
Sepeninggal Kenanga dan Jack ke kamar, kini di ruang tamu hanya ada Nana dan Alfin. Mereka saling terdiam beberapa saat lebih tepatnya Nana menunggu saat tepat untuk berbicara setelah memastikan Kenanga dan Jack sudah berada di dalam kamar.
"Jadi kedatanganmu ke Jakarta ada apa? Apakah mencariku? Tapi kenapa kalian hanya berdua? Ruben tidak ikut?" Celetuk Alfin memulai pembicaraan.
"Itu yang sebenarnya ingin kukatakan padamu. Soal Ruben." jawab Nana gelisah.
"Ada apa dengan Ruben?" tanya Alfin penasaran.
Wajah Nana seketika kelabu, dia menatap Alfin dengan sorot menyakitkan.
"Ruben sakit keras, Fin. Waktunya tinggal sebentar lagi." ucap Nana seketika berlinang air mata.
Alfin terdiam, sontak menutup mulutnya. "Astagfirullah, kamu serius Na? Kau tidak sedang bercanda kan?" seru Alfin tak percaya.
Nana mengangguk, "Aku serius, Fin. Ruben terkena kanker dan penyakitnya sudah menyebar kemana mana. Dokter mendiagnosa bahwa usianya tak lagi lama."
Alfin membasahi bibir bawahnya yang seketika kering akibat mendengar kabar mengejutkan dari Nana. 3 tahun mereka tak bertemu, dan sekalinya bertemu, dirinya langsung mendengar kabar menyakitkan itu.
"Jadi kamu datang menemuiku untuk memberitahukan kondisi Ruben? Apakah Kansha tahu?"
Nana menggeleng, "Aku belum menceritakannnya pada Kansha. Kansha sedang hamil, aku tidak ingin ini menjadi bahak fikirannya dan malah akan membahayakan janin yang dikandungnya."
Alfin menghela nafas berat, "Kamu benar. Jangan sedih, Na. Aku tahu kamu perempuan kuat. Kamu mamanya Jack yang tangguh." ucap Alfin menyemangati.
Nana mengangguk berterimakasih.
"Oh ya kamu sudah makan malam?" tanya Nana.
Alfin menggeleng, "Belum, biasanya aku makan malam dengan istriku."
"Ah benar, aku lupa bahwa kau sudah memiliki istri. Omong-omong selamat atas pernikahan kalian, maaf aku tidak datang." ucap Nana.
"Tidak apa-apa. Terimakasih juga ya."
"Aku akan memasakkan makan malam untuk kalian, bagaimana?" tawar Nana.
"Ah tidak perlu, itu terlalu merepotkan dirimu dan kamu adalah tamu." tolak Alfin halus.
Nana menggeleng, "Tidak apa-apa. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena kamu sudah mau membantu merawat Jack selama ini. Dan juga permintaan maaf ku pada istrimu atas kelancanganku yang sudah bersikap tak sopan." ucap Nana merasa tak enak.
"Istrimu tidak akan dendam padaku, kan?" tanya Nana khawatir.
"Tentu saja tidak, Kenanga bukan tipe orang seperti itu. Kau tenang saja." ucap Alfin menenangkan.
Nana menghembuskan nafas lega, "Syukurlah."
***
Kenanga menatap datar melihat pemandangan di depannya yang bak keluarga bahagia di negeri dongeng itu. Ada Alfin yang tengah menyuapi Jack dan Nana yang tersenyum dan sesekali bercanda dengan Jack. Kenanga rasanya seperti orang asing yang menganggu kehidupan bahagia mereka.
Kenanga berharap Alfin melihatnya ke arahnya dan menyadari bahwa dia juga ada disana.
Layaknya telepati, Alfin menatap Kenanga yang sedari tadi diam bak patung. Alfin lalu tersenyum manis.
"Dimakan, Nggi. Kamu belum makan banyak sejak pagi." ucapannya sangat lembut.
Kenanga mengangguk dan mulai memiliki mood kembali memakan makanannya.
"Na, masakannya sangat enak. Kamu pintar memasak ya sekarang." ucapan Alfin hampir membuat Kenanga melepehkan makanannya. Ini buatan perempuan itu? Kenanga kira, Alfin memesan makanan dari luar seperti biasanya.
"Semenjak menikah, aku jadi rajin ikut kelas masak. Aku iri pada Kansha yang bisa memasak berbagai macam masakan." jawab Nana.
Nana lalu menoleh pada Kenanga, "Kamu juga pintar memasak kan? Alfin pernah bilang bahwa salah satu tipe wanita idamannya adalah yang jago memasak." ucap Nana.
Kenanga berdeham mendengar ucapan mematikan Nana.
"Kenanga.."
"Saya tidak bisa memasak. Dan mungkin selamanya tidak akan bisa. Pekerjaan saya terlalu menyita waktu saya, saya tidak punya waktu untuk belajar memasak." potong Kenanga memotong ucapan Alfin.
__ADS_1
Nana tersenyum lalu menoleh pada Alfin, "Sepertinya seleramu terhadap perempuan sudah berubah ya Alfin. Sekarang agak berkurang." ucap Nana tenang namun menusuk perasaan Kenanga.
Kenanga memutar bola matanya malas.
"Kenanga, mau tidak kamu belajar memasak denganku?" tawar Nana tiba-tiba.
Kenanga menghembuskan nafas kesal, "Tidak, terimakasih." ucapnya singkat.
Nana tersenyum manis menutupi rasa kekesalannya atas penolakan Kenanga. Dia menoleh kembali pada Alfin.
"Tidak bisa kubayangkan bagaimana hidupmu, Fin. Pola makanmu di rumah sakit juga tak benar seharusnya di rumah kamu bisa makan dengan baik tapi ini..."
Cukup sudah. Kenanga muak mendengar perkataan Nana yang selalu menyudutkannnya itu. Kenanga membanting sendoknya dengan sedikit sentakan keras membuat semua orang di meja makan terkaget. Dia lalu bangkit dari kursinya.
"Aku tidur duluan." ucapnya datar.
Namun baru saja beberapa langkah, suara Nana kembali terdengar.
"Oh ya Fin, untuk malam ini aku dan Jack menumpang tidur disini ya."
Kenanga membulatkan matanya, dia langsung berbalik dan menatap Nana.
"Kenapa?" tanya Kenanga.
Nana tersenyum, "Ini sudah malam, dan rumah lama kami di Jakarta juga sudah dijual."
"Kalian bisa menginap di hotel." tukas Kenanga.
"Kami tidak membawa mobil la
gipula Jack tidak suka menginap di hotel dan ini juga sudah tengah malam. Alfin tidak mungkin tega membiarkan kami luntang lantung kan."
"Tapi kamarnya hanya ada satu." balas Kenanga lagi.
Iya hanya satu, kamar bekas yang dipakai Kenanga dulu, sudah beralih fungsi sebagai ruang kerja dan perpustakaan.
Alfin terdiam berfikir lalu berkata, "Kalau begitu, kalian bertiga tidur di kamar kami biar aku tidur sendiri di ruang tamu." putus Alfin.
"Bertiga? Alfin apakah akan muat? Aku tahu ranjangmu pasti besar tapi Jack tidurnya suka tidak beraturan." tukas Nana. Nampak seperti tidak mau harus sekasur dengan Kenanga.
Kenanga berdecih sinis, lagipula siapa yang ingin tidur sekasur dengan mereka? Kenanga juga ogah.
"Aku di ruang kerja saja, terserah kalian mau dimana." ketus Kenanga langsung pergi.
Alfin langsung beranjak, dia mengejar Kenanga.
"Kenanga, tunggu." Alfin menahan tangan Kenanga yang baru saja mengambil selimut dan bantal dari kamar mereka.
Di depan pintu kamar mereka, Kenanga menatap datar Alfin.
"Apa?" tanyanya ketus.
"Tolong jangan marah. Jack masih kecil dan dia benar-benar tidak suka hotel. Lagipula ini juga sudah malam, rumah mereka sudah tidak ada di Jakarta." jelas Alfin.
"Oh ya? Lalu bagaimana dengan rumah kakak iparmu? Kau bilang dia temannya Kansha." tukas Kenanga dongkol.
"Iya tapi Kansha tidak tahu bahwa Nana ada disini."
Kenanga berdecih, "Temannya siapa yang direpotin siapa." kesalnya. "Sudah, aku mau tidur." Kenanga melepaskan tangan Alfin dari tangannya lalu berjalan pergi sambil membawa selimut dan bantal.
Alfin hanya menghela nafas pelan.
***
Kenanga sedang menggelar karpet yang berada di ruang kerja agar bisa dia pakai tidur. Untung karpetnya tebal, setidaknya dia tidak perlu merasakan dinginnya lantai. Setelah mengapit karpet dengan meja dan kursi, Kenanga merebahkan dirinya ke karpet. Seketika dia mengerang, astaga punggungnya terasa sakit.
Kenanga membungkus dirinya dengan selimut yang dibawanya. Lalu mengecek ponselnya. Ada pesan di grupnya dan Kenanga malas mengeceknya, dia yakin sekali itu adalah Angga yang sedang mengoceh di grup. Calon ayah itu sedang dalam mode gila karena istrinya yang terus mengidam tanpa henti.
Kenanga sama sekali tak tertarik mengurusinya.
__ADS_1
Kenanga mematikan lampu, dan hanya cahaya remang-remang dari lampu meja yang masih berpendar. Dia tidak terlalu suka terang dan gelap, jadi cukup penerangan samar-samar saja.
Kresek kresek
Kenanga yang baru saja menutup mata seketika terbangun ketika merasakan ada yang merangsek di sampingnya. Dia menoleh ketika tatapannya bertemu dengan Alfin yang mencoba merebut sedikit bagian selimut.
"Apa yang kau lakukan?" seru Kenanga kesal sekaligus terkejut ada Alfin.
"Tidur. Bagi sedikit selimutnya, malam ini dingin sekali. Kau tidak mematikan AC ya?" cerocos Alfin.
Kenanga hanya terdiam lalu merebut kasar selimut dari Alfin dan membungkus untuk dirinya sendiri. Alfin memajukan bibirnya.
"Ini untuk diriku sendiri." tandas Kenanga lalu membelakangi Alfin.
"Kau marah?" tanya Alfin. Kenanga tak menjawab.
"Kenanga." Alfin menyentuh pundak Kenanga. Kenanga menyentak pundaknya.
"Jangan pegang-pegang." ketusnya.
Alfin menghela nafas, "Aku tidak tahu kenapa kamu bisa sekesal ini. Apakah hanya karena Nana dan Jack yang datang dan menginap..."
"Bukan itu, aku hanya tidak suka dengan cara mereka memperlakukanku. Temanmu mengira bahwa aku bukan istri yang baik untukmu, tidak bisa memperlakukanmu dengan baik. Dan ha, anak kecil songong itu juga sangat tidak sopan." gerutu Kenanga memotong pembicaraan Alfin.
Alfin tersenyum geli, "Kamu sangat lucu kalau sedang menggerutu seperti itu."
Kenanga menatap tajam Alfin membuat Alfin seketika mingkem.
"Anggi, Jack hanyalah anak kecil. Dia masih perlu banyak belajar menghormati orang yang lebih tua. Kuharap kamu bisa memakluminya." ucap Alfin.
"Kalau begitu kenapa orang tuanya tidak memberinya pelajaran etika." tukas Kenanga kesal.
"Itu karena sejak Jack lahir, Nana dan Ruben sangat sibuk dengan pekerjaannya. Jack hanya dirawat oleh nanny-nya." terang Alfin.
"Itu namanya orang tua tidak bertanggung jawab." tegas Kenanga.
Alfin menyentuh pundak Kenanga lagi, menenangkan Kenanga yang kembali kesal.
"Papanya Jack menderita kanker stadium akhir. Dokter mendiagnosis bahwa usianya kurang dari sebulan lagi."
"Itu yang kalian bicarakan tadi?" tanya Kenanga. Alfin mengangguk.
"Kamu bisa bayangkan bagaimana anak sekecil Jack kehilangan papanya selama-lamanya? Jack bahkan tidak tahu bahwa papanya sakit parah, dia hanya tahu bahwa papanya sedang bekerja di luar negeri."
Hati Kenanga mulai tenang. Ada perasaan kasihan menyeruak di sanubarinya.
"Berapa usia Jack?" tanya Kenanga.
"3 tahun."
"Masih kecil." gumam Kenanga.
Alfin mengangguk, "Maka dari itu, aku mohon sama kamu, tolong maklumi apa yang dilakukan Jack tadi, dia hanya anak kecil yang memang belum tahu mana yang baik dan benar. Dan juga jangan beritahu soal keadaan papanya ya." pinta Alfin.
"Aku bisa memakluminya. Tapi kenapa dia tidak boleh diberitahu? Itu papanya sendiri." tanya Kenanga bingung.
"Nana belum siap mengatakan semuanya pada Jack. Dia belum siap kehilangan senyuman Jack tatkala mengetahui bahwa papanya sekarat."
Kenanga mendesah pelan. Kasihan juga Jack. Dia tahu rasanya ditinggal tiada. Tapi saat itu dirinya masih SMA, setidaknya dia sudah dewasa dalam hal psikologis. Tapi Jack? anak itu bahkan baru saja belajar berjalan dan berlari.
"Aku mengerti." angguk Kenanga.
Alfin tersenyum lega. Dia memeluk Kenanga dari belakang, "Terimakasih, aku bersyukur."
Kenanga membeku ketika Alfin memeluknya dari belakang, "Bersyukur apa?" tanyanya terbata-bata.
"Bersyukur memilikimu." jawab Alfin, mengeratkan pelukannya pada Kenanga.
Tanpa sadar Kenanga tersenyum lebar. Dan mulai menutup mata, mengikuti Alfin yang sudah terlelap lebih dulu.
__ADS_1