
Alfin membaringkan Kenanga di ranjangnya. Meski masih terkejut dengan kedatangan Kenanga yang tiba-tiba ditambah dengan keadaan perempuan itu yang mabuk parah. Tapi Alfin berfikir positif, Kenanga tak mungkin mabuk-mabukkan hanya untuk bersenang-senang. Perempuan itu pasti sedang dalam misi.
Alfin meletakkan sepatu Kenanga di samping tempat tidur. Setelah itu membawa selimut lain untuk menutupi tubuh Kenanga yang hampir telanjang menurutnya. Setelahnya, Alfin pergi ke ruang tamu. Dia memutuskan tidur disana malam ini.
Alfin membaringkan tubuhnya yang masih lelah karena baru saja kembali bekerja sejam yang lalu. Dia mengerang kala punggungnya menempel pada sofa.
Alfin pun berusaha tidur. Tak lama, dia sudsh terlelap.
Alfin tiba-tiba berada di suatu tempat antah berantah. Semuanya gelap dan senyap. Dan didepannya ada seseorang berbaju putih dengan wajah pucat menatapnya tanpa raut.
"Syafira?" gumam Alfin.
"Alfin..."
Suara Syafira bagai gemirisik itu membawanya menuju tempat lain. Alfin berada di sebuah flat yang dia kenali sebagai tempat tinggal Syafira.
Dia menyaksikan sendiri kala Syafira menenggak racun sambil terisak. Alfin berteriak mencoba menghentikannya. Dia menggapai-gapai Syafira tapi tangannya menembus tubuh Syafira.
Alfin makin histeris kala Syafira tergeletak lemas. Tubuh Syafira menggelepar dengan lidah terjulur keluar. Tangannya memegang lehernya. Dia nampak amat kesakitan.
"Syafira! Syafira!" jerit Alfin menangis. Dia ingin menyelamatkan kekasihnya tapi tubuhnya serasa dipaku ditempatnya. Dia tidak bisa kemana-mana.
"Syafira!"
"Syafira!"
Alfin langsung terbangun dengan nafas ngos-ngosan. Keringat dingin sudah membasahi seluruh wajahnya lagi.
Alfin mengusap wajahnya frustasi. Lagi-lagi dia bermimpi buruk. Dan mimpi itu jelas bukan bagian dari kenangannya. Karena Syafira tidak mungkin bunuh diri dan Alfin tidak ada disana saat itu. Jelas, ini hanya bunga tidur saja.
"Aaaa shh." suara ringisan itu terdengar keras dari kamar.
Alfin buru-buru bangkit, dia berlari menuju kamarnya.
Begitu mendekat, terlihat Kenanga tertidur dengan gelisah. Suara ringisan terus terdengar dari bibirnya. Keringat dingin juga membasahi wajahnya yang memerah. Alfin menempelkan telapak tangannya ke dahi Kenanga dan terkejut kala rasa panas langsung dia rasakan dari tubuh Kenanga.
Perempuan itu demam!
Alfin buru-buru ke kamar mandi. Dia mengisi air ke baskom setelah itu membasahi handuk. Setelah selesai, dia langsung kembali ke kamar.
Alfin meletakkan handuk basah itu ke dahi Kenanga. Kenanga bergerak-gerak tak nyaman tapi setelah itu dia tertidur diam kembali.
Alfin akhirnya merawat Kenanga semalaman. Dia terjaga berkali-kali untuk mengganti air kompresan. Hingga tak sadar, Alfin tertidur di samping ranjang Kenanga.
***
Kenanga membuka kedua kelopak matanya. Dia mengedip-ngedip pelan kala pemandangan berbeda terlihat. Kenanga seketika terduduk di ranjang. Dia terkejut, ini bukanlah kamarnya.
"Selamat pagi." sapa seseorang dari luar kamar. Kenanga membulatkan matanya kala yang berdiri yang menyapanya adalah Alfin. Lelaki berpakaian santai itu tersenyum.
"Bagaimana saya ada disini?" tanya Kenanga pelan. Dia malu sekaligus bingung.
"Kakak tiba-tiba saja menggedor-gedor pintu rumahku dan ternyata kakak mabuk. Saya tidak tahu nomor berapa unit kakak, jadi..." Alfin tak perlu menjelaskannya lebih detail.
Kenanga menutup matanya merasa malu. Wajahnya panas kala ingatan soal kemarin malam sudah dia ingat.
"Astaga memalukan." ucapnya menutup wajahnya.
Alfin tersenyum kecil melihat eskpresi langka yang terlukis di wajah Kenanga.
"Cek suhumu dulu. Semoga sudah menurun." ucap Alfin mendekat ke ranjang.
Alfin menyerahkan termometer pada Kenanga.
"Saya demam?" tanyanya. Alfin mengangguk.
"Kakak tidak sadar?"
Kenanga menggeleng, "Saya memang merasa sudah sakit dari awal tapi saya fikir hanya sakit biasa."
"Sakit biasa juga jangan dibiarkan. Justru timbulnya penyakit serius dimulai dari penyakit biasa. Jangan disepelekan." ucap Alfin mencabut termometer dari mulut Kenanga.
"36, 5. Demam kakak sudah turun." ucap Alfin.
"Terima kasih karena sudah merawat saya. Saya minta maaf juga karena datang ke apartementmu tanpa izin dan tidur disini. Saya tidak sadar melakukannya. Saya sungguh minta maaf."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Saya maafkan. Saya juga minta maaf soal kejadian di lift. Saya terbawa emosi." ucap Alfin.
"Ah soal itu.."Kenanga sontak teringat kembali. Dia mengangguk, "Tidak masalah. Kalau begitu saya pergi dulu." pamit Kenanga hendak pergi.
"Kak Anggi." cegah Alfin ketika Kenanga hendak keluar kamar.
Kenanga berbalik, "Iya?"
"Bagaimana kalau kakak sarapan dulu? Saya sudah menyiapkan bubur." tawar Alfin.
Kenanga terdiam. Dia lantas mengangguk.
***
Kenanga dan Alfin makan bersama. Kenanga akui bubur buatan Alfin sungguh lezat. Meski polos tak ada apa-apa tapi Kenanga merasa sudah cukup. Tanpa sadar dia sudah menghabiskan semangkuk penuh.
"Terima kasih atas makanannya." ucap Kenanga.
"Sama-sama." balas Alfin.
Setelah itu mereka terdiam lagi.
"Kalau begitu, saya pergi." pamit Kenanga lagi.
Dia bangkit dari duduknya hendak melangkah pergi tapi Alfin mencegahnya lagi.
"Ada apa lagi?" tanya Kenanga.
Alfin menyerahkan sebuah paper bag yang didalamnya berisi bekal makan siang.
"Ini apa maksudnya?" tanya Kenanga bingung.
"Bekal makan siang untuk kakak." jawab Alfin.
"Kenapa kamu memberikannya pada saya?" tanya Kenanga lagi.
"Kakak sedang sakit dan orang yang sakit tidak boleh makan sembarangan."
"Tapi bukankah saya sudah sembuh?" tanya Kenanga bingung.
Kenanga terdiam. Dia merasa aneh dengan situasi saat ini. Terlebih melihat senyuman Alfin.
Kenapa hati saya menghangat? batinnya.
***
Karena ini hari liburnya, Alfin memutuskan mengunjungi orang tuanya di rumah. Tapi orang tuanya sedang berbelanja jadilah Alfin berdiam diri di kamarnya. Seperti biasa, lelaki itu bermain game.
Tok Tok
Pintunya diketuk seseorang. "Masuk saja." ucap Alfin tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar.
Alan masuk ke dalam kamar adiknya. Dia duduk di sofa.
"Fin." panggil Alan.
"Hem." sahut Alfin.
"Bagaimana kemarin? Cantik tidak?" tanya Alan penasaran.
"Kenapa bertanya?" tanya balik Alfin.
"Karena mas penasaran. Andai mas tidak ada jadwal terbang, mas juga ingin ikut kesana." rutuk Alan.
"Jangan, nanti mas tergoda ingin menikah lagi." balas Alfin acuh.
Pletak
Alan menoyor kepala adiknya yang berkata seenak jidat saja.
"Mas setia pada kakak iparmu. Sampai mati. Until jannah!"serunya sungguh-sungguh.
"Baguslah kalau begitu. Karena kalau sampai mas berpisah dengan Mbak Kansha, yang akan rugi mas. Secara lebih kaya Mbak Kansha dibanding mas." ucap Alfin santai.
"Kamu ini sungguh menyebalkan. Tidak mau bicara lagi!" seru Alfin sebal. Dia keluar dari kamar Alfin sambil menghentak-hentakkan kakinya. Alfin terkekeh melihatnya.
__ADS_1
Tak lama setelah Alan pergi, kini yang datang adalah Kansha. Perempuan yang sudah jadi ibu itu duduk di sofa adik iparnya.
"Kenapa dengan masmu itu? bibirnya ditekuk dari tadi." tanya Kansha.
"Merajuk karena baru sadar bahwa dia rendah diri." sahut Alfin.
"Hah? Apa maksudnya?" tanya Kansha bingung.
Alfin menggeleng pelan, "Bukan apa-apa. Mas Alan hanya sedang melewati masa menopausenya saja." ucapnya asal.
"Sembarangan kamu. Suami aku bahkan belum tiga puluh. Masa sudah menopause saja." seru Kansha kesal.
Alfin hanya mengendikkan bahunya acuh.
"Oh ya Fin, bagaimana calon yang akan dijodohkanmu itu? Katanya lebih tua darimu ya?" kini Kansha masuk ke mode gosip dan kepo.
"Tidak suaminya, tidak istrinya, sama-sama suka gosip." decak Alfin.
"Jawab saja!" tuntut Kansha.
Alfin mendesah pelan, "Dia memang lebih tua dariku juga dari kalian."
"Dari kami juga? berapa umurnya?" tanya Kansha terkejut.
"Kurasa dua puluh sembilan. Dia seumuran dengan Satya." jawab Alfin.
"Itu berarti kau lebih muda tiga tahun darinya. Tapi tidak masalah, meski lebih tua istrimu, tetap saja kau kepala keluarganya. Dia harus menghormatimu."
"Eh tapi, kau sungguh hebat. Sepertinya kau memang tipe lelaki yang disukai wanita lebih tua." puji Kansha.
"Aku dicintai segala kalangan dari berbagai usia bukan hanya yang tua saja." tukas Alfin sombong.
"Sama seperti Nana, kufikir dia akan jatuh cinta padamu dan menikah." ujar Kansha.
"Darimana kau dapat pemikiran seperti itu? Mengerikan." komentar Alfin merinding.
"Memang apa yang salah dari Nana? Dia cantik dan jelas kau sangat peduli padanya."
"Aku hanya peduli sebagai temannya. Sama sepertimu." jelas Alfin.
"Sayang sekali." keluh Kansha."Tapi dengan Ruben tidak masalah. Nana juga bahagia dengannya." lanjutnya.
"Omong-omong soal Nana, bagaimana kabarnya?" tanya Alfin.
"Hem..dia baik. Dia betah tinggal di Bali. Bisa ke pantai sepuasnya cuma pakai bikini. Secara kapan lagi dia bisa melakukannya?"
"Kau yakin masih berteman baik dengannya?" tanya Alfin.
"Kenapa memangnya? Ah, karena aku bilang dia bebas berbikini di pantai, kau jadi meragukan persahabatan kami?!" tuduh Kansha.
"Habisnya kau menjatuhkannya terus-terusan."
"Cih, jangan sok suci kawan. Kau harus mengaca. Siapa yang dulu bilang, Nana adalah perwujudan orang dewasa yang otaknya tidak lulus sensor karena belum matang?" serang balik Kansha.
Alfin hanya menyengir.
Lalu terdengar suara salam dari lantai bawah.
"Sepertinya bunda sudah datang." ucap Kansha.
Kansha dan Alfin lekas keluar kamar. Mereka turun ke lantai satu dan langsung menyambut bunda dan ayah.
"Eh Fin, kebetulan kamu ada disini, ada yang mau bunda sampaikan." katanya.
"Apa itu bunda?" tanya Alfin penasaran.
"Kenanga sudah setuju dengan perjodohan ini dan dia sekarang sedang menanyakan kelengkapan untuk pengajuan nikah di markasnya. Setelah itu kamu bantu dia ya. Kalian urusi persyaratannya." ucap Alena.
Alfin membeku. Kenanga sudah setuju?
"Aku tarik semua kata-kataku. Jangan batalkan."
Dia teringat dengan ucapan Kenanga semalam. Jadi ini maksudnya...
"Kenapa Fin, kau sepertinya tidak menyangka ini. Bahagia?" bisik Kansha.
__ADS_1
Alfin mengangguk, "Tentu saja." ucapnya sambil tersenyum simpul.