
Siska dan Satya berjalan menuju ruangan Kenanga. Sebelum tangannya membuka pintu, Siska menoleh lebih dulu pada Satya.
“Apa temanmu sekaligus suaminya temanku ada disini?” tanya Siska.
Satya mengendikkan bahunya tidak tahu.
“Tapi dia tahu kan kalau Kenanga terluka?” tanya Siska lagi.
Satya mengangguk, “Tentu saja tahu. Pertama kali kuberitahu, dia sangat terkejut sampai-sampai menjatuhkan kopinya. Kudengar dia sampai berlari ke ruang operasi dan langsung mengambil alih dari Dokter Aji.” Cerita Satya.
Siska tersenyum puas, “Dia cukup diandalkan.” Komentarnya. Setelah itu Siska membuka pintu.
Tapi begitu Siska masuk, dia langsung membeku. Mulutnya menganga melihat kejadian yang tak pernah dia sangka harus dia lihat dua kali. Sedangkan Satya yang baru masuk bingung melihat Siska yang diam saja. Dia lalu mengikuti arah pandang kekasihnya dan seketika terkejut.
“Apa..yang kalian lakukan?” tanya Satya terbata-bata.
Kenanga terkejut, dia langsung mendorong wajah Alfin. Matanya melotot, “Apa yang kau lakukan?!” serunya.
Alfin membeku ditempatnya. Dia sadar ada Satya dan Siska. Lelaki itu menatap Kenanga dengan wajah bersalah.
“Saya minta maaf. Saya tidak sengaja.” Ucap Alfin.
“Apa yang tidak sengaja?!” sentak Kenanga.
Alfin menggaruk kepalanya, “Kakak tidak ingin minum susu padahal kakak harus minum agar bisa minum obat. Saya tahu kakak tidak suka dipaksa jadi—“ Alfin menggantung ucapannya. Dia berbicara dengan hati-hati.
“Jadi Dokter Alfin terpaksa menciummu, eh bukan, terpaksa meminumkannya padamu.” Sela Siska sambil berjalan mendekati Alfin dan Kenanga.
“Tidak buruk, Dokter Alfin. Aku suka dengan kebaikanmu. ” Puji Siska duduk diranjang Kenanga.
Kenanga mendorong kepala Siska karena bicara ngawur. Dia menatap tajam pada Alfin yang kini sudah berdiri bagai patung itu.
Satya juga ikut menghampiri Alfin, “Astaga, temanku sudah dewasa kalau urusan percintaan. Aku harus belajar banyak darimu.” Ujar Satya merangkul bahu Alfin.
“Aku setuju. Eh Satya, belajarlah dari Alfin. Kutunggu perubahanmu!” timpal Siska.
“Sayang, apa aku seburuk itu hingga kau harus menunggu perubahanku?” tukas Satya.
Siska menggeleng, “Jelas kamu punya banyak pengalaman tapi Dokter Alfin, meski hanya mengencani satu wanita seumur hidupnya, dia lebih mahir darimu.”
Alfin rasa dia harus menghentikan pembicaraan tak berbobot ini.
“Euu, Satya, aku harus pergi ke ruang laboratorium, kau temani aku.” Selanya menatap Satya.
Satya mengerutkan dahinya, “Untuk apa kau datang kesana?”
“Aku harus melihat hasil larutan darah salah satu pasienku.”
“Terus kenapa kau memintaku menemanimu?”
Alfin tersenyum menahan kesal, Satya belum peka juga. Akhirnya dia menginjak kaki Satya, “Temani saja.” Tekan Alfin.
Satya mengerti, lelaki itu mengangguk sambil menahan sakit. “Kutemani, kutemani.”
Alfin tersenyum senang, dia lalu menoleh kembali pada Kenanga. “Kak, saya masih ada urusan. Saya akan kembali besok untuk melihat kondisimu. Jangan lupa diminum obatnya.”
Kenanga mengabaikannya hingga akhirnya Siska mencubit lengannya, Kenanga mendesah pelan. Dia akhirnya mengangguk meski masih tak ingin melihat wajah Alfin.
“Jangan datang kesini lagi. Kau bukan dokterku.” Ujar Kenanga dingin.
Alfin terdiam. Sepertinya Kenanga masih marah padanya. Alfin mengerti. Dia mengangguk pelan, “Saya permisi. Selamat malam.” Pamitnya. Satya mengikutinya keluar ruangan.
Sepeninggal mereka berdua, Siska menghadapkan tubuh Kenanga ke arahnya.
“Bagaimana bisa kau mengatakan itu pada suamimu sendiri?”
“Apa perkataanku salah?” balas Kenanga.
Siska mendesah pelan, “Kalau nada bicaramu terus –terusan seperti itu, jangan menangis bila suamimu direbut wanita lain!”
“Tidak mungkin.” Tukas Kenanga acuh.
“Kenapa tidak mungkin? Menurut Satya, Alfin itu salah satu mahasiswa paling populer di kampusnya. Banyak yang suka dan tergila-gila padanya. Bahkan hampir semua dokter dan perawat wanita di rumah sakit ini paling tidak pernah membicarakannya sekali. Pengagumnya jauh lebih banyak dari dugaanmu. Kau membuangnya maka dia akan cepat diambil orang lain.”
Kenanga tak peduli, dia mendorong Siska dengan kakinya, “Turun. Aku ingin beristirahat.”
Siska mendengus kesal. “Jangan menyesal!” ujar Siska turun dari ranjang.
Kenanga hanya mengangguk acuh dan langsung berbaring.
“Pergilah.” Usirnya sambil memejamkan matanya.
“Yasudah aku pergi.” Ucap Siska sebal. Dia langsung keluar ruangan. Nanti dia kembali ke kamar kalau Kenanga sudah tertidur.
Blam
Mendengar pintu telah ditutup, Kenanga membuka matanya lagi. Fikirannya tiba-tiba tertuju pada ucapan Siska.
“Kenapa tidak mungkin? Menurut Satya, Alfin itu salah satu mahasiswa paling populer di kampusnya. Banyak yang suka dan tergila-gila padanya. Bahkan hampir semua dokter dan perawat wanita di rumah sakit ini paling tidak pernah membicarakannya sekali. Pengagumnya jauh lebih banyak dari dugaanmu. Kau membuangnya maka dia akan cepat diambil orang lain.”
Kenanga berdecih, “Milikku tetap milikku. Siapa yang berani merebutnya?”
***
Alfin dan Satya berjalan beriringan dan ketika berada di kelokan, Alfin malah berjalan lurus alih-alih belok ke kanan.
“Eh, jalan menuju lab ke kanan. Kenapa kau lurus saja?” cegah Satya.
Alfin berhenti sesaat lalu melihat jalan yang ditunjuk Satya, “Oh.” Sahutnya acuh lalu kembali berjalan lurus.
Satya tertawa kecil lalu mengejar Alfin yang berjalan lebih dulu.
“Eh, kutanya padamu ya. Kenapa kau bisa-bisanya mencium Kenanga? Benar hanya karena dia tidak minum susu dan kau membantunya?”
Alfin mengangguk.
“Kau serius?! Alasan sereceh itu?” seru Satya tak percaya.
Alfin kembali mengangguk. “Aku tahu ini cukup ekstrem dan gila. Menurutmu apa Kenanga sangat marah padaku?”
“Tentu saja. Mungkin kau harus mendapat satu tendangan!”
__ADS_1
Raut Alfin seketika cemas, “Separah itu?”
“Tidak juga. Bagaimanapun sah-sah saja kalian berciuman toh kalian sudah menikah. Tapi dalam kasus kalian, kalian menikah karena perjodohan dan kalian juga belum saling mencintai. Ciuman terasa berlebihan.”
“Tapi dalam kasus ini bukannya satu sama?” gumam Alfin. Dia ingat bahwa Kenanga juga pernah menciumnya kala mereka berdua jatuh menimpa satu sama lain saat insiden tepung itu.
“Apa yang kau katakan?” tanya Satya tak mendengar gumaman Alfin.
Alfin menggeleng, “Kita minum kopi saja. Kebetulan aku harus berjaga malam ini.”
Satya menggeleng keras, “Maaf, bro. Aku harus pulang.”
“Kenapa? Siska juga pasti menjaga Kenanga.”
"Itu Siska. Aku, tentu saja harus pulang."
Alfin melipat tangannya di atas dada, "Kenapa lelaki sepertimu tidak memiliki rasa nuraninya sama sekali? Jelas-jelas kekasihmu menginap di rumah sakit, kau sebagai pacarnya setidaknya temani dia."
Satya tersenyum lebar, "Kalau begitu, kau sebagai suami Kenanga, temani istrimu. Jangan sampai malah kekasihku yang harus menemaninya." balasnya.
Alfin langsung menurunkan kedua tangannya, dia berbalik.
"Sampai besok pagi." ucapnya langsung pergi.
Satya terkekeh, "Jangan banyak minum kafein!" teriaknya.
***
Pagi hari tiba. Kenanga meringis sakit sejak dini hari. Tapi dia tidak tega membangunkan Siska. Perempuan itu terus menahan sakitnya. Dadanya amat sakit.
Tok tok
Pintu diketuk dari luar. Alfin masuk ke ruangan Kenanga. Meski perempuan itu bilang bahwa dia tak boleh datang tapi sebagai seorang suami, dia jelas harus berada disisi Kenanga. Itu adalah salah satu kewajibannya, bukan?
Alfin tersenyum tipis melihat Kenanga sudah bangun. Dia menghampiri ranjang.
"Sudah bangun?" tanyanya.
Kenanga tak menjawab. Dia terus saja meringis. Wajah Alfin seketika berubah.
"Apa yang terjadi? Kamu kesakitan?"
Kenanga menelan salivanya dengan susah payah, rasanya dadanya amat sesak. Dia bernafas cukup berat.
Alfin langsung memeriksa kondisi Kenanga.
"Sangat sakit?" tanyanya. Kenanga mengangguk.
Siska akhirnya terbangun setelah mendengar suara riuh. Dia langsung mendekati ranjang.
"Apa yang terjadi?" paniknya ketika melihat Kenanga yang terbaring dengan wajah penuh kesakitan.
"Anestesinya sudah habis makanya Kenanga merasa sakit. Apalagi lagi dadanya baru saja dibedah. Aku akan mengambil obat pereda nyeri dulu. Kau temani dulu."
Siska mengangguk maka Alfin pun segera berlari pergi.
"Tahanlah sedikit lagi ya." ringis Siska cemas. Dia mengusap peluh dingin di wajah polos Kenanga.
Satu menit kemudian, Alfin kembali. Dia langsung menyuntikkan cairan ke infus Kenanga. Kenanga berangsur tenang, tak menggeliat sakit seperti tadi.
"Kusintikkan obat pereda nyeri." jawab Alfin.
"Ah benar, aku juga dokter, aku lupa." ujar Siska linglung.
"Hari ini Kenanga memiliki jadwal rontgen dada. Kamu bisa menemaninya?" tanya Alfin.
Siska mengangguk, "Aku harus masuk kerja hari ini. Tapi aku bisa melihatnya disela-sela jadwalku."
Alfin mengangguk, "Aku sudah berkoordinasi dengan Dokter Temi. Kamu bawalah Kenanga jam sebelas nanti."
Siska mengangguk mengerti.
***
Amelia berada di rumah sakit. Dia berjalan dengan anggun. Tapi pandangannya mengedar ke sekeliling. Dia tengah mencari Alfin.
Tapi matanya menyipit ketika melihat siluet Satya. Dia langsung memanggilnya.
"Satya!"
Satya menoleh, dia terkejut melihat Amelia berdiri menatapnya. Satya langsung menghampirinya.
"Amel? Kenapa kau ada disini?" tanya Satya. Alfin, Satya dan Amelia adalah teman sekampus tapi berbeda jurusan.
"Datang bekerja." jawab Amelia santai.
"Bekerja?"
Amelia mengangguk, "RSAM akan membuka departemen psikologi anak. Aku diundang untuk menjadi salah satu stafnya." jelas Amelia.
"Kau bukannya sedang mengejar pendidikan balet? Kenapa sekarang tiba-tiba jadi psikolog?" Pasalnya Amelia memang bercita-cita menjadi balerina tapi terhalang restu orang tuanya.
"Tadinya seperti itu tapi mereka masih ketat terhadap pilihanku. Kebetulan juga direktur rumah sakit adalah kenalan ayahku jadi mereka meminta memasukkanku kesini."
"Kau pasti sangat kecewa."
Amelia menggeleng, "Tidak juga. Meski aku tidak bisa mengejar impianku, tapi bekerja disini membuatku selangkah lebih dekat dengan impianku yang lain."
"Apa itu?"
Amelia tersenyum, "Alfin."
Satya terkejut, "Kau datang kesini karena Alfin?"
Amelia mengangguk, "Tentu saja. Kalau tidak kenapa aku mau dipindahkan kesini. Sedangkan ada banyak klinik psikolog yang lebih baik."
Satya terperangah. Dia tahu bahwa sejak duduk di bangku kuliah, Amelia sudah menyukai Alfin tapi saat itu cintanya tidak terbalas karena Alfin berpacaran dengan Syafira. Dan sekarang cintanya juga akan kembali bertepuk sebelah tangan.
"Oh ya dimana Alfin?" tanya Amelia.
"Di ruangan radiologi."
__ADS_1
"Antarkan aku kesana."
"Untuk apa?" tanya Satya pasalnya Alfin sedang menemani Kenanga.
"Membagikan kabar ini. Ayo." ajak Amelia.
Satya menganggukan kepala. Daripada menjelaskannya, lebih baik Amelia menyaksikan sendiri apa yang telah terjadi pada hidup Alfin.
***
Alfin, Kenanga dan Siska baru saja keluar dari ruangan radiologi.
"Ayo kak, saya antar."
Kenanga menggeleng, "Tidak perlu. Saya bisa sendiri." tolak Kenanga datar.
Alfin mendesah pelan, sepertinya Kenanga masih marah. Kemudian dikejauhan terluhat Satya dan Amelia datang di waktu bersamaan menghampiri mereka.
"Hai, Fin." sapa Amelia.
"Amel, kenapa kau disini?" tanya Alfin. Dia bahkan melirik Satya penuh keterkejutan.
"Aku datang bekerja. Mulai hari ini aku akan bekerja disini."
"Hah?" Alfin terkejut.
"Aku sudah memikirkannya matang-matang. Omonganmu benar."
"Omonganku yang mana?" tanya Alfin bingung.
Amelia tersenyum, "Ketika kita bertemu di taman saat aku pergi dari rumah. Kamu benar, tidak seharusnya aku menentang orang tuaku. Mereka menghalangi mimpiku bukan karena tidak sayang tapi mereka hanya berfikir realistis. Selama aku menjadi balerina, kuakui aku belum pernah memiliki prestasi yang membanggakan. Itu seperti pertanda bahwa balet hanya untuk kesenanganku, tidak untuk masa depanku."
Siska berbisik di telinga Kenanga yang sedari tadi memerhatikan interaksi Alfin dan Amelia.
"Bukankah sudah kubilang, ada banyak wanita yang menyukai Alfin. Salah satunya dihadapanmu ini. Dia Amelia, saingan cinta terberatmu."
Kenanga hanya diam.
"Aku mendukung semua keputusanmu." ucap Alfin. Amelia tersenyum makin lebar, dia menganggukan kepala.
"Eh Siska, aku belum sempat menyapamu. Kau baik-baik saja?" Amelia kini menoleh pada Siska.
Siska hanya tersenyum paksa, "Baik, tidak pernah sebaik ini."
"Tentu saja kau harus baik. Kudengar kau balikkan dengan Satya. Satya, kau harus menjaga Siska baik-baik kalau tidak ingin dia pergi lagi."
Siska mengatupkan mulutnya. Dia merasa enek dengan semua ucapan 'manis' Amelia. Yah, mereka sempat menjadi 'teman baik' .
"Tenang saja, kali ini tidak ada yang akan pergi." ujar Siska tersenyum.
"Baguslah." ujar Amelia. Dia lalu menatap Kenanga yang ada di kursi roda, "Ini..."
"Dia Kenanga." jawab Alfin.
"Hai Kenanga, kuharap kamu segera sembuh." ujar Amelia tersenyum manis.
Kenanga hanya mengangguk, "Terima kasih."
Siska sungguh tidak senang ada Amelia disini. Dia gerah dengan sikap pura-pura manis Amelia.
"Fin, kau bisa mengantarku melihat-lihat rumah sakit? Aku tidak mau tersesat nantinya." pinta Amelia.
"Lihat, ular boa itu mulai merayu suamimu." bisik Siska memanasi.
Alfin mengangguk, "Boleh."
Satya dan Siska melotot, mereka terkejut dengan kesediaan Alfin.
"Suamimu akan direbut. Siapkan tembakan balasan." bisik Siska lagi pada Kenanga.
Kenanga terdiam sesaat lalu menatap Alfin, "Alfin, antar saya kembali ke ruangan."
Siska dan Satya tersenyum senang.
"Tadi bukankah kakak..."
"Saya berubah fikiran. Kenapa? Tidak mau?" potong Kenanga.
Alfin menggeleng, "Jelas tidak. Ayo saya antar kamu." ucapnya langsung berdiri di belakang kursi roda. Kenanga berusaha menahan senyum kemenangannya.
"Maaf, Amelia, lain kali saja. Saya harus mengantarnya ke ruangannya."
"Tidak ada lain kali." sela Kenanga tegas. Siska tersenyum geli.
"Ayo." ajak Kenanga tanpa melihat raut Amelia.
Alfin mengangguk, mereka berdua pergi.
"Siapa dia? Kenapa Alfin dekat sekali?" tanya Amelia.
Siska tersenyum, "Cari tahu sendiri. Tapi kau akan menderita kalau tahu." ujarnya mengejek.
***
Alfin dan Kenanga berjalan menuju ruangan Kenanga.
"Tadi kenapa kakak tiba-tiba ingin diantar?" tanya Alfin.
"Melindungi milikku." jawab Kenanga acuh.
"Hah?" Alfin tidak mengerti.
"Milikku adalah milikku. Dan dia harus tahu itu." ujar Kenanga lugas.
"Apa maksudnya?"
Kenanga menoleh ke belakang, menatap Alfin, "Kau milikku, dan milikku tidak boleh direbut. Kau mengerti sekarang?"
Alfin terkejut, dia langsung berhenti berjalan. Kursi roda Kenanga juga turut berhenti.
...-----...
__ADS_1
Aku minta maaf kalau akhir-akhir ini sering UP sore banget🙏 Itu karena ada urusan keluarga yang gak bisa ditinggalkan. Jadi aku hanya nyentuh laptop atau nulis di waktu yang terbatas, semoga kalian bisa mengerti ya🙏😥
Semoga tetap suka, ya. Jangan lupa like, komen dan votenya ya! Semoga tetap suka💙😊