
Kenanga mengerjapkan matanya ketika rasa pusing langsung dia rasakan di kepala belakangnya. Tak hanya Kenanga, Alfin dan Bagas pun merasakan hal yang sama. Mereka tersadar dari pingsan setelah dipukul oleh Black saat berhadapan dengan Satya.
"Kita ada,dimana?" tanya Bagas sambil meringis. Dan Bagas baru sadar bahwa sekujur tubuhnya diikat dengan tali.
Mereka bertiga mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling. Ruangan yang cukup luas dan harum, ya harum, entah bau apa tapi Kenanga merasa baunya seperti bau parfum bunga gardenia yang seolah-olah sengaja dituangkan ke seluruh ruangan hingga baunya cukup menyengat. Dan kaca-kaca di sekeliling mereka yang langit-langitnya langsung bertemu pandang dengan warna gelap malam.
"Rumah kaca?" celetuk Kenanga. "Rumah kaca tapi tidak ada bunga." lanjutnya.
"Kenapa kita tiba-tiba ada di rumah kaca dengan tubuh diikat?" ujar Alfin.
"Kau tahu pasti ini perbuatan siapa, Alfin." balas Kenanga.
Bahu Alfin lunglai, "Yah, sahabat terbaikku atau mungkin tidak sejak malam ini." lesunya.
"Jadi dimana lokasi kita?" sela Bagas.
"Entahlah. Saya bahkan tidak tahu ini masih di Jakarta atau justru tidak. Udaranya cukup segar dibanding Jakarta yang kita kenal." jawab Kenanga.
"Kau tidak membawa sesuatu, Kapt? Seperti pisau swiss?" celetuk Alfin.
Bagas menggeleng, "Bawa. Tapi sepertinya barang-barang kita telah digeledah oleh mereka dan diambil. Saku saya bahkan kosong."
Kenanga memutar otaknya, mencari cara bagaimana agar mereka bisa bebas dari tempat ini sebelum Miracle datang.
Tatapannya tertuju pada sebuah gunting rumput yang tergeletak di atas meja. Posisi meja tepat disamping Alfin, lalu Bagas dan Kenanga secara berurutan. Mereka semuanya diikat pada satu tiang yang sama di tengah-tengah rumah kaca.
"Ada satu barang yang bisa kita gunakan tapi saya tidak yakin apakah benda itu cukup memotong tali kita atau yang lainnya juga." ujar Kenanga.
Bagas dan Alfin mengikuti arah pandang Kenanga dan seketika syok.
"Gunting rumput? Kau gila?!" sentak Bagas.
"Kita tidak punya pilihan lain. Tali ini sangat keras dan alot. Kau tidak akan bisa memotongnya hanya dengan menggesek-gesekkannya ke tiang!" tukas Kenanga.
"Gunting itu berada di dekat Dokter Alfin."timpal Bagas.
Alfin menoleh pada gunting rumput besar itu. Dia menelan salivanya susah payah lalu tiba-tiba menendang kaki meja dengan sekuat tenaga.
Bruk
Alfin berjengit ketika gunting rumput itu terjatuh ke dekat kakinya. Sementara Kenanga dan Bagas mendesah lega.
"Daya berfikirmu cepat sekali, dokter." puji Bagas. "Kau bahkan tidak bertanya bagaimana cara menurunkan gunting itu."
Alfin lalu menatap kedua temannya itu, "Selanjutnya bagaimana?" tanyanya.
"Bisakah kau menggesekkannya ke tali di belakang kita?" tanya Kenanga.
"Letnan Kenanga Anggia, gunting ini sangat berat dan kedua tanganku terikat!" sanggah Alfin.
"Lalu adakah yang bisa memberikan saran?" tanya Kenanga.
Alfin dan Bagas terdiam.
"Saya akan mencoba mendorongnya." ujar Alfin.
Alfin lalu mendorong gunting itu dengan susah payah menggunakan kakinya yang terikat. Bagas dan Kenanga berusaha menahan ikatan mereka agar Alfin bisa lebih leluasa.
Dengan satu dorongan keras dari liukan tubuh Alfin yang luar biasa, Alfin berhasil mendorng gunting itu menuju ke belakang mereka.
Prang
Sayangnya gunting itu menghantam kaca di belakang mereka hingga hancur.
"Apa itu?" tanya Kenanga terkejut.
"Kurasa gunting itu mengenai sesuatu, mungkin kaca." jawab Alfin.
"Bagus, kita bisa gunakan itu untuk memotong tali." ujar Bagas senang.
Kenanga berusaha menggapai pecahan kaca itu tapi karena tidak tahu dimana tempatnya, dia kesulitan. Tangannya tidak bisa dijulurkan terlalu lama ke belakang. Alfin dan Bagas juga ikut menderita.
"Cepatlah Letnan." ucap Alfin dengan pekik tertahan.
"Ini sulit sekali." balas Kenanga dengan rahang mengetat.
"Kita harus cepat sebelum mereka datang." timpal Bagas cemas.
"Saya tahu."
Kenanga menggertakan giginya, tangannya sejengkal lagi menuju pecahan kaca. Dia bahkan sudah berhasil meraba gunting rumput tadi. Satu senti lagi, wajahnya makin serius, keringat dingin mewarnai wajah polosnya dan perutnya terus menggelegak ingin muntah.
"Bau sialan." umpat Kenanga tak tahan lagi.
Brak
Pintu rumah kaca dibanting keras. Tangan Kenanga melemas sebelum sempat menggapai kaca. Alfin dan Bagas mematung.
Satya muncul dengan pakaian serba hitamnya bersama Black dan dua orang lainnya. Wajah mereka bertopeng setengah rupa saja.
"Satya sialan, lepaskan kami!" teriak Alfin penuh amarah. Dia sudah lupa bahwa Satya adalah temannya. Masih mungkin, tapi tidak saat ini ketika Satya menjelma menjadi manusia berhati iblis seperti dihadapannya kini.
"Alfin, kasar sekali kau pada temanmu sendiri." Satya pura-pura sebal dan itu membuat Alfin ingin muntah.
"Jangan berakting lagi didepanku, Satya. Katakan, kenapa kau melakukan ini semua? Kenapa kau bisa jadi The Boss?" desis Alfin dengan pertanyaan beruntun.
Satya mengendikkan bahunya, "Well, takdir mungkin? Karena kakakku sebelumnya juga pemimpin Miracle dan aku harus mewarisinya benar kan?"
"Kakakmu? Maksudmu Kak Satria?" tanya Alfin. Satria adalah kakak lelaki Satya yang kini sudah meninggal dunia di usia pertengahan tiga puluh. Sebelumnya dia bekerja sebagai peneliti di Amerika Serikat.
"Bukan dia, dia hanyalah seorang lelaki lemah yang mengabdikan dirinya pada masyarakat melalui penemuan sainsnya sebelum dia akhirnya mati karena sains yang dia agung-agungkan." tukas Satya penuh ejekan.
"Kalau bukan Satria lalu siapa? Kau hanya punya satu kakak, Satya. Jangan berbohong padaku!"
__ADS_1
"Oh Alfin, aku tidak pernah mengatakan bahwa aku hanya memiliki satu kakak saja. Lebih tepatnya dua. Dan aku sangat menghormatinya daripada orang tuaku sendiri."
"Siapa?" tanya Bagas.
Mata Satya kini tertuju pada Bagas. "Namanya Antonio Razalea."
"Antonio Razalea?" Alfin mengernyit mendengar nama tak asing itu.
"Kau pasti mengenalnya, Letnan. Kalau kau teliti menyelidiki Syafira." ujar Satya kini menatap Kenanga.
Kenanga terdiam. Antonio Razalea?
Tak lama mata Kenanga terbuka lebar, dia menatap tak percaya pada Satya.
"Maksudmu pendiri Life Inc?"
Satya mengangguk puas, "Ya benar sekali! Kakakku selalu bangga berhasil mendirikan perusahaan meski itu hanya fiktif dan terima kasih atas bantuan kekasihmu Alfin, Life Inc berhasil berdiri."
"Tapi Life Inc didirikan tahun 2013, dua bulan setelah ledakan di zona A-31 itu." sela Bagas.
"Ya, benar Kapten Bagas. Kakakku mendirikannya lewat bantuan Syafira yang saat itu berusia 18 tahun dan sangat tergila-gila pada kakakku yang 10 tahun lebih tua dibandingnya."
"Syafira pernah menyukai kakakmu?" seru Alfin kaget.
"Tentu saja. Siapa yang tidak tergila-gila pada kakakku?"
"Jadi Syafira dibunuh oleh kalian, benar kan?" tanya Alfin dengan mata memerah.
Satya mengangguk singkat.
"Kakakku berjanji akan menikahinya begitu Syafira berusia 25 tahun."
"Menikah? Saat itu dia sudah berpacaran denganku, brengsek!" teriak Alfin.
"Oh kau tenang dulu, Fin. Jangan buru-buru menyimpulkan maknanya. Maksudku menikahinya disini adalah membunuhnya." ujar Satya dengan seringaian keji begitu mengucapkan kata terakhir.
"Apa?" syok Alfin.
"Tentu saja. Kalau saja Syafira tidak sok tahu dan sok sokan menyelidiki latar belakang kakakku yang membuat perusahaan, maka dia tidak perlu mati. Dia sendiri yang mengantarkan kematiannya."
"Sialan! Brengsek kau Satya!" amuk Alfin hendak menerjang Satya tapi terhalang oleh tali yang mengikat tubuhnya.
Satya tersenyum keji, "Mau kuceritakan padamu kronologinya? Karena kebetulan aku adalah saksi mata disana. Saat Syafira meregang nyawanya." desisnya.
Flashback On
Di malam yang dingin, seorang perempuan berambut sebahu duduk meringkuk di dalam lemari. Seluruh tubuhnya gemetar, nafasnya tercekat dan wajahnya pias bersimbah keringat dingin. Syafira Azalea amat ketakutan.
Ketakutan makin menghinggapi setiap inci tubuhnya kala suara seperti pintu didobrak paksa terdengar. Kepalanya makin meringkuk ke dalam lututnya. Perempuan itu menutup mulutnya sekuat tenaga agar tidak berteriak.
Brak
Pintu berhasil terbuka dan masuk seorang laki-laki berambut pirang dengan pakaian serba hitam. Dia Antonio Razalea.
Satya masuk ke dalam flat dengan sebuah botol kaca berisi cairan aneh.
"Kak, ini racunnya." ujar Satya menyerahkan botol racun itu ke tangan Antonio.
"Syafira bersembunyi?" tanya Satya.
"Dia pasti berfikir ini adalah petak umpet yang sering kita mainkan saat kecil. Ck, gadisku memang masih polos."
Lalu Antonio menoleh pada Satya, "Tapi kudengar, Syafira sudah memiliki kekasih."
Satya mengangguk, "Alfin, sahabatku. Mereka sudah berpacaran cukup lama tanpa tahu bahwa dia dikhianati kekasihnya sendiri."
Antonio mengangguk, "Gadisku hanya mencintaiku seorang, benar kan, little lady?"
Syafira makin membekap mulutnya. Air mata sudah berlinang mengaliri wajah cantik tapi kurus kering itu. Lalu suara derap langkah terdengar seperti mendekat menuju lemari persembunyiannya.
Antonio tersenyum tipis menatap lemari berwarna putih tulang yang dia yakini tempat dimana Syafira bersembunyi.
"I know you're here, little Lady. Come out and I will forgive you."
Syafira menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Persetan dengan 'ampunan' itu, nyatanya kepalanya akan langsung ditembak begitu dia menampakkan diri.
“I’ll give you three second. Come out now.” Tiba-tiba Antonio menghitung mundur.
“One.”
Syafira makin meringkuk di sudut lemari semakin dalam.
“Two.”
"Ja-jangan." gemetarnya.
"Three."
Syafira makin kuat-kuat memejamkan matanya. Jantungnya hampir meledak. Nyawanya sedang di ujung tanduk.
Antonio melirik Satya, "Kau bisa membukanya paksa, my brother?"
Satya mengangguk. lelaki itu memasukkan sumpit kayu ke lubang kunci. Memutarnya berberapa kali dan--
Ceklek
Ada Syafira yang meringkuk di sudut lemari dengan gaun putih tipis. Nampak gemetaran.
“Peek a boo, Little Lady!” seru Antonio riang.
Syafira menatap memohon pada Antonio, "Kumohon maafkan aku. Lepaskan aku." mohonnya ketakutan.
Antonio menggeleng, "Tidak, sayang. Kau sudah melanggar janji dan aku sangat tidak suka ada yang melanggar janjinya sendiri."
__ADS_1
Syafira nyaris putus asa, dia berteriak kencang tatkala tubuhnya ditarik paksa keluar oleh Satya. Satya mendudukannya di kursi belajarnya.
"Kau bebas berteriak sekencang apapun, Lady. Petir di luar akan menjadi alunan musik yang menulikan telinga para tetanggamu. Oh aku lupa, bahwa kau tinggal di flat mewah yang sebagian besar penghuninya sangat individualis dan tidak peduli tetangganya sendiri. Aku ingat kau pernah mengadukan ini padaku." ujar Antonio.
"Kak, aku mohon jangan bunuh aku. Aku berjanji bahwa aku tidak akan membocorkan rahasiamu. Kumohon lepaskan aku. Aku belum mau mati." mohon Syafira.
"Satya, keluar dari kamar Syafira. Aku ingin berbicara dengannya empat mata." titah Antonio.
Satya mengangguk.
"Satya, tidak. Kumohon bantu aku. Kumohon selamatkan aku." pinta Syafira panik. Dia memegang lengan Satya yang hendak melangkah pergi.
Antonio langsung menyentak lengan Syafira dengan kasar, dia mencengkeram dagu Syafira. Menatapnya dengan pandangan menusuk.
"Tidak pernah kuizinkan kau menyentuh lelaki lain. Dan dosamu bertambah dengan kau berpacaran dengan lelaki lain selain aku. Dan itu membuatku semakin ingin membunuhmu." desis Antonio.
Air mata Syafira menetes berat, wajahnya sudah memucat.
"Maafkan, aku. Maaf." lirihnya dengan nafas tersengal-sengal.
Antonio masih menatapnya dengan marah hingga dia melepaskan cengkeramannya. Syafira langsung terbatuk-batuk.
"Kau berpacaran dengan lelaki lain ketika kau sudah bersumpah hanya akan mencintaiku seorang. Kenapa kau berkhianat Syafira?"
"JAWAB AKU!"
"Ka-karena ka-kau ti-tidak se-se-baik ya-yang kukira. Ka-kau pemimpin Miracle!"
Antonio tersenyum miring, "Ya sayang. Benar. Aku memang pemimpin Miracle." Tiba-tiba wajah Antonio berubah dingin, "Dan kau memiliki 2 kesalahan yang membuatku sangat ingin membunuhmu. Pertama, kau mengkhianatiku dan berpacaran dengan lelaki lain dibelakangku. Kedua, kau sudah melihat wajahku, wajah asliku."
"Satya!"
Satya mengangguk, dia pergi dari kamar Syafira dan menunggu di ruang tamu. Sementara Antonio dan Syafira tetap di dalam.
"Bersiaplah, little lady. Selamat tinggal."
Antonio meminumkan racun itu secara paksa ke dalam mulut Syafira. Syafira berusaha menutup mulutnya tapi cengkeraman Antonio terlalu kuat.
"Uhuk uhuk." Syafira terbatuk-batuk parah. Dia berusaha mengeluarkan racun itu tapi racun sudah terlanjur membasahi tenggorokan bahkan mungkin lambungnya.
"Kau tahu kenapa aku tidak pernah mengatakan cinta padamu? Karena aku memang tidak mencintaimu. Bagiku, perempuan hanyalah sampah yang membebaniku. Membuatku lumpuh dan lupa pada tujuanku sendiri. Kau pun sama, Syafira. Perempuan lemah lembut dan manja yang ternyata aslinya tak lebih dari perempuan murahan."
Antonio terus memaki Syafira sepanjang perempuan itu berjuang melawan sekaratnya. Matanya melotot lebar, mulutnya megap-megap. Rasa sakit seolah menghantamnya dari segala arah. Rasa sakit yang tak tertahankan yang membuat Syafira ingin semuanya berakhir cepat.
Bruk
Syafira terjatuh dari kursinya dengan menggelepar. Sesaat, kemudian langsunh terbujur kaku.
Antonio tersenyum puas. Dia memeriksa denyut nadi Syafira.
"Selamat tinggal, Sayang. Ini tanda sayangku kepadamu."
Antonio mencap leher Syafira dengan lambang Miracle. Setelah itu berlalu pergi meninggalkan Syafira yang telah tiada.
Flashback Off
""Itu ceritanya. Sangat menyedihkan bukan? Kakakku dikhianati dan kau juga ternyata sudah diselingkuhi. Seharusnya kau tidak memacari Syafira." cetus Satya meremehkan.
"DIAM KAU PECUNDANG SIALAN!" umpat Alfin.
"Dimana Antonio sekarang?" tanya Kenanga.
"Mati."
"Dia mati? Kenapa?" tanya Bagas.
"Tentu saja karena takdir. Sebenarnya, aku membunuhnya tahun lalu." ujar Satya santai.
"Apa?"
"Sedikit rahasia, orangku-orangku mengira bahwa Antonio itu meninggal karena radang paru-paru tapi sebenarnya tidak. Aku membunuhnya, langsung dengan kedua tanganku." bisik Satya.
"Kenapa?"
"Dia menyebalkan. Dan semakin lemah. Mungkin karena rasa bersalah atas kematian Syafira? Lelaki sialan itu terlambat menyadari bahwa dia mencintai Syafira." desis Satya.
"Kau tampaknya sangat membenci wanita." celetuk Kenanga.
Satya mengangguk, "Tentu saja. Bagiku kalian, para perempuan hanyalah sampah tak berguna. Hanya bisa membebani dan merayu demi tujuan diri sendiri." hinanya.
"Lalu Siska?" seru Kenanga.
"Siska? Dia hanya objek pemuasku saja." jawab Satya santai.
Kenanga terkejut dan langsung emosi.
"DASAR BRENGSEK! SIALAN! KAU MATI SAJA, BAJINGAN!" umpat Kenanga.
"Ayolah, Letnan. Bukan aku yang mau tapi Siska yang terus saja merayuku. Menurutmu, ada barang yang gratis dan jelas menarik, kenapa harus dibiarkan saja?" Satya tersenyum licik, "Setidaknya harus dicicipi." lanjutnya sensual.
Kenanga mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Lalu semua pembunuhan itu? Kau yang mendalanginya?" tanya Bagas.
Satya beralih menatap Bagas lalu mengangguk.
"Tentu saja."
"Kenapa kau tega melakukannya? Kau membunuh banyak orang!"
"Mereka semua pantas mati, Kapten. Dan apakah kau mengasihani tersangkamu sendiri?"
"Tapi mereka bisa diadili oleh hukum!"
__ADS_1
Satya menggeleng, "Tidak, bukan seperti itu cara kerja Miracle. Siapapun yang tidak becus bertugas, maka mati adalah hukumannya." tandas Satya kejam.