
Kenanga berjalan keluar dari ruangan Siska. Dalam hatinya dia berdumel akan kelakuan perempuan itu. Sudah menyuruhnya datang malam-malam dan tidak ada bekas coklat sedikitpun.
"Aku hanya menyia-nyiakan waktuku saja." desah Kenanga menyesal.
Kenanga berjalan dengan satu tangan memijat pangkal hidungnya. Dia makin lelah.
"Dokter sangat tidak kompeten! Kenapa kau tidak bisa menyelamatkan ayah saya? Kenapa kau malah membunuhnya?!"
Kenanga berhenti kala mendengar suara teriakan penuh amarah itu. Dia menoleh ke kirinya, terlihat seorang perempuan sedang menangis dan seorang lelaki yang tengah menarik kerah seorang dokter. Dan dokter itu tampak menunduk dan terus meminta maaf tapi tak digubris oleh mereka.
"Kalau maaf bisa mengembalikan ayah saya, maka saya akan menerimanya. Tapi tidak, dokter! Ayah saya tetap meninggal dunia!" teriak lelaki itu diiringi suara tangisan perempuan itu, nampaknya mereka suami istri dan sedang berduka karena kehilangan salah satu anggota keluarga.
"Maafkan saya pak, bu. Tapi saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Pendarahannya amat parah dan pembuluh darahnya sudah pecah ditambah lagi dengan beberapa syaraf di otaknya sudah tidak berfungsi. Kami sebagai dokter hanya bisa mengusahakan yang terbaik tapi semuanya kembali pada Allah, Allah lah yang menentukan hidup mati kita." jelas dokter itu dan suaranya dikenali Kenanga. Dia Alfin.
Lelaki itu nampak menangis meski tangannya tetap menarik kerah Alfin, "Saya tetap tidak rela. Dokter harus bertanggung jawab!"
Lelaki itu berniat menonjok Alfin dan Kenanga terkesiap melihatnya. Dia hendak maju tapi beberapa perawat dan dokter keluar dari ruangan dan langsung menghentikan aksi lelaki itu. Mereka langsung dipisahkan.
"Saya benar-benar minta maaf tapi saya sudah berusaha menyelamatkannya. Tapi takdir berkata lain, ayah Anda harus meninggal!" seru Alfin frustasi. "Saya juga sedih tapi saya bisa apa lagi? Saya bukan Tuhan yang bisa mencabut bahkan mengembalikan nyawa manusia!"
"Kau hanya tidak kompeten, berhentilah mengatakan semua itu. Nyatanya ini semua kesalahanmu! Dasar dokter sampah!" balas lelaki itu.
Dan Kenanga menyaksikan itu semua. Bagaimana Alfin terus disudutkan dan disalahkan oleh lelaki asing itu. Dan Kenanga tidak terima dengan semua ucapan lelaki itu yang dilayangkan pada Alfin.
Kenanga kembali ingin maju tapi baru selangkah, dia berhenti.
"Apa yang kau lakukan? Ini bukan urusanmu." batinnya mengingatkan.
Kenanga terdiam. Dia melirik Alfin yang masih bersiteru dengan keluarga pasiennya. Kenanga juga melirik semua dokter dan perawat yang membantu Alfin disana.
"Sudah banyak yang membantunya. Lagipula ini bukan urusanku." putus Kenanga akhirnya berbalik pergi. Dia berjalan tanpa menoleh kembali.
Dan ternyata Kenanga tetap saja ikut campur pada akhirnya.
****
Dan setelah kejadian itu, Alfin dan Kenanga makin dekat. Dekat dalam artian, baik Kenanga maupun Alfin sudah menerima kehadiran satu sama lain meskipun rasa cinta belum ada. Tapi setidaknya dalam batas standar Kenanga, Alfin sudah diizinkan masuk ke sebagian teritorialnya.
Dan selama berminggu-minggu ini, Kenanga dan Alfin sibuk menyiapkan pernikahan mereka. Meskipun pekerjaan mereka sama-sama sibuk tapi mereka tetap bisa meluangkan waktu untuk mengurusnya. Alfin dan Kenanga tak selalu bertemu, mereka benar-benar memisahkan pekerjaan yang bisa ditangani sendirian dan bersama.
Kenanga sudah mulai jarang muncul di markas. Selain karena tim mereka sedang tidak memiliki tugas dan hanya ada rapat biasa, Di luar itu semua, Kenanga hampir tak pernah muncul. Dan itu mengundang rasa kebingungan dari rekan-rekannya.
Tapi pagi ini Kenanga datang ke markas, karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Kenanga sedang fokus mengetik di laptopnya ketika Panji datang mengetuk pintu. Lelaki itu langsung menghampiri seniornya itu.
"Akhir-akhir ini Letnan tidak sering muncul di markas, sedang sibuk?" tanya Panji duduk di samping Kenanga.
"Hem." balas Kenanga tetap fokus pada pekerjaannya.
"Sibuk apa?" tanya Panji penasaran.
Kenanga menatap Panji datar, "Bukan urusanmu."
Panji mencebik kesal.
Lalu tak lama kemudian, Angga dan Riko muncul. Mereka duduk di depan Kenanga dan Panji.
"Letnan, kemana saja? Akhir-akhir ini tidak sering bertemu." ucap Riko.
"Hem, saya ada. Kemana Dani?" tanya balik Kenanga.
"Ah, Dani sedang mengajar junior-juniornya." jawab Riko. Kenanga hanya menganggukkan kepala.
Setelah itu, Bagas juga baru datang. Lelaki itu langsung duduk di tempatnya sambil menyapa rekan-rekannya. Namun dia tertegun kala mendapati Kenanga juga ada diantara mereka.
"Letnan, kemana saja? Saya kira kamu ditelan ombak." ucap Bagas becanda.
"Saya ada, Kapt. Hanya sedang sibuk mengurus sesuatu." jawab Kenanga seadanya.
"Mengurus apa?" tanya Panji masih penasaran.
"Yang jelas bukan mengurusi para mantan pacar sepertimu." sela Angga pedas.
Panji mendengus sebal. Kemanapun topiknya, selalu saja dia yang disudutkan.
"Oh ya kapten, kebetulan Anda sudah datang." celetuk Riko riang.
Bagas tiba-tiba berdeham, "Saya mendadak memiliki firasat aneh, ada apa ya?" tanyanya waspada.
Riko menyengir, "Kemarin Anda bilang bahwa Anda menyukai salah satu prajurit wanita di Kopasus kan? Nah selama beberapa minggu ini saya dan Panji sudah mencari tahu dan mengumpulkan semua informasi para kowad. Mohon dilihat dan tunjukkan foto mana yang sudah menarik perhatian Anda." jelas Riko. Lelaki itu menggelar puluhan foto para tentara wanita satu persatu. Dan dalam sekejap, meja panjang mereka sudah tertupi foto-foto.
"Kami melakukan pekerjaan baik, kan?" timpal Panji bangga.
Kenanga, Angga terutama Bagas terperangah melihatnya sedangkan Riko dan Bagas bertos ria karena senang dengan pencapaian mereka.
"Kalau sampai yang lain tahu, kalian akan disalahpahami sebagai penjahat mesum." komentar Kenanga masih tak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.
Angga mengangguk menyetujui, "Kalian sungguh luar biasa." pujinya takjub.
"Bagaimana cara kalian melakukannya? Kalian merampok kantor personalia atau lebih parahnya meretas komputer mereka?" tanya Bagas.
Riko dan Panji hanya tersenyum lebar, "Kami punya anggota yang jenius soal programming dan hack, jadi kami memaanfaatkannya demi kebaikan." ujar Riko santai.
"Kau bilang ini demi kebaikan?" seru Angga tak percaya.
__ADS_1
"Jadi Kapt, pilih foto yang mana? Kami sungguhan ingin tahu." ucap Riko mengabaikan ucapan Angga.
"Iya benar, siapa tahu kita bisa membantu, ya kan?" timpal Panji sembari menyikut Angga untuk mengiyakan.
"Benar, Kapt, tiba-tiba saya juga jadi sangat penasaran." angguk Angga.
Bagas terdiam. Dia menatap semua rekan kerjanya yang menatapnya seakan ingin menelanjanginya hidup-hidup itu. Kenanga bahkan ikutan menunggu jawaban Kapten mereka itu.
Bagas hanya bisa menghembuskan nafas pelan. Kepalanya pusing dengan kelakuan semua anggotanya itu.
"Ayo kapt, cepat pilih." desak Riko nyaris mati penasaran.
Bagas diam saja. Dia lalu mulai melihat-lihat. Dia memilih satu demi satu foto. Foto yang tak terpilih, dia merapikannya menjadi satu. Terus menumpuknya hingga tak ada satupun foto yang tersisa. Semua orang mengernyitkan dahinya karena bingung.
"Ini apa maksudnya?" tanya Riko.
"Artinya tidak ada yang disukai Kapten." jawab Kenanga. Bagas mengangguk membenarkan.
"Lalu kalau fotonya tidak ada disana maka siapa yang Kapten maksud? Foto-foto itu semua adalah para tentara wanita yang masih lajang di Kopasus." ujar Riko bingung.
"Kau yakin sudah semuanya?" sela Bagas.
"Hah?"
"Mungkin ada yang terlewat?" timpal Angga.
Panji menggaruk-garuk kepalanya karena bingung, "Kurasa sudah semuanya. Ah, kecuali.." Panji melirik Kenanga.
Kenanga yang dilirik menunjuk dirinya sendiri.
Riko menyadari artinya, dia mengibaskan tangannya. "Eh tidak mungkin kapten suka Letnan Kenanga. Meskipun Letnan Kenanga sangat cantik, tetap saja aneh bila menikahi 'keluarga' sendiri. Kalian tidak cocok." tukas Riko.
"Dalam artian, kalian hanya cocok sebagai pasangan impian tapi tidak cocok sebagai pasangan di dunia nyata." timpal Angga. Panji mengangguk setuju dengan pendapat kedua rekannya itu.
"Jangan asal bicara, kami mengedepankan profesionalisme di atas hubungan pribadi." tukas Kenanga.
"Tapi apa salahnya? Kita bukan sungguhan keluarga yang terikat darah." celetuk Bagas.
Kenanga, Angga, Panji dan Riko seketika menatap Bagas. Bagas yang ditatap aneh, hanya bisa menyengir.
"Saya becanda. Jangan dibawa serius, benar kan Letnan?"
Kenanga mengangguk mantap, "Tidak bisa karena kami keluarga." tegasnya lagi. Tapi berkat ucapan itu, sudut bibir Bagas turun tanpa ada yang menyadarinya.
"Baguslah kalau begitu. Kapten tenang saja, kami akan membantumu menggapai cinta Anda. Kami siap menjadi mak comblangmu." ucap Riko dengan penuh keyakinan.
Bagas hanya tersenyum paksa, "Hem, terima kasih." ucapnya skeptis. "Saya pergi rapat dengan atasan dulu." lanjutnya tiba-tiba pergi begitu saja.
Sepeninggal Bagas, Riko, Panji dan Angga langsung menggelar rapat dadakan. Mereka bahkan menarik Kenanga yang sama sekalo tidak tertarik untuk ikut berdiskusi.
"Kalau kau saja tidak tahu bagaimana dengan kami?" balas Angga sama-sama bingung.
Riko mendesah dan kedua lelaki lainnya ikut mendesah. Kenanga hanya menatap datar pada ketiga rekannya itu.
***
Makan malam keluarga kembali di gelar antara keluarga Alfin dan Kenanga. Tapi kini dengan tambahan anggota keluarga lain. Seperti Alan dan Kansha yang datang jauh-jauh dari Seoul karena sedang berlibur dan juga beberapa anggota keluarga lain dari pihak Kenanga. Kenanga tidak tahu siapa tapi tantenya bilang dia tamu spesial yang wajib hadir.
Kini, kedua belah pihak keluarga sudah berkumpul di restoran yang dijanjikan sebelumnya. Hanya tinggal menunggu seorang lagi yang diundang oleh Meilani.
"Jadi, Kenanga, saya dengar kamu lebih tua tiga tahun dari Alfin dan jelas lebih tua dari kami setahun." ucap Kansha membuka pembicaraan.
Kenanga mengangguk, dia paham maksudnya. "Kalian adalah kakak dari Alfin, panggil saya sebebas kalian saja." ucap Kenanga.
Kansha mengangguk dengan senyum cerahnya, "Baik, saya akan memanggilmu Kenanga saja, tidak masalah kan?" Kenanga hanya mengangguk.
"Bagus! Hai Kenanga, aku Kansha." seru Kansha riang. Kini dia tidak mengatakan ucapan formal lagi.
Kenanga cukup terkejut dengan perubahan tiba-tiba itu tapi Alfin menyela untuk menjelaskan yang terjadi.
"Kakakku ini sedang hamil anak kedua. Dan setiap hamil, dia memang selalu aneh. Seperti punya dua kepribadian."
Kansha mendelik tajam pada adik iparnya itu, "Apa kau bilang?"
"Apa? Memang benar kan? Tanya Mas Alan." suruh Alfin santai.
Alan yang sedang minum langsung tersedak kala Kansha menatapnya dengan tajam, "Apa sayang?" tanyanya ngeri.
"Katanya aku aneh dan menyulitkanmu, benar?"
Alan membelalak, dia menggeleng keras, "Kapan aku bicara gitu?"
Kansha melirik Alfin dan Alan langsung menggeplak kepala adiknya itu. Kansha tersenyum kemenangan.
Kenanga tersenyum tipis melihat interaksi ketiganya. Dan Alfin tertegun kala melihat senyuman itu.
"Kau tersenyum?" tanya Alfin.
Kenanga tersentak, dia langsung melunturkan senyumnya.
"Tidak." jawabnya datar.
Alfin hendak membalas ketika pintu terbuka dan seseorang lelaki datang. Wajah Kenanga menjadi jauh lebih dingin ketika tahu siapa yang datang itu.
"Maaf saya terlambat datang." ucap ayah Kenanga, Rifal.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kami baru saja mulai." balas Andra ramah pada calon besannya itu.
"Silakan duduk, kak." ucap Akra.
Rifal pun duduk di kursi terakhir. Di samping Kenanga yang duduk kaku. Kemudian satu persatu duduk.
"Perkenalkan saya Rifal Wiryaatma, saya papanya Kenanga. Maafkan saya tidak datang saat makan malam kemarin." ucap Rifal tidak enak.
"Tidak apa-apa. Akra sudah bilang bahwa papanya sangat sibuk. Saya senang karena hari ini Anda bisa hadir." balas Andra.
"Tentu saja saya harus datang, ini pernikahan putri saya." sahut Rifal menatap Kenanga dengan senyuman tapi senyumnya langsung hilang kala melihat Kenanga yang beraut datar itu.
"Jadi kau pasti Alfin, benar kan?" tanya Rifal mengalihkan pembicaraan. Alfin mengangguk.
"Benar, om." ucap Alfin sopan.
"Kau sangat sopan." puji Rifal, "Meski ini perjodohan, tapi kamu orang yang sangat bertanggung jawab kan?" tanya Rifal lagi.
Alfin hendak menjawab tapi Kenanga menyelanya.
"Kita lihat nanti tapi setidaknya dia bukan seperti seseorang yang meninggalkan di saat sulit."
Rifal terdiam. Meilani menyikut siku Kenanga tapi Kenanga tetap berwajah datar.
Rifal tersenyum kaku atas keheningan tiba-tiba ini.
"Kamu sudah tahu pekerjaan Kenanga? Pekerjaannya tidak biasa dilakukan oleh perempuan tapi jangan khawatir, dia tetap perempuan." ucap Rifal terkekeh berusaha mencairkan kebekuan ini. Akra ikut terkekeh dengan kakaknya.
"Saya sudah tahu seperti apa dan bagaimana pekerjaan kak---Kenanga. Saya sangat bangga dan takjub dengannya."
"Alfin pernah merasakan sendiri bagaimana pekerjaanku. Dan dia sangat luar biasa. Aku yang seharusnya menyelamatkan malah diselamatkan olehnya saat maut datang. Itu yang membuatku yakin bahwa lelaki tipikalnya yang harus dicari oleh tentara wanita sepertiku." Kenanga menatap Rifal, "Yang rela menawarkan punggungnya untuk melindungi orang berharganya." desisnya penuh penekanan.
Rifal terdiam mendengar ucapan penuh sindiran yang dilayangkan Kenanga. Karena dia tahu itu untuknya.
"Dia akan menjadi suami dan ayah yang terbaik, benar kan?" tanya Kenanga melirik Alfin.
Alfin terdiam sesaat lalu mengangguk kaku. Dia tidak paham dengan tensi ketegangan ini. Semuanya bahkan tidak ada yang berani berbicara. Terlarut dalam suasana dingin yang dikeluarkan Kenanga.
"Yah, Alfin jelas akan jadi suami dan ayah yang baik, seperti ayahnya." celetuk Akra, mengalihkan arah pembicaraan. Andra tersenyum mendengarnya.
"Jadi kita lanjutkan pembicaraan kita? Kalian mau menikah dimana?" tanya Akra menatap Kenanga dan Alfin bergantian.
***
Usai makan malam itu, Alfin mengantar pulang Kenanga ditemani Alan. Suasana di mobil sangat hening. Alan yang duduk di samping Alfin melirik kaca belakang, terlihat Kenanga yang diam sambil menatap pemandangan di luar jendela.
"Ekhem, Mbak Kenanga?" panggil Alan.
"Panggil saja Kenanga." jawab Kenanga acuh.
"Oke, Kenanga. Maaf bila saya lancang tapi saya sungguh penasaran, jadi bolehkah saya bertanya sesuatu hal?" pintanya dengan nada hati-hati.
Alfin memukul paha kakaknya itu, untuk jangan kelewatan. Alan hanya mengendikan bahu.
"Silakan." Tapi tanpa disangka Kenanga menjawab ya.
"Apa kau ada masalah dengan papamu?" tanya Alan dengan nada jauh lebih hati-hati.
Plak
Kini Alfin menggeplak paha Alan jauh lebih keras hingga kakaknya mengaduh sakit.
Masih belum ada jawaban dari Kenanga, Alfin meliriknya dari kaca. Dia terlihat khawatir karena pertanyaan kakaknya yang sensitif itu.
"Maaf kak, jangan jawab pertanyaannya." cetus Alfin.
"Iya, saya hanya bertanya. Maaf bila terlalu menyinggung--"
"Dia orang yang paling kubenci sejak SMA." sela Kenanga. Alfin dan Alan saling bertukar pandang.
"Ada masalah yang membuat saya kehilangan kepercayaan. Masalah itulah yang menghancurkan keluarga saya. Dan masalah itu disebabkan oleh papa saya. Jadi dia orang yang paling kubenci di dunia ini." lanjut Kenanga dengan nada datar.
"Masalah apa itu?" tanya Alan pelan.
"Saya tidak bisa memberitahumu karena saya tidak ingin mengingatnya lagi."
"Apapun itu, tidak baik kalau terus bermusuhan dengan orang tua sendiri. Saya tidak bermaksud mengguruimu, tapi istri saya juga sempat memiliki masalah yang sama, bedanya orang tuanya yang membencinya. Tapi itu semua hanya kesalah pahaman. Dan bisa diselesaikan dengan kita berbicara dari hati ke hati. Kau hanya perlu mengambil langkah pertama." saran Alan.
"Berapa lama mereka saling membenci?" tanya Kenanga.
"Dua puluh tahun." jawab Alan.
"Saya baru membencinya sepuluh tahun, masih ada sepuluh tahun lagi." tandas Kenanga enteng.
"Tapi tetap saja, bermusuhan begitu lama tidak baik apalagi kalian adalah ayah dan anak. Kalau tidak bisa sendiri, ibumu pasti bisa membantu kan? Ibu adalah jalan penengah terbaik."
"Saya tidak punya ibu. Papa saya membunuhnya. Dan juga membunuh hati saya." ucap Kenanga pelan.
Alan mengatupkan mulutnya. Alfin menatap kakaknya agar berhenti bicara.
"Maafkan saya." lirih Alan.
Kenanga mendesah pelan, "Yang ingin saya katakan adalah, kalau maaf cukup untuk mengembalikan semua yang hilang, maka saya sudah melakukannya dari dulu. Kalau waktu bisa mengobati, maka saya sudah pulih dari dulu. Tapi pada kenyataannya tidak. Kau pasti mengerti dengan jelas perasaan ini, bahwa waktu dan maaf tidak selalu menjadi obat bagi luka." tandas Kenanga.
Dalam diam, Alfin mengangguk setuju.
__ADS_1