The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 34. Sebuah Kebenaran?


__ADS_3

"Kenalkan, aku Amelia. Kekasih Dokter Alfin yang hendak kau goda itu." tandas Amelia dengan senyum manisnya.


"Apa? " Riska terkejut mendengar ucapan dari perempuan itu.


Tapi dari semua itu Alfin lah yang paling syok. Bahkan ketika Amelia menatapnya.


"Jadi, lebih baik kau urus pekerjaanmu dan jangan bermimpi mendekati Alfin lagi. Kau dan dia hanyalah sebatas rekan kerja." tegas perempuan itu.


Wajah Riska nampak merah menahan amarah. Dia seperti hendak meledak kalau saja tidak ada Alfin disini.


Riska lalu menatap Alfin dan wajahnya seketika menampilkan senyum.


"Maaf dokter. Saya permisi dulu." pamitnya kemudian langsung pergi. Bahunya sengaja menabrak bahu Amelia dengan keras.


"Hati-hati, jangan sampai salah menusuk jarum!" seru Amelia lalu tertawa.


"Ekhem." deham Alfin yang sedari tadi terus diam.


Amelia seketika menoleh. Dia tersenyum manis.


"Bagaimana, aktingku tadi bagus kan?" tanyanya tanpa dosa.


"Kenapa kau melakukan itu? Kita tidak memiliki hubungan sama sekali." ujar Alfin datar.


Amelia hanya mengendikkan bahunya acuh, "Aku cuma ingin membantu. Siapapun tahu bahwa sustermu itu mencoba merayumu dan aku tidak bisa diam saja sebagai teman kampusmu." jelas Amelia.


Alfin mendesah pelan, "Tapi tidak dengan pura-pura menjadi kekasihku. Kau bisa menggunakan cara lain."


"Kalau aku tidak mengatakan bahwa aku kekasihmu maka dia tidak akan kapok. Lagipula bukankah lebih baik bila musuh kita tumbang hanya dengan satu pukulan?


Kemudian mata Amelia menyipit. Dia memerhatikan Alfin dengan seksama. Alfin risi ditatap seperti itu.


"Apa yang kau lakukan?"


"Alfin, kau marah seperti ini karena kamu sudah punya kekasih? Jadi kamu takut kekasihmu tahu kalau aku pura-pura menjadi kekasihmu?" tebak Amelia.


Alfin menghembuskan nafas pelan, "Kau berbicara omong kosong."


"Jadi kau belum punya kekasih?" tanya Amelia.


"Kenapa menyimpulkannya seperti itu?" tukas Alfin.


"Kalau begitu jawab, apa kamu sudah memiliki kekasih?"


Alfin terdiam sesaat.


"Apa hubungannya denganmu?" tanya Alfin tak menjawab pertanyaan Amelia sama sekali.


Amelia tersenyum kecil.


"Ah, jadi sudah ya. Siapa? Cantik tidak?" tanyanya.


"Aku tidak memiliki kekasih."tandas Alfin lelah.


Senyum Amelia semakin mekar, "Apa kau sedang memberi kode padaku?"


Alfin mengerutkan dahinya.


"Apa maksudmu?" tanya Alfin.


Amelia hanya menggelengkan kepala.


"Tidak. Ayo traktir aku kopi." ucapnya.


"Tiba-tiba?"


Amelia tak menjawab. Dia malah pergi mendahului Alfin.


"Tanda terimakasih. Cepat, sebelum aku kembali untuk menyeretmu." teriaknya.

__ADS_1


Alfin kembali mendesah pelan.


"Memangnya siapa yang butuh bantuanmu?" gerutu lelaki itu. Dan kini dia malah harus membalas budi.


***


Alfin dan Amelia kini sedang berada di kafe dekat rumah sakit. Hanya Amelia yang memesan kopi sedangkan Alfin menunggu Amelia selesai meminum kopinya agar dia bisa segera kopi.


Amelia menyadari raut tak nyaman Alfin. Dia meletakkan cangkirnya ke atas meja.


"Sepertinya kamu tidak nyaman denganku." celetuk Amelia.


"Hah? Siapa? Aku?" tanya Alfin terkesiap.


Amelia mengangguk. "Sejak tadi kamu terus celingak-celinguk lalu menatap kopiku dengan tak sabaran. Sepertinya kamu ingin segera pergi." papar Amelia.


"Aku tidak berfikir seperti itu." sanggah Alfin. Dia sudah ketahuan.


"Baiklah, aku anggap kamu nyaman bertemu denganku. Jadi kenapa saat acara reunian dulu kamu langsung pergi tanpa pamitan?"


Alfin menatap aneh pada kepribadian tak biasa Amelia.


"Kau sepertinya suka menyimpulkan sendiri dan mengalihkan topik dengan cepat." komentar Alfin.


"Kenapa? Kau kagum?"


Alfin seketika menggeleng.


"Aku biasanya memang seperti ini. Daripada sakit hati dengan kesimpulan orang lain lebih baik aku percaya pada pendapatku sendiri." ucap Amelia santai.


Alfin hanya tersenyum paksa.


"Jadi sekarang mau jawab pertanyaanku? Kenapa saat acara reunian dulu kamu langsung pergi tanpa pamitan?"


"Itu tidak ada hubungannya denganmu." tukas Alfin.


Alfin tersentak kaget dengan sifat blak-blakan Amelia.


"Kau dulu sepertinya tidak seperti ini?" tanya Alfin dengan nada hati-hati.


Amelia meredakan emosinya, "Semua orang bisa berubah tidak terkecuali aku."


Alfin hanya mengangguk setuju.


"Omong-omong, kudengar kamu memang sudah punya kekasih saat kita masih sekampus dulu. Masih dengannya?"


Alfin terdiam cukup lama. Dia menggeleng pelan. Ekspresinya kembali murung.


"Kalian putus?"


"Bukan putus juga." Alfin terdiam kembali, "Tapi anggap saja begitu." lanjutnya.


"Kenapa? Kau dikhianati olehnya? Atau kau ditinggal menikah?" tebak Amelia penasaran.


Alfin menggeleng pelan.


"Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Aku boleh pergi kan?" Alfin mengalihkan topik.


Amelia sadar bahwa Alfin tak ingin bicara soal itu. Jadi dia hanya bisa mengalah.


"Berikan aku nomor telfonmu." ucapnya.


"Kenapa?"


"Kita sudah tidak bertemu tiga tahun. Tidak baik kalau hubungan pertemanan kita merenggang. Apalagi kamu dan aku pernah satu klub." jelas Amelia.


Alfin mengangguk saja. Dia ingin buru-buru pergi karena sudah tak nyaman.


Dia mengetikkan nomor telfonnya di ponsel Amelia. Setelah itu mengembalikkannya lagi pada si empu.

__ADS_1


"Sudah ya. Aku pergi dulu." pamit Alfin. Dia sudah cukup berbasa-basi.


Tanpa menunggu jawaban Amelia, Alfin langsung pergi tanpa menoleh sama sekali.


Amelia menatap kepergiaan Alfin hingga punggung lelaki itu makin menjauh.


"Sampai bertemu lagi, calon pacar." gumam Amelia dengan senyum kecil.


***


Di sisi lain, Kenanga sedang mengutak-atik program dengan Dani ketika ponselnya berbunyi.


Kenanga berdecak kesal karena pekerjaannya diinterupsi tapi pada akhirnya tetap menerima telfon itu.


Tanpa melihat siapa penelfonnya, Kenanga langsung mengangkatnya.


"Halo."


"Halo."


Kenanga tertegun mendengar suara si lawan bicaranya itu. Dia lalu melihat layar ponselnya.


Itu adalah nomor tak diketahui.


"Siapa ini?" tanya Kenanga waspada.


Tak ada jawaban dari seberang sana. Kenanga mengerutkan dahinya.


"Halo? Siapa ini? Kenapa tidak bicara?" ulang Kenanga.


Lagi, tak ada tanggapan apapun. Kenanga mendesah pelan mencoba menenangkan emosinya karena penelfon anonim yang sepertinya iseng mengerjainya ini. Waktunya sudah terbuang selama tiga puluh detik.


"Jika kau tidak ingin bicara maka saya tutup." ketus Kenanga.


"Tunggu sebentar." Dia hendak menutup telfonnya tapi terdengar suara seseorang darisana. Kenanga mengurungkan niatnya.


"Maaf awalnya saya ragu mengatakannya tapi saya tidak memiliki pilihan lain. Kepolisian sudah tak lagi menjadi tempat aman."


"Apa maksudmu? Siapa kau sebenarnya?"


"Saya tidak bisa mengatakan siapa saya sebenarnya. Tapi yang perlu Anda tahu, Letnan Kenanga, saya memiliki informasi penting terkait Miracle."


"Apa?" seru Kenanga terkejut.


"Saya tahu Anda sedang berada di pedalaman dan sedikit tidak nyaman berbicara dengan Anda disaat Anda sedang bertugas, tapi ini sangat penting. Saya tahu bahwa Anda sedang menyelidiki Miracle."


"Siapapun Anda, saya tidak memiliki urusan seperti yang Anda katakan. Saya tidak sedang menyelidikinya." tandas Kenanga.


"Anda yakin, Letnan?"


"Tentu saja. Meski saya pernah bersinggungan dengan mereka tapi pada dasarnya saya tidak memiliki kepentingan apapun dengan mereka."


"Anda yakin dengan apa yang Anda katakan? Anda tidak akan menyelidikinya?"


"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?!" seru Kenanga mulai kesal. Dia sungguh tak bisa berbasa-basi saat ini.


"Saya yakin Anda akan terkejut dengan ini tapi saya adalah rekan Nike, mendiang ibumu. Dan ibumu gugur dalam operasi karena Miracle."


Kenanga membeku. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar sekarang.


"Apa kau bilang?"


"Kau tahu, cerita sepuluh tahun lalu bukanlah kebenarannya. Ibumu meninggal karena ledakan yang dibuat Miracle karena ibumu tahu rahasia mereka."


"Kau becanda denganku? Kenapa malah berbicara omong kosong denganku?" ucap Kenanga masih tak percaya.


"Saya tahu kau pasti tidak akan percaya. Itu sebabnya ayo bertemu setelah kamu selesai bertugas. Saya akan menceritakan semuanya."


Kenanga nampak kehilangan akalnya, wajahnya seketika nampak termenung, dia bingung sebingung bingungnya.

__ADS_1


__ADS_2