The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 68. END


__ADS_3

Kenanga kini sedang berada di kantornya. Dia seperti biasa sedang berkutat dengan laptopnya, teman-temannya pun sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tak lama Bagas datang dengan seragam dan atribut yang lengkap. Tas besarnya melingkar di pundaknya yang lebar.


"Selamat pagi semuanya." ucap Bagas membuat atensi semua orang di ruangan itu mengarah padanya.


Panji, Riko, Kenanga, Angga dan Dani merasa heran ketika melihat Bagas datang dengan seragam pdh yang lengkap padahal tidak ada agenda apapun hari ini. Kenanga dan Panji saja bahkan memakai seragam pdl.


"Kapten, seragammu terlihat gagah hari ini. Apakah Anda memiliki agenda khusus?" tanya Riko.


Bagas tersenyum seraya menganggukan kepala, "Saya izin pamit pada kalian." ucapnya.


Kening Kenanga mengerut bingung, "Pamit kemana?" tanyanya.


"Saya akan melaksanakan tugas saya sebagai abdi negara dengan menjadi tentara perdamaian di luar negeri."


Semuanya langsung terkejut. Panji bahkan memuntahkan cairan kopinya yang sedang dia minum. Dani sampai berhenti mengetik di laptop. Kenanga sontak menatap Bagas tajam.


"Apa maksudmu Kapten?" tanyanya.


"Saya ditugaskan atau mungkin mengajukan diri untuk menjadi tentara perdamaian di daerah konflik di luar negeri. kontingen yang sebelumnya sudah kembali dan akan digantikan oleh tim yang lain, saya mengajukan diri untuk bergabung." jelas Bagas.


"Ya tapi untuk apa?" cecar Kenanga. "Kau tahu bahwa tugasmu adalah menjadi Kapten di tim ini, kalau kau pergi maka kami juga harus pergi."


"Tidak, Letnan. Kalian tidak harus pergi. Saya sendiri yang akan pergi. Jadi untuk mengisi kekosongan di tim ini, saya akan menunjuk Letnan Kenanga sebagai ketua tim Rajawali sampai dia mendapat promosinya menjadi Kapten."


Kenanga menggeleng, "Saya masih tidak terima dengan alasanmu, Kapt. Jelaskan dengan baik, tidak ada angin atau hujan, kau tiba-tiba mengundurkan diri menjadi kapten tim dan malah akan menjadi tentara perdamaian PBB."


"Saya rasa Letnan sudah tahu bahwa seorang abdi negara dimanapun ia bertugas dan seperti apa dia harus bertugas, Letnan sudah tahu. Ada alasan pribadi namun itu di luar kapasitas yang kalian harus tahu. "


Anggota Tim Rajawali masih tak percaya dan tak terima namun apa daya, perintah adalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan. Mereka tidak bisa membantah kapten mereka.


Riko yang pertama berdiri, menghadap tegak pada sang kapten yang akan pergi jauh.


"Selamat jalan, Kapten. Semoga sukses dan Kapten selalu diberi perlindungan oleh yang Maha Kuasa." ucapnya sambil hormat. Bagas juga ikut memberi hormat.


Setelah itu, berdiri Panji, diikuti Dani dan Angga. Terakhir, Kenanga. Mereka berbaris sejajar berhadapan dengan Bagas.


"Komando, saya ambil alih. Seluruhnya, hormat gerak." ucap Kenanga. Seluruh anggota tim Rajawali langsung menegakkan tangan di atas dahi mereka diikuti Bagas.


Setelah Bagas menurunkan tangannya, "Tegak gerak." semua anggota tim juga ikut menurunkan tangan mereka.


Kenanga maju selangkah, "Lapor, saya wakil kapten Tim Rajawali siap mengemban tugas sebagai Kapten atas perintah Anda. Laporan selesai."


Bagas mengangguk, "Laporan saya terima. Terimakasih, Letnan Kenanga."


Kenanga pun mundur selangkah.


"Komando saya ambil alih. Tanpa penghormatan, balik kanan, bubar jalan." ucap Bagas.


Anggota tim Rajawali pun membubarkan barisan mereka.

__ADS_1


"Saya pamit sekarang, terimakasih atas semuanya. Kalian adalah tim terbaik yang pernah saya punyai. Kalian adalah prajurit tangguh kebanggaan negara kita. Tolong, jangan kecewakan saya dan senantiasa lindungi negeri kita dibawah baret merah yang kalian pakai." pamit Bagas.


Mereka semua menganggukan kepala. Bagas pun maju menghampiri satu persatu anggotanya. Memeluk mereka dan menepuk pundak mereka dengan tegar. Dan terakhir, dia berhadapan dengan Kenanga.


Cukup lekat Bagas menatapnya. Kenanga masih sama menawannya seperti saat pertama kali ia melihatnya di sekolah militer dulu. Namun, Bagas menjadi sadar bahwa meski tahun telah berganti, Kenanga masih tetap orang yang sama ia cintai sejak dulu. Wanita itulah yang menjadi alasan Bagas mengundurkan diri menjadi Kapten Tim Rajawali karena Bagas tak tahu akan sampai kapan ia menyakiti dirinya dan perasaannya yang sama sekali tak akan pernah berlabuh pada hati Kenanga. Wanita itu telah bersuami. Bagas tak ingin menjadi penghalang bagi kebahagiaan mereka.


"Kenanga, terimakasih atas segala memori dan kenangan indah yang kamu ciptakan untukku. Meski kamu tak bisa kugapai, aku tetap bahagia bahwa aku pernah memiliki rekan prajurit setangguh dirimu. Kamulah Srikandi sejati, Anggi. Kuharap kamu selalu bahagia dengan Alfin. Doakan aku, agar aku bisa melupakanmu dan mencari bahagiaku sendiri." batin Bagas.


Bagas memeluk Kenanga dengan biasa, mengabaikan degup jantungnya yang berpacu dengan cepat tatkala bahu Kenanga direngkuh oleh tubuhnya. Selang beberapa detik kemudian, Bagas melepaskannya.


"Saya pamit, semuanya. Sampai bertemu kembali." pamit Bagas.


"Hati-hati, Kapt. Jangan lupa berkirim kabar ya kalau sempat. Semoga selamat sampai tujuan." ucap Angga.


Bagas menganggukan kepalanya setelah itu berjalan meninggalkan ruangan.


Tim Rajawali hanya menatap kepergian Bagas dengan tegar.


***


Kenanga pulang ke apartemennya. Dia masih tak bisa melupakan kepergian Bagas yang terkesan sangat tiba-tiba. Namun mau bagaimana lagi, itu adalah keputusan Bagas. Meski Kenanga bingung apa alasan Bagas melakukan semua ini.


"Aku haus sekali." gumam Kenanga.


Wanita itu berjalan menuju dapur, mengambil air dingin dari kulkas dan langsung meminumnya. Hingga tak lama, ia terkejut ketika pinggangnya dipeluk dari belakang.


Grep


"Aku sedang minum, Alfin. Aku hampir tersedak karena ulahmu!" serunya.


Alfin tersenyum manis, dia merasa tak bersalah sama sekali dan itu membuat Kenanga mencebik kesal.


"Entah kenapa aku merindukan aromamu, Anggi." ucap Alfin membuat bulu roma Kenanga berdiri.


Entah sejak kapan mereka bisa semesta itu, Kenanga juga tidak tahu. Semuanya hanya mengalir seperti biasa. Mungkin kedekatan mereka sejak mereka kehilangan anak mereka.


"Oh ya, ada yang ingin kusampaikan padamu. Tapi setelah kau mendengar ini, kuharap kau tidak salah paham atau merasa bersalah atau khawatir." lanjut Alfin.


Kenanga mengangkat satu alisnya, "Dan apakah itu?"


Alfin menarik tangan Kenanga lembut dan membawanya ke sofa ruang tamu.


"Apa Alfin, kamu terlihat sangat serius."


"Kudengar, Kapten Bagas mengundurkan diri menjadi ketua tim Rajawali dan memutuskan menjadi tentara perdamaian PBB." Kenanga mengangguk membenarkan.


"Tapi darimana kau tahu?" tanyanya.


"Aku tak sengaja bertemu dengannya di rumah sakit saat dia tengah mengambil berkas medical checkup nya, Minggu kemarin."

__ADS_1


"Jadi dia memang sudah merencanakannya." gumam Kenanga.


"Tapi apakah kamu tahu apa alasan dia melakukan ini?" tanya Alfin.


"Tentu seorang Abdi Negara harus siap ditempatkan dalam tugas apapun. Tak ada alasan untuk menolak. Meski aku memang merasa agak aneh bahwa kepergiannya terkesan sangat mendadak. Biasanya kami selalu diberitahu 3 bulan sebelumnya." jelas Kenanga.


Alfin mengangguk mengerti, "Tapi kurasa aku mengetahui salah satu alasan krusial mengapa dia melakukan ini semua."


"Dan apakah itu?" tanya Kenanga.


Alfin terdiam sebentar, kemudian menatap istrinya lekat-lekat, "Kamu." tandasnya.


Deg


Kenanga mematung, matanya bergetar. "Sesungguhnya aku tidak mengerti apa yang kamu katakan Alfin." kilah Kenanga.


"Kau mengerti, Anggi. Kau tahu apa yang dirasakan Bagas padamu." sanggah Alfin.


Kenanga menghembuskan nafas pelan, "Aku tahu, dia sepertinya memiliki perasaan padaku." akunya.


"Tapi aku sama sekali tidak pernah sedikitpun merasakan hal yang sama padanya. Aku tidak pernah jatuh cinta dan aku bahkan tidak tahu rasanya seperti apa. Aku hanya menganggapnya sebagai rekan seperjuanganku saja. Dan itu membuatku lebih nyaman." lanjutnya.


"Dan sejak kapan kamu tahu, kalau alasan Kapten Bagas pergi adalah karena ku?" tanya Kenanga balik.


"Kau tidak tahu?" Kenanga menggeleng.


"Aku tak sengaja mendengar pembicaraannya dengan Dokter Aji. Dan aku terkejut, tentu saja."


"Apa kau pernah menanyakan padanya secara langsung?" tanya Alfin.


Kenanga menggeleng, "Tidak, aku tidak mau. Itu hanya akan membuat hubungan kamu menjadi aneh. Aku hanya ingin bersikap profesional dengannya."


"Jadi kau tidak memiliki perasaan apapun padanya kan?" tanya Alfin memastikan.


Kenanga menganggukan kepala. "Tentu saja."


Alfin mendesah lega.


"Alfin, karena kau sudah membahas ini duluan, kurasa kau harus mengetahui sesuatu." ucap Kenanga.


"Dan apakah itu, istriku?" tanya Alfin tersenyum.


Kenanga diam sebentar, "Kau tahu kan bahwa aku tak pernah berpacaran dan aku juga tak pernah jatuh cinta pada lelaki manapun. Tapi untuk pertama kalinya, kurasa aku sudah jatuh hati padamu."


****


Hai, hai terimakasih ya yang sudah menanti cerita ini yang sangat kacau dari segi plot bahkan waktu update. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya pada kalian🙏😭 Next, cerita selanjutnya, aku berusaha akan update secepat mungkin, secepat badai kalau bisa. Aku memang cukup sibuk beberapa waktu belakangan ini, aku kuliah sambil kerja, dan pulang kerjaku biasanya malam itupun belum ditambah dengan tugas kuliah yang menumpuk. Aku harap kalian memaklumi aku yang belum bisa mengatur waktu dengan baik ya 🥺


Aku bakal terus produktif nulis kok, temen-temen. Makasih ya atas support kalian selama ini. Meski aku mungkin jarang balas komen, tapi percayalah, komentar kalian benar-benar bikin aku semangat banget. Thankyou so much gaes🙏🌹🥰

__ADS_1


So, sampai ketemu di new story ya, akan aku post dalam waktu dekat. See you🌹


__ADS_2