nyatanya, tidak pernah ada hal-hal yang kau katakan itu padaku. Aku bukan hanya kehilangan ibu, tapi juga ayah. Kau mungkin masih disini, tapi hatimu di tempat lain. Di hatimu, sudah tak ada mama lagi jadi berhentilah untuk bersikap kamu adalah korban dan berhak melakukan tindakan ini. Kalau tidak, maka kau adalah orang yang paling munafik."


"Kenanga, kenapa bisa kamu mengatakan hal sekejam itu pada papamu sendiri? Apa kamu juga jamin, kalau calon suamimu tidak akan seperti papa?"


Kenanga tertawa tanpa suara, "Dia bukan dirimu. Tidak ada yang lebih buruk melampuimu."


"Ingat, kamu adalah Abdi Negara. Tubuhmu dan jiwamu adalah milik negara. Kau akan meninggalkannya dalam waktu tidak ditentukan. Kau tidak akan bisa bersama dengannya semaumu. Apa kau yakin dia tidak akan keberatan? Kau yakin dia akan menunggumu pulang tanpa berkhianat padamu?"


Kenanga terdiam tak percaya dengan ucapan yang terlontar dari mulut Rafa.


"Kau berharap dia sama sepertimu? Kau berharap pernikahanku juga hancur?"


Rafa seketika panik, dia menggelengkan kepalanya keras, "Bukan Kenanga, bukan seperti itu. Papa--"


"Aku selalu yakin bahwa ada alasan kenapa mama tetap mempertahankan lelaki sepertimu, mungkin karena hatinya batu atau dia adalah pahlawan super yang punya kesabaran lebih. Dan kini aku makin yakin dengan pendapatku. Tidakkah kau merasa sependapat?"


"Pekerjaannya sangat padat tapi dia tetap bela-bela memberikan waktu untuk kebersamaan kalian. Setiap selesai bertugas, mama selalu berlari menghampirimu untuk menuntaskan rasa rindunya. Dia rela berjalan lima kilo di tengah malam hanya untuk memberikan kejutan ulang tahunmu. Tiap kali kalian bertengkar, mama akan menangis dan berusaha meminta maaf padamu padaha itu bukan kesalahannya. Menurutmu, tidakkah semua tindakan ini sangat tidak masuk akal? Kenapa dia mau menyia-nyiakan waktunya hanya untukmu?"


Rafa terdiam. Dia terkejut mendengar cerita masa lalunya mengalir dari mulut Kenanga.


"Terkejut? Aku juga. Aku tahu dari Tante Meilani." ucap Kenanga menjawab pertanyaan di kepala Rafa.


"Kenanga, papa minta maaf." tandas Rafa menyesal.


"Stop, jangan meminta maaf padaku. Bukankah sudah kubilang, kalau maaf bisa mengobati luka maka aku sudah pulih dari dulu." tukas Kenanga.


"Kenanga, papa--"


Drrt


Kenanga mengangkat telapak tangannya memotong ucapan apapun dari Rafa. Sebaliknya, perempuan itu mengambil ponselnya yang bergetar. Ada pesan masuk dari Alfin.


Alfin


Kak Anggi, aku sudah menjelaskan pada Siska tentang persoalan kita. Dia sudah mengerti. Jangan khawatir pulang-pulang akan kena tonjok dia. Eh, tapi kamu jauh lebih jago. Hehe. Intinya hati-hati pulang.


Kenanga tertegun membacanya. Dia tak membalas pesan Alfin malah mengembalikan ponselnya ke dalam saku.


"Dengar baik-baik." ucap Kenanga, dia menatap tajam Rafa. "Setelah pernikahanku, kumohon jangan pernah datang menemuiku lagi. Aku ingin menjalani kehidupan baruku dengan tenang."


"Tidak bisa seperti itu, Kenanga. Papa dan kamu adalah keluarga. Kamu tidak bisa hidup tanpa papa." sanggah Rafa.


"Kamu salah, aku bisa hidup tanpamu. Tanpamu, aku baik-baik saja." tandas Kenanga langsung beranjak dari duduknya da pergi begitu saja.


"Kenanga!" panggil Rafa.


Tapi Kenanga pura-pura tak mendengarnya. Sembari berjalan pergi, dia sudah berjanji untuk tak lagi menoleh ke belakang. Perempuan itu diam-diam menghapus air matanya.


Aku akan baik-baik saja. batinnya.


***


Alfin baru saja pulang dari tempat Kenanga. Lelaki itu juga sudah selesai mandi. Kini, hanya tinggal menunggu waktu Maghrib saja. Dan sembari menunggu, Alfin merebahkan diri di sofa.


Tok tok


Suara ketukan pintu terdengar. Alfin menoleh ke arah pintu lalu bangkit berdiri. Dia melihat di interkom, ada Kenanga yang berdiri di depan pintunya. Alfin pun langsung membuka pintunya.


"Kak Anggi?"


Alfin cukup terkejut melihat Kenanga berdiri di depan pintu rumahnya.


"Ada apa Kak? Oh ya kakak sudah selesai bertemu dengan ayah kakak?" tanya Alfin.


"Alfin." panggil Kenanga. Ekspresinya sangat serius.


"Iya kak?" sahut Alfin.


"Kau tidak akan seperti papaku kan? Kau akan menungguku pulang tiap bertugas kan? Tidak akan membiarkanku berlari lima kilo di tengah malam hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kan? Tidak akan menyudutkanku tiap kali kita ada masalah kan? Kita akan saling meminta maaf tiap ada salah kan? Kita--"Kenanga berhenti sebentar, dia menatap lurus-lurus mata Alfin, "Akan baik-baik saja, kan?"


Alfin terdiam mendengar pertanyaan beruntun dari Kenanga.


Alfin lalu mulai menjawab, "Saya--"

__ADS_1


__ADS_2