The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 44. Hadiah Perkenalan


__ADS_3

Paginya Alfin bangun dengan perasaan lebih tenang dan tubuh segar. Ini berkat tidurnya yang nyenyak semalam. Alfin benar-benar merindukan sensasi seperti ini. Sepertinya dia harus berterima kasih pada Kenanga nanti.


Setelah mandi dan bersiap untuk bekerja, Alfin keluar dari kamarnya. Dia mencari keberadaan Kenanga yang tak nampak batang hidungnya. Hingga akhirnya Alfin menemukan Kenanga sedang berkutat di dapur.


"Selamat pagi." sapa Alfin.


"Pagi." balas Kenanga singkat. Dia masih sibuk melakukan sesuatu.


"Kakak masak?" tanya Alfin ragu. Pasalnya dia cukup tak mempercayai penglihatannya kala menemukan Kenanga tengah memakai celemek.


"Iya." ujar Kenanga. Dia lalu berjalan ke meja makan sambil membawa dua buah piring beserta sendok dan garpu.


"Makanlah." ucap Kenanga setelah menata semua makanan yang dia masak di meja.


Alfin menghampiri meja makan, tatapannya penuh kecurigaan.


"Kakak masak semua ini?" tanya Alfin lagi.


Kenanga mengangguk, "Ada omelet, nasi goreng dan capcay. Kamu suka yang mana?"


Alfin nampak ragu karena terakhir kali dia melihat Kenanga memasak adalah saat membantunya. Itupun hanya setengah jalan karena Kenanga langsung terciprat minyak saat menggoreng ikan.


"Kakak kan tidak bisa memasak." cetus Alfin.


Kenanga berdecak kesal, "Itu dulu sekarang saya sudah mulai belajar."


"Kenapa?"


"Karena ada satu mulut lain yang harus saya nafkahi makanannya." balas Kenanga ketus.


"Oh." sahut Alfin. Itu dirinya.


"Makanlah, saya ingin tahu apa penilaianmu." titah Kenanga. Perempuan itu duduk di meja makan.


Alfin pun ikut duduk setelah itu mulai mencicipi satu persatu. Dimulai dari nasi goreng.


Alfin hanya terdiam ketika sesuap nasi goreng itu masuk ke mulutnya.


"Bagaimana?" tanya Kenanga.


"Lumayan." bohong Alfin padahal aslinya inu sangat berminyak. Tapi dia tak ingin melukai perasaan Kenanga.


Kenanga menahan senyum girangnya, "Coba yang lainnya." ucapnya terlihat antusias.


Alfin langsung menyendok sepotong omelet ke mulutnya. Dia hanya mengunyah beberapa kali dan langsung menelannya. Alfin berusaha menjaga ekspresinya.


"Bagaimana?" tanya Kenanga.


Asin sekali! jawab Alfin dalam hati. "Lumayan enak." bohongnya.


Kenanga makin tak bisa menahan senyumannya, "Coba capcaynya."


Alfin meminum air putih lebih dulu untuk membersihkan mulut dan kerongkongannya yang diserbu rasa asin yang amat. Setelah dirasa bersih, Alfin mencicipi capcaynya.


Kini Alfin benar-benar tak kuat pura-pura tenang. Alfin menutup matanya sekali. Ini manis sekali. Berapa sendok gula yang dimasukkan Kenanga ke dalam tumis capcay ini?


"Bagaimana?"


"Lumayan." jawab Alfin dengan susah payah.


"Serius? Dari tadi kau hanya mengatakan lumayan saja." kata Kenanga tak percaya.


"Memang lumayan." setidaknya masih bisa dimakan meski harus menguatkan mental dulu lanjutnya dalam hati.


Kenanga menyipit curiga, ekspresi Alfin tampak palsu dimatanya.


"Saya tidak percaya." tandas Kenanga langsung mencicipi nasi goreng.


Alfin diam menunggu reaksi Kenanga.


"Uhuk-uhuk." Kenanga berbatuk pelan ketika nasi menyentuh lidahnya, "Berminyak sekali." ujarnya mengernyit.


Kenanga lalu mencicipi yang lainnya.


"Asin!" serunya hampir muntah. Dia mengeluarkan omelet dari mulunya dengan tisu.


"Kemanisan!" serunya lagi ketika mencicipi capcay. Kenanga buru-buru meminum air untuk menetralkan kejutan rasa yang berasal dari makanannya.


"Kenapa kau tidak jujur?" sambar Kenanga.


"Ini masih bisa dimakan." jawab Alfin.


"Apanya yang tidak bisa dimakan?" sentak Kenanga.


"Setidaknya rasanya masih bisa didefinisikan." balas Alfin meringis.


Kenanga mendesah kasar, "Buang saja. Jangan dimakan." pungkasnya hendak mengambil makanan satu persatu.


"Eh, jangan!" cegah Alfin.


"Kenapa? Ini sudah tidak bisa dimakan lagi!"


"Masih bisa. Lagipula ini masakan pertamamu untuk saya, saya harus menghargainya." jelas Alfin.


"Dengan memakannya? Kau gila. Saya yang memasaknya bahkan tidak ingin memakannya." tukas Kenanga.


"Yang terpenting ketulusannya." tandas Alfin. Dia kembali duduk lalu menyendokkan nasi goreng ke piringnya dan lauk pauk lainnya.


"Alfin, saya menghargai kebaikanmu tapi ini sudah berlebihan. Makanan ini tidak bisa dimakan kecuali kamu ingin diare." ujar Kenanga.


"Kalau begitu biarlah diare." balas Alfin enteng. Dia menyuapkan nasi goreng dan omelet ke mulutnya. Kejutan rasa menghantamnya tapi Alfin berusaha menjaga eskpresinya.


Kenanga terdiam melihat sikap Alfin. Dia mungkin cukup tersentuh karena Alfin mau menghargai usahanya. Kenanga diam-diam duduk kembali.


"Kalau gitu, ayo diare bersama saja." ucapnya.

__ADS_1


Alfin tersenyum kecil, dia lalu mengangguk.


"Obatnya sudah siap." kekehnya.


Kenanga tersenyum tipis.


***


Kenanga tiba di markasnya tapi dia langsung terkejut ketika semua rekan-rekannya tampak mengelilingi seseorang.


"Ada apa?" tanya Kenanga menginterupsi.


"Eh, Letnan. Selamat pagi." sapa Angga.


"Pagi. Kalian sedang apa?"


"Lihat, siapa yang datang." Bagas tiba-tiba mendorong seseorang ke depan Kenanga.


Kenanga langsung membulatkan matanya.


"Bayu?" seru Kenanga.


Laki-laki yang bernama Bayu itu langsung menyengir, "Hai, Kak Kenanga." sapanya.


"Sedang apa dia disini?" tanya Kenanga.


"Semua ini salahkan Kak Bagas! Dia tiba-tiba mengejarku dan langsung menyeretku ke markas." adu Bayu cepat.


"Itu karena kau berandalan! Kenanga, tahu dimana saya menemukan anak ini?" Kenanga menggeleng.


"Di gang sempit yang pernah menjadi bekas kasino!"


"Bayu, sedang apa kamu disana?" tanya Kenanga.


"Itu...aku cuma main-main saja." ringisnya.


Kenanga langsung menjewer telinga Bayu, "Kau benar-benar berandalan ya. Pantas kakakmu menyeretmu pulang." omel Kenanga.


"Aw, sakit! Sakit, kak!" seru Bayu mengaduh keras. Kenanga melepaskan jewerannya.


"Jadi apa yang akan kapten lakukan pada anak nakal ini?" tanya Panji.


"Saya akan memasukkannya ke akademi militer." jawab Bagas.


Bayu langsung melotot kaget, "Tidak mau!" pekiknya.


"Kau tidak punya hak untuk protes." tukas Bagas.


"Kak, usiaku sudah sembilan belas tahun, aku punya hak menyuarakan pendapat pribadiku sendiri! Tidak-aku tidak mau. Aku mau pulang." tandas Bayu hendak berjalan pergi.


Tapi Kenanga menarik baju belakangnya hingga Bayu termundur ke belakang.


"Saya setuju, Kapten."


"Kak Kenanga, aku sama sekali tidak ingin menjadi tentara. Terfikirpun tidak!"


"Apalagi polisi. Aku tidak mau!" tolak Bayu.


"Lalu kau ingin jadi apa?" tanya Dani.


Bayu tersenyum manis dan itu membuat keempat lelaki dewasa yang ada disana merinding.


"Senyummu aneh." komentar Panji.


"Kak Dani tanya aku ingin menjadi apa. Jawabanku jelas, ingin menikahi Kak Kenanga." ujar Bayu menatap Kenanga penuh cinta.


Panji langsung menoyor kepala Bayu, "Dasar anak SMA!"


"Aku sudah lulus tahu! Secara hukum aku juga sudah bisa menikah!"


Kenanga hanya menggelengkan kepalanya lalu duduk di tempatnya.


"Jadi Kak Kenanga, mau menikah denganku?" tanya Bayu menghampiri Kenanga.


Kenanga tersenyum, "Tidak." rautnya seketika berubah datar.


Bayu mencebik, "Kenapa?"


"Karena kau masih dibawah umur. Ayo kuantarkan ke tempat barumu." sela Bagas lalu menarik tangan Bayu menyeretnya keluar ruangan.


"Eh-eh lepaskan kak! Aku tidak mau!" pekik Bayu panik.


Tapi Bagas tetap menyeret tangan adiknya itu hingga mereka menghilang dari pandangan.


Riko geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah ajaib Bayu.


"Kapten sangat sabar memiliki adik sepertinya." komentarnya.


Yang lain langsung mengangguk setuju.


***


Kenanga pulang bersamaan dengan Alfin yang sama-sama baru pulang bekerja. Mereka naik lift bersama dan masuk beriringan ke rumah.


"Bagaimana kak? diare?" canda Alfin ketika mereka masuk rumah.


Kenanga menggeleng, "Kau sendiri?"


"Saya juga tidak."


"Itu artinya makanan saya aman dimakan."


Alfin mengangguk setuju.


Drrt

__ADS_1


Ponsel Kenanga bergetar. Rupanya ajudan om nya menelfon.


"Halo."


"Letnan, kami kecolongan!" panik ajudan Akra disana.


"Apa maksudmu?" tanya Kenanga bingung.


"Keluarga Letkol Rizal dibunuh."


Kenanga membulatkan matanya, "Apa?!"


***


Kenanga langsung menuju rumah kediaman Rizal dengan Alfin. Sebenarnya Kenanga ingin sendiri tapi Alfin merasa Kenanga tidak akan bisa mengemudi dengan baik karena kalut.


Begitu sampai di rumah Rizal, garis kuning polisi langsung tertangkap retina Kenanga.


"Om Dimas!" panggil Kenanga.


Seorang lelaki yang tengah berbicara dengan polisi menghampiri Kenanga begitu namanya dipanggil.


"Kenanga."


"Apa yang terjadi?" tanya Kenanga langsung.


"Saat kami sedang berjaga, ada pengumuman kebakaran. Kami langsung menghampirinya dan ternyata sebuah gajebo dibakar tak jauh darisini. Begitu kami selesai memadamkan apinya, istri dan anak Lekol Rizal sudah tiada." jelas Dimas.


Kenanga dan Alfin sama-sama terkejut.


"Mereka dibunuh?"


Dimas mengangguk, "Sepertinya kebakaran itu hanyalah taktik pengalihan saja. Karena begitu sampai, kami menemukan mereka terbujur kaku dengan leher istri letkol Rizal yang tersayat dan bekas tembakan di pelipis anaknya."


Kenanga terdiam. Sial, lagi-lagi dia kecolongan. Mereka membunuh semua orang tepat dibelakangnya. Kenanga mendesah kasar. Apa yang harus dia katakan pada Rizal nanti?


Tapi tunggu--


Omong-omong soal Rizal, perasaan Kenanga menjadi tidak enak.


"Om Dimas, bantu saya membereskan masalah ini. Saya harus ke suatu tempat."


"Kemana?" tanya Dimas.


"Saya tidak bisa memberitahu, maafkan saya."


Setelah itu Kenanga berlari keluar rumah. Dia langsung masuk ke mobil tapi ketika tengah memakai sabuk pengaman, pintu disampingnya terbuka. Alfin langsung masuk dan duduk dengan tenang di kursi penumpang.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Kenanga.


"Ikut denganmu." jawab Alfin santai.


"Alfin, saya akan ke tempat berbahaya. Dan saya tidak ingin melibatkanmu lagi." tegas Kenanga.


"Kak, pernah dengar soal dua lebih baik dibanding satu? Dan itu yang sedang saya lakukan."


"Alfin, turun!"


"Tidak mau. Ayo jalan!"


"Turun."


"Jalan saja kak, saya ingin membantumu."


"Alfin, saya---"


"Jalan atau kakak saya cium disini?" potong Alfin.


Kenanga kehabisan kata-kata. Dia hanya bisa menunjuk-nunjuk Alfin dengan kesal.


"Jalan." tandas Kenanga.


Alfin tersenyum kemenangan. Mobil pun dijalankan oleh Kenanga.


***


Satu jam perjalanan, Kenanga sampai di sebuah rumah kecil di pinggiran hutan. Itu adalah rumah Rizal yang dia lacak begitu telfon sekali pakainya menghubunginya.


Suasana rumah itu sepi dan gelap. Kenanga dan Alfin langsung masuk ke rumah.


"Kak, ini rumah siapa?" tanya Alfin.


"Ini--" Ucapan Kenanga terhenti tatkala dia melihat genangan darah yang mengalir dari celah pintu depan.


Brak


Kenanga langsung menendang pintu itu hingga terbuka keras. Mereka langsung masuk ke rumah dan alangkah terkejutnya ketika dia melihat Rizal terbaring tak berdaya dengan pelipisnya bolong.


"Sialan!" umpat Kenanga emosi.


Lagi dan lagi, malam ini dia kecolongan dua kali.


"Di-dia..." Alfin berkata gemetaran.


Kenanga tak menjawab, dia sudah terlanjur dikepung emosi dalam hatinya.


Drrt


Sebuah ponsel yang tergeletak di samping jenazah Rizal berbunyi. Kenanga langsung mengambilnya.


"Siapa ini?" tanya Kenanga.


"Bagaimana Letnan hadiah perkenalanku? Semoga kau puas." suara berat bernada mengejek terdengar diseberang telfon.


Kenanga mengepalkan tangannya keras hingga buku-buku tangannya memutih.

__ADS_1


"Siapa kau sebenarnya?" desis Kenanga.


"Jangan buru-buru penasaran. Kita pasti akan bertemu lagi."


__ADS_2