
Tit tit tit
Alfin terbangun dari tidurnya dengan alarm yang dia pasang di jam tangannya. Lelaki itu bangun dan meregangkan seluruh tubuhnya yang kaku. Alfin melirik arlojinya. Pukul empat lewat lima menit pagi.
Alfin beranjak bangun dan berjalan pelan menuju kamar Kenanga. Dia membuka perlahan pintu kamar, berusaha untuk tak menimbulkan suara. Alfin memastikan apakah Kenanga masih tertidur.
Setelah yakin bahwa Kenanga masih tidur, Alfin berjinjit pelan menghampiri ranjang perempuan itu. Setelah tiba di sisi ranjang yang ditiduri Kenanga, Alfin menempelkan tangannya pada dahi Kenanga. Dia menghembuskan nafas lega karena demam Kenanga sudah turun.
Setelah semua itu, Alfin keluar dari kamar dan pergi dari rumah Kenanga.
Ceklek
Terdengar pintu ditutup dan bersamaan dengan itu kedua kelopak Kenanga terbuka.
***
Sesampainya di rumahnya, dia langsung mengecek dapur, tempat dimana pipa itu bocor. Alfin menghela nafas lega untuk kedua kalinya karena pipanya sudah diperbaiki bahkan diganti dengan yang baru. Dia jadi nyaman tinggal di gedung ini karena pelayanan manajemennya yang baik.
Alfin pun memulai rutinas paginya. Mandi, shalat subuh dan mengaji.
Pukul enam pagi, Alfin sudah rapi dengan pakaiannya. Sneli putih kebanggaannya tergantung di lengan kekarnya.
Drrt
Ponsel lelaki itu bergetar, Alfin memeriksanya.
Satya
Ayo sarapan bersama. Kutunggu di lobi.
"Siapa yang ingin makan bersamanya." tukas Alfin menjawabnya dengan gerutuan. Lelaki
itu pada akhirnya hanya mengabaikan pesan Satya.
Ting tong
Bel rumahnya berbunyi. Alfin menghampiri pintu dan membukanya. Alfin terkejut ada Kenanga berdiri di depan pintunya. Wajah perempuan itu polos tanpa riasan meski begitu pipinya sudah mulai berseri kembali.
"Kak Anggi?Apa ada yang bisa dibantu?"
Kenanga berdeham sebentar, "Saya pesan makanan dan kelebihan. Jadi..saya ingin memberikannya padamu. Kau mau?" tanya Kenanga.
Alfin tambah terkejut. Kenanga memberinya sarapan?
"Saya.."
"Saya baru sadar saya tidak bawa makanannya. Sepuluh menit lagi, kamu turunlah sendiri dan bawa makanannya."potong Kenanga.
Tanpa mendengar jawaban dari Alfin, Kenanga langsung bergegas pergi.
Alfin tak sempat mencegahnya. Dia terdiam bingung akibat perilaku Kenanga yang tak biasa itu.
***
Sepuluh menit kemudian, Alfin akhirnya datang ke rumah Kenanga. Dia menekan bel meski tahu kata sandinya.
Kenanga datang membuka pintu. Penampilan perempuan itu masih sama seperti tadi.
"Masuklah." ucap Kenanga.
Alfin mengikuti Kenanga masuk ke ruang tamu.
"Makanannya ada di meja makan."
Alfin lalu ke meja makan sementara Kenanga menuangkan air putih ke dalam dua gelas.
Kenanga membawa dua gelas isi air putih itu dan hendak ke meja makan kala melihat Alfin hendak membawa semangkuk bubur dan roti.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kenanga.
Alfin langsung menghentikan aksinya, dia menatap Kenanga dengan malu.
"Saya mau ambil makanannya. Kata kakak tadi.."
"Makan bersama saja." sela Kenanga.
"Ah?" Alfin terperangah.
"Duduk." titah Kenanga datar.
"Kakak serius?" tanya Alfin.
"Naik turun lift berkali-kali, belum lagi saat makan dan cuci tangan, kamu akan menghabiskan waktu dengan tak berguna. Ini efisien, lagipula waktumu tidak akan terpotong karena rumah saya satu lantai dibawahmu. Jadi perjalananmu ke..." Kenanga menjeda ucapannya. Dia sadar dia telah banyak berbicara hal tak penting."Intinya duduk saja." tandasnya.
Dia pun langsung duduk dan mau tak mau Alfin juga duduk di depannya. Sebelum itu Alfin menaruh sneli dan dompetnya di atas sofa.
Kenanga tanpa kata mulai makan. Alfin pun mulai memakan sarapannya meski tak menutupi rasa canggungnya. Padahal mereka pernah makan bersama tapi rasanya tetap aneh. Alfin seperti merasa seakan ini adalah gambaran kehidupannya di masa depan ketika menikah dengan Kenanga.
"Terima kasih." celetuk Kenanga. Makanannya sudah habis dan dia hendak mengutarakan alasannya melakukan ini.
"Terima kasih?" tanya Alfin bingung.
"Saya tahu kamu datang ke rumah saya dan membersihkan sebagian rumah. Saya juga tahu kamu tertidur disini." ucap Kenanga.
Alfin seketika panik, "Bu-bukan seperti itu, kak. Saya memiliki alasan kenapa saya bisa tidur disini. Semalam--"
"Kamu merawat saya dan ketiduran, benarkan?"
"Itu..."
"Lupakan saja. Intinya saya berterima kasih padamu. Kau merawatku dua kali."
__ADS_1
"Sama-sama. Saya juga tidak sengaja melihat kakak nampak kesakitan. Kakak sepertinya mudah sakit?"
Kenanga mengangguk, "Selamat datang musim panas. Dan biasanya saya rentan di saat-saat seperti ini. Makannya saya dikirimkan makanan sebanyak ini oleh tante saya."
"Jadi ini bukan kakak yang pesan?"
Kenanga menggeleng, "Saya pesan ingin itu tapi yang memesan ke restorannya tante saya."
"Sepertinya Tante Meilani sangat peduli dengan kakak."
"Dia sudah seperti ayah saya." tandas Kenanga.
"Bukan ibu?"
Kenanga menggeleng, "Bukan. Ibu saya tidak tergantikan."
"Ah begitu." sahut Alfin mengangguk-anggukan kepala.
Kenanga melirik makanan Alfin yang sudah habis. Alfin juga jadi melirik makanannya.
"Makanan saya sudah habis. Terima kasih atas sarapannya. Saya kenyang." ucapnya tersenyum.
Kenanga mengangguk.
Drrt
"Permisi sebentar." ucap Alfin kala ponselnya bergetar.
"Halo."
"....."
Alfin membulatkan matanya mendengar ucapan dari lawan bicaranya itu. Dia langsung bangkit.
"Saya kesana sekarang. Tunggu lima menit lagi." tegas Alfin.
"Apa ada masalah?" tanya Kenanga.
"Pasien saya tiba-tiba kolaps. Saya akan ke rumah sakit sekarang." jawab Alfin buru-buru ke ruang tamu mengambil snelinya.
Kenanga mengikuti Alfin yang nampak panik. Lelaki itu hanya mengambil sneli tanpa dipakainya dulu. Setelah itu buru-buru keluar rumah. Kenanga tak sengaja melihat dompet Alfin, dia mengambilnya dan bergegas menyusulnya.
"Terima kasih atas makanannya." ucap Alfin langsung pergi.
Kenanga terdiam di depan pintu. Tangannya memegang dompet Alfin yang tertinggal.
***
Alfin baru saja keluar dari ruang ICU setelah berjuang selama satu jam. Dia berjalan pelan menuju ruangannya.
Sesampainya di ruangannya, dia tertegun mendapati Satya tengah duduk di kursinya sambil menatapnya tanpa raut.
"Apa?" tanya Alfin terduduk lelah di kursi.
"Ada pasien yang kolaps, bahkan sampai dibawa ke ICU. Lagipula untuk apa aku sarapan denganmu? Aku tidak mau dicap sebagai pasangan homo denganmu." balas Alfin pedas.
"Kau ini, sialan! Siapa yang mau homoan denganmu?" tukas Satya kesal. Alfin hanya mengentakkan bahu.
"Jadi kau belum sarapan?" lanjut Satya.
"Sudah." jawab Alfin.
"Kapan?" tanya Satya.
"Tadi."
"Sendirian?"
"Dengan Kenanga." jawab Alfin singkat.
"Kenanga? Kok bisa?" seru Satya terkejut. "Ah atau kalian sedang mempraktekan simulasi bagaimana kehidupan pernikahan kalian nanti, hem?" godanya.
"Jangan asal ngomong." tukas Alfin.
"Bagaimanapun tidak ada yang tahu soal hubungan kalian. Sah-sah saja kalian sarapan bersama toh nanti seterusnya juga begitu."
"Tapi apa kau sudah merencanakan arah hubungan kalian?" tanya Satya serius.
"Tidak. Terfikir bagaimana saat akad nikah saja tidak."
"Yang serius dong, Fin! Kau ini calon kepala rumah tangga, masa kau tidak tahu bagaimana memimpin keluargamu nanti." omel Satya.
Alfin menatap malas Satya, "Jangan bicarakan hal baik dan bertanggung jawab seperti itu padaku. Kau bahkan jauh lebih buruk dariku."
Satya berdecak sebal, "Iya tahu, aku memang tidak suci. Tidak sepertimu yang bersih, kesat seperti tanpa kaca!" Satya merajuk.
"Itu sudah tahu."
"Kau ini..." Satya kehabisan kesabaran. Dia menatap Alfin menantang, "Belikan aku kopi latte di depan dan minta maaf padaku atau kubocorkan rahasiamu." ancamnya.
"Jangan kekanakan."
Satya melotot, dia menunjukkan ponselnya, "Sekali kutekan, maka siap-siap semua orang di rumah sakit akan tahu."
Alfin berdecak kesal, "Hanya latte kan?"
"Dan tiramisu." timpal Satya cepat.
Alfin mendesah pelan, dia meraba saku celananya tapi dompetnya tidak ada. Alfin memeriksa tempat lain.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Dompetku tidak ada." balas Alfin masih sibuk mencari.
"Kau ini ya, hanya mentraktir kopi dan kue masih saja ada alasan." tukas Satya tak percaya.
"Serius, dompetku tidak ada!" seru Alfin kesal.
"Kau serius?" Satya mulai percaya.
Alfin berhenti mencari, dia terdiam memikirkan dimana saja kemungkinan dompetnya tertinggal.
"Kurasa dompetnya ada di rumah Kenanga. Aku ingat aku meletakkan sneliku dan dompetku!" seru Alfin.
"Kenapa kau meletakkan dompetmu disana?" tanya Satya tak habis fikir.
"Aku datang ke rumah Kenanga dengan menjinjing tas dan kebetulan dompetku belum dimasukkan karena aku harus membayar tagihan listrikku."
"Jadi bagaimana? kau bisa datang ke rumahnya lagi?"
Alfin terdiam. "Sejujurnya kurasa tidak tapi harus."akunya.
"Kau pasti merasa aura Kenanga terlalu mendominasi makanya kau merasa tidak nyaman didekatnya, benar kan?" tebak Satya tepat sasaran.
Alfin langsung mengangguk.
"Kau akan hidup dengannya dalam waktu lama bahkan mungkin selamanya. Kau akan bagaimana nanti?"
"Entahlah, mungkin setelahnya akan biasa saja. Karena sudah terbiasa." jawab Alfin meski tak yakin.
Satya menghela nafas, "Sampai sekarang aku masih tak mengerti, kenapa kau menyetujui perjodohan itu padahal kau tidak akan pernah bisa mencintainya?"
"Kalau aku tidak menikah sekarang, maka aku tidak tahu kapan aku akan menikah nanti. Hatiku sudah mati rasa." jelas Alfin.
"Ya sudahlah, jangan bahas ini lagi. Aku pergi dulu. Jangan lupa ambil dompetmu." Satya tiba-tiba beranjak berdiri dan keluar dari ruangan Alfin.
Sepeninggal Satya, Alfin mendesah pelan. Dia menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi.
"Sampai sekarang aku masih tak mengerti, kenapa kau menyetujui perjodohan itu padahal tahu bahwa kau tidak akan pernah bisa mencintainya?"
Ucapan Satya kembali tergiang-ngiang di fikiran lelaki itu.
Kalau aku boleh jujur, aku juga tidak tahu kenapa harus melakukan ini... batin Alfin.
***
"Letnan tidak masuk hari ini, haruskah kita menjenguknya?" usul Panji.
Tim Rajawali tengah di markas mereka. Sedangkan Kenanga izin tidak masuk karena sakit.
Dani melirik Bagas yang hanya terdiam itu. Tanpa tahu bahwa kapten mereka sedang menyimpan kecemasan di hatinya.
"Bagaimana kapten?" tanya Dani.
Bagas terkesiap. Dia menatap semua anggotanya yang tengah menunggu keputusannya. Bagas mengangguk.
"Kita jenguk Letnan Kenanga sepulang bekerja saja." ucap Bagas.
"Baik, kapten."
***
Sore hari tiba. Alfin menyempatkan datang ke apartement Kenanga sebelum pulang ke apartementnya. Dia harus mengambil dompetnya.
ting tong
Tak lama, Kenanga membuka pintu. Alfin langsung tersenyum.
"Maaf kak, menganggu. Saya baru ingat bahwa dompet saya tertinggal disini tadi pagi."
"Oh itu, ambil saja sendiri. Tangan saya kotor. " ujar Kenanga menunjukkan kedua telapak tangannya yang penuh dengan tepung.
"Apa yang sedang kakak lakukan?" tanya Alfin penasaran. Dia bahkan melihat ada noda tepung di wajah Kenanga.
"Membuat kue." jawab Kenanga. "Masuk." lanjutnya langsung masuk ke dalam lagi.
Alfin hanya mengendikkan bahu dan langsung masuk ke dalam rumah Kenanga.
Sesampainya di ruang tamu, Alfin ternganga kala melihat dapur yang memang langsung terlihat dengan ruang tamu itu sangat kacau balau. Tepung-tepung mengotori semua peralatan dapur bahkan lantai.
"Apa ada yang menumpahkan sekarung tepung disini?" tanya Alfin syok.
Kenanga yang hendak berjalan ke dapur seketika terdiam. Dia berdeham untuk menutupi rasa malunya.
"Saya sedang belajar membuat kue." jawab Kenanga kembali berjalan menuju dapur.
Alfin memerhatikan Kenanga. Dia nampak cemas kalau-kalau Kenanga tergelincir karena tepung yang berserakan di lantai.
"Hati-hati kak. Awas--"
Belum juga selesai bicara, Alfin terbelalak kala melihat Kenanga hendak terjatuh karena tergelincir.
"Kak Anggi!" pekik Alfin berlari ke arah Kenanga.
Bruk
Alfin berhasil menangkap Kenanga tepat waktu. Tapi Alfin juga turut terjatuh karena licin dan akhirnya tubuh mereka saling menimpa dengan Kenanga berada di atasnya. Alfin merelakan punggungnya terhantam lantai.
Kenanga dan Alfin belum sadar dengan posisi mereka saat ini. Mereka saling bertatapan dengan jarak sedekat ini. Keduanya membeku.
"KENANGA!" teriakan seseorang mengagetkan mereka berdua. Hingga--
Cup
__ADS_1
Kenanga tak sengaja mencium bibir Alfin yang berada di bawahnya. Mata perempuan itu terbelalak.