The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 64.


__ADS_3

Minal Aidzin Walfaidzin semuanya bagi yang merayakan🙏🤗


......---------------......


Pagi harinya Kenanga kembali masuk ke kantor seperti biasa. Kondisinya sudah pulih sempurna.


"Selamat pagi, letnan. Bagaimana keadaanmu?" sapa Panji.


"Baik. Jadi bagaimana kelanjutan kasus Satya?" tanya balik Kenanga tanpa basa basi.


"Satya masih belum mau membuka mulut. Dia masih tidak mau mengatakan siapa dokter itu." ucap Riko.


"Tapi kamu menemukan sebuah fakta bahwa hanya Satya yang memiliki akses berkomunikasi dengan dokter ini sedangkan para anggota Miracle yang lain tidak." tambah Angga.


"Darimana kau tahu?" tanya Kenanga.


"Kami menginterogasi semua tersangka kalau-kalau kemungkinan bahwa mereka mengetahui sosok dokter tersebut. Tapi seberapa keras kami menyuruh mereka jujur, jawaban mereka serupa. Mereka tidak tahu. Mereka hanya tahu bahwa The Boss atau Satya adalah pemimpin tertinggi Miracle. Tidak ada yang lainnya." sahut Riko.


Kenanga terdiam. Teka-teka siapakah dokter ini membuatnya memikirkan banyak kemungkinan. Kenanga kira masalah ini sudah selesai tapi ternyata muncul tokoh lain. Ini layaknya cerita detektif dengan plot twist tak terduga.


"Omong-omong dimana kapten?" tanya Kenanga tiba-tiba menyadari bahwa Bagas tak ada di ruangan sedari tadi.


"Kami tidak tahu, letnan. Sejak pagi, kapten tidak terlihat batang hidungnya. Saya sudah mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif." jawab Dani.


"Apa? Kenapa bisa? Aneh sekali." gumam Kenanga merasa tak biasa Bagas seperti ini.


Memilih mengabaikan perasaan anehnya, Kenanga memfokuskan kembali pada pembicaraan penting mereka. Dia mencoba berfikir positif bahwa mungkin Bagas sedang memiliki suatu urusan yang penting.


"Besok adalah hari eksekusi Satya. Sebelum dia dieksekusi, mau tidak mau, bisa atau tidak, kita harus sudah mengetahui siapa dokter ini sesungguhnya." tegas Kenanga.


Panji, Dani, Riko dan Angga mengangguk mengerti.


Kenanga bersumpah, dia akan mencari hingga ke akar-akarnya mengenai siapa dokter itu dan apa tujuannya membangkitkan Miracle kembali.


***


Kenanga sedang berada di kantin ketika Alfin menelfonnya. Dia menjawabnya setelah menyelesaikan kopinya.


"Halo."


"Kenanga, boleh aku meminta bantuanmu?" tanya Alfin langsung.


"Ada apa?"


"Kau sedang sibuk di kantor?"


"Tidak. Ada apa?"


"Baguslah, begini aku ingin meminta bantuanmu. Aku dan Nana akan bertemu Kansha."


"Lalu?"


"Aku tidak bisa membawa Jack ikut bersama karena kami akan membicarakan soal kondisi papanya. Jadi aku memintamu untuk membantu menjaganya sebentar."

__ADS_1


Mata Kansha seketika terbelalak kaget, "Apa kau bilang? Tidak mau!" tolak Kansha mentah-mentah.


"Ayolah, Kenanga, sekali ini saja. Nana tidak tega membiarkan Jack tahu soal kondisi kritis papanya." bujuk Alfin.


Kenanga berdecak kesal, "Lantas apa hubungannya denganku? Aku tidak mau bersama dengan anak itu apalagi harus menjaganya. Sudah cukup aku dibuat kesal dengannya kemarin." tegas Kenanga.


"Kenanga, aku memohon bantuanmu ya. Kami sudah hampir sampai di kantormu."


"Apa?!" seru Kenanga kaget. Dia buru-buru keluar ruangan hingga membuat semua rekan kerjanya bingung.


Kenanga berlari ke gerbang depan, dan terlihat mobil Pajero putih Alfin baru sampai. Kenanga berdecak kesal. Amarahnya menggunung.


Alfin turun dari mobil sedangkan Jack masih berada dalam mobil. Alfin mendekati Kenanga yang bersidekap.


"Kau tidak perlu basa basi bertanya kalau nyatanya kau hanya menginginkan satu jawaban." ucap Kenanga sarkas.


Alfin meringis melihat betapa datarnya muka Kenanga saat ini. Nampak perempuan itu tengah menahan kekesalannya.


"Aku terpaksa memintamu melakukan ini. Tapi Jack juga hanya mengenalmu selain aku disini. Jadi tempat teraman bagi Jack sementara kami pergi adalah bersamamu." jelas Alfin.


"Astaga, apa dia seorang selebritis dengan banyak fans gila yang akan melemparkan bangkai tikus ke arahnya? ataukah dia presiden yang musuhnya dimana-mana hingga perlu dijaga oleh seorang tentara? Ataukah dia adalah seorang mafia kelas atas yang nyawanya diincar oleh saingannya sendiri?" sarkas Kenanga.


"Kenanga, kenapa bicaramu seperti itu? Jack hanyalah anak kecil, tak sepantasnya kamu mengatakan seperti itu!" tegur Alfin keras.


Kenanga berdecih, "Kau yang memulai, kau tahu aku tidak menyukainya dan dia juga tidak berlaku sopan padaku." balas Kenanga.


"Kenanga, aku memohon bantuanmu. Sekali ini saja ya." pinta Alfin.


Kenanga tak menjawab.


"Sekali ini saja, aku mohon ya. Bantu aku menjaga Jack sebentar saja. Begitu urusan kami selesai, aku akan langsung membawanya pulang." pinta Alfin.


"Alfin, kau tahu aku berkerja dimana? Disini banyak hal yang belum seharusnya Jack lihat. Dan bagaimana kalau dia mengacau? Kekacauan sedikit saja akan membuat nyawanya dalam bahaya. Tak seharusnya anak kecil ada disini." ucap Kenanga. Disini memang banyak yang tak seharusnya Jack lihat dulu. Terlebih di usia seperti Jack, dia pasti menjadi anak yang penasaran.


"Kau bisa membawanya ke ruanganmu saja. Tidak akan ada apa apa kan kecuali hanya komputer, kertas dan pulpen. Kumohon, Kenanga." Alfin masih terus membujuk istrinya agar mau melakukannya.


Kenanga mendesah kesal, melihat Alfin yang memohon seperti ini membuatnya menjadi kesal sendiri. Akhirnya karena tidak tahan mendengar rengekan Alfin, mau tak mau Kenanga menyetujuinya.


"Baiklah, aku bersedia tapi dengan satu syarat, beritahu anak kecil itu untuk tidak mengacau dan menganggu pekerjaanku atau kalau tidak akan ku cemplungkan dia ke dalam kolam lumpur." ancam Kenanga.


Alfin mengangguk setuju. Dia lalu bergegas kembali ke mobil lalu keluar lagi membawa Jack dengan menggenggam tangannya. Mereka kembali menghampiri Kenanga.


"Tante ini adalah tentara?" tanya Jack begitu melihat Kenanga dalam balutan seragam loreng khas tentara.


Kenanga melipat kedua tangannya di atas dada, "Kalau iya kenapa?" tanya Kenanga.


"Wah hebat ya tapi tidak cocok dengan kepribadianmu." ejeknya.


Kenanga melotot kesal, Alfin buru-buru menengahi sebelum terjadi pertengkaran antara mereka lagi.


"Jack kamu akan bersama Tante Kenanga dulu untuk sementara waktu. Nanti pukul 1, ayah akan menjemputmu lagi ya." ucap Alfin.


Jack menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ayo Tante, aku ingin melihat kantormu. Ada pistol yang keren tidak?" ujar Jack berjalan mendahului Kenanga dengan tangan dimasukkan ke dalam saku.


Kenanga berdecak, dia yakin hari ini pasti tidak akan berjalan dengan baik.


***


Di sisi lain, Alfin menemani Nana menemui Kansha. Mereka bertemu di sebuah kafe tak jauh dari rumah Kansha. Kansha ditemani Alan. Sejak usia kandungan Kansha yang makin membesar, kakak lelaki Alfin itu bertambah protektif dan terus mengikuti Kansha kemanapun istrinya pergi.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan padaku, Na?" tanya Kansha penasaran. Awalnya Kansha sama seperti Alfin, dia terkejut mengetahui bahwa Nana berada di Jakarta dan pulang tak memberitahu padanya.


"Ada yang ingin kusampaikan padamu." Nana nampak sudah berkaca-kaca. Kansha jadi bingung melihatnya.


"Kenapa Na? Kenapa dengan wajahmu yang bersedih?" tanya Kansha merasa ada yang tak beres.


"Aku ingin menyampaikan kabar buruk. Ruben..." Nana tak kuasa melanjutkan ucapannya. Nyatanya dirinya tak bisa setegar yang dia duga saat menceritakannya pada Kansha.


"Ada apa?" tanya Kansha pelan pada Alfin. Dirinya bingung melihat Nana berkaca-kaca.


Alfin hanya bisa menghela nafas.


"Ruben menderita kanker stadium akhir. Dokter mendiagnosis usianya tak lama lagi." akhirnya Alfin yang memberitahukannya.


Kansha menutup mulutnya. Dia sontak menoleh pada Nana.


"Kau yakin? Sejak kapan?" tanyanya begitu syok.


"Sejak setahun lalu. Ruben selalu mengeluh kepalanya sakit dan ketika diperiksa dia memiliki tumor ganas. Dan tumor itu berubah menjadi kanker. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi kondisi Ruben tak kunjung membaik." jelas Nana terisak.


Kansha sontak menggenggam tangan Nana di atas meja, memberinya kekuatan.


"Na, yang sabar ya. Aku sungguh terkejut mendengar berita ini." ucapnya.


"Jadi Nana memintamu untuk datang menjenguk Ruben di rumah sakit. Untuk melihat saat-saat terakhirnya."


Kansha terdiam, syok.


***


Siska sedang berada di dalam kamarnya yang redup dan temaram. Sudah berhari-hari dia mengurung dirinya karena terpukul dengan kenyataan menyakitkan dari Satya, sang kekasih. Waktu eksekusi Satya juga tinggal menyisakan beberapa jam saja membuatnya tambah dikungkungi kesedihan.


Kemudian akhirnya Siska mau keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk mengambil air. Penampilannya berantakan. Wajahnya bengkak dengan mata memerah dan rambutnya yang awut-awutan.


Namun dalam perjalanannya menuju dapur, dia terhenti kala melihat anjing kesayangannya yang dulu dibelikan Satya untuknya. Dia menatapnya cukup lama. Anjing yang diberinama Minky itu juga menatap majikannya dengan mata bulatnya yang lucu.


"Aku tidak suka dengan tatapanmu itu, Minky. Kau mengingatkanku pada Satya." ucap Siska datar.


Siska akhirnya berjalan mendekati Minky yang masih terdiam di tempatnya. Siska mengambil Minky dan membawanya ke dalam gendongannya.


"Papamu akan meninggal esok hari, dan apakah kau tidak merasakan kesedihan sama skeali, hm? Seharusnya kau ikut berkabung bukannya menggoyang-goyangkan ekormu seperti itu. Kenapa kau tidak memiliki rasa empati sama sekali?" tanya Siska meracau. Matanya yang memerah menatap kosong pada anjing kecil dalam gendongannya.


"Kau harus diberi pelajaran."


Siska membawa Minky ke toilet, lalu mengikat kaki anjing kecil itu ke dudukan kloset. Dia lalu ke dapur dan kembali ke toilet membawa sebuah pisau tajam.

__ADS_1


Siska menatap Minky dengan sorot mengerikan, tangannya mengacungkan pisau itu. "Papamu akan dibunuh dengan pistol tapi aku tidak memiliki pistol jadi kurasa aku bisa menggunakan ini. Kau akan menemaninya di surga nanti agar dia tidak kesepian." ucap Siska menyeringai lebar.


__ADS_2